Hero Image
BATU MELAYANG, ADAT TERLUKA Rato Sodana Jadi Korban Pasola Lamboya, Terbaring di RSUD Waikabubak

Lamboya | Sumba Barat | 10 Februari 2026Pasola Lamboya kembali berdarah.Bukan kuda, bukan penonton biasa—kali ini Rato Sodana, penjaga sakralnya adat, yang tumbang dihantam batu.Di tengah riuh sorak dan debu arena Pasola, batu melayang liar. Satu hantaman mengenai wajah sang Rato. Darah mengalir. Panik pecah. Pasola yang mestinya suci seketika berubah menjadi panggung kekacauan.Korban langsung dievakuasi dan kini dirawat intensif di RSUD Waikabubak. Kondisinya mendapat pengawasan ketat tim medis.Ironi telanjang.Adat dijunjung tinggi dalam kata, tapi dikhianati oleh tindakan. Batu berbicara lebih keras dari nilai budaya. Lemparan demi lemparan kembali menjadi wajah Pasola yang tak pernah benar-benar disembuhkan.Warga yang menyaksikan menyebut situasi sudah memanas sejak pertengahan acara. Namun pengendalian lemah, pembiaran terjadi, hingga akhirnya tokoh adat sendiri menjadi korban.Ini bukan kejadian pertama. Setiap tahun Pasola menyisakan luka, namun evaluasi selalu setengah hati. Hari ini, adat bukan hanya tercoreng—ia berdarah.Pertanyaan tajam menggantung di udara Lamboya:Pasola mau dijaga, atau dibiarkan terus memakan korban?Hingga berita ini diturunkan, belum ada sikap tegas dari pihak berwenang terkait insiden tersebut.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Lokakarya Amandemen Tata Gereja GKSKampus UNKRISWINA, 10 Februari 2026

