Hero Image
Dugaan Korupsi Dana BOS SMA Negeri 3 Kota Kupang Mengarah ke Penetapan Tersangka

Kupang — Penanganan dugaan korupsi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMA Negeri 3 Kota Kupang memasuki fase krusial. Penyidik Subdirektorat III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda NTT kini menunggu finalisasi hasil investigasi dan validasi kerugian negara sebagai dasar penetapan tersangka.Sumber internal menyebutkan, gelar perkara lanjutan segera dilakukan setelah hasil audit investigatif dari Inspektorat Daerah Provinsi NTT (ITDA) dinyatakan final. Validasi angka kerugian negara menjadi kunci dalam menentukan arah perkara.Kepala Bidang Humas Polda NTT**, Kombes Pol Henry Novika Chandra melalui Kasubdit, membenarkan bahwa perkara telah berada pada tahap penyidikan.“Kami terus berkoordinasi dengan penyidik dan Proses sudah berjalan pada tahap penyidikan. Kami menunggu hasil investigasi tambahan dari ITDA Provinsi NTT untuk selanjutnya dilakukan gelar perkara dalam rangka penetapan tersangka,” demikian disampaikan melalui keterangan resmi.Ekspose Tertutup 6 FebruariInformasi yang dihimpun menyebutkan bahwa pada Jumat, 6 Februari 2026, Tim Investigasi ITDA Provinsi NTT telah melakukan ekspose bersama penyidik Subdit III Ditreskrimsus Polda NTT. Dalam forum tersebut dipaparkan hasil investigasi serta validasi nilai dugaan kerugian negara atas pengelolaan Dana BOS di SMA Negeri 3 Kota Kupang.Ekspose ini dinilai sebagai langkah penting karena menjadi dasar objektif bagi penyidik untuk memastikan apakah telah terpenuhi unsur tindak pidana korupsi, termasuk unsur kerugian keuangan negara.Meski belum ada pernyataan resmi mengenai besaran nilai kerugian, sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa temuan audit mengarah pada dugaan penggunaan anggaran yang tidak sesuai ketentuan.Jejak Persoalan LamaKasus ini bukan kali pertama SMA Negeri 3 Kota Kupang menjadi sorotan. Sebelumnya, dugaan penyimpangan pengelolaan Dana BOS periode berbeda juga sempat mencuat dan menjadi perhatian publik.Letak sekolah yang berada di pusat pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadikan kasus ini sensitif dan mendapat pengawasan ketat masyarakat. Publik menilai, transparansi penanganan perkara menjadi ujian integritas aparat penegak hukum.Menanti Keberanian Penegakan HukumTahap penyidikan berarti penyidik telah menemukan peristiwa pidana dan tengah mengumpulkan alat bukti untuk menetapkan pihak yang harus bertanggung jawab. Gelar perkara menjadi momentum penentu: apakah penyidik berani melangkah pada penetapan tersangka atau masih membutuhkan pendalaman lanjutan.Polda NTT menegaskan bahwa proses hukum dilakukan secara profesional dan berdasarkan alat bukti yang sah, serta tetap menjunjung asas praduga tak bersalah.Kini, perhatian publik tertuju pada hasil gelar perkara berikutnya. Apakah kasus dugaan korupsi Dana BOS di SMA Negeri 3 Kota Kupang akan segera memasuki babak lanjutan dengan penetapan tersangka, atau kembali berproses dalam pendalaman lebih lanjut — waktu yang akan menjawab.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Brimob Pelopor C Survei Jembatan Bambu Darurat, Danyon Putuskan Segera Perbaikan

