SUMBA BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR – PAUD Tana Paddu yang beralamat di Kampung Motodawu, Desa Harona Kalla, Kecamatan Lamboya Barat, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih menggunakan gedung SD paralel sebagai tempat belajar sementara.Lembaga pendidikan anak usia dini ini melayani anak-anak dari lima kampung, yakni Kampung Malisu, Kampung Tokahale, Kampung Balirama, Kampung Motodawu, dan Kampung Ronakadoki, yang berada di wilayah Dusun 1 dan Dusun 2 Desa Harona Kalla.Berdasarkan data yang diterima redaksi siletsumba.com, jumlah peserta didik PAUD Tana Paddu sebanyak 38 orang, terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 18 siswi perempuan.Kepada redaksi siletsumba.com, pada Senin, 13 Juli 2026, Herman Malisu H. Kalla menjelaskan bahwa hingga saat ini kegiatan belajar mengajar masih memanfaatkan gedung SD paralel sebagai tempat belajar sementara karena PAUD tersebut belum memiliki gedung sendiri."Kami saat ini masih menggunakan gedung SD paralel sebagai tempat belajar sementara," ujar Herman.Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan sarana dan prasarana PAUD Tana Paddu. Kehadiran gedung yang layak diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.Silet Sumba akan terus mengawal berbagai persoalan pendidikan di Nusa Tenggara Timur agar setiap anak memperoleh hak yang sama atas layanan pendidikan yang layak.
SILETSUMBA.COM | Tambolaka – Rumah sakit seharusnya menjadi tempat terakhir masyarakat menggantungkan harapan hidup. Namun, ketika obat-obatan yang paling mendasar pun diduga tidak tersedia, harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan.Hasil investigasi Siletsumba.com menemukan dugaan kelangkaan obat-obatan di RSUD Reda Bolo, Kabupaten Sumba Barat Daya, yang berlangsung sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026. Dari berbagai informasi yang dihimpun, bahkan Paracetamol, obat yang umum digunakan untuk menangani demam dan nyeri, disebut tidak tersedia.Yang lebih memprihatinkan, Siletsumba.com memperoleh informasi adanya dua pasien yang meninggal dunia. Sejumlah sumber menduga keterbatasan obat menjadi salah satu persoalan yang dihadapi dalam pelayanan. Namun demikian, penyebab pasti kematian kedua pasien tersebut masih memerlukan penjelasan resmi dari pihak rumah sakit dan hasil pemeriksaan pihak berwenang.Persoalan tidak berhenti pada obat-obatan. Layanan radiologi juga disebut belum berfungsi optimal sehingga pasien yang membutuhkan pemeriksaan rontgen harus dirujuk atau dititipkan ke RS Karitas Waitabula. Kondisi ini menambah beban masyarakat yang datang dengan harapan memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat dan layak.Ironisnya, beberapa waktu lalu Bupati Sumba Barat Daya bahkan berkantor selama beberapa hari di RSUD Reda Bolo untuk membenahi pelayanan rumah sakit. Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus menyampaikan komitmennya meningkatkan layanan kesehatan. Pertanyaan publik kini semakin keras menggema:Di mana Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya ketika dugaan kelangkaan obat terjadi berbulan-bulan?Apakah sistem pengadaan, distribusi, dan pengawasan stok obat berjalan sebagaimana mestinya?Bagaimana mungkin rumah sakit yang diproyeksikan menjadi pusat layanan kesehatan modern justru menghadapi dugaan kekurangan obat-obatan dasar? Padahal RSUD Reda Bolo merupakan bagian dari program peningkatan kualitas rumah sakit yang didukung pemerintah pusat.Masyarakat Sumba Barat Daya berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan memadai. Ketika seorang pasien datang ke rumah sakit, yang dibutuhkan bukan hanya gedung megah, tetapi juga dokter, obat, alat kesehatan, dan pelayanan yang benar-benar tersedia.Siletsumba.com mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, manajemen RSUD Reda Bolo, serta Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk segera memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat terkait:Dugaan kelangkaan obat sejak Januari hingga Juli 2026.Ketersediaan obat esensial di RSUD Reda Bolo.Kondisi layanan radiologi yang disebut belum optimal.Klarifikasi atas informasi mengenai dua pasien yang meninggal dunia.Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan hasil investigasi awal dan informasi yang dihimpun Siletsumba.com. Redaksi tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada Direktur RSUD Reda Bolo, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, dan seluruh pihak terkait sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
