Hero Image
Tragedi Anak SD di NTT: Cakti Indra Gunawan Usulkan Manajemen Ekonomi Desa ke Presiden Prabowo Subianto

Malang, 5 Februari 2026 – Meninggalnya seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur karena tidak dibelikan buku oleh ibunya menjadi alarm pentingnya perhatian terhadap pendidikan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa. Pendidikan merupakan pilar utama bangsa; jika ambruk, daya saing Indonesia di tingkat global terancam.Cakti Indra Gunawan, SE., MM., PhD, penggagas Manajemen Ekonomi Desa (MED), menekankan perlunya pengelolaan desa secara profesional, transparan, dan mandiri. Menurutnya, desa harus menjadi “center of civilization” yang dikelola dengan penghasilan mandiri, tanpa sepenuhnya bergantung pada dana pemerintah pusat, namun tetap diawasi secara real-time oleh pemerintah.“Dengan MED, desa dapat memiliki fasilitas publik seperti rumah sakit gratis, sekolah dan kampus gratis, serta pusat ekonomi seperti mall pertanian dan UMKM. Semua pengelolaan dilakukan secara transparan, melibatkan TNI, Polri, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan akademisi. Sistem ini bertujuan mencegah kemiskinan, korupsi, dan ketidakadilan,” jelas Cakti.Pengawasan desa dapat dilakukan secara online melalui perangkat lunak khusus, namun jika belum memungkinkan, indikator transparan dapat dipasang di kantor desa dan dilaporkan ke pemerintah pusat. Program ini juga mendorong pembangunan pabrik dan industri desa dengan tenaga kerja lokal, sehingga investasi lebih aman dan ekonomi desa berkembang mandiri.Cakti Indra Gunawan juga mengusulkan agar pemerintah pusat bersama DPR RI membentuk UU Manajemen Ekonomi Desa, sebagai payung hukum untuk:* Menjamin keberlanjutan pendidikan dan kesejahteraan sosial di desa.* Mencegah tragedi kematian anak akibat kemiskinan dan keterbatasan fasilitas pendidikan.* Menguatkan desa sebagai unit ekonomi mandiri, profesional, dan terintegrasi dengan jaringan nasional dan internasional.Tragedi anak SD di NTT diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat pendidikan dan ekonomi desa. MED diusulkan sebagai solusi strategis agar setiap desa mampu berkembang secara mandiri, transparan, dan berkeadilan. (Umbu Raider)

3 bulan yang lalu
Hero Image
Pulpen, Buku, dan Secuil Pesan Terakhir: Duka Sunyi Bocah SD di Ngada

Ngada kembali diselimuti duka. Di sebuah ruang yang sederhana, pulpen dan buku tergeletak diam, ditemani secuil tulisan di sepotong kertas yang telah kusam. Benda-benda itu menjadi saksi bisu—bukti awal sekaligus akhir—dari kisah pilu seorang bocah Sekolah Dasar yang memilih jalan sunyi: mengakhiri hidupnya sendiri.Tak ada teriakan, tak ada amarah. Hanya keheningan yang berbicara. Tulisan kecil yang tertinggal seolah menjadi pesan terakhir dari jiwa yang terlalu dini memikul beban yang tak semestinya dipikul oleh anak seusianya. Kata-kata itu lahir dari tangan mungil, namun menyimpan luka yang dalam, mengguncang hati siapa pun yang membacanya.Peristiwa ini menyayat nurani. Di balik seragam sekolah dan buku pelajaran, ternyata tersimpan duka yang luput terbaca oleh orang dewasa di sekitarnya. Bocah itu pergi tanpa banyak kata, meninggalkan tanya yang panjang: di mana kita ketika ia membutuhkan pelukan, didengar, dan dilindungi?Ngada hari ini berkabung. Tangis tak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari masyarakat yang tersadar bahwa tragedi ini bukan sekadar kisah satu anak, melainkan cermin kegagalan bersama—keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara—dalam menjaga jiwa paling rapuh di antara kita.Pulpen itu kini tak lagi menulis. Buku itu tak lagi dibuka. Namun kisahnya akan terus berbicara, mengingatkan bahwa setiap anak berhak atas rasa aman, kasih sayang, dan harapan. Semoga duka ini menjadi alarm nurani, agar tak ada lagi bocah yang memilih pergi dalam sunyi.

