Di Balik Video Gym Bupati SBD: Otot Politik atau Sekadar Romantisme Keringat?
Sebuah video pendek Bupati Sumba Barat Daya yang sedang melakukan latihan beban dengan narasi “anti-baper” mendadak viral dan menyedot perhatian publik. Visualnya rapi, estetik, dan diproduksi layaknya konten motivasi ala influencer kebugaran. Namun bagi warga Sumba Barat Daya, yang sehari-hari menghirup realitas di luar layar, video ini menyodorkan ironi yang sulit diabaikan.Dalam video, sang Bupati tampil bugar, penuh energi, mengangkat beban berat di bawah bimbingan instruktur pribadi. Kita tidak menafikan: pemimpin yang sehat tentu lebih baik. Tetapi jurnalisme tidak berhenti pada tepuk tangan—ia bertanya, menggali, dan menelanjangi makna yang tersembunyi di balik sorot kamera.Dan di situlah letak masalahnya.Narasi “Anti-Baper”: Motivasi atau Pembelaan Diri?Audio latar yang berbunyi, “Bisa mengontrol emosinya dengan baik… gak gampang tersinggung, gak gampang tantrum,” terdengar lebih seperti pembelaan diri ketimbang pesan motivasi. Dalam komunikasi politik, ketika seorang pemimpin merasa perlu menegaskan bahwa dirinya “tidak gampang tantrum” melalui konten medsos, itu justru memancing pertanyaan:Apakah ada kegelisahan dalam dirinya terhadap persepsi publik yang menganggap sebaliknya?Apakah ini respon halus terhadap kritik yang makin nyaring soal gaya kepemimpinan yang dianggap emosional dan reaktif?Konten yang seharusnya membranding citra ketenangan malah membuka ruang dugaan soal kerentanan psikologis sang pemimpin.Kontras Tajam: Fitness Pejabat vs Pembangunan yang “Lemas”Sementara sang Bupati sibuk mengangkat besi di ruangan ber-AC, ribuan warga desa masih sibuk mengangkat jerigen air karena krisis air bersih tak kunjung tertangani.Sementara otot-otot pejabat dibentuk agar semakin kekar, birokrasi di bawahnya justru dianggap makin melemah—pelayanan lambat, penanganan infrastruktur tersendat, dan program-program sosial yang berjalan setengah hati.Di banyak titik, warga masih berkutat dengan:jalan berlubang yang menjadi “kubangan abadi”,sekolah yang rusak tanpa perbaikan berarti,Puskesmas kekurangan tenaga dan obat,anak-anak yang putus sekolah karena ekonomi keluarga yang tercekik.Kontras ini bukan sekadar masalah selera konten, tetapi cermin kedangkalan sensitivitas sosial pejabat publik.Bayang-bayang Korupsi dan Anggaran yang Tak JelasSorotan publik juga mengarah pada isu-isu yang lebih kelam. Sejumlah program pembangunan dilaporkan mangkrak atau berjalan di tempat, sementara gelombang rumor soal dugaan penyalahgunaan anggaran dan transaksi tidak transparan terus bergulir di masyarakat.Belum lagi keluhan warga soal proyek-proyek desa yang diduga “dipotong”, hibah yang tidak jelas penerimanya, serta bantuan sosial yang kabarnya tidak tepat sasaran.Ketika pembangunan tersendat, namun citra kebugaran pejabat justru dipamerkan ke publik, ketimpangan moral itu makin terasa menusuk.Rakyat Butuh Pemimpin Kuat, Bukan Sekadar Pemimpin yang Kuat BerposeTidak ada yang salah dengan berolahraga. Tidak ada yang salah dengan hidup sehat. Yang salah adalah ketika visual kebugaran itu dipertontonkan di tengah rakyat yang masih bergelut dengan perut kosong, jalan rusak, dan air tidak mengalir.Rakyat Sumba Barat Daya tidak butuh pemimpin yang hanya kuat mengangkat barbel.Rakyat butuh pemimpin yang kuat:mengangkat derita kemiskinan,mengangkat kualitas layanan publik,mengangkat keberanian untuk memutus rantai korupsi,mengangkat integritas birokrasi dari lumpur kepentingan pribadi dan kelompok.Jika Keringat itu Bisa Menjadi Air untuk DesaJika keringat yang menetes di gym bisa berubah menjadi air bersih yang mengalir ke desa-desa, atau menjadi jalan yang mulus, atau menjadi transparansi anggaran, barulah publik akan berkata:“Ibu Bupati benar-benar kuat.”Selebihnya?Itu hanya konten.Dan rakyat sudah terlalu sering diberi tontonan tanpa sentuhan.