(Filosofis): "Menyala Queen": Ketika Pelayan Rakyat Lebih Sibuk Membangun Citra Ratu di Media Sosial
Sumba Barat Daya, siletsumba.com - Sebuah video berdurasi 15 detik yang diunggah oleh Bupati Sumba Barat Daya (SBD) baru-baru ini menyita perhatian publik. Dalam tayangan tersebut, orang nomor satu di SBD ini tampak berolahraga di pelataran Rumah Jabatan, lalu dengan percaya diri menaiki kendaraan pribadi yang gagah.
Namun, yang menggelitik nalar publik bukanlah aktivitas olahraganya, melainkan narasi yang menyertainya: "Sehat Tanpa Obat, Pontang-Panting Tanpa Doping... Menyala Queen."
Sebagai ekspresi pribadi, video ini sah-sah saja. Namun, sebagai konten yang diproduksi oleh seorang Bupati, narasi ini melukai rasa keadilan dan memperlihatkan jurang empati yang menganga.
Definisi "Pontang-Panting" yang Tertukar
Ketika seorang Bupati menuliskan kata "Pontang-panting" hanya untuk menggambarkan rutinitas olahraga dan gaya hidup sehatnya, rakyat SBD patut bertanya: Apakah Ibu Bupati tahu arti pontang-panting yang sesungguhnya?
Di SBD, "pontang-panting" itu adalah wajah mama-mama yang berjalan kaki kiloan meter memikul air karena kekeringan.
"Pontang-panting" itu adalah nasib guru honorer yang gajinya kerap terlambat.
"Pontang-panting" itu adalah warga yang mati-matian antre di RSUD karena fasilitas kesehatan yang minim.
Menggunakan kata yang identik dengan penderitaan rakyat untuk membungkus konten gaya hidup "Queen" di halaman istana kekuasaan adalah bentuk ketidakpekaan (tone-deaf) yang fatal.
Mentalitas "Ratu" vs "Pelayan"
Penggunaan istilah "Menyala Queen" semakin mempertegas ambiguitas posisi beliau. Apakah beliau menempatkan diri sebagai "Ratu" yang harus dipuja, atau sebagai "Pelayan" yang harus bekerja?
Mandat rakyat SBD diberikan untuk seorang pemimpin yang siap berkeringat mengurus stunting dan kemiskinan, bukan untuk seorang "Queen" yang sibuk memvalidasi eksistensinya di jagat maya. Rumah Jabatan adalah simbol amanah penderitaan rakyat, bukan studio konten untuk memamerkan kemewahan pribadi, meskipun kendaraan yang digunakan adalah milik sendiri.
Fokus Kerja, Bukan Konten
Narasi "Dikasih tantangan kita tantangin" dalam video tersebut terdengar gagah, namun kosong jika tidak dibarengi bukti. Tantangan SBD hari ini bukan di lintasan lari atau di depan kamera ponsel. Tantangan SBD ada di data BPS: kemiskinan, infrastruktur rusak, dan kualitas pendidikan.
Publik merindukan Bupati yang "Pontang-Panting" melobi anggaran ke pusat, bukan pontang-panting mencari angle kamera terbaik.
Sudahilah bermain peran sebagai selebriti. SBD butuh Bupati yang menyala karena prestasinya, bukan menyala karena kontennya.
(Redaksi)