Wewewa Timur, 20 Februari 2026 — Danyon Kompi Pelopor C, Denis Y N. Laihitu, bersama anggota Brimob PELOPOR C Kabupaten Sumba Barat Daya NTT, Kepala Desa Pada Eweta Gregorius Dadongo dan Kepala Desa Dikira Yulius Anggo Ate melaksanakan survei jembatan bambu darurat yang setiap hari dilalui anak-anak sekolah serta warga Desa Dikira dan Desa Dangga ManghuKegiatan ini dilakukan setelah pengecatan jembatan darurat di Dusun 4 Dimu Dede, Desa Pada Eweta, yang menghubungkan Desa Kadiwone, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya.Dalam pantauan langsung jurnalis Silet Sumba di lapangan, sebuah peristiwa menegangkan terjadi di hadapan Danyon. Seorang ibu bersama anaknya hampir terjatuh saat melintasi jembatan bambu yang cukup ekstrem dan licin tersebut. Melihat langsung kejadian itu, anggota Brimob PELOPOR C dengan sigap dan cekatan segera memberikan pertolongan hingga ibu dan anak tersebut berhasil menyeberang dengan selamat.Menyaksikan kondisi jembatan yang berisiko tinggi, terlebih menjadi akses utama bagi warga Desa Dikira dan warga Desa Dangga Manghu yang berdomisili di seberang sungai, Danyon Denis Y N. Laihitu langsung mengambil keputusan di lokasi. Ia memutuskan bahwa pada Sabtu, 21 Februari 2026, jembatan tersebut akan segera dikerjakan dan diperbaiki agar lebih aman dilalui masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.Keputusan cepat tersebut menjadi bentuk kepedulian dan respons nyata terhadap keselamatan warga. Jembatan darurat itu bukan sekadar akses penghubung, tetapi jalur vital kehidupan masyarakat yang setiap hari harus bertaruh keselamatan demi bersekolah, bekerja, dan memenuhi kebutuhan hidup.Sinergi antara Brimob dan pemerintah desa diharapkan mampu menghadirkan perbaikan yang lebih layak, sehingga warga yang tinggal di seberang sungai tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali menyeberang.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Semangat Gotong Royong di Jembatan Darurat Dimu Dede, Akan Diresmikan sebagai “Jembatan Merah Putih”

Sumba Barat Daya — Jumat, 20 Februari 2026, suasana kebersamaan tampak di Jembatan Darurat Dimu Dede, Dusun 4, Desa Pada Eweta, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.Berdasarkan pantauan jurnalis Silet Sumba di lapangan, Danyon bersama jajaran anggota Brimob Pelopor C, Kepala Desa Pada Eweta, serta masyarakat setempat terlihat kompak bahu membahu melakukan pengecatan jembatan dengan warna merah dan putih. Proses pengecatan dilakukan secara gotong royong dengan penuh semangat kebersamaan.Jembatan darurat ini merupakan akses vital yang setiap hari dilalui warga, termasuk anak-anak sekolah yang menyeberang untuk menuju tempat belajar mereka. Kondisi jembatan yang sederhana membuat perhatian terhadap keselamatan menjadi sangat penting, terutama saat musim hujan ketika debit air meningkat.Dari pengamatan di lokasi, masyarakat menyambut baik inisiatif tersebut dan berharap perhatian pemerintah dapat berlanjut pada pembangunan jembatan permanen demi keamanan dan kenyamanan pengguna.Rencananya, jembatan tersebut akan diberi nama “Jembatan Merah Putih” sebagai simbol persatuan dan sinergi antara aparat dan masyarakat.Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi pengecatan semata, tetapi juga mencerminkan kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Sumba Barat Daya. 🇮🇩

3 bulan yang lalu
Hero Image
“Aturan Ada, Tapi Apakah Sudah Adil?”: Bung Umbu, Mahasiswa Malang Asal Sumba Barat Daya, Kritik Pemerintah soal Penertiban Pedagang