Waingapu 10 - 12 Februari 2026Bacaan Alkitab: 1 Korintus 14:40Pdt. Yakub Malo Bili, S.Th., M.Pd.Sekretaris Umum Sinode GKSShalom.Shalom sejahtera bagi kita semua.Kita berkumpul pada hari ini bukan sekadar untuk membahas pasal demi pasal atau ayat demi ayat dalam tata gereja. Lebih dari itu, kita berhimpun untuk meneguhkan kembali identitas kita sebagai gereja Tuhan di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat. Kita hadir sebagai pelayan-pelayan yang dipanggil Allah untuk menjaga kesetiaan gereja-Nya hadir di atas dunia—bukan hanya pada masa lalu yang kita syukuri, tetapi juga pada masa depan yang sedang kita masuki.Rasul Paulus mengingatkan, “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33). Karena itu ia menegaskan, “Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40). Ketertiban dalam kehidupan jemaat bukan semata-mata persoalan administratif, melainkan pengakuan iman bahwa Allah adalah Allah yang hadir, memimpin, dan bekerja di tengah umat-Nya. Tata gereja menjadi sarana agar kehidupan bergereja berlangsung dalam suasana damai, keadilan, dan tanggung jawab bersama.Gereja mula-mula memberi teladan yang sangat kuat bagi kita. Dalam Kisah Para Rasul 2:42, jemaat digambarkan sebagai umat yang bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Ketekunan itu tidak berlangsung secara liar, melainkan dalam pola hidup bersama yang terarah. Bahkan ketika persoalan muncul—baik ketidakadilan dalam pelayanan diakonia (Kisah Para Rasul 6) maupun perbedaan teologis yang serius (Kisah Para Rasul 15)—gereja tidak menghindar. Mereka duduk bersama, berdoa, berdialog, dan mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Dari sanalah kita belajar bahwa tata gereja lahir dari kebutuhan iman dan pelayanan.Secara teologis, gereja adalah ekklesia—umat yang dipanggil keluar untuk hidup dalam terang Kristus dan sekaligus diutus kembali ke dunia. Tata gereja berfungsi sebagai penjaga kesetiaan Injil dan penuntun praksis pelayanan. Tanpa tata yang jelas, gereja mudah terjebak dalam subjektivisme dan kekacauan; sebaliknya, dengan tata yang kaku dan tidak diperbarui, gereja kehilangan daya hidup. Karena itu gereja perlu terus bertanya: apakah tata gereja yang kita miliki sungguh menolong jemaat bertumbuh dan Injil diberitakan dengan setia?Di sinilah prinsip Reformasi yang digaungkan Martin Luther menemukan relevansinya:Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei—gereja yang telah diperbarui harus terus-menerus diperbarui menurut Firman Allah. Pembaruan bukanlah pengkhianatan terhadap iman, melainkan upaya menjaga kesetiaan yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Amandemen tata gereja adalah tindakan iman yang rendah hati: pengakuan bahwa rumusan manusia selalu terbatas, sementara karya Allah terus bergerak melampaui zaman.Tantangan pelayanan gereja masa kini tidaklah ringan. Kita hidup di tengah gempuran teknologi, arus informasi yang deras, dan perubahan budaya yang sangat cepat. Media digital dapat menjadi sarana kesaksian, tetapi juga ruang kebisingan rohani. Pengalaman masa pandemi Covid-19 membuka mata kita semua: gereja harus beribadah dari rumah, menggunakan masker, memanfaatkan media sosial. Tiba-tiba kita menjadi content creator—berkhotbah di hadapan kamera tanpa jemaat yang hadir secara fisik, mengirim khotbah dan liturgi melalui media daring. Pengalaman ini menegaskan bahwa gereja membutuhkan tata gereja yang bukan hanya reaktif, tetapi visioner—tata gereja yang mampu memproyeksikan kebutuhan pelayanan di masa depan yang lajunya tidak dapat dibendung.Seluruh percakapan tentang amandemen sesungguhnya berangkat dari pengalaman pelayanan kita sendiri. Kita tahu bahwa menjadi pendeta bukanlah perkara mudah. Di balik rutinitas ibadah, sakramen, rapat, dan kunjungan pastoral, ada kelelahan, tekanan batin, pergumulan pribadi, dan beban rumah tangga yang sering dipikul dalam diam. Jemaat kerap mengharapkan pelayan yang selalu kuat dan segar, padahal pelayan tetaplah manusia yang rapuh. Karena itu gereja memerlukan tata gereja yang adil dan bijaksana—yang bukan hanya mengatur jemaat, tetapi juga menyediakan perlindungan dan kepastian hukum bagi pelayan, baik ketika masih aktif, saat sakit, maupun ketika memasuki masa emeritasi.Dalam kerapuhan itulah kita belajar berseru, “Tuhan, tinggallah bersama kami.” Kita mengakui bahwa kita tidak selalu kuat, tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, dan tidak selalu siap menghadapi perubahan. Namun penyertaan Tuhan nyata: Ia memberi kekuatan ketika kita lemah, hikmat ketika kita bimbang, dan pembelaan ketika kita setia berjalan dalam panggilan-Nya. Tata gereja yang kita amandemen harus mencerminkan pengakuan iman ini—bahwa pelayanan gereja digerakkan bukan oleh kehebatan manusia, melainkan oleh kasih karunia Allah.Momentum lokakarya ini menjadi semakin bermakna karena kita memulainya di tengah peringatan 79 tahun Sinode GKS berdiri dengan nama Sinode GKS, serta 145 tahun Injil hadir di tanah Sumba. Ini bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan kesempatan rohani untuk menyiapkan masa depan gereja. Amandemen tata gereja dimaksudkan untuk memuat hal-hal yang belum terwadahi, menyediakan payung hukum yang dibutuhkan, serta memproyeksikan kebutuhan gereja seiring kemajuan zaman, agar Injil tetap diberitakan dengan setia dalam konteks yang terus berubah.Namun satu hal harus kita pegang teguh: apa yang kita gagas hari ini bukan untuk kita dan bukan tentang kita. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Tata gereja, struktur, dan amandemen tidak dimaksudkan untuk membesarkan nama manusia, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan dan menolong gereja-Nya setia pada panggilan Injil di atas dunia ini.Kiranya lokakarya ini menjadi ruang diskusi yang hidup—tempat Firman Tuhan, tradisi gereja, pengalaman pelayanan, dan tantangan zaman saling berdialog. Kita hadir bukan sebagai pemilik gereja, melainkan sebagai penatalayan rahasia Allah (1 Korintus 4:1–2). Semoga setiap percakapan dan keputusan yang kita ambil menolong GKS menjadi gereja yang tertib dalam hidup berjemaat, setia pada teladan gereja mula-mula, peka terhadap zaman, dan teguh memuliakan Kristus saja.Kiranya Roh Kudus memimpin kita semua.Amin.🙏🙏

