Hero Image
Terungkap Fakta! Korban Bongkar Praktik Pengiriman TKW Ilegal dari Sumba ke Malaysia

Sebuah wawancara eksklusif yang dilakukan oleh Ms. Julita, mitra Sumba TV dan SiletSumba.com, mengungkap kisah pilu seorang korban pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ilegal asal Sumba yang dikirim ke Malaysia tanpa izin resmi.Dalam video yang dikirim langsung ke redaksi, korban menceritakan bagaimana dirinya direkrut oleh pihak yang mengaku agen penyalur tenaga kerja. Dengan janji pekerjaan layak di luar negeri, korban akhirnya berangkat tanpa memahami bahwa proses tersebut tidak memiliki dasar hukum yang sah.“Saya dijanjikan kerja bagus. Semua katanya sudah diurus, tapi ternyata tidak ada izin. Kami dibawa diam-diam,” ungkap korban dalam wawancara bersama Ms. Julita.Menurut penuturan korban, ia dan beberapa rekan lainnya sempat mengalami kesulitan setelah tiba di Malaysia. Mereka tidak memiliki dokumen resmi dan tidak mendapat perlindungan sebagaimana mestinya tenaga kerja legal.“Kami seperti tidak punya hak. Kalau mau pulang pun susah,” tambahnya dengan suara bergetar.Video wawancara ini kini menjadi perhatian publik dan tengah diverifikasi oleh tim redaksi SiletSumba.com. Pengakuan tersebut memperkuat dugaan adanya jaringan perekrutan tenaga kerja ilegal yang masih aktif di beberapa wilayah di Sumba.Pihak SiletSumba.com dan Sumba TV menyatakan akan terus menelusuri kasus ini secara profesional dan berimbang, dengan tetap menjaga privasi korban serta mengedepankan prinsip jurnalistik yang etis.“Keberanian korban untuk bersuara adalah langkah penting dalam melawan praktik perdagangan orang. Kami akan terus mengawal kasus ini,” tegas pernyataan redaksi SiletSumba.com.Masyarakat diimbau agar tidak mudah percaya pada tawaran kerja ke luar negeri tanpa memastikan legalitas perusahaan atau agen penyalur tenaga kerja.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Minim Transparansi, Warga Desa Lolo Ole Harap Dana Desa Dikelola Lebih Terbuka

Program Dana Desa yang digulirkan pemerintah pusat sejak 2015 telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan di tingkat desa. Melalui dana tersebut, berbagai infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, dan sarana air bersih berhasil dibangun di banyak wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Sumba Barat Daya.Namun di sisi lain, sejumlah warga masih mempertanyakan sejauh mana prinsip keterbukaan dan transparansi benar-benar dijalankan, termasuk di Desa Lolo Ole, Kecamatan Wewewa Barat.Beberapa warga yang ditemui tim Silet Sumba mengaku tidak mengetahui secara pasti besaran maupun peruntukan Dana Desa tahun ini. Mereka menyebut, tidak adanya papan informasi kegiatan desa yang terpasang membuat masyarakat sulit mengetahui jenis kegiatan pembangunan yang sedang berlangsung, maupun status realisasi anggarannya."Kita tidak tahu uang Dana Desa dipakai buat apa. Dulu ada papan informasi, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi kita hanya dengar-dengar saja,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.Papan Informasi: Simbol Transparansi yang Mulai HilangPapan informasi desa sejatinya bukan sekadar formalitas. Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Permendes PDTT) Nomor 7 Tahun 2021, pemerintah desa wajib mengumumkan rencana dan realisasi penggunaan Dana Desa kepada masyarakat.Informasi tersebut bisa disampaikan melalui papan proyek, papan informasi kegiatan, hingga media digital seperti laman resmi atau grup WhatsApp resmi desa.Namun di lapangan, praktik itu tidak selalu berjalan. Di Desa Lolo Ole, misalnya, papan informasi proyek yang seharusnya menjadi sarana kontrol publik justru tidak lagi tampak di depan kantor desa.Beberapa warga bahkan mengaku tidak pernah melihat pengumuman kegiatan pembangunan secara terbuka sejak dua tahun terakhir.Padahal, keterbukaan ini penting bukan hanya untuk mencegah penyalahgunaan anggaran, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparatur desa.Pemerintah Desa: Tantangan Administrasi dan Keterbatasan SDMKetika dikonfirmasi secara terpisah, seorang tokoh masyarakat yang juga pernah menjadi perangkat desa mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia dan lemahnya kemampuan administrasi sering menjadi kendala utama.“Kadang bukan karena niat tidak transparan, tapi karena perangkatnya tidak semua bisa buat laporan atau update papan informasi. Ada yang masih belajar komputer, ada juga yang belum terbiasa dengan sistem pelaporan digital,” ungkapnya.Pernyataan itu mencerminkan persoalan yang lebih luas: di banyak desa, perangkat belum sepenuhnya siap secara teknis untuk mengelola laporan keuangan secara terbuka dan akurat.Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menutupi celah dalam pelaporan.Peran Masyarakat dalam MengawasiMeski begitu, tanggung jawab keterbukaan bukan hanya milik pemerintah desa.Masyarakat juga memiliki peran besar untuk aktif bertanya, meminta laporan keuangan, atau sekadar menanyakan kegiatan yang sudah dan akan dilakukan.Sikap kritis ini bukan bentuk perlawanan, melainkan bagian dari kontrol sosial yang sehat. “Kalau warga diam, lama-lama dana itu bisa tidak tepat sasaran. Harusnya semua warga tahu dan ikut awasi,” ujar seorang pemuda di Lolo Ole yang aktif dalam kegiatan karang taruna.Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya sendiri beberapa tahun terakhir mulai mendorong desa-desa untuk menerapkan sistem pelaporan berbasis digital dan memperkuat kapasitas bendahara desa agar laporan bisa diakses publik secara transparan.Harapan Baru: Desa yang Jujur, Masyarakat yang PeduliMeski masih ada kendala, banyak warga berharap agar ke depan Desa Lolo Ole dan desa-desa lain di Sumba Barat Daya dapat lebih terbuka dalam mengelola anggaran publik.Transparansi bukan hanya untuk menghindari kesalahan, tapi juga untuk membangun kepercayaan antara warga dan pemerintah.“Kita tidak mau tuduh siapa-siapa, tapi kalau semuanya terbuka, masyarakat juga senang. Biar kita sama-sama tahu apa yang dibangun,” tutup salah satu warga dengan nada berharap.Pada akhirnya, desa yang maju bukan diukur dari banyaknya proyek yang berdiri, melainkan dari tingginya kepercayaan warganya terhadap pemerintahannya sendiri.Dan kepercayaan itu hanya bisa tumbuh dari satu hal sederhana: keterbukaan.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Mengenali Ciri-Ciri Dana Desa yang Rawan Disalahgunakan: Belajar dari Pengalaman di Sumba Barat Daya

Program Dana Desa yang digelontorkan pemerintah pusat sejatinya bertujuan mulia: membangun desa dari pinggiran, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan memperkuat pelayanan publik di tingkat akar rumput. Namun, di beberapa wilayah termasuk Sumba Barat Daya, implementasinya sering kali dihadapkan pada tantangan serius — mulai dari lemahnya pengawasan hingga potensi penyalahgunaan anggaran.Di sebuah desa di Kecamatan Wewewa Barat, misalnya, beberapa warga mengaku tidak mengetahui secara pasti ke mana arah penggunaan Dana Desa tahun berjalan. Papan informasi kegiatan desa tidak