Kepala Desa Weekurra, Dominikus Lede Malo, menyampaikan pesan yang kuat dan menyejukkan kepada seluruh warganya di tengah suasana duka pada acara pemakaman almarhum Stefanus Bili Gaddi, Kamis (16/10/2025). Di hadapan Forkopimcam Wewewa Barat, ia mengajak masyarakat untuk bangkit, fokus pada masa depan dengan kembali bekerja di kebun, dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus hukum kepada aparat keamanan.Dalam pidatonya, Dominikus Lede Malo secara resmi berterima kasih atas kerja keras dan pendampingan yang tak henti dari Camat, Kapolsek, dan Babinsa sejak awal peristiwa terjadi. Ia menegaskan bahwa sikap pemerintah desa sejalan dengan imbauan para pimpinan kecamatan."Masalah ini sudah ditangani oleh keamanan, kita serahkan sepenuhnya kepada mereka. Secara pribadi sebagai pimpinan wilayah, apapun dan bagaimanapun, persoalan ini sudah di tangan keamanan. Silakan mereka yang memprosesnya," tegas Dominikus Lede Malo.Secara bijak, Kepala Desa kemudian mengalihkan fokus masyarakat dari duka kepada realitas kehidupan yang harus terus berjalan. Ia mengingatkan bahwa musim hujan telah tiba dan ini adalah waktu yang tepat untuk kembali menggarap lahan demi menyambung hidup."Harapan saya untuk semua keluarga, mari kita bergandengan tangan menuju hal yang lebih baik lagi. Hujan sudah turun kurang lebih satu minggu setiap hari. Lebih bagus atur langkah kita menuju ke kebun, tanam keladi, tanam ubi. Persiapan masa depan kita, itu kuncinya. Jangan berpikir lagi ke mana-mana," serunya.Ia juga meminta warga, khususnya anak-anak muda, untuk tidak berkumpul tanpa tujuan yang jelas yang berpotensi menimbulkan hal-hal negatif. Dengan menyerahkan kasus ini kepada pihak berwenang, ia berharap masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala dengan tenang dan damai."Jangan berpikir di situ lagi, karena hal ini sudah ditangani oleh keamanan. Terserah mereka," pungkasnya, menutup pidato dengan doa untuk kekuatan keluarga yang ditinggalkan.
Dalam momen yang emosional sekaligus tegas, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Wewewa Barat, Sertu Petrus Lalo, menyampaikan pesan mendalam kepada keluarga besar almarhum Stefanus Bili Gaddi. Berbicara di hadapan keluarga yang berduka, Kamis (16/10/2025), Babinsa Petrus Lalo, yang juga merupakan kerabat dari korban, meminta keluarga untuk tetap tegar dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada negara.Berdiri di samping Kapolsek Camat, Kepala Desa Wee Kurra dan Tokoh Agama, ia mengakui hubungan kekeluargaannya dengan almarhum, namun menekankan profesionalismenya sebagai aparat TNI."Keluarga pasti tahu, saya ini keluarganya Bapak Petrus Gaddi, keluarganya almarhum. Benar. Tetapi dalam melaksanakan tugas, kadang-kadang tidak mengenal keluarga. Salah ya salah, benar ya benar," tegas Babinsa Petrus Lalo.Ia secara khusus memberikan pesan kepada para pemuda di Weekurra untuk tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan masa depan. Ia mengajak mereka untuk fokus membangun hari esok yang lebih baik ketimbang terjebak dalam lingkaran dendam."Lakukan yang terbaik, masa depan ada di tangan Anda sendiri. Kalau Anda melakukan yang baik, maka Anda akan dapat masa depanmu. Pikir baik-baik," pesannya kepada generasi muda.Menggemakan imbauan dari Kapolsek dan Camat, Babinsa Petrus Lalo mengingatkan kembali bahwa aksi balasan bukanlah jalan keluar dan bertentangan dengan ajaran agama. "Tuhan sudah bilang, balasan ada di tangan-Ku. Jadi, sekali lagi kami himbau untuk seluruh keluarga, mulai saat ini sampai seterusnya, lakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Tidak usah kumpul sana-sini yang dapat menimbulkan sesuatu yang tidak baik," katanya.Pernyataan dari Babinsa Petrus Lalo yang memiliki ikatan emosional dengan korban namun tetap tegak pada prinsip hukum memberikan penguatan signifikan bagi keluarga untuk tetap tenang dan percaya pada proses yang sedang berjalan.
