Menjadi pribadi yang disegani bukan soal suara yang keras, jabatan yang tinggi, atau banyaknya pencapaian. Penghormatan yang paling tulus lahir dari kesan mendalam yang kita tinggalkan dalam cara berpikir, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Banyak orang ingin dihargai, tetapi sedikit yang mau membangun karakter yang pantas dihargai.Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey dan How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie, dijelaskan bahwa kehormatan bukan sesuatu yang diminta, tetapi buah dari karakter yang terjaga. Pengaruh seseorang bertumbuh bukan dari gaya memerintah, tetapi dari integritas, empati, dan konsistensi yang dikenali orang lain. Dua buku ini menunjukkan bahwa wibawa lahir dari pondasi internal sebelum terlihat di permukaan.Berikut tujuh karakter penting yang perlu dikembangkan jika ingin menjadi sosok yang secara alami dihormati.1. Integritas yang Tidak Mudah GoyahIntegritas adalah pondasi rasa hormat. Orang yang berintegritas tidak mengatakan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain, tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang elegan. Mereka memegang janji, menepati komitmen, dan tidak mengambil jalan pintas yang merugikan orang lain. Di mata orang sekitar, sosok seperti ini dianggap dapat diandalkan dan aman untuk dipercaya.Ketika seseorang memegang integritas, ia memiliki standar moral yang tidak berubah meski situasi berubah. Karakter ini membuat orang lain merasa nyaman dan menghormati batasan yang ia tetapkan. Integritas bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk selalu memilih jalan yang bermartabat.2. Ketegasan yang Diiringi KebaikanKetegasan membuat seseorang terlihat kuat, tetapi kebaikan membuatnya tetap manusiawi. Ketika keduanya berjalan bersama, terlahirlah wibawa yang sehat. Orang yang tegas tidak mudah digoyang oleh opini yang tidak relevan, tetapi ia tetap mampu berbicara dengan empati. Ketegasan seperti ini membuat pendapat dan keputusannya lebih dihormati.Banyak orang salah kaprah dengan menganggap tegas berarti keras. Padahal ketegasan sejati justru lembut tetapi jelas. Orang yang tegas dengan cara bijak menciptakan batasan, menjaga dirinya, dan tetap memuliakan orang lain. Kombinasi ini membuatnya dianggap matang dan layak dihormati.3. Konsistensi dalam Perilaku dan TindakanTidak ada yang lebih meyakinkan daripada seseorang yang konsisten. Ketika sikap, kata-kata, dan tindakannya selaras, orang lain akan melihatnya sebagai pribadi yang stabil. Konsistensi membuat seseorang mudah diprediksi dalam hal yang positif, dan ini memberikan rasa aman bagi siapa pun yang bekerja atau berinteraksi dengannya.Kebalikannya, orang yang berubah-ubah sulit dihormati karena tidak jelas apa yang ia perjuangkan. Konsistensi bukan tentang keras kepala, melainkan keteguhan dalam nilai. Orang yang konsisten akan dihormati karena memiliki arah yang jelas dan tidak goyah hanya karena keinginan sesaat.4. Kemampuan Mendengarkan dengan Penuh PerhatianMendengarkan tampak sederhana, tetapi jarang dilakukan dengan benar. Orang yang benar-benar mendengar membuat lawan bicara merasa dihargai. Mereka tidak memotong, tidak menghakimi, dan tidak tergesa-gesa memberikan solusi. Sikap tenang ini membuat banyak orang merasa aman untuk terbuka.Ketika seseorang mampu mendengarkan, ia menunjukkan kedewasaan emosional. Ini membuatnya dihormati bukan karena ia tahu segalanya, tetapi karena ia mampu