3 bulan yang lalu
Hero Image
DPM UNITRI Tegaskan Presiden Harus Hadir, Tragedi Anak Bunuh Diri di Ngada NTT Alarm Keras Gagalnya Amanat UUD 1945

Malang, 5 Februari 2026 — Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus sikap tegas atas tragedi seorang anak di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi, termasuk ketidakmampuan membeli buku dan bolpoin sebagai kebutuhan dasar sekolah. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan alarm keras kegagalan negara dalam menjalankan amanat konstitusi.DPM UNITRI menegaskan bahwa hak atas pendidikan merupakan hak dasar warga negara yang secara tegas dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1). Negara juga diwajibkan membiayai pendidikan dasar sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (2). Namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih ada anak Indonesia yang tertekan hingga kehilangan nyawa hanya karena tidak memiliki buku dan bolpoin, perlengkapan paling mendasar dalam dunia pendidikan.Selain itu, Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Oleh sebab itu, tragedi di Ngada ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu atau keluarga semata, melainkan harus ditempatkan sebagai tanggung jawab negara secara penuh dan konstitusional.Ketua DPM UNITRI, Yohanes Umbu Ate, menegaskan bahwa sikap diam atau respons simbolik dari pemerintah tidak dapat dibenarkan.“Presiden Republik Indonesia tidak boleh diam. Tragedi anak di Ngada, NTT ini adalah bukti nyata kegagalan negara menjalankan amanat konstitusi. Jika anak masih kehilangan harapan hidup hanya karena tidak mampu membeli buku dan bolpoin, maka negara telah absen dari tanggung jawab dasarnya,” tegas Yohanes.Lebih lanjut, Yohanes menilai tragedi ini mencerminkan ketimpangan serius dalam arah kebijakan negara.“Hari ini kita melihat wajah kebijakan yang manis di atas, tetapi pahit di bawah; tajam ke atas, tumpul ke bawah. Ketika yang kuat dilindungi, anak-anak dari keluarga miskin justru dibiarkan berjuang sendiri. Ini bukan sekadar kelalaian administratif, tetapi kegagalan moral dan konstitusional negara,” tambahnya.TUNTUTAN DPM UNITRISebagai representasi mahasiswa dan bagian dari masyarakat sipil, DPM UNITRI menyampaikan tuntutan sebagai berikut:1. Menuntut Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden turun langsung ke Kabupaten Ngada, NTT, untuk melihat secara nyata kondisi pendidikan dan pemenuhan hak anak.2. Mendesak pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan, khususnya pembiayaan serta distribusi buku dan alat tulis sekolah.3. Menuntut jaminan pendidikan yang benar-benar gratis, merata, dan tanpa biaya tersembunyi, termasuk pemenuhan buku dan bolpoin sebagai kebutuhan dasar siswa.4. Meminta audit dan pengawasan ketat terhadap anggaran pendidikan, agar benar-benar sampai kepada siswa yang membutuhkan.5. Menuntut tanggung jawab moral dan konstitusional negara, serta langkah konkret agar tragedi serupa tidak pernah terulang, khususnya di daerah tertinggal.DPM UNITRI menegaskan bahwa pendidikan bukan belas kasihan negara, melainkan hak konstitusional rakyat. Tragedi di Kabupaten Ngada, NTT ini harus menjadi titik balik agar negara benar-benar hadir bukan hanya kuat di atas, tetapi juga adil dan melindungi mereka yang paling bawah.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Gubernur NTT Melki Laka Lena Semprot Sekda Ngada soal Kasus Bundir Siswa SD: “Ini Tamparan Keras, Kita Gagal sebagai Pemerintah!”