3 bulan yang lalu
Hero Image
Sekum GKS Pdt. Jack Bili Pimpin ibadah pembukaan Lokakarya amandemen tata Gereja GKS Waingapu

WAINGAPU, 10 - 12 Februari 2026— Sekretaris Umum Gereja Kristen Sumba (GKS), Pdt. Jack Bili, S.Th, M.Pd memimpin ibadah pembukaan lokakarya amandemen tata Gereja GKS diikuti oleh semua pendeta GKS yang digelar di Kampus Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina), Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.Lokakarya berlangsung selama tiga hari, 10–12 Februari, bertempat di Aula Lantai 3 Kampus Unkriswina, dan dihadiri oleh seluruh pendeta GKS dari berbagai wilayah pelayanan di Pulau Sumba.Kegiatan ini menjadi ruang refleksi, penguatan pelayanan, serta menyamakan persepsi gereja dalam menjawab tantangan pelayanan di tengah perubahan sosial dan dinamika jemaat. Kehadiran para pendeta secara penuh menegaskan komitmen GKS dalam membangun pelayanan yang kontekstual, relevan, dan berpihak pada kehidupan umat.Lokakarya ini juga memperkuat sinergi antara gereja dan lembaga pendidikan Kristen sebagai mitra strategis dalam membangun iman, karakter, dan masa depan masyarakat Sumba.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Pasola Lamboya Tercoreng, Batu dan Dugaan Senjata Tajam Menggila di Arena Adat