memberikan ruang bagi orang lain. Banyak pemimpin dihormati bukan karena kata-katanya, tetapi karena kualitas mendengarnya.5. Kendali Emosi yang StabilOrang yang mudah tersulut emosi jarang dihormati. Sebaliknya, mereka yang mampu menjaga ketenangan di tengah situasi sulit tampak lebih berwibawa. Kendali emosi menunjukkan bahwa seseorang memiliki kedewasaan, kesabaran, dan kemampuan merespons dengan kepala dingin.Ketenangan membuat keputusan yang diambil lebih jernih. Orang sekitar pun merasa lebih menghargai sikap itu karena ketenangan memberi rasa aman. Dengan emosi yang teratur, seseorang tampak lebih dewasa dan dapat diandalkan dalam situasi apa pun.6. Kerendahan Hati yang Tidak Merendahkan DiriKerendahan hati adalah magnet wibawa. Orang yang rendah hati tidak pamer, tidak butuh pengakuan, dan tidak merasa lebih dari orang lain. Sikap ini membuatnya mudah diterima, dihormati, dan dipercaya. Kerendahan hati bukan berarti tidak percaya diri, melainkan mengetahui nilai diri tanpa harus menunjukkannya berlebihan.Mereka yang rendah hati juga lebih mudah belajar. Mereka menghargai masukan, mengakui kesalahan, dan tidak malu mengembangkan diri. Sikap ini secara alami membuat orang lain melihatnya sebagai pribadi yang matang dan pantas dihormati.7. Tanggung Jawab pada Setiap KeputusanOrang yang disegani tidak suka melempar kesalahan. Mereka bertanggung jawab atas tindakan sendiri, baik hasilnya baik maupun buruk. Tanggung jawab memberi kesan kuat bahwa orang ini tidak lari dari konsekuensi, dan itu membuatnya dihormati.Ketika seseorang berani memikul tanggung jawab, ia terlihat dewasa. Orang sekitar lebih percaya padanya karena ia tidak menyalahkan orang lain untuk menutupi kelemahannya. Tanggung jawab adalah ciri dari individu yang kuat dan berpengaruh._________Penghormatan tidak datang dari tuntutan, melainkan dari karakter yang terus diasah. Ketika seseorang membangun tujuh karakter ini, ia tidak hanya menjadi pribadi yang disegani, tetapi juga menjadi manusia yang lebih tenang, jernih, dan matang. Wibawa sejati tidak perlu ditunjukkan. Ia muncul dengan sendirinya dari cara seseorang membawa dirinya setiap hari.
Sebuah jembatan dan tembok penahan tanah di wilayah Keretana Kelurahan Waitabula, Kota Tambolaka, ambruk total pasca diterjang banjir. Insiden ini membongkar dugaan buruknya kualitas konstruksi proyek pemerintah tersebut. Berdasarkan investigasi lapangan, struktur beton yang patah terlihat tidak memiliki tiang cor (fondasi) penyangga, hanya mengandalkan besi beton yang ditanam seadanya.Kondisi ini memicu reaksi keras dari warga dan sorotan awak media. Namun, saat Siletsumba.com mencoba mengonfirmasi temuan teknis tersebut kepada kontraktor pelaksana, Ongko Niko (Tokoh Romantis), respons yang diterima justru bernada tinggi dan intimidatif.Fakta Lapangan vs Bantahan EmosionalDalam pantauan di lokasi, reruntuhan jembatan memperlihatkan patahan beton yang bersih tanpa adanya jejak tiang penyangga utama di sudut-sudut fondasi. Hal ini diduga menjadi penyebab utama bangunan mudah terpisah dari badan jalan saat tanah di bawahnya tergerus air.Ketika dikonfirmasi via telepon mengenai ketiadaan tiang cor tersebut, Ongko Niko menampik keras. Ia enggan menanggapi detail teknis yang ditanyakan wartawan dan justru menuduh awak media mengada-ada."Ah asal omong saja kau itu," hardik Ongko Niko dengan nada emosi.Ia bersikeras bahwa proyek tersebut dikerjakan dengan benar dan sudah melalui