SILETSUMBA.COM | NGADA — Tragedi bunuh diri (bundir) seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada memantik amarah Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena. Dalam sikap yang jarang ditunjukkan pejabat publik, Melki secara terbuka menyemprot Sekretaris Daerah (Sekda) Ngada dan menyebut peristiwa memilukan itu sebagai kegagalan total pemerintah.Di hadapan jajaran birokrasi, Melki tidak menutup-nutupi kekecewaannya. Ia menegaskan, kematian seorang anak SD bukan sekadar musibah, melainkan alarm keras bahwa negara absen saat anak paling membutuhkan perlindungan.“Kalau seorang anak SD sampai memilih mengakhiri hidupnya, maka tidak ada alasan untuk kita cuci tangan. Ini kegagalan kita sebagai pemerintah,” tegas Melki dengan nada tinggi.Gubernur menyoroti mandeknya fungsi pengawasan dan pendampingan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Ia mempertanyakan peran Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta unit perlindungan anak, yang seharusnya mampu mendeteksi tekanan psikologis sejak dini.Menurut Melki, Sekda sebagai pengendali birokrasi tidak boleh sekadar duduk di balik meja, sementara persoalan kemanusiaan dibiarkan tumbuh hingga berujung maut.“Jangan tunggu anak mati baru kita ribut rapat. Negara harus hadir sebelum tragedi, bukan setelah peti mati ditutup,” sindirnya keras.Kasus bundir siswa SD ini dinilai sebagai cermin buram dunia pendidikan dan perlindungan anak di Ngada. Publik mempertanyakan apakah korban mengalami tekanan psikis, perundungan, atau pembiaran sistemik yang luput dari perhatian pemerintah daerah.Melki meminta agar fakta dibuka seterang-terangnya, tanpa ditutup-tutupi demi citra birokrasi. Ia juga menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh hingga ke level sekolah dan desa, termasuk penindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian.Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Ngada, sekaligus memantik kemarahan publik terhadap sistem yang dinilai gagal melindungi anak-anak, kelompok paling rentan yang seharusnya dijaga negara.Gubernur Melki menegaskan, kasus ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar berita sesaat.“Satu anak mati, itu sudah terlalu mahal. Jangan sampai ada anak kedua, ketiga, dan seterusnya,” pungkasnya.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Sudah Meninggal Sejak Agustus 2025, Santunan BPJS Ketenagakerjaan Ayah Belum Diterima Anak Kandung

Sumba Barat Daya - Adrianus Saputra Dewa, seorang anak yatim piatu yang berdomisili di Dusun 4, Desa Watu Kawula, Kecamatan Kota Tambolaka, menyampaikan keluhannya terkait hak santunan asuransi orang tuanya. Ibunya telah meninggal dunia sejak ia masih kecil.Pada 9 Agustus 2025, ayah kandungnya Alexander Dairo Ngongo meninggal dunia. Almarhum diketahui sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).Ia menuturkan pada saat penguburan ayah terkasihnya di kampung Puu Maliti Desa Luakoba - Wewewa Barat pada tanggal 12 Agustus 2025, dari pihak BPJS Ketenagakerjaan hanya menyerahkan secara simbolis dengan total Rp 42. 000.000Hingga saat ini, santunan asuransi BPJS Ketenagakerjaan tersebut belum juga dicairkan. Adrianus Saputra Dewa sebagai ahli waris sah dan anak kandung almarhum, menyatakan bahwa hak tersebut belum diterima atau belum diserahkan oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sumba Barat Daya.Keluhan tersebut disampaikan saat Adrianus menemui media siletsumba.com di Desa Lolo Ole, Kecamatan Wewewa Barat pada hari Rabu malam 4 Februari 2026, guna mencari kejelasan dan perhatian publik atas hak yang belum ia terima.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Mobil Hilux Kerap Parkir di Depan Kos Biru, Warga Sampaikan Dugaan Aktivitas Menyimpang

Sebuah mobil Toyota Hilux dilaporkan kerap terparkir di depan sebuah rumah kos yang dikenal warga setempat sebagai kos biru. Informasi ini diterima siletsumba.com dari masyarakat yang meminta identitasnya dirahasiakan pada 5 Desember 2025.Menurut keterangan sumber tersebut, mobil yang dimaksud disebut-sebut sering berada di lokasi itu setiap hari Jumat. Warga menduga adanya aktivitas yang dinilai tidak sesuai norma sosial. Istilah “makan jambu” yang beredar di tengah masyarakat disebut sebagai kiasan atas dugaan praktik prostitusi terselubung. Namun demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada bukti resmi atau pernyataan dari pihak berwenang yang membenarkan dugaan tersebut.Sumber yang sama juga menyampaikan dugaan bahwa pengunjung kos tersebut berasal dari kalangan tertentu, termasuk oknum yang telah berkeluarga. Selain itu, warga mengaku resah karena beredar informasi adanya anak-anak yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA yang diduga pernah berada di lokasi tersebut. Klaim ini masih bersifat informasi awal dan memerlukan penelusuran serta verifikasi lebih lanjut.Keresahan masyarakat semakin meningkat mengingat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) disebut-sebut sebagai daerah dengan kasus HIV–AIDS tertinggi kedua di Pulau Sumba, setelah Kabupaten Sumba Timur yang berada di urutan pertama. Informasi ini, menurut warga, menjadi alarm serius bagi semua pihak karena dugaan aktivitas menyimpang, apabila benar terjadi, berpotensi memperparah persoalan kesehatan masyarakat dan mengancam generasi muda.Oleh karena itu, masyarakat mendesak aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta instansi terkait—termasuk dinas kesehatan dan perlindungan anak—untuk segera melakukan penelusuran, pengawasan, dan langkah pencegahan secara menyeluruh guna memastikan tidak terjadi pelanggaran hukum maupun penyimpangan sosial yang berdampak luas.siletsumba.com menegaskan bahwa pemberitaan ini disampaikan sebagai bentuk kontrol sosial dan kepedulian terhadap keselamatan anak serta kesehatan publik. Media ini juga membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak mana pun yang merasa disebutkan atau dirugikan, sesuai dengan prinsip jurnalistik yang berimbang dan bertanggung jawab.