diperbarui, laporan realisasi fisik proyek sulit diakses, dan sebagian kegiatan yang tertera dalam dokumen Musyawarah Desa ternyata tidak pernah terealisasi di lapangan.Situasi seperti ini bukan hanya menandakan lemahnya sistem transparansi, tapi juga membuka ruang bagi potensi praktik yang tidak semestinya.Ciri-Ciri Dana Desa yang Patut DiwaspadaiPara penggiat transparansi anggaran menyebut, ada sejumlah tanda umum yang bisa menjadi alarm dini bagi masyarakat desa untuk lebih waspada terhadap potensi penyimpangan dana desa:1. Minimnya Informasi PublikTidak ada papan proyek, dokumen realisasi, atau laporan kegiatan yang bisa diakses oleh warga. Informasi seharusnya diumumkan secara terbuka, baik di balai desa maupun media daring desa.2. Proyek Fisik Tidak Sesuai AnggaranVolume pekerjaan lebih kecil dari nilai yang dilaporkan, bahan bangunan diganti dengan kualitas rendah, atau lokasi proyek tidak sesuai rencana awal.3. Musyawarah Desa Hanya FormalitasKegiatan perencanaan hanya dihadiri segelintir orang, tanpa melibatkan masyarakat luas. Bahkan terkadang, keputusan sudah ditentukan sebelumnya.4. Pengelolaan Dana Tidak Melalui Rekening Resmi DesaJika ada aliran dana atau transaksi tunai tanpa jejak rekening desa, maka hal itu patut dipertanyakan.5. Tidak Ada Audit atau Laporan Akhir Tahun yang DipublikasikanSetiap desa wajib membuat laporan keuangan tahunan. Bila laporan itu tidak pernah disampaikan secara terbuka, besar kemungkinan ada sesuatu yang ditutupi.Peran Masyarakat Sangat PentingKeterlibatan warga menjadi kunci utama dalam menjaga akuntabilitas Dana Desa. Masyarakat bisa berperan aktif dengan menanyakan laporan keuangan, menghadiri musyawarah desa, atau melaporkan temuan ke inspektorat kabupaten bila ditemukan kejanggalan.“Transparansi bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk memastikan uang rakyat benar-benar kembali ke rakyat,” ujar salah satu tokoh masyarakat di Wewewa Barat saat ditemui tim Silet Sumba.Harapan untuk PerubahanPemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat sistem pengawasan internal melalui pelatihan aparat desa, peningkatan kapasitas bendahara desa, serta digitalisasi laporan keuangan berbasis aplikasi.Namun, tanpa kesadaran kolektif antara pemerintah dan masyarakat, praktik penyimpangan bisa tetap terjadi.Karena itu, memahami tanda-tanda penyalahgunaan Dana Desa bukan sekadar upaya menghindari korupsi — melainkan bagian dari membangun budaya integritas di akar rumput.🧭 Pesan Akhir:Desa yang maju bukan hanya desa yang punya jalan beton dan gedung baru, tapi desa yang warganya berani bertanya: “Uang kita digunakan untuk apa?”

4 bulan yang lalu
Hero Image
Polisi Malaysia Tumpas Sindiket Buruh Paksa, 49 Wanita Indonesia Diselamatkan

Otoritas Kepolisian Malaysia berhasil menumpas sebuah sindikat yang diduga melakukan praktik eksploitasi tenaga kerja dalam operasi besar di sekitar Klang, Selangor, pekan lalu.Sebanyak 49 wanita Warga Negara Indonesia (WNI) berhasil diselamatkan dari situasi kerja tidak manusiawi yang dijalankan di bawah kedok agensi pekerjaan.Korban Diduga Dieksploitasi Bertahun-TahunDirektur Departemen Investigasi Kriminal (CID) Bukit Aman, Datuk M. Kumar, dalam konferensi pers, Jumat (17/10/2025), mengungkapkan bahwa para korban berusia antara 20 hingga 47 tahun.Beberapa di antaranya diduga telah bekerja selama lebih dari satu dekade tanpa menerima gaji yang layak.Polisi menemukan indikasi bahwa para korban direkrut dari daerah pedesaan di Indonesia dengan janji pekerjaan di sektor formal. Namun, setelah tiba di Malaysia, mereka justru ditempatkan sebagai pekerja rumah tangga dan tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan keluarga.