SUMBA BARAT — Arena Pasola yang seharusnya menjadi panggung kehormatan adat justru berubah menjadi medan kekacauan. Tradisi sakral Pasola di Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 10 Februari 2026, tercoreng oleh aksi saling lempar batu serta kemunculan massa yang diduga membawa benda tajam, sebagaimana terekam dalam video siaran langsung yang beredar luas.Salah seorang warga yang menyaksikan langsung jalannya Pasola, Ibu Sherin Dale, mengungkapkan bahwa pesta adat tersebut awalnya berlangsung sangat meriah dan disaksikan oleh seluruh penonton yang memadati arena.Saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp pada pukul 20.00 Wita, Selasa (10/2/2026), Sherin Dale menuturkan bahwa situasi berubah drastis ketika terjadi insiden di dalam arena Pasola.“Pasola hari ini sebenarnya sangat meriah, penonton penuh dan antusias. Tapi kemudian terjadi kekacauan,” ujar Sherin Dale.Menurutnya, kericuhan bermula ketika salah satu peserta Pasola terkena lemparan lembing dan terjatuh di arena. Insiden tersebut kemudian memicu emosi setelah peserta yang terjatuh diduga diolok-olok oleh penonton dari pihak sebelah.“Setelah peserta itu jatuh dan diolok-olok, langsung terjadi saling lempar batu. Massa kemudian saling mengejar, bukan hanya di arena Pasola, tapi sampai ke arah gunung, di luar arena,” jelasnya.Dalam rekaman video yang beredar, Pasola tampak kehilangan ruhnya. Batu beterbangan, teriakan menggema, penonton panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Arena yang seharusnya menjadi simbol kehormatan, keberanian, dan pengorbanan ritual berubah menjadi tontonan yang menyisakan luka batin.Sherin Dale juga menyebutkan bahwa aparat keamanan dari Polres Sumba Barat bergerak cepat untuk meredam situasi yang semakin tidak terkendali.“Pihak kepolisian langsung bertindak cepat dengan membunyikan tembakan peringatan ke udara dan menyemprotkan gas air mata dari mobil taktis water cannon ke arah massa yang saling lempar batu dan saling mengejar,” ujarnya.Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait penyebab pasti kericuhan, dugaan penggunaan senjata tajam, serta kemungkinan adanya korban. Namun satu hal tak terbantahkan: Pasola Lamboya tahun ini meninggalkan catatan kelam.Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi panitia, pemangku adat, dan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Jika pengamanan longgar dan pengendalian massa diabaikan, maka yang terancam bukan hanya keselamatan manusia, tetapi juga martabat adat itu sendiri.Pasola bukan milik emosi. Bukan panggung kekerasan. Ia adalah warisan leluhur. Dan warisan, bila terus dilukai, perlahan akan kehilangan maknanya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
BREAKING NEWS: Pasola Lamboya Kacau, Aksi Saling Lempar Batu Terekam Siaran Langsung

LAMBoya, Sumba Barat | 10 Februari 2026 — Ritual adat Pasola di Lamboya yang semestinya menjadi ruang sakral budaya dan tontonan bermartabat, berubah menjadi kekacauan terbuka. Aksi saling lempar batu antar peserta terekam jelas dalam siaran langsung Facebook, disaksikan ribuan pasang mata secara real time.Alih-alih menampilkan keindahan tradisi, tayangan tersebut justru memperlihatkan lapangan Pasola berubah menjadi arena ricuh. Massa terlihat berhamburan, lemparan batu melayang tanpa kendali, sementara penonton di pinggir lapangan tampak panik dan kecewa.Kekecewaan Publik Mengalir di Kolom KomentarReaksi warganet pun langsung membanjiri siaran langsung. Sejumlah komentar bernada kecewa hingga sinis muncul di layar:“Tidak asyik kalau sudah balempar.”“Sudah tradisi, tapi jadi kacau.”“Tidak kacau, tapi juga tidak asik.”Komentar-komentar tersebut mencerminkan retaknya harapan publik terhadap Pasola sebagai warisan budaya yang semestinya dijaga marwahnya, bukan dipertontonkan dalam kondisi tak terkendali.Antara Tradisi dan Kekerasan yang Dipertontonkan.Pasola dikenal sebagai ritual adat yang sarat makna spiritual dan simbol perdamaian. Namun kejadian hari ini menimbulkan pertanyaan serius: di mana batas antara tradisi dan kekerasan massal?Siaran langsung yang beredar luas memperlihatkan bahwa situasi di lapangan tidak sepenuhnya terkendali, sementara upaya pengamanan tampak kesulitan meredam eskalasi emosi peserta.Sorotan Tajam untuk Penyelenggaraan dan Pengamanan.Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak terkait. Ketika ritual adat disiarkan secara luas ke ruang publik digital, setiap kekacauan tak lagi menjadi urusan lokal—tetapi konsumsi nasional, bahkan global.Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak adat maupun aparat keamanan terkait penyebab pasti kericuhan dan langkah lanjutan yang akan diambil.Satu hal jelas:Pasola hari ini bukan hanya dipertontonkan—tetapi juga dipertanyakan.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Berputar di Langit Tambolaka, NAM Air Akhirnya Menyerah pada Cuaca dan Menang di Landasan

