Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
10 February 2026 - 13:17 WITA

Berputar di Langit Tambolaka, NAM Air Akhirnya Menyerah pada Cuaca dan Menang di Landasan

Berputar di Langit Tambolaka, NAM Air Akhirnya Menyerah pada Cuaca dan Menang di Landasan
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Bandara Lede Kalumbang Tambolaka, siletsumba.com - TAMBOLAKA, 10 Februari 2026 — Langit Tambolaka siang itu tak ramah. Awan tebal menggantung rendah, angin berubah arah, dan jarak pandang menipis. Di atas semua itu, satu pesawat NAM Air dengan nomor penerbangan IN671 terus berputar, seolah diuji kesabaran dan keberaniannya oleh cuaca Sumba.

Bukan sekali, bukan dua kali.

Tujuh hingga delapan kali pesawat ini memutar di udara, menunda takdirnya untuk menyentuh tanah.

Data pemantauan FlightRadar24 mencatat, pesawat tidak bisa langsung masuk ke jalur pendaratan. Cuaca memaksa kokpit memilih jalan paling aman: holding pattern, berputar di udara sambil menunggu langit memberi izin.

40 Menit di Antara Awan dan Bahan Bakar

Selama hampir 40 menit, pesawat bertahan di ruang udara Tambolaka. Di saat penumpang hanya bisa menunggu dengan doa dan harap, pilot harus mengambil keputusan-keputusan sunyi: membaca angin, menghitung sisa bahan bakar, dan terus berkomunikasi dengan ATC Bandara Lede Kalumbang.

Tak ada drama yang terdengar, tapi ketegangan itu nyata.

Cuaca ekstrem, potensi windshear, serta jarak pandang yang belum aman menjadi alasan pendaratan tak bisa dipaksakan. Dalam dunia penerbangan, satu keputusan keliru bisa berarti segalanya.

Ketika Langit Melunak

Sekitar pukul 12.15 WITA, langit akhirnya memberi celah. Pesawat NAM Air masuk ke jalur akhir dan menyentuh landasan pacu dengan mulus. Roda bertemu aspal, ketegangan luruh.

Di apron Bandara Lede Kalumbang, pesawat berdiri tenang. Tak ada sirene, tak ada evakuasi. Hanya napas lega yang tertahan sejak pesawat itu berputar di langit Tambolaka.

Sumba dan Cuaca yang Tak Pernah Bisa Diremehkan

Februari memang bukan bulan yang bersahabat bagi penerbangan di Pulau Sumba. Masa peralihan musim kerap melahirkan awan Cumulonimbus secara tiba-tiba—datang tanpa undangan, pergi tanpa aba-aba.

Peristiwa ini menjadi pengingat:

di udara, keberanian bukan soal memaksa mendarat, tetapi tahu kapan harus menunggu.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.