Hero Image
KONDISI MEMBURUK! Alami Sesak Napas, Satu Siswa SMA Alfonsus Dilarikan ke RSUD Waikabubak

Penanganan kasus dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) memasuki babak baru. Seorang siswi dari SMA Alfonsus terpaksa harus dirujuk dari Puskesmas Watu Kawula ke RSUD Waikabubak, Sumba Barat, pada Selasa (11/11/2025), karena kondisinya dinilai memburuk dan mengalami sesak napas.Langkah rujukan darurat ke luar daerah ini mengindikasikan dua kemungkinan: kondisi siswa yang kritis sehingga memerlukan penanganan khusus, atau fasilitas kesehatan di SBD (RS Karitas dan RSU Reda Bolo) sudah tidak mampu menampung lonjakan pasien.Dalam rekaman video dan foto yang diperoleh siletsumba.com, siswa tersebut tampak terbaring lemas di atas brankar dengan selang infus terpasang di tangannya. Seorang tenaga medis perempuan dengan sigap mendampingi dan memberikan penanganan di dalam ambulans."Ini salah satu pasien, siswa SMA Alfonsus, yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Waikabubak, Sumba Barat," ujar seorang pria dalam rekaman video tersebut.Perekam video juga menegaskan bahwa siswa ini adalah bagian dari insiden keracunan massal yang terjadi."Korban makanan bergizi gratis (MBG). Korban mengalami sesak napas, sehingga ada penanganan lebih lanjut dari dokter untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Waikabubak," jelasnya.Insiden ini mengonfirmasi bahwa korban tidak hanya berasal dari SMA Manda Elu, tetapi juga menimpa siswa dari SMA Alfonsus. Evakuasi siswa ini dari Puskesmas Watu Kawula diawasi langsung oleh beberapa orang yang mengenakan seragam berlogo "ALFONSUS".Dirujuknya korban hingga ke kabupaten tetangga menunjukkan parahnya dampak dari insiden keracunan ini, yang sebelumnya telah membuat RSU Reda Bolo dan RS Karitas kewalahan hingga merawat puluhan siswa di lantai koridor.

3 bulan yang lalu
Hero Image
INVESTIGASI SILET SUMBA | Kesaksian Pilu Siswa Korban MBG: "Dagingnya Bau Basi, Tapi Tetap Dimakan... Karena Lapar Sekali

Di antara puluhan siswa yang terbaring lemah di fasilitas kesehatan, sebuah cerita tragis yang seragam muncul sebagai benang merah. Kesaksian para siswa korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) tidak hanya konsisten, tetapi juga mengungkap sebuah ironi yang menyayat hati.Mereka tahu makanan itu bermasalah. Namun, rasa lapar mengalahkan segalanya."Bau Basi... Tapi Lapar Sekali"Pertanyaan terbesar dari insiden ini adalah: mengapa makanan yang diduga basi tetap dikonsumsi? Jawaban dari para siswa melukiskan gambaran yang pilu."Daging ayamnya... tercium bau. Bau. Tapi tetap makan," tutur Rosalinda Eselranda Gesi, siswi kelas 10 SMA Manda Elu, saat ditemui di RS Karitas, Selasa (11/11).Saat ditanya mengapa ia nekat memakannya, Rosalinda terdiam sejenak. "Gara-gara kita mau pulang... lapar sekali," ucapnya lirih.Ia mengaku sempat ragu, namun teman-temannya meyakinkan bahwa itu bukan masalah besar. "Teman-teman bilang hanya bumbunya saja yang bau, tidak ayam," tambahnya.Kesaksian Rosalinda adalah cerminan dari puluhan siswa lainnya. Ayu A.S., siswi lain dari sekolah yang sama, membenarkan temuan itu. "Menunya ada nasi, ayam, sayur... Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan," ujar Ayu.Kesaksian Seragam: Ayam dan Sayur BasiBukan hanya satu atau dua siswa, keluhan ini bersifat massal dan spesifik. Para siswa dari berbagai lokasi perawatan memberikan keterangan yang identik.Arto Kandunu, siswa SMA Manda Elu yang dirawat di RSU Reda Bolo, mengatakan hal yang sama. "Yang kami makan kemarin itu agak bau basi dagingnya. Daging ayam," katanya.Bahkan, Kiren Jessica Goreti Tana, yang dirawat di RS Karitas, menyebut bukan hanya ayam yang bermasalah. "Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren, yang pingsan di sekolah paginya.Gejala Tertunda: Menderita Sepanjang MalamPola keracunan ini juga menunjukkan keseragaman. Para siswa tidak langsung tumbang. Mereka mengonsumsi makanan pada Senin siang, namun gejala baru meledak pada Senin malam hingga Selasa pagi."Mulai keracunan dari tadi malam... jam 2," jelas Arto Kandunu.Wita Inakenda, siswi SMA Manda Elu yang terbaring di ranjang RSU Reda Bolo, juga mengonfirmasi. "Sudah rasa dari kemarin itu," katanya. Ia mengaku tetap memaksakan diri ke sekolah meski sudah merasa sakit perut sejak malam.Bagi Ayu, gejala puncaknya terjadi di sekolah. "Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," ceritanya.Kompilasi kesaksian yang seragam dari puluhan siswa ini menunjuk pada satu sumber masalah: kualitas makanan MBG yang mereka terima pada hari Senin. Fakta bahwa para siswa tetap memakan hidangan yang sudah berbau basi "karena lapar" menambah lapisan tragedi pada insiden yang kini menimpa 95 siswa di Sumba Barat Daya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
DAMPAK MELUAS! Korban Keracunan MBG Diduga Juga dari SMA Alfonsus, RSU Reda Bolo Kewalahan, Siswa Dirawat di Lantai