TAMBOLAKA, 10 Februari 2026 — Langit Tambolaka siang itu tak ramah. Awan tebal menggantung rendah, angin berubah arah, dan jarak pandang menipis. Di atas semua itu, satu pesawat NAM Air dengan nomor penerbangan IN671 terus berputar, seolah diuji kesabaran dan keberaniannya oleh cuaca Sumba.Bukan sekali, bukan dua kali.Tujuh hingga delapan kali pesawat ini memutar di udara, menunda takdirnya untuk menyentuh tanah.Data pemantauan FlightRadar24 mencatat, pesawat tidak bisa langsung masuk ke jalur pendaratan. Cuaca memaksa kokpit memilih jalan paling aman: holding pattern, berputar di udara sambil menunggu langit memberi izin.40 Menit di Antara Awan dan Bahan BakarSelama hampir 40 menit, pesawat bertahan di ruang udara Tambolaka. Di saat penumpang hanya bisa menunggu dengan doa dan harap, pilot harus mengambil keputusan-keputusan sunyi: membaca angin, menghitung sisa bahan bakar, dan terus berkomunikasi dengan ATC Bandara Lede Kalumbang.Tak ada drama yang terdengar, tapi ketegangan itu nyata.Cuaca ekstrem, potensi windshear, serta jarak pandang yang belum aman menjadi alasan pendaratan tak bisa dipaksakan. Dalam dunia penerbangan, satu keputusan keliru bisa berarti segalanya.Ketika Langit MelunakSekitar pukul 12.15 WITA, langit akhirnya memberi celah. Pesawat NAM Air masuk ke jalur akhir dan menyentuh landasan pacu dengan mulus. Roda bertemu aspal, ketegangan luruh.Di apron Bandara Lede Kalumbang, pesawat berdiri tenang. Tak ada sirene, tak ada evakuasi. Hanya napas lega yang tertahan sejak pesawat itu berputar di langit Tambolaka.Sumba dan Cuaca yang Tak Pernah Bisa DiremehkanFebruari memang bukan bulan yang bersahabat bagi penerbangan di Pulau Sumba. Masa peralihan musim kerap melahirkan awan Cumulonimbus secara tiba-tiba—datang tanpa undangan, pergi tanpa aba-aba.Peristiwa ini menjadi pengingat:di udara, keberanian bukan soal memaksa mendarat, tetapi tahu kapan harus menunggu.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Diterjang Banjir, Jembatan Darurat Tetap Kokoh: Bukti Nyata Kerja Brimob PELOPOR C di Pada Eweta

Sumba Barat Daya NTT 10 Februari 2026 — Hujan dan banjir yang melanda wilayah Desa Pada Eweta, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, tidak menggoyahkan jembatan darurat yang dibangun oleh Danyon dan anggota Brimob PELOPOR C.Laporan terkini yang disampaikan Ketua Komite SD Negeri Dimu Dede, Bapak Sandra, pada Selasa, 10 Februari 2026, menegaskan bahwa meskipun air banjir sempat meluap, jembatan darurat tersebut tetap berdiri kokoh dan aman dilalui oleh anak-anak sekolah serta warga sekitar.Perlu di ketahui bahwa di lokasi tersebut sebelumnya tidak terdapat jembatan permanen. Jembatan darurat ini baru selesai dibangun oleh Brimob PELOPOR C pada tanggal 6–7 Februari 2026, sebagai respons cepat atas kebutuhan akses pendidikan dan aktivitas warga Desa Pada Eweta.Ujian banjir yang datang hanya beberapa hari setelah pembangunan justru menjadi pembuktian nyata atas kualitas kerja dan keseriusan pengabdian Brimob PELOPOR C di wilayah pedesaan. Dalam keterangannya, Bapak Sandra menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam.“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DANSAT BRIMOB NTT, Danyon Brimob PELOPOR C, serta seluruh anggota Brimob PELOPOR C yang telah bekerja dengan tulus dan cepat. Terima kasih juga kepada Ibu Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla Ngadu Bonnu, atas perhatian dan dukungan bagi masyarakat dan pendidikan anak-anak kami,” ujar Bapak Sandra.Di Pada Eweta, jembatan darurat ini bukan sekadar akses sementara. Ia adalah jalur harapan bagi anak-anak sekolah, bukti kerja kolaboratif antara aparat dan pemerintah daerah, serta simbol kehadiran negara yang nyata di tengah tantangan alam.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Haru yang Tak Terucap di Hari Pelantikan: Ketika Pahikung Menjadi Pelukan Keluarga

