Di tengah isak tangis keluarga, Pendeta Manase tampil tegar sebagai juru bicara keluarga besar almarhum Stefanus Bili Gaddi. Dalam sambutannya yang menyentuh saat pemakaman, Kamis (16/10/2025), ia menyatakan sikap resmi keluarga untuk menempuh jalan damai dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak berwenang.Pendeta Manase menegaskan bahwa iman dan kepercayaan kepada Tuhan menjadi pegangan utama keluarga dalam menghadapi cobaan berat ini. Ia juga berterima kasih kepada pihak kepolisian, pemerintah, dan seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan luar biasa.“Sebagai hamba Tuhan dan sebagai keluarga, kami menyatakan dengan tulus bahwa kami tidak akan membalas. Kami serahkan keadilan ini ke tangan Tuhan dan kepada bapak-bapak aparat yang bekerja,” ucapnya dengan suara bergetar.Ia juga mengungkapkan bahwa latar belakang keluarga yang religius, di mana beberapa saudara kandung almarhum adalah calon pendeta, menjadi dasar kuat bagi keputusan ini.“Kami percaya pada proses hukum. Kami hanya meminta doa agar keluarga diberi kekuatan dan agar kasus ini dapat terungkap dengan seadil-adilnya. Terima kasih atas semua dukungan yang telah menguatkan kami,” tutup Pendeta Manase, yang disambut dengan anggukan dan rasa haru dari para pelayat.
Camat Wewewa Barat, Benyamin Kaba, menyampaikan belasungkawa mendalam dari pemerintah kecamatan kepada keluarga almarhum Stefanus Bili Gaddi. Dalam sambutannya di acara pemakaman, Kamis (16/10/2025), ia menyerukan pesan kuat tentang pentingnya menjaga stabilitas dan menolak segala bentuk aksi main hakim sendiri.Didampingi Kapolsek, Babinsa, Tokoh Agama dan Kepala Desa. Camat Benyamin Kaba menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh suasana dan mengganggu keamanan di wilayahnya.“Atas nama pemerintah Kecamatan Wewewa Barat, kami turut berduka. Kehilangan ini adalah duka kita bersama. Namun, emosi dan amarah bukanlah jawaban. Mari kita serahkan persoalan ini pada koridor hukum yang berlaku di negara kita,” ujar Camat.Benyamin Kaba juga memuji soliditas Forkopimcam Wewewa Barat yang bergerak cepat sejak awal kejadian untuk memastikan situasi tetap terkendali. Menurutnya, kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang berduka adalah kewajiban untuk memberikan rasa aman dan jaminan keadilan.“Jangan ada lagi korban. Cukup sudah. Mari kita bergandengan tangan, jaga kampung kita agar tetap aman dan damai,” imbaunya kepada seluruh masyarakat yang hadir.
Sebuah insiden kekerasan antarwarga terjadi di Kampung Reset, Dusun I, Desa Bondo Bela, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, pada Kamis (16/10/2025) sekitar pukul 09.00 WITA.Korban diketahui bernama Nikodemus Ngongo (32), Kepala Dusun I Desa Bondo Bela, yang mengalami luka di bagian pinggang akibat insiden tersebut.Sementara itu, pihak yang diduga sebagai pelaku diketahui dua orang warga asal Desa Dangga Manu masing-masing berinisial O (23) dan J (18), keduanya berprofesi sebagai petani.Kronologi SingkatBerdasarkan laporan dari pihak Babinsa setempat, insiden bermula ketika kedua pelaku datang ke rumah seorang warga bernama Melkianus Ledi (40) di Kampung Reset dengan membawa minuman keras dan memutar musik dengan volume tinggi pada malam hari, Rabu (15/10/2025).Sekitar pukul 02.00 WITA, korban yang merupakan Kepala Dusun menegur dengan sopan agar musik dikecilkan karena mengganggu warga sekitar. Teguran itu sempat diindahkan, namun pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, pelaku kembali membuat keributan di depan rumah korban.Situasi kemudian memanas dan berujung pada perkelahian yang menyebabkan korban mengalami luka dan pelaku ikut terluka sebelum akhirnya melarikan diri.Tindakan AparatBabinsa dari Koramil 1629-01/Laratama segera turun ke lokasi dan mengimbau kedua belah pihak agar menahan diri serta menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada pihak berwenang.Peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat agar menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin dan menghindari konsumsi minuman keras yang kerap memicu konflik di lingkungan pedesaan.