“Telepon genggam mereka disita dan aktivitas mereka diawasi,” ujar Datuk M. Kumar dalam keterangannya.14 Tersangka Ditahan, Uang Tunai dan Paspor DisitaOperasi yang diberi nama Op Pintas Tip ini berlangsung dari 10 hingga 13 Oktober 2025 di 11 lokasi berbeda di Klang.Polisi menahan 14 tersangka, terdiri dari 11 warga lokal (delapan pria dan tiga wanita) serta tiga WNI. Mereka berusia antara 27 hingga 48 tahun dan memiliki peran beragam, mulai dari pengelola, administrasi, hingga transportasi.Dari hasil operasi, polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain:Uang tunai lebih dari RM1 juta (setara Rp3,4 miliar)71 paspor IndonesiaEnam kendaraan19 telepon genggamLima unit CCTVSalah satu tersangka WNI juga diketahui positif menggunakan narkoba jenis tertentu, berdasarkan hasil uji awal.Proses Hukum dan Perlindungan KorbanSeluruh korban kini ditempatkan di lokasi aman dan diberikan Perintah Perlindungan Interim (IPO) selama 21 hari.Kasus ini diselidiki berdasarkan Akta Anti Pemerdagangan Orang dan Anti Penyeludupan Migran (ATIPSOM) 2007, serta Akta Keimigrasian Malaysia.Pemerintah Indonesia melalui KBRI Kuala Lumpur diharapkan segera memberikan pendampingan hukum dan memastikan proses pemulangan (repatriasi) berjalan dengan aman bagi 49 WNI yang menjadi korban.

4 bulan yang lalu
Hero Image
EKSKLUSIF: Kisah Pilu WNI Korban Sindiket Buruh Paksa Malaysia, Dipaksa Pakai KTP Palsu dan Jadi 'Pelancong' Ilegal

Kasus penumpasan sindiket buruh paksa di Klang, Selangor, yang menyelamatkan 49 wanita WNI, semakin mengungkap praktik kejam di balik perekrutan Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural. Salah seorang korban mengungkap secara gamblang bagaimana ia dipaksa menggunakan identitas palsu dan diberangkatkan secara ilegal ke Malaysia sebagai "pelancong" (turis).​Korban, yang nama aslinya adalah Dornatasi Honan (usia tidak disebutkan), menceritakan bahwa seluruh proses keberangkatannya dikendalikan oleh seorang sponsor di Indonesia.​Identitas Dipalsukan, Diberi Nama "Ester"​Dornatasi Honan dipaksa meninggalkan identitas aslinya dan menggunakan nama "Ester" selama berada di Malaysia.​"Di dalam [proses masuk] sini, dipanggilkan nama apa? Pakai Ester. Apakah itu nama kamu atau bukan? Bukan nama saya," ungkap korban dengan nada pilu.​Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemalsuan data tersebut, termasuk penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang wajahnya diserupakan, dilakukan tanpa persetujuannya.​"Semua data yang mereka palsukan ini... atas persetujuan kamu atau tidak? Tidak. Mereka buat sendiri, karena itu KTP, Elvi sendiri ambil dari mana tempat, dia cakap mungkin ini KTP serupa dengan wajahmu, suruhlah pakai ini KTP."​Modus Sponsor: Elvi dan Jalur Ilegal​Dornatasi mengidentifikasi nama sponsor yang mengatur keberangkatannya adalah Elvi. Sponsor tersebut diketahui pernah beroperasi di Waingapu (Sumba) dan saat ini berada di Kupang.​Proses perjalanan yang dilalui Dornatasi sangat panjang dan non-prosedural, menunjukkan koordinasi sindiket di berbagai daerah di Indonesia:​Dari Sumba ke Kupang menggunakan kapal.​Menunggu 2 minggu di Kupang.​Dioper ke Jakarta/Palembang dan bertemu dengan seseorang bernama "Bu Dewi."​Menuju Jakarta/Palembang untuk membuat paspor ilegal (diduga).​Dioper ke Batam, lalu menyeberang ke Malaysia menggunakan kapal feri.