Sumba Barat Daya, 19 Februari 2026 — Penertiban pedagang keliling oleh Satuan Polisi Pamong Praja di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya kembali memunculkan perdebatan publik. Meski pemerintah daerah menyatakan telah menyediakan lokasi pasar resmi, sejumlah kalangan menilai persoalan ini tidak sesederhana ketersediaan tempat.Tokoh muda Sumba Barat Daya yang juga merupakan mahasiswa di Malang, Bung Umbu, menyampaikan kritik terbuka terhadap pemerintah daerah. Ia menilai, penyediaan lokasi pasar harus dibarengi dengan evaluasi menyeluruh terkait kelayakan, aksesibilitas, serta dampaknya terhadap penghasilan pedagang kecil."Jangan hanya mengatakan tempat sudah disediakan lalu merasa tugas selesai. Pertanyaannya, apakah tempat itu benar-benar layak dan strategis? Apakah pedagang bisa bertahan hidup dari sana?” tegas Bung Umbu.Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, namun hukum tidak boleh dijalankan secara kaku tanpa mempertimbangkan keadilan sosial. Selain itu, Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.Lebih lanjut, Bung Umbu mempertanyakan konsistensi penegakan hukum di daerah."Kalau pedagang kecil dan pemulung bisa cepat ditertibkan, bagaimana dengan kasus pencurian, pelecehan seksual, pemerkosaan, dan pembunuhan? Apakah penanganannya juga secepat dan setegas itu? Hukum harus adil dan tidak boleh tebang pilih,” ujarnya.Menurutnya, ketegasan aparat harus menyentuh seluruh bentuk pelanggaran hukum, terutama kejahatan yang merugikan dan mengancam keselamatan masyarakat. Ia mengingatkan agar tidak muncul kesan bahwa hukum lebih mudah ditegakkan terhadap masyarakat kecil dibanding pelaku kejahatan serius.Bung Umbu juga menegaskan bahwa kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2018 tentang Satpol PP. Namun dalam pelaksanaannya, aparat wajib menjunjung tinggi hak asasi manusia, profesionalitas, dan pendekatan humanis."Penertiban boleh dilakukan, tetapi caranya harus bermartabat, tidak intimidatif, dan tidak mempermalukan warga. Aparat harus hadir sebagai pembina dan pelindung masyarakat, bukan hanya sebagai penegak aturan,” tegasnya.Bung Umbu menekankan, selain pemerintah, kinerja Satpol PP juga harus dievaluasi secara berkala. Evaluasi ini penting agar aparat bekerja lebih profesional, persuasif, dan humanis dalam menegakkan aturan, serta mampu mendengar aspirasi masyarakat sebelum melakukan tindakan tegas.Ia juga menekankan agar pemerintah tidak bersikap asumtif dan berpikir negatif bahwa kritik atau masukan masyarakat adalah upaya untuk menjatuhkan pemerintah. Menurutnya, pejabat publik harus selalu berpikir positif, membuka dialog, dan menilai setiap aspirasi sebagai upaya membangun kebijakan yang lebih baik."Kritik bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memperbaiki. Pemerintah harus melihat aspirasi rakyat dengan positif, bukan selalu berasumsi ada niat buruk,” ujarnya.Sebagai mahasiswa perantau asal Sumba Barat Daya, Bung Umbu berharap pemerintah daerah membuka ruang dialog yang lebih luas dengan pedagang dan masyarakat, sehingga penataan kota dapat berjalan tanpa merugikan warga kecil.Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa ketertiban bukan sekadar soal memindahkan pedagang, melainkan memastikan penegakan hukum berjalan adil, humanis, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas, termasuk dalam menangani kasus-kasus serius seperti pembunuhan atau kejahatan berat lainnya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Viral Pernyataan Bupati SBD di Kampung Ellu: Ancaman “Membakar Hidup-Hidup” Provokator Tuai Sorotan Publik