proses serah terima (PHO) yang disaksikan panitia. Menurutnya, kerusakan itu murni bencana alam dan faktor usia bangunan yang diklaimnya dikerjakan tahun 2013—sebuah klaim yang masih menjadi perdebatan mengingat warga menyebut proyek tersebut belum terlalu tua.Alih-alih memberikan penjelasan yang tenang sebagai mitra pemerintah, Ongko Niko justru menutup pembicaraan dengan kalimat peringatan kepada wartawan."Jangan kau cari masalah bajingan," tegasnya.Warga Ancam Tutup JalanTerlepas dari perdebatan tahun pembuatan, fakta di lapangan menunjukkan lubang besar kini menganga di sisi jalan negara Keretana kelurahan Waitabula, membahayakan pengendara yang melintas. Jembatan yang dulunya dibangun atas aspirasi Almarhum Roby Wodalado (Anggota DPRD) dan Tokoh Agama setempat ini kini menjadi ancaman maut.Warga sekitar menegaskan akan mengambil tindakan drastis jika pemerintah tidak segera turun tangan."Jika tidak cepat ditangani, kami warga setempat akan menutup akses jalan ini. Kondisi tanah terus tergerus air, sangat berbahaya jika dipaksakan untuk dilewati," ujar salah seorang warga di lokasi.Hingga berita ini diturunkan, Dinas Pekerjaan Umum (PU) SBD belum memberikan keterangan resmi terkait status pemeliharaan jembatan tersebut maupun spesifikasi teknis yang sebenarnya.(Tim Redaksi Siletsumba.com)
Ketegangan terjadi di lokasi proyek pembangunan trotoar dan drainase di kawasan Tambolaka, Sumba Barat Daya. Seorang warga setempat, Ongko Peter, meluapkan kekecewaannya dan memprotes keras pihak pelaksana proyek, CV. AASTRAR, yang dinilai tidak bertanggung jawab atas kerusakan properti pribadinya.Dalam video yang beredar, Ongko Peter tampak berang saat meninjau kondisi jembatan masuk ke halaman rumah/kintalnya yang telah dibongkar oleh pekerja proyek. Ia mengungkapkan bahwa pihak kontraktor sebelumnya berjanji akan memperbaiki kembali akses jalan tersebut setelah drainase selesai dibangun. Namun, hingga kini janji tersebut tidak ditepati dengan alasan klasik: anggaran tidak mencukupi."Kalau namanya kintal orang, Pak, kalau dirusak terus tidak diperbaiki dengan janji-janji busuk, itu kan pasti kita juga tidak terima," ujar Ongko Peter dengan nada tinggi di lokasi kejadian.Peter menegaskan bahwa sejak awal ia hanya memberikan izin pembongkaran karena adanya jaminan perbaikan (pengecoran ulang)."Kalau dulu seumpamanya diberitahu kalau dibongkar tapi tidak dicor kembali, saya keberatan. Saya bilang biar langgar dulu (tunda dulu). Kalau anggarannya memang tidak cukup, jangan merugikan orang lain," tegasnya.Kualitas Material DipertanyakanProtes Ongko Peter mendapat dukungan dari salah satu pekerja di lapangan bernama Rato. Dalam percakapan di lokasi, Rato membenarkan bahwa memang ada janji dari pihak pelaksana untuk mengecor kembali area yang dibongkar."Dia bilang, 'Bapak punya (halaman) nanti saya cor'. Iya, dia bilang iya. Tapi kemarin saya dengar, tidak ada lagi (anggaran), sudah habis," ungkap Rato dengan polos.Tuntutan WargaWarga menuntut CV. AASTRAR untuk segera bertanggung jawab mengembalikan kondisi akses jalan warga seperti semula sesuai kesepakatan awal. Alasan kekurangan anggaran dinilai tidak masuk akal dan tidak boleh menjadi pembenaran untuk merusak fasilitas pribadi milik masyarakat yang terdampak pembangunan.Hingga berita ini diturunkan, kondisi drainase di depan properti Ongko Peter masih terbengkalai dengan akses jembatan darurat seadanya, yang menyulitkan mobilitas pemilik lahan.