3 bulan yang lalu
Hero Image
SPBU Radamata Tolak Isi Solar Kendaraan Pelat Luar, Surat Satlantas Polres SBD Tak Digubris

Tambolaka — Pemilik kendaraan berpelat luar daerah mengeluhkan penolakan pengisian BBM jenis solar di SPBU Samudra Harapan, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), pada Selasa, 3 Februari 2026.Keluhan tersebut disampaikan oleh Gabriel Malo Ngongo, yang mengaku telah memenuhi seluruh persyaratan serta mengikuti prosedur yang ditetapkan. Ia bahkan menunjukkan surat resmi yang dikeluarkan oleh Satlantas Polres Sumba Barat Daya kepada awak media sebagai bukti kelengkapan administrasi.Namun demikian, menurut Gabriel, petugas SPBU tetap menolak melayani pengisian solar dengan alasan kendaraan menggunakan pelat nomor luar daerah.“Kami sudah memenuhi semua persyaratan dan mengikuti prosedur. Surat dari Satlantas Polres SBD juga sudah ditunjukkan, tetapi tetap tidak dilayani,” ujar Gabriel.Ia menambahkan, saat dimintai penjelasan, petugas SPBU tidak dapat menunjukkan aturan tertulis yang melarang pengisian solar bagi kendaraan berpelat luar daerah. Selain itu, pihak yang bertanggung jawab di SPBU tersebut juga tidak berada di tempat saat kejadian.Gabriel mengaku merasa dirugikan dan berharap ada kejelasan aturan serta pengawasan dari pihak terkait, agar pelayanan BBM bersubsidi dapat berjalan adil dan sesuai ketentuan yang berlaku.Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU maupun Pertamina terkait kejadian tersebut.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Tragis! Bocah 13 Tahun Korban Terjangan Buaya di Pantai Retenggarong Ditemukan Tewas

SUMBA BARAT DAYA, NTT — Setelah dua hari pencarian, korban serangan buaya di pesisir Pantai Retenggarong, wilayah Rate Nggaro, Desa Maliti Bondo Ate, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.Korban diketahui bernama Dewo (13), yang sebelumnya dilaporkan hilang setelah diterkam buaya saat mencari kepiting bersama teman-temannya pada Jumat, 31 Januari 2026.Korban ditemukan pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 17.55 WITA. Kondisi jasad korban sangat mengenaskan, dengan kaki patah, sekujur tubuh penuh luka gigitan, diduga kuat akibat diterkam dan diseret buaya ke dalam air.“Korban sudah ditemukan, namun dalam keadaan meninggal dunia. Luka-luka di tubuhnya sangat parah akibat serangan buaya,” ujar Yos Lendu kepada jurnalis siletsumba.com melalui sambungan telepon WhatsApp.Setelah ditemukan, jenazah korban langsung dimakamkan oleh pihak keluarga, dan ibadah pemakaman dipimpin langsung oleh Pdt. Eliezer Dappa Roka, S.Th Lokasi rawan buaya dan sudah berulang kali memakan korban, Yos Lendu menegaskan bahwa kejadian serupa bukan pertama kali terjadi di lokasi tersebut.“Di tempat itu sudah berulang-ulang buaya memakan korban. Ini bukan kejadian baru,” tegasnya.Hal senada disampaikan Yohanis Odo Ate, Koordinator Lembaga Adat Rate Nggaro, yang mengungkapkan bahwa hampir setiap tahun wilayah tersebut memakan korban jiwa.“Hampir tiap tahun ada korban. Hanya tahun 2025 saja tidak ada korban, tetapi di akhir Januari 2026 buaya kembali menyerang dan memakan anak,” ungkapnya.Sementara itu, Sekretaris Desa Maliti Bondo Ate menyebutkan bahwa wilayah tersebut dianggap sakral dan angker oleh masyarakat setempat, karena populasi buaya yang sangat banyak. “Buaya di lokasi itu sangat banyak. Anak buaya diperkirakan ratusan ekor, buaya besar puluhan ekor. Bahkan telur buaya juga sangat banyak,” jelasnya.Warga Minta Perhatian Serius PemerintahPeristiwa tragis ini kembali membuka mata masyarakat akan bahaya serius yang mengancam warga pesisir, khususnya anak-anak yang masih sering beraktivitas di sekitar muara dan pantai.Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan, melakukan penanganan serius, termasuk:-Pemetaan wilayah rawan buaya-Pemasangan peringatan bahaya-Edukasi keselamatan bagi warga-Langkah mitigasi untuk mencegah korban jiwa kembali berjatuhanHingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BKSDA maupun pemerintah daerah terkait langkah penanganan lanjutan di lokasi rawan tersebut.