Di balik barisan langkah tegap dan wajah-wajah penuh kebanggaan pada sebuah pelantikan, terselip satu kisah sunyi yang menggetarkan nurani. Prada Jufri, putra asal Soe, Nusa Tenggara Timur, berdiri di antara rekan-rekannya dengan dada yang menahan haru. Hari itu seharusnya menjadi hari pelukan—hari di mana orang tua dan keluarga hadir untuk menyaksikan buah dari perjuangan panjang. Namun bagi Prada Jufri, ruang itu kosong. Orang tua atau keluarganya tak dapat hadir, kemungkinan karena keadaan yang tidak memungkinkan.Ia memilih diam. Menunduk. Menyimpan rasa dengan caranya sendiri.Di tengah riuh kebahagiaan itu, sepasang Bapak dan Mama dari Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, yang datang untuk menghadiri pelantikan Prada Martinus Tamo Ama, menangkap kesunyian yang berbeda. Mereka melihat bukan sekadar seorang prajurit muda, tetapi seorang anak yang sedang membutuhkan sandaran.Tanpa banyak kata, dengan ketulusan yang lahir dari hati, mereka melangkah mendekat. Sebuah selendang pahikung khas Sumba Lamboya diselempangkan ke pundak Prada Jufri. Pahikung itu bukan sekadar kain adat—ia menjelma pelukan, menjelma doa, menjelma keluarga yang hadir di saat paling dibutuhkan.Tak ada pidato. Tak ada sorotan berlebihan. Hanya sebuah gestur sederhana yang berbicara jauh lebih keras dari kata-kata: kamu tidak sendiri.Momen itu mengajarkan bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh garis darah, tetapi oleh keberanian untuk berbagi kasih. Bahwa di tanah Nusa Tenggara Timur, perbedaan daerah dan kabupaten tidak pernah menghalangi rasa persaudaraan.Untuk Prada Jufri, hari itu mungkin tak lengkap seperti yang ia bayangkan. Namun ia pulang dengan sesuatu yang tak ternilai—keyakinan bahwa di negeri ini, di antara sesama anak bangsa, selalu ada tangan yang siap merangkul.Kita memang berbeda daerah, berbeda kabupaten.Namun satu NTT.Katong basudara semua. 🕊️