Pernyataan tegas Ratu Wulla Ngadu Bonnu, Bupati Sumba Barat Daya, yang viral di media sosial karena menyebut akan “mencari, menangkap, menampar dan membakar hidup-hidup provokator” menuai sorotan luas dan memicu kontroversi di tengah masyarakat.Pernyataan tersebut disampaikan pada bulan Januari 2026 di Kampung Ellu, Kelurahan Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, saat kegiatan penyerahan bantuan alat pemadam kebakaran (APAR) kepada warga. Dalam momentum itu, Bupati menegaskan komitmennya menjaga stabilitas pemerintahan dan tidak memberi ruang bagi pihak-pihak yang dianggap mengganggu jalannya kepemimpinan.Sebagian masyarakat menilai ucapan tersebut sebagai bentuk ketegasan terhadap provokasi yang dinilai meresahkan. Namun di sisi lain, publik juga menyoroti pilihan diksi yang digunakan karena terkesan keras dan mengandung unsur ancaman kekerasan.Pernyataan “membakar hidup-hidup” pun memunculkan pertanyaan serius di ruang publik: apakah ungkapan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia (HAM)? Dalam negara hukum, setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dan proses peradilan yang adil. Ancaman kekerasan, terlebih yang mengarah pada tindakan di luar mekanisme hukum, dapat dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM serta konstitusi yang menjamin hak hidup dan perlindungan dari perlakuan tidak manusiawi.Di sisi lain, publik dengan nada rendah dan sejuk turut bertanya: siapakah oknum provokator yang dimaksud oleh Bupati Sumba Barat Daya? Apakah ada pihak tertentu yang telah diidentifikasi, ataukah pernyataan tersebut merupakan bentuk peringatan umum? Pertanyaan ini mencuat sebagai bagian dari harapan masyarakat agar ada kejelasan dan transparansi, sehingga tidak menimbulkan spekulasi maupun kesalahpahaman di tengah warga.Sejumlah kalangan berharap ada klarifikasi resmi guna meluruskan maksud pernyataan tersebut agar tidak menimbulkan tafsir beragam serta tetap menjaga kondusivitas daerah. Transparansi dan komunikasi yang bijak dinilai penting untuk meredam polemik serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.Hingga saat ini, video pernyataan tersebut masih menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial dan memantik respons pro dan kontra dari masyarakat.

3 bulan yang lalu
Hero Image
14 Tahun Penjara Mengintai! JPU Tuntut Petrus Pata Rendi dalam Kasus Tragis Anak di Kodi Utara

SUMBA BARAT (Waikabubak), 18 Februari 2026 — Ruang sidang Pengadilan Negeri Waikabubak mendadak hening. Suasana tegang menyelimuti persidangan ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Sumba Barat membacakan tuntutan terhadap terdakwa Petrus Pata Rendi.Tak tanggung-tanggung, JPU menuntut 14 tahun pidana penjara atas dugaan pembunuhan terhadap seorang anak di bawah umur bernama Stepanus.Sidang yang digelar tertutup untuk umum itu dipimpin Ketua Majelis Hakim Gede Angga Prawirayuda, SH, didampingi dua hakim anggota dan Panitera Pengganti Adrianus S.D., SH.Kronologi Berdarah di Kebun Homba LawePeristiwa memilukan itu terjadi pada Selasa, 28 November 2023 sekitar pukul 15.00 WITA, di kebun Homba Lawe, Kampung Waiholo, Desa Waiholo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya.Menurut dakwaan JPU, saat korban sedang menyemprot rumput di kebun, terdakwa datang menghampiri. Tanpa ampun, terdakwa diduga mencekik leher korban dengan tangan kirinya, lalu menebas bagian belakang kepala dan menusuk perut korban hingga tersungkur ke tanah dan meninggal dunia di tempat.Hasil Visum et Repertum dari UPTD Puskesmas Kori Nomor 126/PKMR/Ver/XI/2023 yang ditandatangani dr. Christian Eric Kusuma memperkuat adanya luka fatal pada tubuh korban.Jeratan Hukum Perlindungan AnakDalam tuntutannya, JPU menyatakan terdakwa terbukti melanggar:Pasal 80 ayat (3) jo Pasal 76C UU No. 12 Tahun 2016UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan AnakAtas dasar itu, jaksa meminta Majelis Hakim menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara.Memberatkan dan MeringankanHal yang memberatkan:Perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat.Menimbulkan trauma mendalam bagi keluarga korban.Bertentangan dengan norma hukum, agama, dan kesusilaan.Hal yang meringankan:Terdakwa belum pernah dihukum.Mengakui dan menyesali perbuatannya.Bersikap sopan selama persidangan.Pledoi: Mohon KeringananDidampingi penasihat hukum Lodowikus Umbu Lodongo, SH, terdakwa memohon keringanan hukuman. Dalam pledoi lisan, pihak pembela menegaskan bahwa terdakwa menyesali perbuatannya, belum pernah tersangkut perkara hukum sebelumnya, serta menjadi tulang punggung keluarga bagi istri dan anak-anaknya.Putusan Pekan DepanMajelis Hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda pembacaan putusan. Vonis hakim nantinya akan menjadi penentu akhir dari perjalanan panjang perkara ini — apakah 14 tahun penjara akan diketok, atau ada pertimbangan lain dari Majelis.Publik menanti. Keluarga korban berharap keadilan ditegakkan. Sementara nasib terdakwa kini berada di tangan Majelis Hakim.SILETSUMBA — Tajam, Akurat, Terpercaya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Tak Ada Anak Emas! Kadiv Humas Tegaskan Kapolri Tak Beri Keistimewaan pada AKBP Didik Putra Kuncoro

