PENYELENGGARA MBG BUKA SUARA: Yayasan Tana Manda Sumba Akui Lalai dan Sampaikan Permohonan Maaf
Di tengah sorotan tajam publik pasca insiden keracunan massal, pihak penyelenggara Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya akhirnya angkat bicara.Dalam konferensi pers yang digelar Selasa (11/11/2025) malam, Yayasan Tana Manda Sumba—selaku mitra lokal Badan Gizi Nasional (SPPG)—secara terbuka mengakui adanya kelalaian dalam operasional mereka dan menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada seluruh korban dan keluarga."Ini Kelalaian Kami, Kami Minta Maaf"Didampingi ahli gizi dari Dapur Mandiri, Ketua Yayasan Tana Manda Sumba Pak Adam Mone membenarkan telah menerima laporan insiden tersebut dari Kepala Sekolah SMA Manda Elu pada Selasa pagi."Atas kejadian itu, kami... saya selaku mitra Badan Gizi, Ketua Yayasan Tana Manda Sumba, mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada adik-adik kita yang menjadi korban, juga kepada keluarga besar SMA Manda Elu, Alfonsus, dan semua sanak saudara," ujarnya dengan nada serius.Ia tidak mengelak dari tanggung jawab dan secara gamblang menyebut insiden ini sebagai kesalahan internal."Kami sudah kerja berdasarkan SOP, juknis, tapi itulah kelemahan kami. Ini adalah kelalaian kami, dan ini akan menjadikan kami untuk introspeksi... Kami akan mengevaluasi secara total pelayanan kami," tegasnya.Pihak yayasan juga menyatakan bahwa prioritas utama mereka adalah penanganan korban, dan menyebutkan bahwa sebagian besar siswa telah dipulangkan.Terungkap: Ayam Berasal dari Luar SumbaDalam kesempatan yang sama, Ahli Gizi Dapur Mandiri, Gusti , membeberkan kronologi dan menu yang disajikan pada hari Senin (10/11).Menu tersebut terdiri dari nasi putih, ayam bumbu kuning, tahu goreng, sayur tumis (wortel, buncis, labu siam), dan pisang mas.Gusti menjelaskan, bahan baku diterima pada Minggu pukul 16.00 WITA. Daging ayam kemudian diolah (direbus/diungkap) dan didiamkan sebelum digoreng dan dibumbui pada Senin dini hari pukul 02.00 WITA. Makanan didistribusikan ke sekolah sekitar pukul 12.00 WITA dan disantap siswa pukul 13.00 WITA.Fakta krusial terungkap saat ditanya mengenai asal usul ayam, yang oleh para siswa disebut "bau basi"."Itu ayam beku. Itu (berasal) dari luar Sumba," jelas Gusti.Ia beralasan, penggunaan ayam beku dari luar pulau terpaksa dilakukan karena adanya kekurangan stok ayam lokal di Sumba Barat Daya. "Kami juga kekurangan stok ayam lokal. Mau tidak mau, kita harus pakai ayam frozen," katanya.Pihak yayasan mengklaim telah melakukan pengecekan kelayakan sebelum mengolah bahan baku tersebut, namun berjanji akan melakukan evaluasi total agar kejadian ini tidak terulang.