Kapolsek Wewewa Barat, Ipda Elfridus Iku Arem, S.Sos., menyampaikan imbauan yang tulus dan tegas kepada keluarga besar almarhum Stefanus Bili Gaddi, agar menahan diri dan tidak melakukan aksi balasan pasca-tragedi yang menimpa keluarga mereka. Imbauan tersebut disampaikan langsung di hadapan keluarga duka, Camat Wewewa Barat Benyamin Kaba, Babinsa, Kepala Desa Wee Kurra dan tokoh agama pada Kamis (16/10/2025).Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, Ipda Elfridus memastikan bahwa pihak kepolisian telah bekerja maksimal sejak awal kejadian dan akan terus mengusut tuntas kasus dugaan pembunuhan tersebut."Peristiwa ini sudah di tangan kami. Kami tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan dari Bapak, Mama, dan keluarga sekalian," ujar Ipda Elfridus.Ia secara khusus meminta keluarga untuk tidak terpancing melakukan tindakan main hakim sendiri, yang menurutnya hanya akan merugikan diri sendiri dan tidak menyelesaikan masalah."Kita tidak usah lagi memikirkan hal-hal, baik itu berupa aksi balasan ataupun hal lainnya. Itu hanya merugikan diri kita sendiri. Sebagai orang yang beriman, mari kita persembahkan semua peristiwa ini ke dalam campur tangan Tuhan," tegasnya.Kapolsek memberikan jaminan bahwa jajarannya akan bekerja dengan tulus dan penuh tekad untuk menemukan titik terang dalam kasus ini. Untuk itu, ia hanya meminta dua hal dari keluarga dan masyarakat: doa dan kerja sama dalam menjaga situasi agar tetap aman dan kondusif."Serahkan sepenuhnya kepada kami. Yakinlah kepada kami. Tidak banyak yang kami minta, hanya doa dan mari kita sama-sama menjaga situasi mulai dari sore hari ini dan hari-hari selanjutnya tetap aman dan kondusif. Kalau situasi aman, kami pun polisi bekerjanya bisa maksimal," pungkasnya.Pernyataan ini memperkuat komitmen Forkopimcam Wewewa Barat untuk mengawal proses hukum hingga tuntas dan mencegah terjadinya konflik lanjutan di tengah masyarakat.
Di tengah isak tangis keluarga, Pendeta Manase tampil tegar sebagai juru bicara keluarga besar almarhum Stefanus Bili Gaddi. Dalam sambutannya yang menyentuh saat pemakaman, Kamis (16/10/2025), ia menyatakan sikap resmi keluarga untuk menempuh jalan damai dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak berwenang.Pendeta Manase menegaskan bahwa iman dan kepercayaan kepada Tuhan menjadi pegangan utama keluarga dalam menghadapi cobaan berat ini. Ia juga berterima kasih kepada pihak kepolisian, pemerintah, dan seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan luar biasa.“Sebagai hamba Tuhan dan sebagai keluarga, kami menyatakan dengan tulus bahwa kami tidak akan membalas. Kami serahkan keadilan ini ke tangan Tuhan dan kepada bapak-bapak aparat yang bekerja,” ucapnya dengan suara bergetar.Ia juga mengungkapkan bahwa latar belakang keluarga yang religius, di mana beberapa saudara kandung almarhum adalah calon pendeta, menjadi dasar kuat bagi keputusan ini.“Kami percaya pada proses hukum. Kami hanya meminta doa agar keluarga diberi kekuatan dan agar kasus ini dapat terungkap dengan seadil-adilnya. Terima kasih atas semua dukungan yang telah menguatkan kami,” tutup Pendeta Manase, yang disambut dengan anggukan dan rasa haru dari para pelayat.