SUMBA BARAT DAYA – Menyusul pemberitaan sebelumnya mengenai dugaan intimidasi terkait dana revitalisasi SDM Waikadada, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Geraldus Kalumbang menyampaikan klarifikasi kepada redaksi SiletSumba.com pada Senin, 13 Juli 2026.Menurut Geraldus Kalumbang, informasi yang beredar sebelumnya merupakan kesalahpahaman (mis komunikasi). Ia menjelaskan bahwa Kepala Sekolah dan Ketua Komite SDM Waikadada telah bertemu untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik."Hasil pertemuan itu telah meluruskan informasi yang berkembang. Tidak ada intimidasi yang mengatasnamakan Ketua Bappilu," ujar Geraldus Kalumbang kepada redaksi SiletSumba.com.Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan berimbang. Redaksi SiletSumba.com menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah memberikan penjelasan serta menegaskan komitmennya untuk menjunjung tinggi prinsip keberimbangan, akurasi, dan hak jawab sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang PersSiletSumba.com – Tajam, Aktual, dan Terpercaya.
Reaksi spontan memang terasa jujur, tetapi sering kali hanya memperlihatkan satu hal: ketidakmatangan emosional yang belum selesai kita bereskan. Banyak orang mengira mereka sedang menghadapi masalah, padahal yang mereka hadapi sebenarnya adalah cara mereka merespons masalah itu sendiri. Di sinilah letak persoalan: kita sibuk meladeni drama dalam pikiran, bukan inti persoalannya.Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Ketika ada pesan masuk dari seseorang yang membuatmu tidak nyaman, kamu langsung tegang. Saat ada kesalahan kecil dalam pekerjaan, kamu panik dan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Atau ketika ada komentar negatif dari orang lain, kamu langsung merasa terancam. Semua ini bukan masalahnya, itu hanya refleks mental yang terbentuk karena kebiasaan bereaksi tanpa jeda. Padahal, sedikit jeda mampu mengubah seluruh kualitas keputusanmu.Berikut penjelasan mendalam agar kamu memahami bagaimana pola respons dewasa bisa mengubah hidupmu secara nyata dan bertahap.1. Reaksi itu otomatis; respons itu hasil kesadaranReaksi lahir dari mekanisme bertahan hidup otak. Ia terjadi begitu cepat tanpa memberi ruang untuk berpikir. Karena itu, reaksi biasanya impulsif, emosional, dan tidak proporsional. Banyak orang terjebak dalam pola ini karena otaknya dilatih bertahun-tahun untuk menanggapi ketidaknyamanan dengan tergesa-gesa. Hasilnya? Masalah kecil membesar, energi terkuras, dan hubungan dengan orang lain mudah retak.Sebaliknya, respons muncul setelah kamu memberi diri sendiri jeda untuk melihat fakta. Misalnya saat mendapat kritik di kantor, kamu memilih menunggu beberapa detik untuk menilai apakah kritik itu valid sebelum bereaksi emosional. Dengan jeda itu, kamu menghemat energi dan menyelamatkan diri dari drama yang tidak perlu. 2. Reaksi menciptakan konflik baru; respons menyelesaikan yang sudah adaKetika kamu bereaksi, fokusmu bukan pada penyelesaian masalah tetapi pada menenangkan ego yang merasa diserang. Inilah sebabnya banyak konflik kecil berubah panjang dan melelahkan. Contohnya, ketika pasangan terlambat membalas pesan, emosimu naik duluan sebelum logikamu sempat bekerja. Kamu akhirnya menuduh, marah, atau menarik diri, padahal tidak ada masalah nyata.Namun, ketika kamu merespons, kamu mengutamakan solusi. Kamu bisa berkata dalam hati bahwa ada kemungkinan pasanganmu sibuk atau sedang fokus. Cara berpikir ini menghindarkanmu dari