Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
10 February 2026 - 22:14 WITA

Lokakarya Amandemen Tata Gereja GKSKampus UNKRISWINA, 10 Februari 2026

Lokakarya Amandemen Tata Gereja GKSKampus UNKRISWINA, 10 Februari 2026
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Waingapu, siletsumba.com - Waingapu 10 - 12 Februari 2026

Bacaan Alkitab: 1 Korintus 14:40

Pdt. Yakub Malo Bili, S.Th., M.Pd.

Sekretaris Umum Sinode GKS

Shalom.

Shalom sejahtera bagi kita semua.

Kita berkumpul pada hari ini bukan sekadar untuk membahas pasal demi pasal atau ayat demi ayat dalam tata gereja. Lebih dari itu, kita berhimpun untuk meneguhkan kembali identitas kita sebagai gereja Tuhan di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat.

Kita hadir sebagai pelayan-pelayan yang dipanggil Allah untuk menjaga kesetiaan gereja-Nya hadir di atas dunia—bukan hanya pada masa lalu yang kita syukuri, tetapi juga pada masa depan yang sedang kita masuki.

Rasul Paulus mengingatkan, “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33). Karena itu ia menegaskan, “Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40). Ketertiban dalam kehidupan jemaat bukan semata-mata persoalan administratif, melainkan pengakuan iman bahwa Allah adalah Allah yang hadir, memimpin, dan bekerja di tengah umat-Nya.

Tata gereja menjadi sarana agar kehidupan bergereja berlangsung dalam suasana damai, keadilan, dan tanggung jawab bersama.

Gereja mula-mula memberi teladan yang sangat kuat bagi kita. Dalam Kisah Para Rasul 2:42, jemaat digambarkan sebagai umat yang bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa.

Ketekunan itu tidak berlangsung secara liar, melainkan dalam pola hidup bersama yang terarah. Bahkan ketika persoalan muncul—baik ketidakadilan dalam pelayanan diakonia (Kisah Para Rasul 6) maupun perbedaan teologis yang serius (Kisah Para Rasul 15)—gereja tidak menghindar. Mereka duduk bersama, berdoa, berdialog, dan mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Dari sanalah kita belajar bahwa tata gereja lahir dari kebutuhan iman dan pelayanan.

Secara teologis, gereja adalah ekklesia—umat yang dipanggil keluar untuk hidup dalam terang Kristus dan sekaligus diutus kembali ke dunia. Tata gereja berfungsi sebagai penjaga kesetiaan Injil dan penuntun praksis pelayanan. Tanpa tata yang jelas, gereja mudah terjebak dalam subjektivisme dan kekacauan; sebaliknya, dengan tata yang kaku dan tidak diperbarui, gereja kehilangan daya hidup. Karena itu gereja perlu terus bertanya: apakah tata gereja yang kita miliki sungguh menolong jemaat bertumbuh dan Injil diberitakan dengan setia?

Di sinilah prinsip Reformasi yang digaungkan Martin Luther menemukan relevansinya:

Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei—gereja yang telah diperbarui harus terus-menerus diperbarui menurut Firman Allah. Pembaruan bukanlah pengkhianatan terhadap iman, melainkan upaya menjaga kesetiaan yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Amandemen tata gereja adalah tindakan iman yang rendah hati: pengakuan bahwa rumusan manusia selalu terbatas, sementara karya Allah terus bergerak melampaui zaman.

Tantangan pelayanan gereja masa kini tidaklah ringan. Kita hidup di tengah gempuran teknologi, arus informasi yang deras, dan perubahan budaya yang sangat cepat. Media digital dapat menjadi sarana kesaksian, tetapi juga ruang kebisingan rohani. Pengalaman masa pandemi Covid-19 membuka mata kita semua: gereja harus beribadah dari rumah, menggunakan masker, memanfaatkan media sosial. Tiba-tiba kita menjadi content creator—berkhotbah di hadapan kamera tanpa jemaat yang hadir secara fisik, mengirim khotbah dan liturgi melalui media daring. Pengalaman ini menegaskan bahwa gereja membutuhkan tata gereja yang bukan hanya reaktif, tetapi visioner—tata gereja yang mampu memproyeksikan kebutuhan pelayanan di masa depan yang lajunya tidak dapat dibendung.

Seluruh percakapan tentang amandemen sesungguhnya berangkat dari pengalaman pelayanan kita sendiri. Kita tahu bahwa menjadi pendeta bukanlah perkara mudah. Di balik rutinitas ibadah, sakramen, rapat, dan kunjungan pastoral, ada kelelahan, tekanan batin, pergumulan pribadi, dan beban rumah tangga yang sering dipikul dalam diam.

Jemaat kerap mengharapkan pelayan yang selalu kuat dan segar, padahal pelayan tetaplah manusia yang rapuh. Karena itu gereja memerlukan tata gereja yang adil dan bijaksana—yang bukan hanya mengatur jemaat, tetapi juga menyediakan perlindungan dan kepastian hukum bagi pelayan, baik ketika masih aktif, saat sakit, maupun ketika memasuki masa emeritasi.

Dalam kerapuhan itulah kita belajar berseru, “Tuhan, tinggallah bersama kami.” Kita mengakui bahwa kita tidak selalu kuat, tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, dan tidak selalu siap menghadapi perubahan.

Namun penyertaan Tuhan nyata: Ia memberi kekuatan ketika kita lemah, hikmat ketika kita bimbang, dan pembelaan ketika kita setia berjalan dalam panggilan-Nya. Tata gereja yang kita amandemen harus mencerminkan pengakuan iman ini—bahwa pelayanan gereja digerakkan bukan oleh kehebatan manusia, melainkan oleh kasih karunia Allah.

Momentum lokakarya ini menjadi semakin bermakna karena kita memulainya di tengah peringatan 79 tahun Sinode GKS berdiri dengan nama Sinode GKS, serta 145 tahun Injil hadir di tanah Sumba. Ini bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan kesempatan rohani untuk menyiapkan masa depan gereja.

Amandemen tata gereja dimaksudkan untuk memuat hal-hal yang belum terwadahi, menyediakan payung hukum yang dibutuhkan, serta memproyeksikan kebutuhan gereja seiring kemajuan zaman, agar Injil tetap diberitakan dengan setia dalam konteks yang terus berubah.

Namun satu hal harus kita pegang teguh: apa yang kita gagas hari ini bukan untuk kita dan bukan tentang kita. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Tata gereja, struktur, dan amandemen tidak dimaksudkan untuk membesarkan nama manusia, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan dan menolong gereja-Nya setia pada panggilan Injil di atas dunia ini.

Kiranya lokakarya ini menjadi ruang diskusi yang hidup—tempat Firman Tuhan, tradisi gereja, pengalaman pelayanan, dan tantangan zaman saling berdialog. Kita hadir bukan sebagai pemilik gereja, melainkan sebagai penatalayan rahasia Allah (1 Korintus 4:1–2). Semoga setiap percakapan dan keputusan yang kita ambil menolong GKS menjadi gereja yang tertib dalam hidup berjemaat, setia pada teladan gereja mula-mula, peka terhadap zaman, dan teguh memuliakan Kristus saja.

Kiranya Roh Kudus memimpin kita semua.

Amin.🙏🙏

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.