Di tengah prosesi formal penegasan batas wilayah yang dihadiri oleh Bupati dan aparat keamanan, sebuah suara lantang dari seorang pemuda berhasil mencuri perhatian dan menggeser fokus diskusi dari sekadar garis demarkasi ke akar persoalan yang lebih dalam: kualitas sumber daya manusia (SDM).Adalah Adolof Dapa Roka, S.Kep., Ns, seorang pemuda yang mewakili suara generasinya, yang maju ke depan dalam acara mediasi antara Desa Wee Kurra dan Desa Weri Lolo pada Jumat (10/10/2025). Dalam pidatonya yang tajam dan menggugah, ia dengan tegas menyatakan bahwa konflik perbatasan yang telah lama terjadi sesungguhnya adalah masalah sepele yang lahir dari miskomunikasi."Sebenarnya ini hal sepele, miskomunikasi. Andai kata dibicarakan dengan baik, tentu kita tidak merepotkan pemerintah dan keamanan yang punya banyak pekerjaan demi kemajuan kita bersama," ujar Adolof dengan penuh semangat.Adolof, yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Keperawatan dan Ners (S.Kep., Ns), secara berani mendiagnosis "penyakit sosial" yang sesungguhnya menjadi biang keladi pertumpahan darah di wilayahnya. Menurutnya, akar masalah dari konflik horizontal yang kerap terjadi bukanlah sengketa lahan semata, melainkan rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia."Justru karena Sumber Daya Manusia yang sangat minim, sehingga banyak masyarakat kadang karena masalah sepele harus bertumpah darah. Betul tidak?" tanyanya retoris kepada hadirin.Ia kemudian memberikan sebuah analogi kuat tentang pilihan hidupnya. Daripada bekerja di rumah sakit atau puskesmas yang memberinya keuntungan pribadi, ia memilih untuk mengorbankan masa depannya demi terjun ke dunia pendidikan di kampungnya. Baginya, menyembuhkan satu pasien tidak akan menyelesaikan masalah, sementara mendidik masyarakat adalah upaya menyembuhkan penyakit komunal yang sesungguhnya."Saya korbankan masa depan saya sendiri demi kemajuan. Daripada membenahi satu wilayah, (jika) Sumber Daya Manusia-nya rendah?" tegasnya, menyiratkan bahwa pembangunan tanpa pendidikan adalah kesia-siaan.Penyampaiannya ditutup dengan sebuah harapan besar agar kehadiran pemerintah di perbatasan tidak hanya sebatas menyelesaikan sengketa, tetapi juga membangun fasilitas-fasilitas penting seperti pos polisi, pos Kodim, dan yang terpenting, sarana pendidikan untuk mengangkat derajat masyarakat."Kami sebagai pemuda adalah garda terdepan untuk kemajuan Sumba Barat Daya. Kemajuan itu yang kami rindukan," pungkasnya.Interupsi kritis dari Adolof Dapa Roka ini menjadi pengingat keras bahwa perdamaian permanen di perbatasan tidak cukup hanya dengan selembar peta dan tanda tangan. Tanpa investasi serius pada pendidikan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, api konflik akan selalu mudah tersulut dari masalah-masalah yang seharusnya dapat diselesaikan di meja perundingan.