Dampak kasus dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) ternyata jauh lebih luas dari laporan awal. Selain puluhan siswa SMA Manda Elu, data di lapangan menunjukkan adanya siswa dari SMA Alfonsus yang turut menjadi korban dan dievakuasi ke RSU Reda Bolo.Kondisi di fasilitas kesehatan kini dilaporkan kewalahan. Puluhan siswa terpaksa dirawat di matras darurat yang digelar di lantai koridor rumah sakit karena keterbatasan tempat tidur.Evakuasi Dramatis, RS KewalahanPantauan siletsumba.com dari sejumlah video yang diterima, RSU Reda Bolo di Tambolaka telah dipenuhi oleh siswa-siswi yang masih mengenakan seragam OSIS. Banyak dari mereka terbaring lemah di matras seadanya di lantai, dengan tiang infus berdiri di samping mereka.Para guru dan petugas medis tampak sibuk mendata dan memberikan penanganan pertama. Dalam salah satu rekaman, seorang narator menyebutkan bahwa guru-guru sedang mendata siswa dari SMA Alfonsus yang ikut menjadi korban.Sementara itu, di RS Karitas, rekaman video menunjukkan detik-detik evakuasi yang dramatis. Sejumlah siswa, termasuk yang dalam kondisi pingsan atau lemas total, diangkut menggunakan mobil bak terbuka (pickup L300). Mereka kemudian digotong oleh para guru dan warga untuk segera dimasukkan ke ruang IGD."Lebih Baik Makan Ubi, Asal Sehat!"Di tengah kepanikan, suara protes dari orang tua korban semakin kencang. Noviana Lende, ibu dari siswi bernama Maria Klemensia Tika, menuntut program MBG dihentikan dan dialihkan untuk biaya pendidikan."Dialihkan ke sekolah gratis, lebih bagus, lebih aman!" serunya dengan nada geram di RSU Reda Bolo."Buat apa kita makan makanan bergizi tapi anak-anak kami jadi korban? Mendingan dia makan ubi, dia makan nasi jagung, terus dia sehat, lebih bagus!" tegas Noviana.Ia juga menuntut agar proses pengolahan makanan diawasi ketat. "Cara masaknya, cara bersihnya itu harus perhatikan betul-betul!" tambahnya.Pengakuan Siswa: "Bau, Tapi Tetap Dimakan Karena Lapar"Kesaksian dari para siswa lain yang dirawat menguatkan dugaan bahwa makanan yang mereka konsumsi pada hari Senin (10/11) memang bermasalah.Rosalinda Eselranda Gesi, siswi kelas 10 SMA Manda Elu, mengaku bahwa daging ayam yang ia makan kemarin sudah berbau tidak sedap."Kemarin makan daging ayam... rasanya bau. Bau, tapi tetap makan," katanya saat diwawancarai di rumah sakit.Saat ditanya mengapa tetap memakannya, Rosalinda menjawab polos. "Gara-gara kita mau pergi... lapar sekali. Teman-teman bilang hanya bumbunya saja yang bau, tidak ayam," tuturnya.Ia mengaku gejala sakit perut mulai dirasakannya pada Senin malam. "Pas malam itu, sakit terus," ujarnya.Kesaksian serupa datang dari Wita Inakenda, siswi SMA Manda Elu lainnya. Ia mengaku sudah merasa sakit perut sejak Senin malam setelah mengonsumsi makanan tersebut."Sudah rasa dari kemarin itu. [Tapi] tetap paksa ke sekolah," ujarnya lirih sambil terbaring di ranjang perawatan dengan infus menancap di tangannya.Kesaksian yang konsisten dari para siswa menuntut investigasi serius terhadap pihak penyedia dan pengawas program MBG di Sumba Barat Daya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Suara Orang Tua Korban MBG: "Nyawa Tidak Dijual di Toko! Hentikan Saja, Lebih Baik Bayar Uang Sekolah Kami!"