Senin, 16 Februari 2026 — Penegasan itu disampaikan langsung dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta. Kepala Divisi Humas Polri, Johnny Eddizon Isir, memastikan Kapolri tidak memberikan keistimewaan kepada AKBP Didik Putra Kuncoro yang tengah diproses dalam perkara dugaan tindak pidana narkotika.Dalam keterangan resminya di hadapan awak media, Irjen Johnny menegaskan bahwa proses hukum berjalan sesuai mekanisme dan standar operasional yang berlaku. Tidak ada intervensi, tidak ada perlakuan khusus, meskipun yang bersangkutan merupakan perwira menengah Polri.Sebelumnya, Bareskrim Polri telah menetapkan mantan Kapolres Bima Kota tersebut sebagai tersangka usai gelar perkara dan dinyatakan telah memenuhi kecukupan alat bukti. Penyidikan saat ini masih berlangsung untuk mendalami konstruksi perkara secara komprehensif.Jumpa Pers di Mabes Polri tersebut sekaligus menjadi respons atas perhatian publik yang menguat terhadap kasus ini. Institusi menegaskan komitmennya menjaga profesionalisme dan transparansi, terutama dalam perkara yang melibatkan anggota internal.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Gelar Perkara Bareskrim: Eks Kapolres Bima Kota Resmi Jadi Tersangka Kasus Dugaan Narkotika

Bareskrim Polri Senin, 16 Februari 2026 Langkah tegas kembali ditunjukkan aparat penegak hukum. Bareskrim Polri resmi menetapkan mantan Kapolres Bima Kota, Didik Putra Kuncoro, sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana narkotika.Penetapan tersebut dilakukan setelah penyidik menggelar perkara dan menyimpulkan telah terpenuhi alat bukti yang cukup untuk meningkatkan status hukum yang bersangkutan. Proses ini disebut sebagai bagian dari tahapan penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.Kasus ini menyita perhatian publik karena melibatkan seorang perwira menengah Polri yang sebelumnya menjabat sebagai pimpinan di wilayah hukum Bima Kota. Meski demikian, hingga kini penyidik belum membeberkan secara rinci konstruksi perkara maupun peran detail tersangka dalam kasus tersebut.Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu. Penanganan perkara berada di bawah kewenangan Bareskrim Polri dan masih terus dikembangkan untuk mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain.Sesuai prinsip hukum, yang bersangkutan tetap memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan pembelaan diri. Proses penyidikan masih berjalan dan publik diharapkan menunggu hasil resmi dari aparat penegak hukum.Perkara ini menjadi pengingat bahwa penegakan hukum harus berdiri di atas asas keadilan dan praduga tak bersalah—siapa pun yang terlibat, apa pun jabatannya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Forum Pemuda NTT Cendana Wangi SBD Gelar Bakti Sosial di Lapangan Galatama Tambolaka