Aktor kenamaan Korea Selatan, Ji Chang-wook, akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Sumba. Sang bintang mendarat di Bandar Udara Tambolaka, Sumba Barat Daya, pada hari Rabu, 15 Oktober 2025, sekitar pukul 15:00 WITA. Kedatangannya sontak membuat heboh ratusan penggemar yang telah menanti sejak pagi.Berdasarkan pantauan langsung jurnalis Silet Sumba di lokasi, suasana di area kedatangan bandara sudah ramai oleh para penggemar yang didominasi kaum hawa. Teriakan histeris dan luapan kebahagiaan tak terbendung begitu Ji Chang-wook muncul dari pintu kedatangan.Mengenakan kemeja flanel, kaos putih, celana jeans, serta topi dan kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya, aktor drama "Healer" dan "Welcome to Samdal-ri" itu tampak santai. Meskipun dikawal ketat oleh timnya, Ji Chang-wook terlihat beberapa kali menyapa dan melambaikan tangan ke arah penggemar yang memanggil namanya, menambah riuh suasana.Para penggemar yang datang dari berbagai penjuru Sumba ini mengaku tak ingin melewatkan kesempatan langka tersebut. Beberapa di antaranya bahkan telah menunggu sejak pukul 6 pagi demi melihat langsung sang idola."Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Bisa menghirup udara yang sama dan melihatnya sedekat ini di Sumba, rasanya luar biasa," ujar seorang penggemar bernama Indo yang diwawancarai di lokasi. Ia mengaku telah mengidolakan Ji Chang-wook sejak duduk di bangku SMP.Senada dengannya, penggemar lain mengungkapkan bahwa kedatangan artis internasional sekelas Ji Chang-wook adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi Sumba. "Di Sumba ini kan jarang sekali ada artis Korea datang. Jadi, begitu dengar kabar dia ke sini, kami langsung semangat. Ini adalah kesempatan emas," tuturnya penuh antusias.Para penggemar berharap selama di Sumba, Ji Chang-wook dapat menikmati keindahan alam dan kehangatan budaya lokal. "Semoga Oppa (panggilan akrab untuk kakak laki-laki di Korea) bisa menikmati liburannya di sini. Sumba itu indah dan warganya ramah," tambah seorang penggemar sambil menunjukkan kain tenun khas Sumba yang sengaja ia bawa.Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai agenda Ji Chang-wook selama berada di Sumba. Namun, kedatangannya telah berhasil menciptakan momen tak terlupakan bagi para penggemarnya di pulau yang terkenal dengan keindahan alamnya ini.
Peristiwa tragis yang terjadi di perbatasan Desa Weri Lolo dan Wee Kurra pada Senin, 13 Oktober 2025, kini menyorot komitmen Kepala Desa Weri Lolo.Pasalnya, insiden tersebut terjadi hanya 72 jam setelah ia bersama Kepala Desa Wee Kurra menandatangani berita acara penegasan batas wilayah di hadapan Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla.Pada Jumat, 10 Oktober 2025, dalam sebuah acara penegasan tapal batas yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten, Kepala Desa Weri Lolo secara sadar membubuhkan tanda tangannya di atas peta dan dokumen penegasan batas.Momen tersebut, yang disaksikan tokoh masyarakat dari kedua desa, seharusnya menjadi akhir dari sengketa panjang dan awal dari kehidupan bertetangga yang damai.Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla kala itu bahkan menitipkan pesan perdamaian dan meminta para kepala desa menjadi garda terdepan dalam menyosialisasikan hasil kesepakatan.“Peta ini tolong dipelajari, dilihat, dan ditempel di kantor desa agar masyarakat juga tahu batas wilayah mereka,” pesan Bupati sembari menyerahkan peta resmi kepada para kepala desa, termasuk Kepala Desa Weri Lolo.Namun, insiden yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia tiga hari berselang menimbulkan pertanyaan besar:Apakah Kepala Desa Weri Lolo telah menjalankan amanat tersebut? Sejauh mana keseriusannya mengawal kesepakatan yang ia tandatangani sendiri?Kejadian ini mengindikasikan kemungkinan kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari pucuk pimpinan Desa Weri Lolo kepada masyarakatnya.Tanda tangan di atas kertas menjadi tak berarti ketika pesan perdamaian gagal mengakar di tengah warga, yang akhirnya kembali pada penyelesaian konflik dengan cara yang tidak semestinya.Publik kini menyoroti tanggung jawab moral dari Kepala Desa Weri Lolo.Sebagai pemimpin yang telah diberi mandat, ia memiliki kewajiban memastikan warganya menghormati hukum dan kesepakatan yang telah dibuat.Peristiwa ini menjadi refleksi atas rapuhnya komitmen dan lemahnya pengaruh pemimpin lokal dalam menjaga stabilitas di wilayahnya.Sementara proses hukum atas insiden tersebut kini ditangani oleh Polres Sumba Barat Daya, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak bahwa perdamaian tidak cukup ditandatangani — ia harus dijaga dan dijalankan dengan kesadaran bersama.