Di tengah lantai dingin ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD), amarah, cemas, dan kekecewaan bercampur aduk. Para orang tua siswa SMA Manda Elu memadati koridor rumah sakit, menunggu kabar kondisi anak-anak mereka yang menjadi korban dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG).Bagi mereka, insiden yang menimpa 95 siswa ini bukan sekadar kelalaian, tapi sebuah bukti nyata kegagalan program yang mempertaruhkan nyawa.Suara paling lantang datang dari Rosalia Anastasia Nani. Dengan menahan tangis dan napas yang sesak oleh amarah, ia menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana, yang terbaring lemah."Anak saya makan [MBG] kemarin sore. Pulang sekolah dia mencret. Malam dia mencret lagi. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi!" ungkap Rosalia dengan nada tinggi, Selasa (11/11).Keke Puti cewaannya memuncak saat mengingat putrinya sudah mengeluhkan kondisi makanan tersebut sejak kemarin. Kiren, putrinya, membenarkan bahwa makanan yang ia terima sudah tidak layak konsumsi."Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," tutur Kiren lirih dari ranjang perawatan.Rosalia pun secara terbuka menyampaikan protes keras yang ditujukan langsung kepada pemerintah pusat, termasuk Presiden. Baginya, program MBG yang justru membahayakan anak-anak lebih baik dihentikan total."Saya minta Bapak Presiden! Saya minta semua pemerintah! Tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko!" serunya.Ia menawarkan solusi yang menurutnya jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat kecil seperti dirinya: alihkan anggaran MBG untuk membiayai pendidikan."Kalau mau kasih, tidak usah! Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin! Kami ini orang miskin. Ini nyawa anak ini, tidak gampang kita dapat di toko, ya!" tegasnya.Sentimen serupa disuarakan orang tua lainnya. Seorang ibu dari siswi bernama Ayu, yang juga turut menjadi korban, merasa panik dan kecewa. Menurutnya, jika penyedia tidak sanggup menjamin kualitas, program itu tidak seharusnya dipaksakan."Sebagai orang tua, agak kecewa juga," ujar ibu yang mengenakan baju pink tersebut. "Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak kalau sudah dapat ini sakit, kan kita orang tua juga panik."Sama seperti Rosalia, ia lebih memilih jaminan pendidikan gratis daripada program makanan yang berisiko."Mendingan lebih bagus uangnya itu dikasih lewat... sekolah gratis aja, daripada dikasih makanan bergizi," pungS kasnya.Bagi para orang tua ini, program yang niat awalnya baik kini telah berubah menjadi mimpi buruk. Mereka tidak lagi butuh makanan bergizi yang berujung racun; mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa sekolah dengan aman tanpa mempertaruhkan nyawa.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Miris, 95 Siswa SMA Manda Elu di SBD Diduga Keracunan MBG; Gejala Muncul Sehari Setelah Konsumsi Makanan