4 bulan yang lalu
Hero Image
“Jalan Rusak di Wewewa Selatan Ancam Nyawa Ibu dan Bayi, Warga Minta Perhatian Pemerintah dan DPRD”

Sumba Barat Daya – Akses jalan dari pertigaan Desa Delo menuju Desa Rita Baru, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih memprihatinkan. Jalan utama yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat tersebut belum tersentuh aspal dan dipenuhi batu serta tanah licin.Berdasarkan hasil investigasi jurnalis siletsumba.com pada Sabtu, 31 Januari 2026, kondisi jalan yang rusak parah ini kerap menimbulkan dampak serius, terutama dalam situasi darurat kesehatan. Sekretaris Desa Rita Baru mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sedikitnya tiga hingga lima ibu hamil terpaksa melahirkan di tengah perjalanan saat hendak dirujuk ke rumah sakit atau puskesmas.“Kondisi jalan sangat menyulitkan. Kalau hujan, kendaraan sering tidak bisa lewat. Ibu hamil sangat berisiko,” ungkap Sekretaris Desa Rita Baru saat ditemui di kediamannya, bersama Ketua BPD, Ketua Komite SD Negeri Rita, serta seorang ibu hamil.Warga berharap pemerintah daerah segera memberi perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur jalan tersebut, mengingat jalan ini merupakan akses utama masyarakat untuk pendidikan, ekonomi, dan terutama layanan kesehatan.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Menu MBG Kembali Didominasi Telur, Orang Tua Siswa Pertanyakan Variasi Gizi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan dari orang tua siswa penerima manfaat. Pada Senin, 2 Januari 2026, menu MBG yang dibagikan kepada siswa kembali didominasi olahan telur, sebagaimana terlihat pada paket makanan yang diterima siswa.Berdasarkan pengaduan orang tua siswa, menu berbahan dasar ayam hanya disajikan satu hari pada minggu lalu, sementara pada hari-hari berikutnya hingga hari ini, lauk utama yang diberikan kembali berupa telur. Kondisi tersebut dinilai kurang bervariasi dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan gizi anak-anak.“Satu minggu ini anak-anak lebih sering makan telur. Ayam hanya satu kali minggu kemarin. Kami tidak menolak telur, tapi seharusnya ada variasi supaya gizinya seimbang,” ujar Iana Rewa, salah satu orang tua siswa penerima MBG, kepada jurnalis.Dalam paket MBG yang diterima siswa hari ini, terlihat nasi putih, telur olahan, tahu goreng, sayur campur, serta satu buah pisang. Meski secara kuantitas dianggap cukup, minimnya variasi sumber protein hewani menjadi perhatian utama para orang tua.Terkait hal tersebut, jurnalis siletsumba.com telah melakukan konfirmasi via sambungan telepon WhatsApp kepada Ibu Anita Nadya Mahenu. Dalam keterangannya, ia menjamin bahwa variasi menu Program Makan Bergizi Gratis dilakukan setiap minggu dan telah disusun sesuai perencanaan gizi yang ada.Namun demikian, Ibu Anita Nadya Mahenu meminta agar jurnalis siletsumba.com dapat menemui langsung Kepala Pengelola MBG untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci. Ia mengarahkan agar konfirmasi lanjutan dilakukan di pusat pengelolaan MBG yang berlokasi di Omba Lunda, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.Para orang tua berharap adanya transparansi dan evaluasi berkala, khususnya terkait variasi menu dan kualitas gizi, agar tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi tumbuh kembang dan kesehatan anak-anak.

4 bulan yang lalu