Camat Wewewa Barat, Benyamin Kaba, menyampaikan belasungkawa mendalam dari pemerintah kecamatan kepada keluarga almarhum Stefanus Bili Gaddi. Dalam sambutannya di acara pemakaman, Kamis (16/10/2025), ia menyerukan pesan kuat tentang pentingnya menjaga stabilitas dan menolak segala bentuk aksi main hakim sendiri.Didampingi Kapolsek, Babinsa, Tokoh Agama dan Kepala Desa. Camat Benyamin Kaba menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh suasana dan mengganggu keamanan di wilayahnya.“Atas nama pemerintah Kecamatan Wewewa Barat, kami turut berduka. Kehilangan ini adalah duka kita bersama. Namun, emosi dan amarah bukanlah jawaban. Mari kita serahkan persoalan ini pada koridor hukum yang berlaku di negara kita,” ujar Camat.Benyamin Kaba juga memuji soliditas Forkopimcam Wewewa Barat yang bergerak cepat sejak awal kejadian untuk memastikan situasi tetap terkendali. Menurutnya, kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang berduka adalah kewajiban untuk memberikan rasa aman dan jaminan keadilan.“Jangan ada lagi korban. Cukup sudah. Mari kita bergandengan tangan, jaga kampung kita agar tetap aman dan damai,” imbaunya kepada seluruh masyarakat yang hadir.
Sebuah insiden kekerasan antarwarga terjadi di Kampung Reset, Dusun I, Desa Bondo Bela, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, pada Kamis (16/10/2025) sekitar pukul 09.00 WITA.Korban diketahui bernama Nikodemus Ngongo (32), Kepala Dusun I Desa Bondo Bela, yang mengalami luka di bagian pinggang akibat insiden tersebut.Sementara itu, pihak yang diduga sebagai pelaku diketahui dua orang warga asal Desa Dangga Manu masing-masing berinisial O (23) dan J (18), keduanya berprofesi sebagai petani.Kronologi SingkatBerdasarkan laporan dari pihak Babinsa setempat, insiden bermula ketika kedua pelaku datang ke rumah seorang warga bernama Melkianus Ledi (40) di Kampung Reset dengan membawa minuman keras dan memutar musik dengan volume tinggi pada malam hari, Rabu (15/10/2025).Sekitar pukul 02.00 WITA, korban yang merupakan Kepala Dusun menegur dengan sopan agar musik dikecilkan karena mengganggu warga sekitar. Teguran itu sempat diindahkan, namun pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, pelaku kembali membuat keributan di depan rumah korban.Situasi kemudian memanas dan berujung pada perkelahian yang menyebabkan korban mengalami luka dan pelaku ikut terluka sebelum akhirnya melarikan diri.Tindakan AparatBabinsa dari Koramil 1629-01/Laratama segera turun ke lokasi dan mengimbau kedua belah pihak agar menahan diri serta menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada pihak berwenang.Peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat agar menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin dan menghindari konsumsi minuman keras yang kerap memicu konflik di lingkungan pedesaan.
Di tengah prosesi formal penegasan batas wilayah yang dihadiri oleh Bupati dan aparat keamanan, sebuah suara lantang dari seorang pemuda berhasil mencuri perhatian dan menggeser fokus diskusi dari sekadar garis demarkasi ke akar persoalan yang lebih dalam: kualitas sumber daya manusia (SDM).Adalah Adolof Dapa Roka, S.Kep., Ns, seorang pemuda yang mewakili suara generasinya, yang maju ke depan dalam acara mediasi antara Desa Wee Kurra dan Desa Weri Lolo pada Jumat (10/10/2025). Dalam pidatonya yang tajam dan menggugah, ia dengan tegas menyatakan bahwa konflik perbatasan yang telah lama terjadi sesungguhnya adalah masalah sepele yang lahir dari miskomunikasi."Sebenarnya ini hal sepele, miskomunikasi. Andai kata dibicarakan dengan baik, tentu kita tidak merepotkan pemerintah dan keamanan yang punya banyak pekerjaan demi kemajuan kita bersama," ujar Adolof dengan penuh semangat.Adolof, yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Keperawatan dan Ners (S.Kep., Ns), secara berani mendiagnosis "penyakit sosial" yang sesungguhnya menjadi biang keladi pertumpahan darah di wilayahnya. Menurutnya, akar masalah dari konflik horizontal yang kerap terjadi bukanlah