drama yang kamu ciptakan sendiri. Dengan membiasakan respons, kamu semakin matang dalam relasi dan semakin hemat energi emosional.3. Reaksi mempercepat stres; respons meredakan tekananBereaksi secara impulsif membuat tubuh terus berada dalam mode siaga. Detak jantung meningkat, napas pendek, dan pikiran penuh kemungkinan buruk. Pola seperti ini membuatmu mudah kelelahan bahkan untuk hal yang tidak penting. Misalnya, suara notifikasi saja sudah membuatmu cemas, karena kamu terbiasa bereaksi sebelum menilai apa isinya.Respons bekerja sebaliknya. Kamu mengambil napas, memeriksa kenyataan, baru menentukan tindakan. Tubuhmu turun dari mode siaga ke mode stabil. Satu tindakan kecil seperti memperlambat napas sebelum membalas pesan bisa menurunkan intensitas stres secara signifikan. Dan ketika kamu mulai merasakan manfaatnya, kamu akan sadar bahwa kendali hidup dimulai dari kendali respons.4. Reaksi membuatmu defensif; respons membuatmu objektifKetika merasa disudutkan, otakmu akan bereaksi seolah sedang diserang. Kamu terdorong untuk membela diri bahkan ketika tidak perlu. Contohnya, ketika atasan memberi masukan, kamu langsung merasa disalahkan sehingga tidak lagi mendengar apa yang sebenarnya ingin diperbaiki. Akhirnya, kesempatan belajar hilang.Respons memberi jarak antara perasaan dan fakta. Kamu bisa menerima informasi tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi. Perlahan kamu belajar melihat kritik sebagai data, bukan ancaman. Pendekatan objektif seperti ini adalah ciri orang yang dewasa secara emosional dan mental.5. Reaksi memusatkan perhatian pada emosi; respons memusatkan pada tindakanBanyak orang lebih sibuk meladeni emosinya sendiri ketimbang memperbaiki masalahnya. Saat pekerjaan menumpuk, reaksi yang muncul biasanya panik dan keluhan, bukan tindakan. Akhirnya energi habis sebelum pekerjaan selesai. Inilah lingkaran setan yang membuat produktivitas runtuh.Respons mengalihkan fokusmu ke langkah konkret. Alih-alih panik, kamu mengurai masalah, memprioritaskan, dan mulai mengerjakan bagian termudah. Perubahan kecil seperti ini mengurangi beban mental dan mempercepat penyelesaian tugas. Sering kali, tindakan kecil jauh lebih menyembuhkan daripada curahan emosi besar.6. Reaksi memperlama masalah; respons mempercepat pemulihanKetika bereaksi, kamu biasanya membuat masalah bertambah panjang. Misalnya, saat tersinggung, kamu memutuskan diam berhari-hari sebagai bentuk protes. Padahal masalah awalnya hanyalah salah paham kecil. Reaksi emosional semacam ini justru membuat hubungan renggang dan suasana makin sunyi.Respons memilih klarifikasi cepat. Kamu bertanya dengan nada netral, mencari penjelasan, atau menyampaikan perasaan tanpa meledak. Cara ini tidak hanya menyelesaikan masalah lebih cepat tetapi juga meningkatkan kualitas hubungan jangka panjang. Hubungan dewasa dibangun dari kemampuan menyederhanakan, bukan memperumit.7. Reaksi membuatmu dikuasai keadaan; respons membuatmu memegang kendaliKetika kamu terbiasa bereaksi, emosimu menentukan arah hidupmu. Kamu mudah terseret suasana, mudah terpancing, dan mudah kehilangan fokus. Siklus ini membuat hidupmu terasa berat padahal sebagian besar tekanannya datang dari reaksi internalmu sendiri.Respons mengembalikan kendali ke tanganmu. Kamu memilih kapan bicara, kapan diam, kapan bertindak, dan kapan menunggu. Kamu berhenti menjadi korban suasana hati. Inilah level kedewasaan yang membuat hidup lebih ringan meski masalah tidak berkurang. Yang berubah adalah dirimu yang kini berdiri lebih tegak.Menjadi dewasa bukan tentang usia tetapi tentang kemampuan mengambil jeda sebelum bertindak. Ketika kamu berhenti bereaksi dan mulai merespons, hidupmu menjadi lebih stabil, pikiran lebih jernih, dan hubungan lebih sehat. Masalah tidak lagi terasa seperti badai yang siap menerjang, karena kamu punya kendali untuk memutuskan bagaimana menghadapinya. Kedewasaan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, tetapi sesuatu yang kamu latih dalam keputusan-keputusan kecil setiap hari.