​Masuk Malaysia Sebagai "Pelancong"​Dornatasi Honan mengaku tidak memiliki izin kerja (permit sah) saat masuk Malaysia, melainkan diperintahkan untuk mengaku sebagai turis.​"Apakah saat kamu masuk, ada permit sah yang kamu gunakan? Tidak ada. Berarti kamu hanya masuk saja sebagai pelancong?" tanya pewawancara. "Ya, ya, karena ada orang suruh saya kalau apa, kalau polisi tanya, kalau macam polisi Imigresen tanya, cakap mau ke naning (mau jalan-jalan/berlibur)."​Dieksploitasi 1 Tahun 8 Bulan di Tangan Agensi​Setelah tiba di Malaysia, ia dijemput oleh agensi yang diketahui bernama "Mem Ester" (suami dari agensi yang mengurusnya) di dekat pelabuhan. Setelah menunggu tiga minggu, ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga.​Dornatasi bekerja selama 1 tahun 8 bulan pada majikan pertamanya dan mengaku diperlakukan dengan baik oleh majikan kontrak tersebut. Namun, selama masa kerjanya, ia hanya berhasil mengirimkan uang kepada keluarga satu kali sebesar Rp10 juta (sekitar RM3.000).​Akhir kisah pilunya terjadi saat ia hendak meminta pulang. Sebelum sempat berbicara, majikan secara mendadak menyuruhnya bersiap. "Tiba-tiba sampai di rumah cakap saya, siap-siap saya punya pakaian, [karena] agen ada suruh balik sana," tutupnya, menguatkan bahwa sindiketlah yang memegang kendali penuh atas nasibnya.​Pengakuan Dornatasi ini menjadi bukti nyata praktik pemerdagangan orang yang terorganisir, di mana korban diperdaya, dipalsukan identitasnya, dan dieksploitasi, sejalan dengan temuan Polisi Malaysia. Pemerintah Indonesia didesak untuk segera memburu dan menindak tegas sponsor bernama Elvi serta semua oknum yang terlibat.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Jaminan Keamanan di Weekurra: Kapolsek dan Tokoh Agama Gaungkan Perdamaian dan Kepastian Hukum

Dalam upaya menjaga ketenangan dan stabilitas wilayah pasca-peristiwa duka yang menimpa almarhum Stefanus Bili Gaddi, sinergi antara Kepolisian dan tokoh agama menjadi sorotan utama di Desa Weekurra, Kecamatan Wewewa Barat. Kapolsek Wewewa Barat, Ipda Elfridus Iku Arem, S.Sos., bersama Pdt. Frederick Yosua Manase Ranzi, S.Th, yang mewakili keluarga, menegaskan komitmen untuk menyelesaikan kasus melalui jalur hukum yang damai.​Dalam rekaman eksklusif yang direkam langsung oleh Silet Sumba di lokasi duka pada Kamis (16/10/2025), kedua tokoh tersebut terlihat berdialog intens, menanggapi kekhawatiran masyarakat.​Fokus Keluarga pada Keadilan Hukum​Pdt. Frederick Yosua Manase Ranzi, S. Th menyampaikan jaminan dari keluarga korban kepada pihak kepolisian, menegaskan bahwa tidak ada niat untuk mengambil tindakan di luar koridor hukum.​"Saya jamin, dari awal kejadian sampai hari ini, kami memilih untuk tidak melakukan aksi balasan. Kami percaya pada proses hukum dan hanya meminta dukungan doa," ujar Pendeta Manase. Ia menambahkan bahwa keputusasaan tidak akan merasuki hati, karena keluarga berpegang teguh pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.​Komitmen keluarga ini diperkuat dengan fakta bahwa sebagian kerabat almarhum adalah pelayan gereja, yang menjadi dasar kuat bagi keputusan mereka untuk menjauhi kekerasan dan mempercayakan segala sesuatunya kepada Tuhan dan hukum.​Apresiasi Kepolisian dan Janji Pengusutan Tuntas​Menyambut baik sikap keluarga yang kooperatif, Kapolsek Ipda Elfridus Iku Arem, S.Sos., memberikan apresiasi tinggi dan menegaskan kembali tugas aparat.​"Kepercayaan dari keluarga ini sangat kami hargai. Saya tegaskan, kasus ini sudah di tangan kami dan akan kami proses hukumnya dengan baik dan tuntas," janji Kapolsek.