sengketa lahan semata, melainkan rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia."Justru karena Sumber Daya Manusia yang sangat minim, sehingga banyak masyarakat kadang karena masalah sepele harus bertumpah darah. Betul tidak?" tanyanya retoris kepada hadirin.Ia kemudian memberikan sebuah analogi kuat tentang pilihan hidupnya. Daripada bekerja di rumah sakit atau puskesmas yang memberinya keuntungan pribadi, ia memilih untuk mengorbankan masa depannya demi terjun ke dunia pendidikan di kampungnya. Baginya, menyembuhkan satu pasien tidak akan menyelesaikan masalah, sementara mendidik masyarakat adalah upaya menyembuhkan penyakit komunal yang sesungguhnya."Saya korbankan masa depan saya sendiri demi kemajuan. Daripada membenahi satu wilayah, (jika) Sumber Daya Manusia-nya rendah?" tegasnya, menyiratkan bahwa pembangunan tanpa pendidikan adalah kesia-siaan.Penyampaiannya ditutup dengan sebuah harapan besar agar kehadiran pemerintah di perbatasan tidak hanya sebatas menyelesaikan sengketa, tetapi juga membangun fasilitas-fasilitas penting seperti pos polisi, pos Kodim, dan yang terpenting, sarana pendidikan untuk mengangkat derajat masyarakat."Kami sebagai pemuda adalah garda terdepan untuk kemajuan Sumba Barat Daya. Kemajuan itu yang kami rindukan," pungkasnya.Interupsi kritis dari Adolof Dapa Roka ini menjadi pengingat keras bahwa perdamaian permanen di perbatasan tidak cukup hanya dengan selembar peta dan tanda tangan. Tanpa investasi serius pada pendidikan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, api konflik akan selalu mudah tersulut dari masalah-masalah yang seharusnya dapat diselesaikan di meja perundingan.
Aktor kenamaan Korea Selatan, Ji Chang-wook, akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Sumba. Sang bintang mendarat di Bandar Udara Tambolaka, Sumba Barat Daya, pada hari Rabu, 15 Oktober 2025, sekitar pukul 15:00 WITA. Kedatangannya sontak membuat heboh ratusan penggemar yang telah menanti sejak pagi.Berdasarkan pantauan langsung jurnalis Silet Sumba di lokasi, suasana di area kedatangan bandara sudah ramai oleh para penggemar yang didominasi kaum hawa. Teriakan histeris dan luapan kebahagiaan tak terbendung begitu Ji Chang-wook muncul dari pintu kedatangan.Mengenakan kemeja flanel, kaos putih, celana jeans, serta topi dan kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya, aktor drama "Healer" dan "Welcome to Samdal-ri" itu tampak santai. Meskipun dikawal ketat oleh timnya, Ji Chang-wook terlihat beberapa kali menyapa dan melambaikan tangan ke arah penggemar yang memanggil namanya, menambah riuh suasana.Para penggemar yang datang dari berbagai penjuru Sumba ini mengaku tak ingin melewatkan kesempatan langka tersebut. Beberapa di antaranya bahkan telah menunggu sejak pukul 6 pagi demi melihat langsung sang idola."Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Bisa menghirup udara yang sama dan melihatnya sedekat ini di Sumba, rasanya luar biasa," ujar seorang penggemar bernama Indo yang diwawancarai di lokasi. Ia mengaku telah mengidolakan Ji Chang-wook sejak duduk di bangku SMP.Senada dengannya, penggemar lain mengungkapkan bahwa kedatangan artis internasional sekelas Ji Chang-wook adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi Sumba. "Di Sumba ini kan jarang sekali ada artis Korea datang. Jadi, begitu dengar kabar dia ke sini, kami langsung semangat. Ini adalah kesempatan emas," tuturnya penuh antusias.Para penggemar berharap selama di Sumba, Ji Chang-wook dapat menikmati keindahan alam dan kehangatan budaya lokal. "Semoga Oppa (panggilan akrab untuk kakak laki-laki di Korea) bisa menikmati liburannya di sini. Sumba itu indah dan warganya ramah," tambah seorang penggemar sambil menunjukkan kain tenun khas Sumba yang sengaja ia bawa.Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai agenda Ji Chang-wook selama berada di Sumba. Namun, kedatangannya telah berhasil menciptakan momen tak terlupakan bagi para penggemarnya di pulau yang terkenal dengan keindahan alamnya ini.