3 bulan yang lalu
Hero Image
Jalan Rusak, Akses Hidup Dipertaruhkan

Ruas jalan dari Omba Rotoka, Desa Waimangura menuju Desa Watulabara, Kecamatan Wewewa Barat bukan jalan baru. Beberapa tahun silam, jalan ini pernah dilapen. Namun hari ini, lapisan itu telah terkikis hujan dan usia, menyisakan aspal terkelupas, batu tajam, dan kerikil lepas yang membahayakan pengguna jalan. Jalan inilah yang juga menjadi akses utama menuju tempat peresmian SMP Kristen PALMAD JETKANA di Watulabara.Fakta lapangan pada 30 Januari 2026 memperlihatkan kenyataan yang sulit dibantah. Dua ibu-ibu yang menggunakan satu sepeda motor terpaksa berhenti sejenak di tengah perjalanan menuju lokasi peresmian. Bukan karena kendaraan bermasalah, melainkan untuk mengatur haluan dan menarik napas panjang, memastikan keselamatan di atas jalan yang tak lagi layak dilalui.Peristiwa ini mungkin tampak sepele, namun sesungguhnya menyimpan persoalan besar. Jalan rusak bukan hanya menghambat kegiatan seremonial pendidikan, tetapi juga menyentuh hak dasar masyarakat. Jalan yang sama digunakan warga untuk mengantar anak ke sekolah, menuju puskesmas, dan rumah sakit, termasuk oleh ibu hamil yang membutuhkan akses cepat dan aman ke layanan kesehatan.Pembangunan infrastruktur tidak cukup diukur dari pernah atau tidaknya sebuah jalan dilapen. Yang jauh lebih menentukan adalah keberlanjutan perawatan. Jalan yang dibangun lalu dibiarkan rusak akan kembali menempatkan masyarakat pada posisi rentan, terutama di wilayah pinggiran seperti Wewewa Barat.Opini ini tidak bertujuan menyalahkan pihak tertentu. Ini adalah seruan kewarasan kebijakan: bahwa infrastruktur adalah urat nadi pendidikan dan kesehatan. Ketika jalan dibiarkan terkelupas, yang dipertaruhkan bukan sekadar waktu tempuh, tetapi keselamatan warga dan kualitas pelayanan publik.Di sinilah kebijakan diuji.Sebab jalan yang rusak oleh hujan dan usia, jika terus diabaikan, akan perlahan mengikis kepercayaan masyarakat—dan kepercayaan publik jauh lebih sulit diperbaiki daripada aspal.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Di Atas Truk Brimob, Harapan Itu Tumbuh: Anak-Anak SD Dimu Dede Menyambut Masa Depan Bersama Sang Danyon - Sumba Barat Daya NTT

Sumba Barat Daya —Tanggal 6 Februari 2026 menjadi hari yang tak biasa bagi anak-anak SD Dimu Dede. Di atas sebuah kendaraan taktis Brimob bak terbuka, mereka duduk berdesakan, tertawa lepas, dengan wajah polos yang memancarkan kegembiraan. Di tengah mereka, tanpa jarak dan tanpa sekat jabatan, hadir Komandan Batalyon Brimob Pelopor C Sumba Barat Daya, Kompol Denis Y. N. Leihitu, SH.Hari itu, Brimob tidak datang membawa seremoni. Mereka datang membawa solusi.Di saat yang sama, terlihat kendaraan taktis Brimob lainnya melintas perlahan, mengangkut kayu-kayu bulat dan panjang. Kayu-kayu itu akan digunakan untuk pembangunan jembatan darurat di Desa Pada Eweta, yang menghubungkan desa tersebut dengan Desa Kadi Wone, Kecamatan Wewewa Timur.Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur sementara. Ia adalah jalan harapan, terutama saat musim hujan tiba, ketika tanah berubah menjadi lumpur licin, jalan menjadi sulit dilalui, dan perjalanan ke sekolah kerap mempertaruhkan keselamatan anak-anak.Di atas kendaraan taktis Brimob yang melaju pelan di jalur berlumpur, senyum anak-anak itu berbicara banyak hal. Mereka mungkin belum mengerti makna pembangunan atau kebijakan negara, tetapi mereka merasakan satu hal yang nyata: kepedulian.Raut wajah mereka adalah wajah Generasi Emas 2045—generasi yang hari ini masih bergelut dengan lumpur dan licin jalan desa, namun tetap berani bermimpi. Di Desa Pada Eweta, Brimob Pelopor C tidak hanya membangun jembatan darurat, tetapi juga menegaskan bahwa negara hadir hingga ke jalur paling sulit, bahkan saat kaki harus menapak lumpur.Karena bagi anak-anak itu, jalan yang aman menuju sekolah adalah awal dari masa depan yang layak diperjuangkan.siletsumba.com

3 bulan yang lalu