Tambolaka, 13 Februari 2026 — Forum Pemuda NTT Cendana Wangi SBD menggelar kegiatan Bakti Sosial Pemuda di Lapangan Galatama Tambolaka sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan penguatan peran generasi muda di tengah masyarakat.Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Februari 2026 ini melibatkan pemuda dari berbagai komunitas di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Agenda bakti sosial meliputi kerja bakti massal, pembersihan lingkungan sekitar lapangan, pemotongan rumput, pembagian bantuan sosial, serta edukasi kepemudaan bagi masyarakat sekitar.Ketua Pemuda Forum NTT Cendana Wangi SBD, Kristoforus Bali Ate, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan aksi nyata dan bentuk tanggung jawab sosial pemuda. Ia secara pribadi mengeluarkan dana sebesar Rp1.500.000 untuk mendukung operasional kegiatan.Dana tersebut digunakan untuk membeli bensin dan oli guna operasional mesin potong rumput, serta menyediakan minuman dan snack bagi para peserta kerja bakti agar kegiatan berjalan lancar dan penuh semangat kebersamaan.“Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari tindakan sederhana. Pemuda harus berani berkontribusi nyata, bukan hanya berbicara,” ujar Kristoforus.Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat sekitar yang turut ambil bagian dalam kerja bakti dan menyambut baik semangat gotong royong yang dibangun oleh para pemuda.Forum Pemuda NTT Cendana Wangi SBD berkomitmen untuk terus menghadirkan program sosial yang berdampak langsung serta memperkuat solidaritas dan kepedulian generasi muda terhadap daerahnya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
PWMOI NTT: Hasil Rapat Forkopimda Plus Manggarai Barat Jangan Sampai Kebiri Kemerdekaan Pers

KOTA KUPANG – Ketua Perkumpulan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Andre Lado, S.H., angkat suara tegas menanggapi hasil rapat Forkopimda Plus Kabupaten Manggarai Barat yang menetapkan sejumlah syarat bagi media dan wartawan.Andre menilai, sejumlah poin seperti kewajiban Uji Kompetensi Wartawan (UKW), verifikasi Dewan Pers, hingga pengaturan koordinasi peliputan melalui Kepala Dinas berpotensi menimbulkan tafsir keliru dan dapat membatasi kerja jurnalistik jika dijadikan prasyarat peliputan.“Undang-Undang Pers tidak mengenal sistem perizinan bagi pers nasional. Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers secara tegas menyatakan bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran,” tegas Andre.Ia menegaskan, UKW dan verifikasi perusahaan pers merupakan instrumen peningkatan profesionalisme, bukan alat pembatasan akses informasi atau syarat mutlak bagi wartawan untuk menjalankan tugas jurnalistik.Lebih lanjut, Andre mengingatkan bahwa berdasarkan Pasal 15 UU Pers, Dewan Pers berfungsi melakukan pendataan perusahaan pers, bukan menerbitkan izin operasional. “Kalau ada kebijakan daerah yang dimaknai sebagai izin atau pembatasan, itu harus dikaji ulang agar tidak bertentangan dengan regulasi nasional,” ujarnya.Menurutnya, kebebasan pers adalah pilar demokrasi yang dijamin konstitusi. Karena itu, setiap kebijakan di daerah, termasuk hasil rapat Forkopimda, harus tetap selaras dengan semangat kemerdekaan pers.PWMOI NTT mendorong adanya dialog terbuka antara pemerintah daerah, unsur Forkopimda, dan organisasi pers agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pembatasan kerja jurnalistik.“Pers adalah mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada publik. Jangan sampai aturan yang dimaksudkan untuk penertiban justru dipersepsikan sebagai upaya pembungkaman,” pungkas Andre.

3 bulan yang lalu