Peristiwa tragis yang terjadi di perbatasan Desa Weri Lolo dan Wee Kurra pada Senin, 13 Oktober 2025, kini menyorot komitmen Kepala Desa Weri Lolo.Pasalnya, insiden tersebut terjadi hanya 72 jam setelah ia bersama Kepala Desa Wee Kurra menandatangani berita acara penegasan batas wilayah di hadapan Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla.Pada Jumat, 10 Oktober 2025, dalam sebuah acara penegasan tapal batas yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten, Kepala Desa Weri Lolo secara sadar membubuhkan tanda tangannya di atas peta dan dokumen penegasan batas.Momen tersebut, yang disaksikan tokoh masyarakat dari kedua desa, seharusnya menjadi akhir dari sengketa panjang dan awal dari kehidupan bertetangga yang damai.Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla kala itu bahkan menitipkan pesan perdamaian dan meminta para kepala desa menjadi garda terdepan dalam menyosialisasikan hasil kesepakatan.“Peta ini tolong dipelajari, dilihat, dan ditempel di kantor desa agar masyarakat juga tahu batas wilayah mereka,” pesan Bupati sembari menyerahkan peta resmi kepada para kepala desa, termasuk Kepala Desa Weri Lolo.Namun, insiden yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia tiga hari berselang menimbulkan pertanyaan besar:Apakah Kepala Desa Weri Lolo telah menjalankan amanat tersebut? Sejauh mana keseriusannya mengawal kesepakatan yang ia tandatangani sendiri?Kejadian ini mengindikasikan kemungkinan kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari pucuk pimpinan Desa Weri Lolo kepada masyarakatnya.Tanda tangan di atas kertas menjadi tak berarti ketika pesan perdamaian gagal mengakar di tengah warga, yang akhirnya kembali pada penyelesaian konflik dengan cara yang tidak semestinya.Publik kini menyoroti tanggung jawab moral dari Kepala Desa Weri Lolo.Sebagai pemimpin yang telah diberi mandat, ia memiliki kewajiban memastikan warganya menghormati hukum dan kesepakatan yang telah dibuat.Peristiwa ini menjadi refleksi atas rapuhnya komitmen dan lemahnya pengaruh pemimpin lokal dalam menjaga stabilitas di wilayahnya.Sementara proses hukum atas insiden tersebut kini ditangani oleh Polres Sumba Barat Daya, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak bahwa perdamaian tidak cukup ditandatangani — ia harus dijaga dan dijalankan dengan kesadaran bersama.
Kepolisian Resor (Polres) Sumba Barat Daya (SBD) mengonfirmasi terjadinya kasus pembunuhan di wilayah perbatasan antara Desa Wee Kurra Kecamatan Wewewa Barat dan Desa Werilolo Kecamatan Wewewa Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia.Kasi Humas Polres SBD, AKP Bernardus Mbilli Kandi, dalam keterangannya kepada media, membenarkan insiden tersebut. Menurutnya, pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap kasus ini."Benar, telah terjadi kasus pembunuhan di lokasi perbatasan Wee Kurra, Wewewa Barat, dan Weri Lolo, Wewewa Selatan," ujar AKP Bernardus.Ia menjelaskan bahwa tim penyidik sedang bekerja di lapangan untuk mengumpulkan bukti dan keterangan dari para saksi. Fokus utama saat ini adalah mendalami keterangan saksi-saksi guna mengidentifikasi dan menemukan pelaku kejahatan tersebut."Penyidik atau anggota kami masih sedang melakukan upaya-upaya pemeriksaan para saksi dan pendalaman untuk mencari siapa pelakunya," tegasnya.Hingga saat ini, korban meninggal dunia dilaporkan berjumlah satu orang. Pihak kepolisian juga belum menerima laporan adanya korban luka lainnya.Untuk menjaga status quo dan keamanan, lokasi kejadian perkara (TKP) telah diamankan oleh aparat kepolisian."Kami sudah menyiagakan pengamanan di sana (TKP)," tambah AKP Bernardus.Pihak Polres SBD berjanji akan terus memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan penyelidikan kasus ini kepada publik. "Nanti perkembangannya akan kami sampaikan lagi," pungkasnya.
Stepanus Umbu Pati