SUMBA BARAT DAYA – Isu dugaan adanya tekanan dan intimidasi terhadap Kepala Sekolah terkait pengelolaan dana revitalisasi di SD Waikadada, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, mulai menjadi sorotan.Berdasarkan informasi yang diterima pada 9 Juli 2026, seorang berinisial DK, yang disebut mengaku sebagai Ketua Bapilu, diduga melakukan tekanan, ancaman, dan intimidasi kepada Kepala Sekolah. Dalam informasi tersebut juga disebutkan adanya dugaan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas suruhan oknum pejabat dan pihak dinas. Namun, hingga saat ini klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.Kalimat yang disebut disampaikan, yakni "Jangan bangunkan singa tidur dan semua akan terkuak," menjadi perhatian karena dinilai dapat dipersepsikan sebagai bentuk ancaman apabila benar terjadi.Silet Sumba mengingatkan bahwa setiap dugaan intimidasi terhadap kepala sekolah maupun pihak lain harus disikapi secara serius dan diproses sesuai ketentuan hukum. Jika terdapat penyimpangan dalam penggunaan dana revitalisasi sekolah tahun 2026, mekanisme pengawasan oleh inspektorat dan aparat penegak hukum merupakan jalur yang tepat untuk mengungkap fakta.Hingga berita ini ditayangkan, DK, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat Daya, maupun pihak-pihak yang disebut dalam informasi tersebut belum memberikan keterangan atau klarifikasi. Redaksi membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.SiletSumba.com – Tajam, Aktual, dan Terpercaya.
SUMBA TENGAH – PLT Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sumba Tengah, Ignasius Hapu Karanjawa, turun langsung memungut, mengangkat, dan mengumpulkan sampah bersama anggota serta kader Partai Demokrat dalam aksi bersih-bersih di Pasar Rakyat Waibakul, Jumat (10/7/2026).Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrat ke-25, yang diawali dengan penanaman 1.000 pohon bambu sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.Dengan mengenakan kaus biru Partai Demokrat, Ignasius Hapu Karanjawa bersama para kader menyusuri area pasar, memungut sampah yang berserakan, memasukkannya ke dalam karung, lalu mengangkutnya ke tempat pembuangan sampah. Aksi gotong royong tersebut mendapat perhatian masyarakat yang berada di sekitar lokasi.Berdasarkan pantauan SiletSumba.com, kondisi Pasar Rakyat Waibakul terlihat sangat sepi meskipun memiliki bangunan yang megah dan representatif. Aktivitas jual beli di dalam pasar belum berjalan optimal karena banyak pedagang memilih berjualan di pinggir jalan dan trotoar dibandingkan menempati lapak yang telah disediakan di dalam pasar.Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keberadaan pasar yang dibangun dengan fasilitas memadai belum dimanfaatkan secara maksimal. Diharapkan pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat melakukan penataan dan optimalisasi fungsi Pasar Rakyat Waibakul sehingga aktivitas perdagangan dapat kembali terpusat di dalam pasar dan memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun masyarakat.Ignasius Hapu Karanjawa menegaskan bahwa gerakan menanam bambu dan membersihkan lingkungan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat sekaligus ajakan untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam."Melalui semangat HUT Partai Demokrat ke-25, kami mengajak seluruh masyarakat untuk mewujudkan Gerakan Langit Biru untuk Indonesia Asri. Menjaga kebersihan lingkungan dan menanam pohon adalah investasi bagi masa depan serta warisan terbaik untuk Generasi Emas Indonesia 2045," tegas Ignasius.Dengan semangat "Gerakan Langit Biru untuk Indonesia Asri", Partai Demokrat Kabupaten Sumba Tengah berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kebersihan lingkungan, penghijauan, dan pelestarian alam demi kehidupan yang lebih sehat, hijau, dan berkelanjutan.