Insiden dugaan keracunan massal kembali mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD), Selasa (11/11/2025). Sekitar 95 siswa dari SMA Manda Elu terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala mual, muntah, dan diare hebat.Uniknya, para siswa tidak langsung menunjukkan gejala. Keluhan sakit perut, mual, dan diare baru dirasakan secara massal pada malam hari dan puncaknya pada pagi hari ini, sehari setelah mereka mengonsumsi jatah MBG di sekolah.Para siswa yang terdampak kini tersebar dan mendapatkan penanganan medis intensif di tiga lokasi, yakni RS Karitas, RSU Reda Bolo, dan Puskesmas Watu Kawula.Kronologi KejadianBerdasarkan informasi yang dihimpun siletsumba.com dari sejumlah korban dan orang tua di rumah sakit, para siswa mengonsumsi jatah MBG pada hari Senin (10/11) sekitar pukul 13.00 - 13.30 WITA.Menu yang disajikan saat itu adalah nasi, ayam sambal, sayuran, dan buah pisang. Namun, sejumlah siswa mengaku sudah curiga dengan kondisi makanan yang mereka terima."Kami makan kemarin sekitar jam setengah dua," ujar Ayu A.S, salah seorang siswi SMA Manda Elu yang ditemui di IGD. "Menunya ada nasi, ayam, sayur, sama pisang. Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan."Keluhan mulai dirasakan para siswa pada waktu yang berbeda. Sebagian mulai merasa mual dan sakit perut pada Senin malam, sementara yang lain baru merasakannya pada Selasa pagi saat tiba di sekolah."Saya mulai rasa [sakit] dari tadi malam, tapi tetap paksa ke sekolah," kata Cika, siswi lainnya.Puncak kejadian terjadi pada Selasa pagi. Banyak siswa yang tumbang dan pingsan di sekolah setelah bolak-balik ke kamar mandi akibat diare dan muntah."Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," jelas Ayu.Melihat banyaknya siswa yang tumbang, pihak sekolah segera mengambil tindakan dan mengevakuasi para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.Jeritan Orang Tua: "Nyawa Tidak Dijual di Toko!"Insiden ini memicu kemarahan para orang tua siswa yang memadati ruang gawat darurat. Rosalia Anastasia Nani, salah satu orang tua, dengan nada geram menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana."Anak saya makan makanan gratis kemarin. Sorenya begitu dia pulang, dia mencret. Malam lagi dia mencret. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret lagi, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi," tutur Rosalia.Kiren, yang terbaring lemah, membenarkan bahwa makanan yang ia konsumsi kemarin dalam kondisi tidak layak."Makannya kemarin jam 1. Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren.Rosalia dengan tegas meminta pemerintah pusat, termasuk Presiden, untuk mengevaluasi total program MBG. Ia merasa program ini justru membahayakan nyawa anak-anak dan mengusulkan agar anggaran dialihkan untuk membebaskan biaya sekolah."Saya minta Bapak Presiden, tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko. Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin," serunya dengan emosional."Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak sudah sakit begini," timpal orang tua siswa lainnya yang juga menunggu di rumah sakit.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Preman Dalam Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis di Puskesmas Watukawula

Siswa Keracunan Makanan Bergizi, Oknum Tak Dikenal Halangi Peliputan?Sejumlah siswa SMA Alfonsus dan SMA Manda Elu Waitabula dilarikan ke Puskesmas Watukawula, Rumah Sakit Karitas, dan RSUD Redabolo pada Selasa (11/11/2025) akibat dugaan keracunan makanan. Kejadian ini bermula setelah para siswa mengkonsumsi makanan bergizi gratis yang dibagikan pada Senin (10/11/2025) sekitar pukul 13.00 WITA. Beberapa jam kemudian, siswa mulai mengeluhkan sakit perut, perut kembung, dan diare.Situasi darurat terjadi pada Selasa pagi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Guru-guru dengan sigap membawa siswa yang mengalami gejala keracunan ke fasilitas kesehatan terdekat.Saat keluarga siswa dan sejumlah awak media hendak mengambil gambar kondisi siswa yang dirawat di Puskesmas Watukawula, diduga ada sekelompok oknum yang menghalangi. Awak media mencurigai identitas para oknum tersebut, mempertanyakan apakah mereka merupakan perawat atau pegawai puskesmas. Setelah dikonfirmasi kepada salah seorang perawat Puskesmas Watukawula, didapatkan jawaban bahwa mereka bukan bagian dari staf puskesmas.Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti keracunan massal tersebut. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab keracunan dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Lagi dan Lagi Siswa SMA Manda Elu Keracunan Makanan Bergizi Gratis

