Bongkar
Penulis: Bongkar
29 May 2026 - 22:04 WITA

RUMAH LANSIA VIRAL DI HAMELI ATE PICU SOROTAN: SEKDES BILANG SUDAH DIUSULKAN, BUPATI SBD MINTA MASUKKAN DATA, PUBLIK DESAK AKSI NYATA

RUMAH LANSIA VIRAL DI HAMELI ATE PICU SOROTAN: SEKDES BILANG SUDAH DIUSULKAN, BUPATI SBD MINTA MASUKKAN DATA, PUBLIK DESAK AKSI NYATA
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Kodi Utara, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA – Kondisi rumah milik seorang lansia, Bapak Kornelis Kanda Toro, warga Kampung Nangga Dolo, Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), mendadak menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial.

Rumah yang ditempati lansia tersebut dinilai sudah sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni. Meski kondisi bangunan terlihat rapuh dan dianggap tidak lagi aman untuk ditempati, keluarga tersebut disebut tetap bertahan tinggal di sana karena keterbatasan ekonomi.

Sorotan publik semakin meluas setelah sejumlah warga dan relawan kemanusiaan mengunggah kondisi rumah tersebut dengan harapan mendapat perhatian dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah.

Salah satu warga sekaligus relawan kemanusiaan, Christofel Katupu, mengaku telah melaporkan langsung kondisi keluarga Kornelis Kanda Toro kepada Dinas Sosial dan pihak Kecamatan Kodi Utara melalui WhatsApp, setelah dirinya mengunjungi lokasi dan melihat langsung kondisi rumah yang menurutnya sangat memprihatinkan.

Menurut Christofel, rumah yang ditempati keluarga lansia itu sudah tidak lagi mendukung untuk dihuni. Namun karena keterbatasan ekonomi, keluarga tersebut tetap bertahan tinggal di sana.

“Kami sudah laporkan ke pihak Dinas Sosial dan pihak Kecamatan Kodi Utara lewat WhatsApp mengenai kondisi warga masyarakat Kampung Nangga Dolo, Desa Hameli Ate. Waktu kami mengunjungi keluarga lansia atas nama Kornelis Kanda Toro, kondisinya sangat memprihatinkan. Sampai hari ini belum ada respons dari pihak kecamatan, Dinas Sosial, Dinas Perumahan/PUPR, maupun Pemkab SBD,” tulis Christofel dalam unggahannya.

Christofel menegaskan bahwa tujuan pelaporan dan unggahan tersebut bukan untuk mencari sensasi, melainkan bentuk kepedulian kemanusiaan agar keluarga lansia tersebut mendapat perhatian lebih cepat.

Sekdes Hameli Ate: Sudah Diusulkan, Kuota Terbatas


Menanggapi sorotan publik, Sekretaris Desa Hameli Ate, Roy Agler Mone dalam unggahan akun Facebooknya menjelaskan bahwa keluarga Kornelis selama ini telah menerima sejumlah bantuan sosial seperti PKH, bantuan sosial, dan beras pangan.

Terkait bantuan rumah layak huni, pihak desa menyebut kondisi keluarga tersebut sudah diusulkan ke dinas terkait, namun tahun ini Desa Hameli Ate disebut hanya memperoleh 3 unit bantuan rumah, dengan daftar penerima yang ditentukan berdasarkan mekanisme tingkat daerah.

Pernyataan ini memunculkan anggapan bahwa keterbatasan kuota menjadi salah satu kendala utama belum tersentuhnya bantuan rumah bagi keluarga lansia tersebut.

Bupati SBD Ratu Wulla: Program Rumah Ada, Tapi Harus Lewat Prosedur


Di sisi lain, Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla, turut memberikan tanggapan melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa program bantuan rumah sebenarnya tersedia, namun masyarakat diminta memasukkan data ke Dinas Perumahan, karena seluruh bantuan harus melalui prosedur, pendataan, dan kemampuan anggaran daerah.

Dalam tanggapannya, bupati juga menjelaskan bahwa kebutuhan bantuan rumah di SBD masih sangat besar, sehingga penanganan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran pemerintah.

Namun salah satu kalimat dalam respons tersebut, yakni “bukan uang nenek moyang yang dilempar begitu saja”, ikut menjadi perhatian publik. Sebagian warga memahami maksud pernyataan itu sebagai penegasan soal aturan penggunaan anggaran, sementara sebagian lainnya merasa cara penyampaiannya kurang menunjukkan empati terhadap kondisi warga lansia yang sedang disorot.

Publik Pertanyakan Titik Hambatan

Perbedaan penekanan antara respons pemerintah desa dan pemerintah daerah kini menjadi bahan diskusi masyarakat.

Jika pihak desa mengaku sudah mengusulkan bantuan rumah, mengapa masyarakat masih diminta memasukkan data lagi?

Jika laporan sudah disampaikan ke instansi terkait, mengapa belum terlihat respons cepat di lapangan?

Dan jika program rumah memang tersedia, mengapa kondisi warga yang dinilai mendesak belum juga tersentuh bantuan?

Meski kritik bermunculan, banyak warga menegaskan bahwa sorotan terhadap kasus ini bukan untuk menyerang pihak tertentu, melainkan mendorong hadirnya perhatian nyata bagi warga lansia yang hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Kini masyarakat menunggu, bukan hanya penjelasan, tetapi langkah konkret di lapangan untuk memastikan keluarga Kornelis Kanda Toro mendapat perhatian yang layak.

“Karena rakyat kecil mungkin bisa sabar menunggu bantuan, tetapi mereka berharap tidak harus menunggu viral untuk diperhatikan.”

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.