SUMBA TENGAH – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrat ke-25 yang akan diperingati pada 9 September 2026, DPC Partai Demokrat Kabupaten Sumba Tengah menggelar aksi penanaman 1.000 pohon bambu yang dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih di Pasar Rakyat Waibakul, Jumat (10/7/2026).PLT Ketua Partai Demokrat Kabupaten Sumba Tengah, Ignasius Hapu Karanjawa, mengatakan program penanaman bambu merupakan bentuk kepedulian Partai Demokrat terhadap pelestarian lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat di masa depan.Menurut Ignasius, saat ini telah ada perusahaan pengolahan bambu di Labuan Bajo yang memproduksi berbagai perabot, seperti kursi dan meja berbahan bambu. Ke depan, penggunaan kursi dan meja belajar berbahan bambu di sekolah-sekolah dinilai memiliki peluang untuk terus berkembang.Ia menjelaskan bahwa produk mebel berbahan bambu, seperti kursi dan meja, memiliki nilai ekonomi dan diminati pasar mancanegara. Karena itu, masyarakat diharapkan mulai melihat bambu bukan hanya sebagai tanaman konservasi, tetapi juga sebagai komoditas yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat."Menanam bambu berarti menanam harapan untuk Generasi Emas 2045. Apa yang kita tanam hari ini akan menjadi warisan yang bermanfaat bagi anak cucu kita di masa mendatang," ujar Ignasius Hapu Karanjawa.Kegiatan penanaman bambu turut dihadiri oleh Kepala Desa Anakalang, Pedi Gamu Djadji, S.Pd., yang mewakili pemerintah, Tokoh Adat Umbu Siwa, pemilik lahan Oxi Thomas, Pdt. Marthen Nunu, S.Th., bersama seluruh pengurus DPAC Partai Demokrat Kabupaten Sumba Tengah, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan masyarakat setempat.Usai penanaman bambu, seluruh peserta melanjutkan kegiatan dengan membersihkan sampah di Pasar Rakyat Waibakul. Sampah-sampah yang berserakan dipungut bersama-sama, dimasukkan ke dalam karung, kemudian dibuang ke tempat pembuangan sampah sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat.Berdasarkan pantauan jurnalis SiletSumba.com, kegiatan berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan dan gotong royong. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Partai Demokrat ke-25 yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata dalam pelestarian lingkungan dan kepedulian terhadap kebersihan fasilitas umum demi mewariskan lingkungan yang hijau kepada Generasi Emas Indonesia 2045.