Waitabula, Sumba Barat Daya - Sejumlah siswa SMA Manda Elu di Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilarikan ke Rumah Sakit Karitas dan RSUD Redabolo pada Senin, 10 November 2025. Mereka diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis yang disediakan sekolah.Menurut keterangan salah seorang siswa, Laura Ayu, yang menjadi korban, makanan yang dikonsumsi pada hari Senin, 10 November 2025 sekitar pukul 13:00 WITA terasa tidak segar. "Makanan yang dikonsumsi terasa basi. Daging ayam pedaging goreng rica-rica terasa basi juga," ujarnya.Laura Ayu menambahkan bahwa ia mulai merasakan mual dan sakit perut sejak malam hari. Meski demikian, ia tetap berusaha mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah pada pagi harinya. Namun, karena kondisi yang semakin memburuk, ia akhirnya bersama teman-temannya dilarikan ke Rumah Sakit Karitas dan RSUD Redabolo untuk mendapatkan pertolongan medis.Pihak sekolah dan instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian ini. Investigasi lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan makanan tersebut.

3 bulan yang lalu
Hero Image
ORASI HARI PAHLAWAN “Bangkitkan Semangat Kepahlawanan: Forum Guru NTT, Pemuda dan Jurnalis Bersatu Melawan Korupsi dan Membangun Ketahanan Pangan NTT” (By. Jusup KoeHoea)

Tema: “Bangkitkan Semangat Kepahlawanan: Forum Guru NTT, Pemuda dan Jurnalis Bersatu Melawan Korupsi dan Membangun Ketahanan Pangan NTT”(By. Jusup KoeHoea)Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, Pemuda dan Jurnalis NTT yang saya cintai!Hari ini, tanggal 10 November, bukan sekadar tanggal dalam kalender.Ini adalah hari kebangkitan jiwa perjuangan, hari di mana kita menundukkan kepala untuk menghormati para pahlawan yang telah menyerahkan segalanya — darah, air mata, dan nyawa — demi kemerdekaan bangsa ini.Namun...Apakah perjuangan sudah selesai?Tidak, saudara-saudaraku!Perjuangan belum selesai!Musuh kita hari ini bukan lagi penjajah berseragam,tetapi penjajahan dalam bentuk baru - korupsi, kemiskinan, dan ketidakadilan!Di tanah Nusa Tenggara Timur, tanah yang diberkati Tuhan dengan alam yang indah,masih banyak rakyat hidup susah,masih banyak petani menatap lahan tidur yang dibiarkan tandus,sementara dana pembangunan lenyap di meja-meja kekuasaan.Hari ini, kita bersuara!Kita, pemuda dan jurnalis NTT, bersatu untuk melawan korupsi!Kita jadikan pena, kamera, dan cangkul sebagai senjata perjuangan baru!Kita tolak segala bentuk kebohongan publik!Kita lawan setiap manipulasi anggaran pendidikan, kesehatan, dan pangan!Karena korupsi bukan hanya mencuri uang negara, tetapi merampas masa depan anak-anak kita!Saudara-saudaraku...Menjadi pahlawan hari ini berarti berani jujur di tengah arus kepalsuan.Menjadi pahlawan berarti menanam di tanah sendiri dan memberi makan bangsa.Menjadi pahlawan berarti berdiri tegak meski sendirian, demi kebenaran.Mari kita jadikan Hari Pahlawan ini sebagai gerakan moral bersama:- Gerakan menghidupkan lahan tidur demi ketahanan pangan daerah!- Gerakan jurnalis menulis kebenaran tanpa takut tekanan!- Gerakan pemuda melawan korupsi dengan integritas dan kerja nyata!Ingatlah, bangsa ini tidak butuh banyak pejabat,bangsa ini butuh pahlawan kejujuran dan kerja keras!Merdeka!Hidup Pemuda NTT!Hidup Jurnalis yang Berani dan Merdeka!Hidup Indonesia yang Bersih dan Berdaulat!