​IPDA Elfridus Iku Arem, S.Sos mengimbau masyarakat untuk mendukung penuh upaya penegakan hukum dan menjaga suasana tetap kondusif. "Mari kita serahkan sepenuhnya kepada kami. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan situasi aman, agar tugas kepolisian berjalan maksimal," tutupnya.​Sinergi yang ditunjukkan oleh Kapolsek, didukung penuh oleh Bapak Camat Benyamin Kaba dan Babinsa Sertu Petrus Lalo, serta tokoh-tokoh agama, berhasil menjadi jangkar perdamaian yang vital di tengah duka masyarakat Desa Weekurra.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Pesona Sumba Barat di Panggung Festival Seni Budaya: Maureen Priscilla A. Malo Soroti Isu Kesejahteraan Rakyat dalam Lomba Pidato

Semangat pelestarian budaya dan isu pembangunan daerah menjadi fokus utama dalam gelaran Festival Seni Budaya Sumba Barat - Spesial Antar Pelajar. Acara yang mengusung tema "Pelajar Berkarya Budaya Terjaga" ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyuarakan aspirasi dan pandangan mereka.​Salah satu momen penting dalam festival ini adalah Lomba Pidato Bahasa Indonesia jenjang SMP/MTs se-Kabupaten Sumba Barat 17 Oktober 2025. Di panggung ini, Maureen Priscilla Angeline Malo tampil memukau dengan pidato bertema pariwisata yang berjudul "Pariwisata Berkembang, Masyarakat Berdaya, Kehidupan Bermakna."​Sebagai seorang pelajar, Maureen menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap perkembangan pariwisata di Sumba Barat. Dalam pidatonya, ia tidak hanya memuji keindahan alam dan kekayaan budaya "tanah Marapu" ini, tetapi juga menyoroti ironi yang masih membayangi.​"Di balik pesonanya, tersimpan ironi, yakni wisata terus berkembang, tetapi kesejahteraan rakyat belum benar-benar dirasakan," ujar Maureen dengan lugas.​Mengutip data dari BPS NTT tahun 2024, Maureen memaparkan bahwa kunjungan wisatawan Nusantara ke Sumba Barat meningkat 27%, namun pada tahun yang sama, jumlah penduduk miskin nyaris tidak bergeser, hanya turun 1,16%.​"Jika kunjungan bisa meningkat 27%, tetapi kemiskinan nyaris tak bergeser, maka di mana letak manfaatnya bagi rakyat?" tanyanya, memberikan sentuhan kritis dan menggugah dalam pidatonya.​Maureen kemudian menawarkan solusi konkret, merujuk pada kesuksesan ekowisata berbasis komunitas di Labuan Bajo. Ia menekankan pentingnya:​Perbaikan infrastruktur dasar di lokasi wisata.​Penguatan BUMDes agar keuntungan wisata kembali ke warga.​Pelatihan masyarakat lokal sebagai pelaku utama ekowisata.​Promosi pariwisata yang merata dan berkeadilan.​Ia mengakhiri pidatonya dengan pesan yang kuat, "Pariwisata tidak akan pernah berkelanjutan bila melupakan manusianya, dan kesejahteraan tidak akan pernah bertahan bila mengabaikan alamnya." Maureen mengajak semua pihak untuk membangun pariwisata Sumba Barat yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga menghidupkan hati dan menyejahterakan rakyatnya.​Penampilan Maureen Priscilla Angeline Malo tidak hanya mendapatkan apresiasi dari dewan juri dan hadirin, tetapi juga menjadi bukti bahwa pelajar di Sumba Barat memiliki kesadaran tinggi akan isu-isu sosial dan ekonomi di daerah mereka. Keberaniannya menyuarakan isu sensitif dengan data dan solusi menunjukkan kualitas generasi muda yang siap menjadi agen perubahan.​Festival Seni Budaya Sumba Barat ini diharapkan dapat terus menumbuhkan semangat berkarya di kalangan pelajar, sekaligus menjadi jembatan untuk dialog konstruktif antara generasi muda, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya memajukan Sumba Barat.