Kepolisian Resor (Polres) Sumba Barat Daya (SBD) mengonfirmasi terjadinya kasus pembunuhan di wilayah perbatasan antara Desa Wee Kurra Kecamatan Wewewa Barat dan Desa Werilolo Kecamatan Wewewa Selatan. Peristiwa ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia.Kasi Humas Polres SBD, AKP Bernardus Mbilli Kandi, dalam keterangannya kepada media, membenarkan insiden tersebut. Menurutnya, pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap kasus ini."Benar, telah terjadi kasus pembunuhan di lokasi perbatasan Wee Kurra, Wewewa Barat, dan Weri Lolo, Wewewa Selatan," ujar AKP Bernardus.Ia menjelaskan bahwa tim penyidik sedang bekerja di lapangan untuk mengumpulkan bukti dan keterangan dari para saksi. Fokus utama saat ini adalah mendalami keterangan saksi-saksi guna mengidentifikasi dan menemukan pelaku kejahatan tersebut."Penyidik atau anggota kami masih sedang melakukan upaya-upaya pemeriksaan para saksi dan pendalaman untuk mencari siapa pelakunya," tegasnya.Hingga saat ini, korban meninggal dunia dilaporkan berjumlah satu orang. Pihak kepolisian juga belum menerima laporan adanya korban luka lainnya.Untuk menjaga status quo dan keamanan, lokasi kejadian perkara (TKP) telah diamankan oleh aparat kepolisian."Kami sudah menyiagakan pengamanan di sana (TKP)," tambah AKP Bernardus.Pihak Polres SBD berjanji akan terus memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan penyelidikan kasus ini kepada publik. "Nanti perkembangannya akan kami sampaikan lagi," pungkasnya.
Di tengah penyelidikan atas meninggalnya Bapak Stefanus Bili Gaddi pada 13 Oktober 2025, sebuah fakta baru yang cukup janggal kini menjadi sorotan.Seorang pria asal Desa Weri Lolo, Markus Kazat (50 tahun), dilaporkan mengalami luka robek parah dan dirawat di Puskesmas Weri Lolo pada hari yang sama dengan insiden di Wee Waira, Desa Wee Kurra.Keterangan resmi menyebut luka tersebut terjadi “karena bambu.” Namun, pernyataan ini menimbulkan tanda tanya besar.Keterangan Medis dan Dugaan KejanggalanBerdasarkan Surat Rujukan No. 1705/135/RJKN/Pusk.WL/X/2025 yang diperoleh Silet Sumba, Markus Kazat didiagnosis mengalami Vulnus Laceratum (luka robek).Namun, bentuk luka yang cukup dalam dan lebar menimbulkan keraguan di kalangan warga. Beberapa pihak menilai luka tersebut lebih menyerupai akibat benda tajam daripada bambu biasa.Desakan Transparansi dari PublikMunculnya informasi ini membuat publik mendesak agar penyelidikan dilakukan secara transparan oleh Unit Reskrim Polres Sumba Barat Daya.Pertanyaan yang kini muncul di masyarakat antara lain:Apakah luka Markus Kazat memiliki keterkaitan dengan insiden di Wee Kurra?Apakah keterangan “karena bambu” sudah melalui pemeriksaan menyeluruh?Selain itu, masyarakat juga menyoroti lemahnya pengamanan pada acara kenegaraan tanggal 10 Oktober lalu yang sempat diwarnai insiden pencabutan pilar batas, dan kini berujung pada dua peristiwa serius di wilayah tersebut.Harapan PublikMedia Silet Sumba mengimbau pihak berwenang untuk membuka seluruh fakta secara terang, agar tidak ada spekulasi liar yang dapat memperkeruh suasana antarwarga.Transparansi dalam kasus ini penting untuk memastikan keadilan bagi semua pihak dan mencegah konflik sosial yang lebih luas.