3 bulan yang lalu
Hero Image
PANGDAM IX/UDAYANA LEPAS 1.588 PRAJURIT YONIF TERITORIAL PEMBANGUNAN KE WILAYAH NTB DAN NTT

Buleleng – Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto memberikan pengarahan kepada 1.588 prajurit di Secata Rindam IX/Udayana, Banyuning, Buleleng, Jumat (7/11/2025). Kegiatan tersebut sekaligus menandai pelepasan para prajurit yang akan melaksanakan penugasan di satuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 834/WM, Yonif TP 835/SYB, Yonif TP 875/SYP, Yonif TP 876/Pa Aing La Urra Tana, dan Yonif TP 877/Biinmaffo yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).Dalam arahannya, Pangdam menegaskan bahwa setiap prajurit harus selalu menjaga disiplin, ketertiban, serta mematuhi seluruh aturan yang berlaku di satuan. Ia juga menekankan pentingnya peran para Komandan dalam melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap anggotanya.“Para Komandan agar tidak bosan melakukan pengecekan dan pembinaan. Bila ada pelanggaran, segera ambil langkah-langkah pembinaan secara tegas dan terukur,” tegas Pangdam.Lebih lanjut, Mayjen TNI Piek Budyakto mengingatkan agar seluruh prajurit tetap menjaga semangat dan kebersamaan di mana pun bertugas. “Jaga pangkalan agar tetap rapi dan bersih. Kalian harus tetap bersemangat apapun kondisinya. Karena saat menjadi tentara, kalian telah siap untuk ditempatkan di mana saja,” ujarnya penuh semangat.Pangdam menutup arahannya dengan pesan moral agar setiap prajurit selalu mempedomani dan mengamalkan Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI dalam setiap langkah pengabdian. Ia berharap para prajurit menjadi teladan di tengah masyarakat.“Kehadiran kalian di tengah masyarakat harus membawa dampak positif, menjaga persatuan, serta memperkuat kecintaan rakyat kepada TNI. Jadilah prajurit yang dicintai rakyat dan senantiasa menjaga kehormatan satuan,” pungkas Pangdam.Sementara itu, Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Widi Rahman, S.H., M.Si., dalam keterangannya menyampaikan bahwa pengarahan Pangdam merupakan wujud kepedulian pimpinan dalam menyiapkan prajurit terbaik untuk melaksanakan tugas di satuan baru.“Pelepasan ini bukan sekadar seremonial, tetapi momentum untuk meneguhkan semangat juang dan pengabdian. Pangdam IX/Udayana ingin memastikan seluruh prajurit siap secara fisik, mental, dan moral untuk bertugas di satuan masing-masing dengan penuh tanggung jawab,” jelas Kapendam.Lebih lanjut Kapendam menambahkan, penugasan para prajurit Yonif Teritorial Pembangunan di wilayah NTB dan NTT diharapkan dapat memperkuat pembinaan teritorial, mempererat hubungan TNI dengan masyarakat, serta mendukung stabilitas keamanan wilayah.“Prajurit TNI harus menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat. Dimanapun berada, mereka membawa misi untuk membantu rakyat, memperkuat persatuan, dan menjaga kedaulatan bangsa,” tutup Kapendam. (Pendam IX/Udy)

3 bulan yang lalu
Hero Image
TERJEBAK DALAM SISTEM " ASAL BAPAK SENANG" KAPOLRES SUMBA BARAT DAYA HANYUT DALAM NARASI HOAKS KASATRESKRIM

 Aroma feodalisme birokrasi kembali terasa di tubuh kepolisian daerah. Kapolres Sumba Barat Daya diduga terseret dalam pusaran narasi menyesatkan yang disebarkan oleh Kasat Reskrim terkait konflik dengan wartawan TipikorInvestigasiNews.id saat melakukan liputan investigasi di lokasi penemuan korban pembunuhan di Desa Hoha Wungo Kecamatan Kodi Utara pada hari kamis, tanggal 6 November 2025.Alih-alih menjunjung tinggi transparansi dan kemerdekaan pers sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, institusi yang seharusnya menjadi pelindung justru tampak terjebak dalam budaya “asal bapak senang”, di mana kebenaran dikorbankan demi menjaga citra atasan.Peristiwa yang terjadi di ( lokasi TKP) Sumba Barat Daya ini menjadi gambaran buram hubungan antara aparat penegak hukum dan insan pers di lapangan. Dalam situasi di mana jurnalis tengah menjalankan tugas konstitusionalnya untuk mencari dan menyampaikan kebenaran publik, tindakan intimidatif dan manipulatif semacam ini menjadi ancaman nyata bagi kebebasan pers dan hak publik untuk tahu.Publik kini menanti langkah tegas Kapolda NTT: apakah akan menutup mata terhadap praktik manipulatif di internalnya, atau mengambil sikap berani untuk menegakkan integritas institusi dan menghormati kemerdekaan pers.

3 bulan yang lalu