Pulpen, Buku, dan Secuil Pesan Terakhir: Duka Sunyi Bocah SD di Ngada
Ngada, siletsumba.com - Ngada kembali diselimuti duka. Di sebuah ruang yang sederhana, pulpen dan buku tergeletak diam, ditemani secuil tulisan di sepotong kertas yang telah kusam. Benda-benda itu menjadi saksi bisu—bukti awal sekaligus akhir—dari kisah pilu seorang bocah Sekolah Dasar yang memilih jalan sunyi: mengakhiri hidupnya sendiri.
Tak ada teriakan, tak ada amarah. Hanya keheningan yang berbicara. Tulisan kecil yang tertinggal seolah menjadi pesan terakhir dari jiwa yang terlalu dini memikul beban yang tak semestinya dipikul oleh anak seusianya. Kata-kata itu lahir dari tangan mungil, namun menyimpan luka yang dalam, mengguncang hati siapa pun yang membacanya.
Peristiwa ini menyayat nurani. Di balik seragam sekolah dan buku pelajaran, ternyata tersimpan duka yang luput terbaca oleh orang dewasa di sekitarnya. Bocah itu pergi tanpa banyak kata, meninggalkan tanya yang panjang: di mana kita ketika ia membutuhkan pelukan, didengar, dan dilindungi?
Ngada hari ini berkabung. Tangis tak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari masyarakat yang tersadar bahwa tragedi ini bukan sekadar kisah satu anak, melainkan cermin kegagalan bersama—keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara—dalam menjaga jiwa paling rapuh di antara kita.
Pulpen itu kini tak lagi menulis. Buku itu tak lagi dibuka. Namun kisahnya akan terus berbicara, mengingatkan bahwa setiap anak berhak atas rasa aman, kasih sayang, dan harapan. Semoga duka ini menjadi alarm nurani, agar tak ada lagi bocah yang memilih pergi dalam sunyi.