Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
10 February 2026 - 09:26 WITA

Haru yang Tak Terucap di Hari Pelantikan: Ketika Pahikung Menjadi Pelukan Keluarga

Haru yang Tak Terucap di Hari Pelantikan: Ketika Pahikung Menjadi Pelukan Keluarga
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Bali, siletsumba.com - Di balik barisan langkah tegap dan wajah-wajah penuh kebanggaan pada sebuah pelantikan, terselip satu kisah sunyi yang menggetarkan nurani. Prada Jufri, putra asal Soe, Nusa Tenggara Timur, berdiri di antara rekan-rekannya dengan dada yang menahan haru. Hari itu seharusnya menjadi hari pelukan—hari di mana orang tua dan keluarga hadir untuk menyaksikan buah dari perjuangan panjang. Namun bagi Prada Jufri, ruang itu kosong. Orang tua atau keluarganya tak dapat hadir, kemungkinan karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Ia memilih diam. Menunduk. Menyimpan rasa dengan caranya sendiri.

Di tengah riuh kebahagiaan itu, sepasang Bapak dan Mama dari Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, yang datang untuk menghadiri pelantikan Prada Martinus Tamo Ama, menangkap kesunyian yang berbeda. Mereka melihat bukan sekadar seorang prajurit muda, tetapi seorang anak yang sedang membutuhkan sandaran.

Tanpa banyak kata, dengan ketulusan yang lahir dari hati, mereka melangkah mendekat. Sebuah selendang pahikung khas Sumba Lamboya diselempangkan ke pundak Prada Jufri. Pahikung itu bukan sekadar kain adat—ia menjelma pelukan, menjelma doa, menjelma keluarga yang hadir di saat paling dibutuhkan.

Tak ada pidato. Tak ada sorotan berlebihan. Hanya sebuah gestur sederhana yang berbicara jauh lebih keras dari kata-kata: kamu tidak sendiri.

Momen itu mengajarkan bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh garis darah, tetapi oleh keberanian untuk berbagi kasih. Bahwa di tanah Nusa Tenggara Timur, perbedaan daerah dan kabupaten tidak pernah menghalangi rasa persaudaraan.

Untuk Prada Jufri, hari itu mungkin tak lengkap seperti yang ia bayangkan. Namun ia pulang dengan sesuatu yang tak ternilai—keyakinan bahwa di negeri ini, di antara sesama anak bangsa, selalu ada tangan yang siap merangkul.

Kita memang berbeda daerah, berbeda kabupaten.

Namun satu NTT.

Katong basudara semua. 🕊️

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.