Jembatan Keretana yang terletak di Kelurahan Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, ambruk akibat banjir pada bulan Februari 2025. Jembatan yang menghubungkan ke kampung Belakang ini dibangun pada akhir Agustus 2018 oleh kontraktor pelaksana Ongko Niko Romantis Waikabubak.Investigasi lapangan oleh Silet Sumba menemukan dugaan bahwa jembatan tersebut tidak memiliki tiang cor cakar ayam dari dasar. Pondasi hanya dipasang di kedua sisi, dan besi beton hanya ditempel di atas pondasi tanpa pengikat ujung besi dari kedua sisi. Warga sekitar mengeluhkan konstruksi jembatan yang dinilai tidak memadai dan menyebut tidak adanya tiang cor cakar ayam.Ketika dikonfirmasi melalui telepon, kontraktor pelaksana Ongko Niko Romantis membantah bahwa jembatan tersebut dibangun pada tahun 2018, mengklaim dibangun tahun 2013. Percakapan melalui WhatsApp pada 24 November 2025 tersebut diwarnai dengan kalimat kasar. Pihak terkait diharapkan dapat melakukan investigasi lebih lanjut terkait dugaan penyelewengan anggaran pada proyek ini.```
Kupang, NTT — Gelombang besar perubahan sedang bergerak di Nusa Tenggara Timur. Dua sosok Kajari Shirley Manutede, S.H., M.Hum., (Kajari Kota Kupang) dan Yupiter Selan, SH. M.Hum (Kajari Kabupaten Kupang) kini menjadi figur yang diperbincangkan publik sebagai ancaman nyata bagi para koruptor yang selama ini merasa kebal hukum. Keberanian keduanya membuat banyak pihak menilai bahwa tahun 2025 adalah tahun pemurnian institusi dan titik balik sejarah pemberantasan korupsi di NTT.Tidak berlebihan jika masyarakat menyebut mereka sebagai “duo petarung hukum” penegak hukum yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diintervensi, dan tidak tunduk pada kekuatan politik mana pun.Forum Guru NTT: “Mereka Jawaban Doa Puluhan Tahun Rakyat yang Terluka oleh Kemiskinan dan Korupsi”Ketua Umum Forum Guru NTT, Jusup Koehoea, menyampaikan apresiasi yang sangat kuat, bahkan emosional. Ia menilai bahwa kehadiran dua Kajari ini adalah bagian dari jawaban atas jeritan panjang masyarakat NTT yang selama puluhan tahun merasa dikhianati oleh pejabat dan elit yang menggerogoti anggaran publik.“Sudah puluhan tahun masyarakat NTT berdoa dan bersujud dengan harapan agar provinsi ini keluar dari kutukan kemiskinan. Puluhan tahun juga rakyat berharap Tuhan mengutus penegak hukum yang tidak dapat dibeli. Hari ini, harapan itu tertuju pada Sherly Manutede dan Yupiter Selan. Saya yakin, mereka diutus TUHAN, Bapa di Surga,” tegas Koehoea.Pernyataan ini menggambarkan betapa dalam luka rakyat akibat korupsi, sekaligus menunjukkan besarnya ekspektasi publik terhadap integritas dua pemimpin kejaksaan tersebut.Respon langsung Kajari Kota Kupang kami terbuka berkaloborasiMelalui pesan singkat kepada Forum Guru NTT, Kajari Kota Kupang Sherly Manutede turut menyampaikan komitmen lembaganya untuk terus membuka diri terhadap kemitraan sosial dalam pemberantasan korupsi.Pernyataan ini mempertegas bahwa pintu pengawasan publik terbuka lebar dan kejaksaan siap bekerja bersama masyarakat yang merindukan perubahan.Deretan Kasus yang Menggetarkan Publik: Koruptor Mulai Tak Tidur NyenyakDi bawah kepemimpinan dua Kajari ini, kasus-kasus yang selama ini dianggap “sulit disentuh” mulai dibuka. Ruang gelap korupsi mulai disinari satu per satu.Kasus-Kasus di Bawah Komando Shirley Manutede, S.H., M.Hum., (Kajari Kota Kupang)1. Kredit Bermasalah Bank NTT (2016)2. Dugaan Penyalahgunaan Anggaran Perjalanan Dinas DPRD Kota Kupang (2019–2023)3. Dugaan Korupsi Proyek Pabrik Garam & Revitalisasi Sentra IKM Garam (2019 & 2021 — Disperindag Kota Kupang)4. kasus dugaan Korupsi Poltekes Kota KupangKasus-Kasus di Bawah Komando Yupiter Selan, S. H. M. Hum (Kajari Kabupaten Kupang)1. Dugaan Gratifikasi/Korupsi Dana BOK Puskesmas se-Kabupaten Kupang (2021–2022)2. Dugaan Korupsi Dana Desa di Desa Oesusu, Kecamatan Takari (2024–2025)3. Dugaan Korupsi Hasil Penjualan 47 Ekor