14 Oktober 2025 - Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Sumba Barat Daya (SBD) secara resmi menetapkan seorang pria berinisial YURP (25) tahun, sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencabulan. Penetapan ini diumumkan dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Sumba Barat Daya.Dalam keterangan resminya, pihak kepolisian yang diwakili oleh Kasat Reskrim menjelaskan bahwa penanganan kasus ini dimulai setelah adanya laporan dari korban. Penyidik kemudian memanggil KR sebanyak dua kali, di mana panggilan pertama berstatus sebagai saksi."Setelah kami dalami keterangan para saksi, keterangan terduga pelaku, dan dikaitkan dengan barang bukti termasuk hasil visum, status KR kami naikkan menjadi tersangka," ujar Kasat Reskrim.Tersangka KR resmi ditahan pada tanggal 9 Oktober setelah menjalani pemeriksaan dan dinilai memenuhi unsur untuk dilakukan penahanan.Motif Dipicu Minuman KerasMenurut pengakuan tersangka kepada penyidik, perbuatan tidak terpuji tersebut dilakukan di bawah pengaruh minuman keras (miras)."Motifnya adalah konsumsi miras. Pelaku tidak dapat mengendalikan diri akibat pengaruh miras dan adanya dorongan gairah nafsu hingga akhirnya melakukan perbuatan itu," jelas Kasat Reskrim.Barang Bukti Diamankan, Terancam 9 Tahun PenjaraDalam konferensi pers, polisi menunjukkan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan, antara lain:Pakaian dalam dan celana pendek milik korban.Pakaian yang dikenakan tersangka saat kejadian.Salinan (screenshot) percakapan dari telepon genggam.Atas perbuatannya, tersangka YURP (25) tahun dijerat dengan pasal berlapis. Polisi menerapkan Pasal 289 KUHP tentang perbuatan cabul dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara, dan/atau Pasal 290 KUHP tentang perbuatan cabul terhadap orang yang tidak sadarkan diri atau tidak berdaya, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan terus berjalan dan tidak akan mengakomodir upaya damai atau mediasi untuk kasus asusila seperti ini. Tersangka YURP saat ini mendekam di ruang tahanan Polres Sumba Barat Daya untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Suasana penuh sukacita menyelimuti kompleks Sekolah Dasar (SD) Anugerah dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Anugerah di Desa Wali Ate, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Sekolah ini menerima kunjungan istimewa dari sepasang tamu asal Brasil, Tuan Dison dan Nyonya Paula, yang datang bersama Ibu Vera dari Kupang pada Selasa (14/10/2025). Kunjungan tersebut menjadi yang kedua kalinya, menandai kelanjutan hubungan persahabatan dan kerja sama yang telah terjalin sejak tahun lalu.Kunjungan Tuan Dison dan Nyonya Paula bertujuan untuk meninjau perkembangan program bantuan pendidikan dan pelayanan doa yang telah mereka gagas sejak kunjungan pertama. Mereka datang sebagai bagian dari inisiatif pribadi yang digerakkan oleh kasih dan kepedulian terhadap anak-anak di Sumba.Kepala SMP Anugerah, Yohanis Ngongo Dairo, menyambut hangat kedatangan mereka. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas perhatian tulus dari pasangan asal Brasil tersebut.“Kami sangat terhormat dan bahagia. Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi bukti nyata kepedulian mereka terhadap anak-anak kami di sini,” ujar Yohanis saat ditemui di lokasi. “Pada kunjungan pertama, mereka membantu kami dengan memberikan bantuan sepatu kepada anak yatim. Kali ini, kami berdiskusi mengenai rencana pemberian bantuan pakaian dan perbaikan fasilitas belajar.”Selama kunjungan, suasana tampak akrab dan penuh sukacita. Tuan Dison dan Nyonya Paula berkeliling sekolah, berdialog dengan para guru, menyapa para siswa yang berbaris di halaman sekolah, serta turut mendoakan guru dan anak-anak agar terus semangat belajar dan beriman.Dalam percakapan singkat, Nyonya Paula mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat para siswa yang tetap ceria meski belajar dengan fasilitas terbatas.“Hati kami ada di Sumba. Melihat senyum dan semangat anak-anak ini memberi kami energi untuk terus berbuat sesuatu,” ungkapnya dengan bantuan penerjemah.Kunjungan yang berlangsung sederhana namun penuh makna ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara kedua belah pihak serta membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi ratusan siswa di SD dan SMP Anugerah. Pihak sekolah berharap kerja sama ini terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli terhadap dunia pendidikan di daerah pelosok.
Stepanus Umbu Pati