Jalan Rusak, Akses Hidup Dipertaruhkan
Waimangura - Watulabara, siletsumba.com - Ruas jalan dari Omba Rotoka, Desa Waimangura menuju Desa Watulabara, Kecamatan Wewewa Barat bukan jalan baru. Beberapa tahun silam, jalan ini pernah dilapen. Namun hari ini, lapisan itu telah terkikis hujan dan usia, menyisakan aspal terkelupas, batu tajam, dan kerikil lepas yang membahayakan pengguna jalan. Jalan inilah yang juga menjadi akses utama menuju tempat peresmian SMP Kristen PALMAD JETKANA di Watulabara.
Fakta lapangan pada 30 Januari 2026 memperlihatkan kenyataan yang sulit dibantah. Dua ibu-ibu yang menggunakan satu sepeda motor terpaksa berhenti sejenak di tengah perjalanan menuju lokasi peresmian. Bukan karena kendaraan bermasalah, melainkan untuk mengatur haluan dan menarik napas panjang, memastikan keselamatan di atas jalan yang tak lagi layak dilalui.
Peristiwa ini mungkin tampak sepele, namun sesungguhnya menyimpan persoalan besar. Jalan rusak bukan hanya menghambat kegiatan seremonial pendidikan, tetapi juga menyentuh hak dasar masyarakat. Jalan yang sama digunakan warga untuk mengantar anak ke sekolah, menuju puskesmas, dan rumah sakit, termasuk oleh ibu hamil yang membutuhkan akses cepat dan aman ke layanan kesehatan.
Pembangunan infrastruktur tidak cukup diukur dari pernah atau tidaknya sebuah jalan dilapen. Yang jauh lebih menentukan adalah keberlanjutan perawatan. Jalan yang dibangun lalu dibiarkan rusak akan kembali menempatkan masyarakat pada posisi rentan, terutama di wilayah pinggiran seperti Wewewa Barat.
Opini ini tidak bertujuan menyalahkan pihak tertentu. Ini adalah seruan kewarasan kebijakan: bahwa infrastruktur adalah urat nadi pendidikan dan kesehatan. Ketika jalan dibiarkan terkelupas, yang dipertaruhkan bukan sekadar waktu tempuh, tetapi keselamatan warga dan kualitas pelayanan publik.
Di sinilah kebijakan diuji.
Sebab jalan yang rusak oleh hujan dan usia, jika terus diabaikan, akan perlahan mengikis kepercayaan masyarakat—dan kepercayaan publik jauh lebih sulit diperbaiki daripada aspal.