Sapi Desa. Desa Sahraen, Amarasi Selatan4. Dugaan Korupsi Proyek Sumur Bor, Desa Oenuntono Amabi Oefeto Timur (2019)Di berbagai daerah, isu-isu yang sebelumnya dianggap tidak tersentuh kini dibongkar tanpa kompromi. Nama-nama yang dahulu merasa kebal hukum kini mulai dipanggil, diperiksa, dan dipaksa mempertanggungjawabkan perbuatannya.Ruang gelap yang selama ini menutupi korupsi mulai retak dan para pelaku mulai kehilangan tidur.Banyak pengamat menyebut NTT memasuki “Era Kebangkitan Moral dan Hukum.”Forum Guru NTT: “Persatuan Rakyat adalah Energi Perang Melawan Korupsi”Forum Guru NTT menegaskan bahwa keberanian ini harus didampingi gerakan rakyat yang solid. “Dua Kajari tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Rakyat harus berdiri di belakang mereka. Laporkan penyimpangan, jangan takut. Jika kita bersatu, tembok gelap korupsi yang menghancurkan generasi muda NTT akan runtuh,” tegas Koehoea.Seruan Moral Penutup “Jika langkah seperti ini terus berjalan, NTT akan keluar dari lingkaran gelap korupsi yang telah membelenggu. Mari kita menjadi jalan terang dan berjalan pada jalan terhormat menuju Bapa di Surga. Daerah ini harus diselamatkan dari tangan para perusak bangsa,” tutupnya.
Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dalam jual beli tanah dilaporkan ke Polres Sumba Barat Daya (SBD). Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/268/11/2025 SPKT POLRES Sumba Barat Daya Polda Nusa Tenggara Timur.Menurut Yubilate Piter Pandango, kuasa hukum korban, kejadian bermula ketika Johanis Umbu Deta memberikan kuasa kepada korban untuk menjual tanah di Desa Tanjung Karoso pada tahun 2024. Korban dijanjikan menerima hasil penjualan tanah sebesar Rp 10 miliar dari pembeli bernama King Kevin.Setelah korban menandatangani penyerahan uang di notaris, uang sebesar Rp 9,5 miliar diduga diambil kembali oleh Johanis Umbu Deta bersama istri seorang oknum anggota Brimob. Korban hanya menerima Rp 500 juta dari hasil penjualan tanah tersebut, sebagaimana disampaikan kuasa hukum korban.
Salam hormat dan salam sejahtera untuk kita semua.Pertama-tama, atas nama pribadi, suami, dan anak-anak, saya menyampaikan limpah terima kasih kepada seluruh masyarakat Sumba Barat Daya yang telah memberikan kepercayaan besar kepada saya untuk duduk sebagai Anggota DPRD. Kepercayaan itu adalah kehormatan sekaligus amanah yang saya jaga dengan sepenuh hati.Namun perjalanan saya sebagai wakil rakyat harus terhenti melalui proses Pergantian Antar Waktu (PAW) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor: 100.3.3.1/1030/PEMKES, yang menetapkan pemberhentian saya dan pengangkatan Saudara Lende Bulu.Saudara- saudari sekalian, bukan hal mudah bagi saya dan keluarga menerima kenyataan ini. Bukan karena saya kehilangan kedudukan, tetapi karena saya merasa masyarakat yang telah menitipkan suaranya kepada saya layak mendapatkan penjelasan, layak mendapatkan penghormatan, dan layak mendapatkan permohonan maaf dari hati yang paling dalam.Maka melalui konferensi pers ini, saya beserta keluarga menyampaikan permohonan maaf sebesar–besarnya kepada seluruh masyarakat Sumba Barat Daya—lebih khusus kepada masyarakat dapil II Wewewa Timur, Wewewa Utara dan Wewewa Tengah yang sudah mempercayakan suara, waktu, tenaga, dan harapan kepada saya pada pemilihan legislatif yang lalu.Izinkan saya menyampaikan satu hal yang tetap saya pegang teguh:Kesetiaan yang pernah kita bangun tidak pernah saya lepaskan.Kesetiaan itu seperti benih yang pernah kita tanam bersama:hari ini mungkin tidak tampak, mungkin tertutup oleh tanah kesedihan atau kekecewaan…tetapi saya percaya benih itu tetap hidup, akan bertunas, akan tumbuh, dan pada waktunya akan mekar menjadi bunga dengan aroma yang tetap wangi—aroma perjuangan, kejujuran, dan keteguhan hati.Hadirin yang saya hormati,Saya dan keluarga tidak memiliki kekuasaan apapun.Kami tidak punya jabatan, tidak punya kekuatan