Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
05 February 2026 - 00:14 WITA

Gubernur NTT Melki Laka Lena Semprot Sekda Ngada soal Kasus Bundir Siswa SD: “Ini Tamparan Keras, Kita Gagal sebagai Pemerintah!”

Gubernur NTT Melki Laka Lena Semprot Sekda Ngada soal Kasus Bundir Siswa SD: “Ini Tamparan Keras, Kita Gagal sebagai Pemerintah!”
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Kupang, siletsumba.com - SILETSUMBA.COM | NGADA — Tragedi bunuh diri (bundir) seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada memantik amarah Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena. Dalam sikap yang jarang ditunjukkan pejabat publik, Melki secara terbuka menyemprot Sekretaris Daerah (Sekda) Ngada dan menyebut peristiwa memilukan itu sebagai kegagalan total pemerintah.

Di hadapan jajaran birokrasi, Melki tidak menutup-nutupi kekecewaannya. Ia menegaskan, kematian seorang anak SD bukan sekadar musibah, melainkan alarm keras bahwa negara absen saat anak paling membutuhkan perlindungan.

“Kalau seorang anak SD sampai memilih mengakhiri hidupnya, maka tidak ada alasan untuk kita cuci tangan. Ini kegagalan kita sebagai pemerintah,” tegas Melki dengan nada tinggi.

Gubernur menyoroti mandeknya fungsi pengawasan dan pendampingan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Ia mempertanyakan peran Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta unit perlindungan anak, yang seharusnya mampu mendeteksi tekanan psikologis sejak dini.

Menurut Melki, Sekda sebagai pengendali birokrasi tidak boleh sekadar duduk di balik meja, sementara persoalan kemanusiaan dibiarkan tumbuh hingga berujung maut.

“Jangan tunggu anak mati baru kita ribut rapat. Negara harus hadir sebelum tragedi, bukan setelah peti mati ditutup,” sindirnya keras.

Kasus bundir siswa SD ini dinilai sebagai cermin buram dunia pendidikan dan perlindungan anak di Ngada. Publik mempertanyakan apakah korban mengalami tekanan psikis, perundungan, atau pembiaran sistemik yang luput dari perhatian pemerintah daerah.

Melki meminta agar fakta dibuka seterang-terangnya, tanpa ditutup-tutupi demi citra birokrasi. Ia juga menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh hingga ke level sekolah dan desa, termasuk penindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian.

Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Ngada, sekaligus memantik kemarahan publik terhadap sistem yang dinilai gagal melindungi anak-anak, kelompok paling rentan yang seharusnya dijaga negara.

Gubernur Melki menegaskan, kasus ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar berita sesaat.

“Satu anak mati, itu sudah terlalu mahal. Jangan sampai ada anak kedua, ketiga, dan seterusnya,” pungkasnya.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.