SUMBA BARAT DAYA – Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) terus memperkuat upaya pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) melalui penguatan pendidikan vokasi, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja ke Sumba Hospitality Foundation (SHF) dan Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco Sumba di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.Kunjungan dipimpin oleh Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Munafrizal Manan, bersama Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dian Sasmita. Turut mendampingi Tenaga Ahli Menteri HAM, Martinus Gabriel Goa, Tim Teknis Subdirektorat Pengelolaan Pengaduan HAM, Taufiqurrahman dan Felicia Yunika, serta Tim Teknis Kepatuhan HAM Instansi Pemerintah, Irma Malinda Suhartono.Di Sumba Hospitality Foundation, rombongan meninjau langsung proses pembelajaran berbasis praktik yang mempersiapkan peserta didik menjadi tenaga profesional di bidang perhotelan dan pariwisata.Didirikan pada tahun 2016 oleh Inge De Lathauwer, SHF berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan vokasi yang berkontribusi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Pulau Sumba. Melalui pendidikan yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, yayasan ini membuka peluang bagi generasi muda, khususnya perempuan dan kelompok rentan, untuk memperoleh keterampilan, pengalaman kerja, serta akses menuju pekerjaan yang layak.Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Munafrizal Manan, memberikan apresiasi atas kontribusi SHF dalam membangun kapasitas masyarakat."Kami memberikan dukungan dan semangat kepada Sumba Hospitality Foundation yang telah berperan membekali masyarakat, khususnya perempuan dan anak, dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Upaya ini menjadi bagian dari langkah preventif untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap praktik tindak pidana perdagangan orang," ujarnya.Komisioner KPAI, Dian Sasmita, menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak harus dilakukan secara komprehensif melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi agar masyarakat memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak dan tidak mudah menjadi korban eksploitasi maupun perdagangan orang.Usai mengunjungi SHF, rombongan melanjutkan kunjungan ke BLK Don Bosco Sumba di Tambolaka. Mereka meninjau berbagai program pelatihan serta berdialog langsung dengan instruktur dan peserta dari berbagai wilayah di Pulau Sumba.Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM mengapresiasi kualitas pelatihan di BLK Don Bosco yang didukung instruktur bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) serta program pelatihan yang telah terakreditasi oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (LA-LPK).Rombongan mengunjungi berbagai unit pelatihan, mulai dari teknik sepeda motor, servis dan instalasi AC, tata rambut, pengelasan, komputer, instalasi listrik, energi surya, hingga produksi furnitur dan kerajinan bambu.Tenaga Ahli Menteri HAM, Martinus Gabriel Goa, menegaskan bahwa pendidikan vokasi yang dipadukan dengan praktik kerja industri (magang) dan sertifikasi kompetensi merupakan strategi penting dalam melindungi generasi muda dari risiko menjadi korban perdagangan orang."Ketika anak-anak muda memiliki keterampilan, sertifikat kompetensi, dan akses terhadap dunia kerja yang layak, mereka akan memiliki daya tawar yang lebih kuat sehingga tidak mudah menjadi sasaran sindikat perdagangan orang," katanya.Sementara itu, Direktur BLK Don Bosco Sumba, Br. Ephrem Santos, SDB, menyampaikan apresiasi atas perhatian Kementerian HAM terhadap pengembangan pendidikan vokasi di Pulau Sumba."Kami percaya bahwa pendidikan keterampilan merupakan salah satu jalan terbaik untuk membangun masa depan kaum muda. Dengan dukungan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, kami ingin terus memberikan kesempatan kepada anak-anak muda dari seluruh Pulau Sumba untuk memperoleh keterampilan, pekerjaan yang layak, dan kehidupan yang lebih bermartabat," ungkapnya.Kunjungan kerja ini merupakan bagian dari komitmen bersama Kementerian HAM, KPAI, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta pemerintah kabupaten di Pulau Sumba dalam mendukung implementasi program Zero TPPO di Nusa Tenggara Timur.Kementerian HAM menilai model pendidikan vokasi yang dikembangkan SHF dan BLK Don Bosco Sumba merupakan praktik baik dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, serta terlindungi dari berbagai bentuk eksploitasi. Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan mampu memperluas akses pelatihan keterampilan sekaligus menciptakan kesempatan kerja yang aman, layak, dan bermartabat.Reporter: Tim SiletSumba.comEditor: Stepanus Umbu Pati