4 bulan yang lalu
Hero Image
"Mari Kembali ke Kebun," Kepala Desa Weekurra Ajak Warga Fokus pada Masa Depan dan Serahkan Kasus pada Aparat

Kepala Desa Weekurra, Dominikus Lede Malo, menyampaikan pesan yang kuat dan menyejukkan kepada seluruh warganya di tengah suasana duka pada acara pemakaman almarhum Stefanus Bili Gaddi, Kamis (16/10/2025). Di hadapan Forkopimcam Wewewa Barat, ia mengajak masyarakat untuk bangkit, fokus pada masa depan dengan kembali bekerja di kebun, dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus hukum kepada aparat keamanan.​Dalam pidatonya, Dominikus Lede Malo secara resmi berterima kasih atas kerja keras dan pendampingan yang tak henti dari Camat, Kapolsek, dan Babinsa sejak awal peristiwa terjadi. Ia menegaskan bahwa sikap pemerintah desa sejalan dengan imbauan para pimpinan kecamatan.​"Masalah ini sudah ditangani oleh keamanan, kita serahkan sepenuhnya kepada mereka. Secara pribadi sebagai pimpinan wilayah, apapun dan bagaimanapun, persoalan ini sudah di tangan keamanan. Silakan mereka yang memprosesnya," tegas Dominikus Lede Malo.​Secara bijak, Kepala Desa kemudian mengalihkan fokus masyarakat dari duka kepada realitas kehidupan yang harus terus berjalan. Ia mengingatkan bahwa musim hujan telah tiba dan ini adalah waktu yang tepat untuk kembali menggarap lahan demi menyambung hidup.​"Harapan saya untuk semua keluarga, mari kita bergandengan tangan menuju hal yang lebih baik lagi. Hujan sudah turun kurang lebih satu minggu setiap hari. Lebih bagus atur langkah kita menuju ke kebun, tanam keladi, tanam ubi. Persiapan masa depan kita, itu kuncinya. Jangan berpikir lagi ke mana-mana," serunya.​Ia juga meminta warga, khususnya anak-anak muda, untuk tidak berkumpul tanpa tujuan yang jelas yang berpotensi menimbulkan hal-hal negatif. Dengan menyerahkan kasus ini kepada pihak berwenang, ia berharap masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala dengan tenang dan damai.​"Jangan berpikir di situ lagi, karena hal ini sudah ditangani oleh keamanan. Terserah mereka," pungkasnya, menutup pidato dengan doa untuk kekuatan keluarga yang ditinggalkan.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Babinsa Wewewa Barat: "Saya Keluarga, Tapi Hukum Harus Ditegakkan"

Dalam momen yang emosional sekaligus tegas, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Wewewa Barat, Sertu Petrus Lalo, menyampaikan pesan mendalam kepada keluarga besar almarhum Stefanus Bili Gaddi. Berbicara di hadapan keluarga yang berduka, Kamis (16/10/2025), Babinsa Petrus Lalo, yang juga merupakan kerabat dari korban, meminta keluarga untuk tetap tegar dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada negara.​Berdiri di samping Kapolsek Camat, Kepala Desa Wee Kurra dan Tokoh Agama, ia mengakui hubungan kekeluargaannya dengan almarhum, namun menekankan profesionalismenya sebagai aparat TNI.​"Keluarga pasti tahu, saya ini keluarganya Bapak Petrus Gaddi, keluarganya almarhum. Benar. Tetapi dalam melaksanakan tugas, kadang-kadang tidak mengenal keluarga. Salah ya salah, benar ya benar," tegas Babinsa Petrus Lalo.