Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
03 November 2025 - 18:44 WITA

BABAK BARU KISRUH BANSOS: Pendamping PKH Bantah Salahkan WC, Sebut Data Bernadete "Anomali" dan Masuk "Desil Sejahtera"

BABAK BARU KISRUH BANSOS: Pendamping PKH Bantah Salahkan WC, Sebut Data Bernadete "Anomali" dan Masuk "Desil Sejahtera"
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Sumba Barat daya, siletsumba.com - Pertemuan klarifikasi terkait pencoretan nama Bernadete Dada Gole (65) dari daftar penerima Bantuan Sosial (Bansos) PKH akhirnya digelar di Kantor Desa Reda Pada, Kecamatan Wewewa Barat, Senin (3/11/2025).

​Pertemuan yang dihadiri oleh Ibu Bernadete, aparat desa, dan Koordinator PKH Kabupaten Pak Melkianus Dangga serta Pendamping PKH (Ibu Ningsih) tersebut, alih-alih menjernihkan masalah, justru mempertajam kontradiksi antara penjelasan teknis petugas dan pengakuan korban.

​Ibu Ningsih, Pendamping PKH yang menjadi sorotan, secara resmi membantah telah menyatakan Ibu Bernadete dicoret karena "memiliki closet WC".

​Sebaliknya, ia memberikan dua penjelasan teknis baru atas penghentian bantuan tersebut.

​Dalih Teknis: "Desil Sejahtera" dan "Data Anomali"

​Dalam penjelasannya, Ibu Ningsih berdalih bahwa nama Ibu Bernadete tidak lagi muncul di Tahap 2 karena sistem Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara otomatis telah mengklasifikasikannya ke dalam "Desil 6 sampai 10".

​"Di dalam sistem, Desil 1 sampai 5 itu kategori miskin. Desil 6 sampai 10 dikatakan sudah mampu atau sudah sejahtera," jelas Ningsih di hadapan peserta rapat.

​Meskipun begitu, Ningsih mengklaim bahwa ia secara pribadi ("menurut saya pendamping") melihat kondisi lapangan Ibu Bernadete (secara kasat mata) dan menganggapnya masih layak dan masih kategori miskin.

​Oleh karena itu, ia mengaku telah berinisiatif melakukan "pembaruan data" atau "pengusulan baru" agar Ibu Bernadete bisa kembali masuk daftar.

​Di sinilah muncul penjelasan teknis kedua. Saat melakukan pembaruan data, Ningsih menemukan "anomali" pada data WC Ibu Bernadete.

​"Di situ (data) terlihat anomali. Mama punya closet leher angsa (WC), tapi pembuangannya menurut data survei terisi lubang tanah. Seharusnya tangki septik," paparnya.

​"Jadi data tidak sesuai... anomali. Jadi datanya ditolak (oleh sistem)," lanjut Ningsih.

​Ia menegaskan bahwa ia datang untuk "memperbaiki" data anomali tersebut, bukan untuk mencoret Ibu Bernadete karena kepemilikan WC.

​Ibu Bernadete Membantah Keras: "Saya Dibilang Karena Koloset!"

​Penjelasan teknis dan birokratis tersebut dibantah dengan tegas oleh Ibu Bernadete Dada Gole.

​Dengan nada tinggi dan penuh emosi, Ibu Bernadete bersikukuh pada pengakuan awalnya. Ia secara langsung menunjuk dan mengkonfrontasi petugas.

​"Waktu itu dibilang saya tidak terima (bantuan) lagi... karena Mama punya koloset (closet)!" tegas Bernadete dalam bahasa daerah, yang diselingi bahasa Indonesia.

​Ibu Bernadete berulang kali menceritakan kronologi saat ia menanyakan mengapa bantuannya di Tahap 2 dan 3 dihentikan. Ia menirukan jawaban yang ia terima, yang intinya menyalahkan keberadaan WC di rumahnya.

​"Saya tanya... 'Presiden tahu kalau kami pasang koloset?'... Katanya 'online'," sergah Bernadete, mengulang keluhannya yang viral.

​Pertemuan klarifikasi ini berakhir dengan ketegangan. Penjelasan "anomali data" dan "desil" dari petugas kini berhadapan langsung dengan pengakuan lugas seorang janda miskin yang merasa haknya dirampas dengan alasan yang tidak masuk akal.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.