Kepada para mahasiswa kebidanan maupun keperawatan, kami memohon penjelasan secara ilmiah mengenai ciri-ciri bayi yang mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi pada saat baru lahir.Foto yang kami miliki diambil saat anak kami hendak dimakamkan. Wajah bayi kami masih tampak segar. Karena itu, kami berharap ada penjelasan medis yang dapat membantu keluarga memahami kondisi yang sebenarnya.Selain itu, kami juga mempertanyakan prosedur pelayanan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan. Sejak ibu masuk untuk menjalani persalinan hingga bayi kami dinyatakan meninggal dunia, menurut pengakuan keluarga, tidak ada satu pun dokumen atau formulir persetujuan tindakan medis yang ditandatangani oleh kedua orang tua. Kami berharap pihak terkait dapat memberikan penjelasan mengenai apakah seluruh prosedur pelayanan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Peristiwa ini terjadi pada 23 Juni 2026. Ibu hamil Ester Mawo, warga Desa Redapada, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, menjalani proses persalinan di Puskesmas Waimangura. Menurut keterangan keluarga, bayi tersebut lahir dalam keadaan sehat. Namun, setelah menjalani penanganan medis, bayi tersebut meninggal dunia. Keluarga menduga terdapat kelalaian dalam penanganan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Waimangura yang berkaitan dengan meninggalnya bayi tersebut.Keluarga berharap aparat penegak hukum, Dinas Kesehatan, dan pihak terkait melakukan penyelidikan secara menyeluruh, transparan, dan profesional agar penyebab kematian bayi dapat diketahui berdasarkan fakta, bukti medis, serta hasil pemeriksaan yang objektif, sehingga memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi semua pihak.
SUMBA BARAT DAYA – Ketua Kelompok Tani Lighu Dewa, Anderias Dondo, Desa Loko Tali, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya, mengungkapkan bahwa dari total 24 anggota kelompok tani, hanya enam orang yang namanya tercantum sebagai penerima pupuk bersubsidi dari Kementerian Pertanian.Pernyataan tersebut disampaikan Anderias saat pengambilan pupuk bersubsidi di Toko Matahari pada Kamis, 2 Juli 2026. Toko Matahari diketahui menjadi penyalur pupuk bersubsidi untuk wilayah Kecamatan Kodi Utara, Kodi, Kodi Bangedo, Kodi Balaghar, Kota Tambolaka, dan Kecamatan Loura.Menurut Anderias, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan anggota kelompok tani karena sebagian besar anggota tidak tercantum sebagai penerima pupuk bersubsidi."Kami memiliki 24 anggota, tetapi yang keluar nama sebagai penerima hanya enam orang. Kami berharap pemerintah melakukan evaluasi sehingga penyaluran pupuk benar-benar merata dan tepat sasaran kepada petani yang berhak," ujarnya.Sebelumnya, Staf Ahli Kementerian Pertanian dikabarkan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di gudang Toko Matahari sebagai penyalur pupuk bersubsidi. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, tim menemukan sejumlah kejanggalan, termasuk kondisi gudang penyimpanan pupuk yang dinilai sangat tidak layak. Temuan tersebut disebut menjadi catatan khusus dan perhatian Staf Ahli Kementerian Pertanian untuk dilakukan pembenahan ke depan.Informasi yang diperoleh SiletSumba.com juga menyebutkan bahwa sidak dilakukan menyusul banyaknya pengaduan dari sejumlah kelompok tani terkait proses penyaluran pupuk bersubsidi. Dalam pengaduan tersebut terdapat dugaan adanya oknum-oknum tertentu yang diduga melakukan penyimpangan dalam penyaluran pupuk bersubsidi.Namun demikian, hingga berita ini diterbitkan, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. SiletSumba.com tetap menjunjung asas praduga tak bersalah dan memberikan ruang hak jawab serta hak klarifikasi kepada pihak Toko Matahari, instansi terkait, maupun pihak lain yang disebutkan dalam pemberitaan ini.Para petani berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendataan dan distribusi pupuk bersubsidi agar bantuan benar-benar diterima oleh petani yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku.
Stepanus Umbu Pati