Hero Image
RSUD REDA BOLO DI PERSIMPANGAN HARAPAN DAN NYAWA Obat Langka Berbulan-bulan, Paracetamol Pun Disebut Tak Tersedia, Dua Pasien Dikabarkan Meninggal, Ke Mana Tanggung Jawab Pemerintah?

SILETSUMBA.COM | Tambolaka – Rumah sakit seharusnya menjadi tempat terakhir masyarakat menggantungkan harapan hidup. Namun, ketika obat-obatan yang paling mendasar pun diduga tidak tersedia, harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan.Hasil investigasi Siletsumba.com menemukan dugaan kelangkaan obat-obatan di RSUD Reda Bolo, Kabupaten Sumba Barat Daya, yang berlangsung sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026. Dari berbagai informasi yang dihimpun, bahkan Paracetamol, obat yang umum digunakan untuk menangani demam dan nyeri, disebut tidak tersedia.Yang lebih memprihatinkan, Siletsumba.com memperoleh informasi adanya dua pasien yang meninggal dunia. Sejumlah sumber menduga keterbatasan obat menjadi salah satu persoalan yang dihadapi dalam pelayanan. Namun demikian, penyebab pasti kematian kedua pasien tersebut masih memerlukan penjelasan resmi dari pihak rumah sakit dan hasil pemeriksaan pihak berwenang.Persoalan tidak berhenti pada obat-obatan. Layanan radiologi juga disebut belum berfungsi optimal sehingga pasien yang membutuhkan pemeriksaan rontgen harus dirujuk atau dititipkan ke RS Karitas Waitabula. Kondisi ini menambah beban masyarakat yang datang dengan harapan memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat dan layak.Ironisnya, beberapa waktu lalu Bupati Sumba Barat Daya bahkan berkantor selama beberapa hari di RSUD Reda Bolo untuk membenahi pelayanan rumah sakit. Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus menyampaikan komitmennya meningkatkan layanan kesehatan. Pertanyaan publik kini semakin keras menggema:Di mana Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya ketika dugaan kelangkaan obat terjadi berbulan-bulan?Apakah sistem pengadaan, distribusi, dan pengawasan stok obat berjalan sebagaimana mestinya?Bagaimana mungkin rumah sakit yang diproyeksikan menjadi pusat layanan kesehatan modern justru menghadapi dugaan kekurangan obat-obatan dasar? Padahal RSUD Reda Bolo merupakan bagian dari program peningkatan kualitas rumah sakit yang didukung pemerintah pusat.Masyarakat Sumba Barat Daya berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan memadai. Ketika seorang pasien datang ke rumah sakit, yang dibutuhkan bukan hanya gedung megah, tetapi juga dokter, obat, alat kesehatan, dan pelayanan yang benar-benar tersedia.Siletsumba.com mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, manajemen RSUD Reda Bolo, serta Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk segera memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat terkait:Dugaan kelangkaan obat sejak Januari hingga Juli 2026.Ketersediaan obat esensial di RSUD Reda Bolo.Kondisi layanan radiologi yang disebut belum optimal.Klarifikasi atas informasi mengenai dua pasien yang meninggal dunia.Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan hasil investigasi awal dan informasi yang dihimpun Siletsumba.com. Redaksi tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada Direktur RSUD Reda Bolo, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, dan seluruh pihak terkait sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

5 hari yang lalu