​Ia secara khusus memberikan pesan kepada para pemuda di Weekurra untuk tidak terjerumus dalam tindakan yang merugikan masa depan. Ia mengajak mereka untuk fokus membangun hari esok yang lebih baik ketimbang terjebak dalam lingkaran dendam.​"Lakukan yang terbaik, masa depan ada di tangan Anda sendiri. Kalau Anda melakukan yang baik, maka Anda akan dapat masa depanmu. Pikir baik-baik," pesannya kepada generasi muda.​Menggemakan imbauan dari Kapolsek dan Camat, Babinsa Petrus Lalo mengingatkan kembali bahwa aksi balasan bukanlah jalan keluar dan bertentangan dengan ajaran agama. "Tuhan sudah bilang, balasan ada di tangan-Ku. Jadi, sekali lagi kami himbau untuk seluruh keluarga, mulai saat ini sampai seterusnya, lakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Tidak usah kumpul sana-sini yang dapat menimbulkan sesuatu yang tidak baik," katanya.​Pernyataan dari Babinsa Petrus Lalo yang memiliki ikatan emosional dengan korban namun tetap tegak pada prinsip hukum memberikan penguatan signifikan bagi keluarga untuk tetap tenang dan percaya pada proses yang sedang berjalan.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Kapolsek Wewewa Barat di Hadapan Keluarga Korban: "Jangan Ada Aksi Balasan, Serahkan Sepenuhnya Kepada Kami"

Kapolsek Wewewa Barat, Ipda Elfridus Iku Arem, S.Sos., menyampaikan imbauan yang tulus dan tegas kepada keluarga besar almarhum Stefanus Bili Gaddi, agar menahan diri dan tidak melakukan aksi balasan pasca-tragedi yang menimpa keluarga mereka. Imbauan tersebut disampaikan langsung di hadapan keluarga duka, Camat Wewewa Barat Benyamin Kaba, Babinsa, Kepala Desa Wee Kurra dan tokoh agama pada Kamis (16/10/2025).​Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, Ipda Elfridus memastikan bahwa pihak kepolisian telah bekerja maksimal sejak awal kejadian dan akan terus mengusut tuntas kasus dugaan pembunuhan tersebut.​"Peristiwa ini sudah di tangan kami. Kami tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan dari Bapak, Mama, dan keluarga sekalian," ujar Ipda Elfridus.​Ia secara khusus meminta keluarga untuk tidak terpancing melakukan tindakan main hakim sendiri, yang menurutnya hanya akan merugikan diri sendiri dan tidak menyelesaikan masalah.​"Kita tidak usah lagi memikirkan hal-hal, baik itu berupa aksi balasan ataupun hal lainnya. Itu hanya merugikan diri kita sendiri. Sebagai orang yang beriman, mari kita persembahkan semua peristiwa ini ke dalam campur tangan Tuhan," tegasnya.​Kapolsek memberikan jaminan bahwa jajarannya akan bekerja dengan tulus dan penuh tekad untuk menemukan titik terang dalam kasus ini. Untuk itu, ia hanya meminta dua hal dari keluarga dan masyarakat: doa dan kerja sama dalam menjaga situasi agar tetap aman dan kondusif.​"Serahkan sepenuhnya kepada kami. Yakinlah kepada kami. Tidak banyak yang kami minta, hanya doa dan mari kita sama-sama menjaga situasi mulai dari sore hari ini dan hari-hari selanjutnya tetap aman dan kondusif. Kalau situasi aman, kami pun polisi bekerjanya bisa maksimal," pungkasnya.​Pernyataan ini memperkuat komitmen Forkopimcam Wewewa Barat untuk mengawal proses hukum hingga tuntas dan mencegah terjadinya konflik lanjutan di tengah masyarakat.

4 bulan yang lalu