Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
10 February 2026 - 20:43 WITA

Pasola Lamboya Tercoreng, Batu dan Dugaan Senjata Tajam Menggila di Arena Adat

Pasola Lamboya Tercoreng, Batu dan Dugaan Senjata Tajam Menggila di Arena Adat
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Lapangan Pasola Lamboya, siletsumba.com - SUMBA BARAT — Arena Pasola yang seharusnya menjadi panggung kehormatan adat justru berubah menjadi medan kekacauan. Tradisi sakral Pasola di Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 10 Februari 2026, tercoreng oleh aksi saling lempar batu serta kemunculan massa yang diduga membawa benda tajam, sebagaimana terekam dalam video siaran langsung yang beredar luas.

Salah seorang warga yang menyaksikan langsung jalannya Pasola, Ibu Sherin Dale, mengungkapkan bahwa pesta adat tersebut awalnya berlangsung sangat meriah dan disaksikan oleh seluruh penonton yang memadati arena.

Saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp pada pukul 20.00 Wita, Selasa (10/2/2026), Sherin Dale menuturkan bahwa situasi berubah drastis ketika terjadi insiden di dalam arena Pasola.

“Pasola hari ini sebenarnya sangat meriah, penonton penuh dan antusias. Tapi kemudian terjadi kekacauan,” ujar Sherin Dale.

Menurutnya, kericuhan bermula ketika salah satu peserta Pasola terkena lemparan lembing dan terjatuh di arena. Insiden tersebut kemudian memicu emosi setelah peserta yang terjatuh diduga diolok-olok oleh penonton dari pihak sebelah.

“Setelah peserta itu jatuh dan diolok-olok, langsung terjadi saling lempar batu. Massa kemudian saling mengejar, bukan hanya di arena Pasola, tapi sampai ke arah gunung, di luar arena,” jelasnya.

Dalam rekaman video yang beredar, Pasola tampak kehilangan ruhnya. Batu beterbangan, teriakan menggema, penonton panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Arena yang seharusnya menjadi simbol kehormatan, keberanian, dan pengorbanan ritual berubah menjadi tontonan yang menyisakan luka batin.

Sherin Dale juga menyebutkan bahwa aparat keamanan dari Polres Sumba Barat bergerak cepat untuk meredam situasi yang semakin tidak terkendali.

“Pihak kepolisian langsung bertindak cepat dengan membunyikan tembakan peringatan ke udara dan menyemprotkan gas air mata dari mobil taktis water cannon ke arah massa yang saling lempar batu dan saling mengejar,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait penyebab pasti kericuhan, dugaan penggunaan senjata tajam, serta kemungkinan adanya korban. Namun satu hal tak terbantahkan: Pasola Lamboya tahun ini meninggalkan catatan kelam.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi panitia, pemangku adat, dan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Jika pengamanan longgar dan pengendalian massa diabaikan, maka yang terancam bukan hanya keselamatan manusia, tetapi juga martabat adat itu sendiri.

Pasola bukan milik emosi. Bukan panggung kekerasan. Ia adalah warisan leluhur. Dan warisan, bila terus dilukai, perlahan akan kehilangan maknanya.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.