Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
24 January 2026 - 10:51 WITA

Di Balik Selamatnya Satu Nyawa, Ada Raga yang Sedang Bertaruh Nyawa👩🏼‍⚕️

Di Balik Selamatnya Satu Nyawa, Ada Raga yang Sedang Bertaruh Nyawa👩🏼‍⚕️
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Desa Adabang Flores Timur, siletsumba.com - Desa Adabang Kabupaten Flores Timur: Malam itu sunyi, namun tidak bagi seorang Bidan. Di saat semua orang terlelap, ia terjaga, berpacu dengan waktu demi menyelamatkan dua nyawa dalam satu tubuh. Dengan penuh kasih, ia memutuskan untuk merujuk pasiennya ke Rumah Sakit. Tak ada lelah di wajahnya, hanya ada doa agar sang ibu dan bayinya selamat sampai tujuan.

Namun, di tengah perjalanan yang gelap, maut mengintai. Akibat kelalaian seorang pengemudi yang mabuk, mobil yang mereka tumpangi terbalik. Di detik-detik yang sangat mengerikan itu, sang Bidan tidak mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Ia menjadikan tubuhnya sebagai pelindung, ia mendekap pasiennya agar tidak terbentur keras. Ia memilih hancur demi keselamatan orang lain.

Hasilnya? Keajaiban terjadi.

Pasien hamil itu selamat. Ia sehat, bayinya baik-baik saja. Masyarakat bersorak lega, "Untung ibunya selamat," "Syukurlah bayi di dalam kandungan tidak apa-apa." Doa-doa mengalir deras untuk sang ibu hamil.

Tapi, pernahkah kita menoleh sejenak ke pintu ruang ICU?

Di sana, di balik dinding yang dingin, sang Bidan sedang sekarat. Tubuhnya hancur karena hantaman yang seharusnya mengenai pasiennya. Ia kini terbaring tak berdaya, melewati operasi demi operasi demi mempertahankan nafasnya sendiri.

Sebuah ironi yang menyayat hati:

Mengapa dunia begitu cepat melupakan sosok yang menjadi "tameng" nyawa tersebut? Mengapa hanya sedikit yang menanyakan, "Bagaimana kabar Ibu Bidan?" atau "Apakah dia akan kembali sehat seperti sedia kala?"

Kita perlu merenung:

Jika dalam kecelakaan itu sang Bidan selamat namun pasiennya yang terluka, apakah masyarakat akan tetap bersyukur? Ataukah kita akan berbondong-bondong menghujat dan menyalahkan sang Bidan atas kelalaian yang bahkan bukan kesalahannya?

Mari kita buka mata dan hati.

Bidan bukan sekadar profesi, mereka adalah pejuang kemanusiaan yang seringkali menomorduakan nyawa sendiri demi tugas mulia. Tolong, jangan biarkan ia berjuang sendirian di ruang ICU tanpa dukungan doa dari kita.

Selamatnya pasien adalah keberhasilan, namun menderitanya sang penolong adalah duka bagi kita semua.

Dan hari ini beliau menghembuskan napas terakhirnya di kota Karang.

Dedikasi tanpa batas. Selamat jalan ibu bidan Yustina  

"Tanganmu menyelamatkan, hatimu melayani. Selamat jalan, pahlawan persalinan."

"Engkau gugur saat membawa kehidupan baru. Tenanglah dalam damai."

"Bidan mulia, jasamu takkan pernah terlupa."

Dibalut Sang Merah Putih 

Dari batas kabupaten Flores Timur desa Adabang engkau bekerja sebagai seorang tenaga kesehatan kontrak desa untuk keselamatan ibu dan anak Indonesia.

Diakhir usiamu kami bangga atas perjuanganmu "Pahlawan Kemanusiaan" gelar yang diberikan Pemerintah Kabupaten Flores Timur karena engkau gugur dalam tugas.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.