politik, tidak punya ruang untuk membela diri secara besar-besaran.Tetapi satu hal yang kami miliki—dan tidak bisa direbut oleh siapapun—adalah iman.Karena itu, kami membawa seluruh persoalan ini kepada Yang Maha Kuasa, kepada Bapa di Surga, tempat di mana keadilan tidak bisa dimanipulasi, dan kebenaran tidak bisa disembunyikan.Biarlah Tuhan sendiri yang bekerja.Biarlah Tuhan sendiri yang membuka jalan.Dan biarlah apa yang hari ini tampak sebagai akhir, menjadi awal dari rencana yang lebih besar.Terima kasih kepada semua pihak yang tetap mendoakan, mendukung, dan berdiri bersama kami.Kesetiaan kalian adalah kekuatan kami.Salam hormat,Carolina Louro sekeluarga.🙏
Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di dua Puskesmas di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga merugikan negara hingga miliaran rupiah. IPAL yang dibangun di Puskesmas Waimangura dan Puskesmas Radamata sejak tahun 2019 tersebut terbengkalai dan mangkrak.Menurut Elisabeth, petugas Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Waimangura, tujuan pembangunan IPAL adalah untuk mengelola air limbah. Air limbah yang diolah seharusnya diuji di laboratorium sebelum dimanfaatkan. Namun, kenyataannya IPAL tersebut belum pernah digunakan secara optimal, hanya dilakukan uji coba sekali setelah pembangunan.Permasalahan yang ditemukan antara lain pipa bocor dan daya listrik yang tidak memadai untuk operasional. Selain itu, IPAL yang dibangun tidak memiliki meteran listrik khusus. Kasus ini menjadi sorotan karena potensi kerugian negara dan manfaat IPAL yang tidak dirasakan masyarakat. Pihak terkait diharapkan segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan permasalahan ini.```
Proyek pembangunan gedung berlantai dua di Puskesmas Radamata, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan mangkrak. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait kelanjutan pembangunan dan pemanfaatan fasilitas kesehatan tersebut.Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa bangunan yang berada di bagian belakang Puskesmas Radamata tersebut belum dilengkapi plafon. Meskipun demikian, dua ruangan di lantai bawah bangunan sudah ditempati oleh pegawai puskesmas. Keadaan ini memicu kekhawatiran akan dampak buruk terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang seharusnya diberikan.Upaya konfirmasi kepada Kepala Puskesmas Radamata melalui sambungan telepon dan aplikasi WhatsApp pada hari Sabtu, 22 November 2025, belum membuahkan hasil. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap penyebab terhentinya proyek ini dan memastikan pertanggungjawaban pihak-pihak terkait.
Kasus dugaan rekayasa hasil visum et repertum mencuat di Puskesmas Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah. Seorang oknum dokter berinisial RAP diduga melakukan rekayasa terhadap hasil visum lima orang korban kekerasan yang terjadi pada tanggal 27 September 2025. Dugaan rekayasa ini terungkap saat proses penyidikan di Polres Sumba Barat.Menurut Indah Prasetya, pengacara dari suku Moritana yang mendampingi para korban, dugaan rekayasa meliputi perbedaan signifikan antara luka yang dialami korban dengan hasil visum. "Saya sangat kaget dan kecewa ketika melihat hasil visum tersebut di ruang Penyidik RESKRIM POLRES Sumba Barat pada hari Kamis tanggal 20 November 2025," ungkap Indah. Ia menambahkan, rata-rata luka yang tertera dalam visum hanya disebutkan di bagian kaki dan lutut, serta usia parah korban diduga direkayasa.Indah Prasetya menyatakan akan melaporkan oknum dokter tersebut ke Kepala Dinas Kesehatan Sumba Tengah dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ia menuding dokter RAP telah melanggar sumpah dan profesinya karena hasil visum et repertum yang dikeluarkan dianggap cacat formil. Kelima korban tersebut diketahui mengalami luka akibat sabetan parang, pukulan tangan kosong, lemparan batu, dan pukulan kayu balok.```
Stepanus Umbu Pati