NTT — Kedatangan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, di wilayah Amfoang Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, disambut antusias ribuan warga yang memadati lokasi kunjungan.Masyarakat dari berbagai kalangan terlihat berdesakan demi melihat secara langsung putra sulung Presiden RI tersebut. Kehadiran Gibran disebut menjadi momentum perhatian pemerintah pusat terhadap wilayah perbatasan dan pelosok di NTT.Dalam video yang beredar luas di media sosial, suasana penyambutan tampak begitu meriah. Warga bahkan rela berdesakan di tengah pengamanan ketat demi mengabadikan momen kedatangan orang nomor dua di Indonesia itu.Narasi “Amfoang terlalu dekat untuk seorang Wakil Presiden” pun ramai diperbincangkan publik dan menjadi simbol bahwa daerah terpencil juga layak mendapat perhatian negara.Kunjungan ini dinilai memberi harapan baru bagi masyarakat Amfoang Barat Daya terkait pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.
SUMBA BARAT DAYA – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sumba Barat Daya resmi mencabut pengesahan Alexander Kapoteng sebagai Koordinator PT Arni Family wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya melalui surat tertanggal 12 Mei 2026.Pencabutan itu disebut berkaitan dengan dugaan penghinaan terhadap Kepala Dinas Nakertrans SBD, Agustinus Dappa.Namun Alexander Kapoteng membantah tindakan Kadis tersebut dan menilai dinas telah terlalu jauh mencampuri urusan internal perusahaan hingga rumah tangga pribadinya.“Saya bukan pegawai Dinas Nakertrans, tetapi karyawan PT Arni Family. Dinas tidak punya hak ikut campur,” tegas Alexander Kapoteng.Ia juga menyebut surat pencabutan itu cacat prosedur dan pemberhentian dirinya harus mengikuti mekanisme internal perusahaan berdasarkan AD-ART.“Kepala Dinas terlalu jauh masuk ke rumah tangga perusahaan,” ujarnya.Sementara Ketua Forum PJTKI Kabupaten Sumba Barat Daya NTT, Gabriel Malo Ngongo, turut menilai langkah Kadis Nakertrans sebagai bentuk intervensi terhadap internal perusahaan PT Arni Family.Saat jurnalis siletsumba.com mendatangi kantor Dinas Nakertrans SBD pada Kamis, 21 Mei 2026 untuk meminta klarifikasi, Kepala Dinas Agustinus Dappa belum dapat ditemui karena disebut masih menandatangani surat-surat dan belum siap dikonfirmasi.
SUMBA BARAT DAYA, 21 Mei 2026 – Peristiwa duka terjadi di wilayah Wee Kacura, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Seorang anak yang sebelumnya dilaporkan jatuh di aliran Wee Kacura akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.Korban diketahui berasal dari Desa Mawo Dana, Kecamatan Wewewa Timur. Proses pencarian sempat dilakukan oleh warga bersama keluarga dan masyarakat sekitar sebelum korban akhirnya ditemukan pada Kamis, 21 Mei 2026.Suasana haru menyelimuti lokasi penemuan. Warga yang ikut melakukan pencarian tampak terpukul atas musibah tersebut. Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka.Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar aliran sungai, terutama pada kondisi arus deras dan cuaca yang tidak menentu.Turut berduka cita atas meninggalnya korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan.
Keluarga Alosius Nghuhu Tako dan istrinya Selviana Susanti Bora alias bapak dan mama Efri di Desa Pogotena, Kecamatan Loura Kabupaten Sumba Barat Daya hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.Pada Selasa, 20 Mei 2026 sekitar pukul 12.00 WITA, kondisi tempat tinggal keluarga tersebut kembali menjadi perhatian warga. Selama kurang lebih 11 tahun, Alosius Nghuhu Tako bersama istri dan anak-anaknya tinggal di sebuah pondok sederhana yang jauh dari kata layak huni.Di tengah keterbatasan ekonomi, Alosius tetap bekerja sebagai buruh kasar demi menghidupi keluarganya, sementara sang istri mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka. Meski pernah mendapatkan bantuan sosial dan meteran listrik gratis, keluarga ini hingga kini belum memperoleh bantuan rumah layak huni.Saat hujan turun, kondisi pondok yang ditempati keluarga tersebut sangat memprihatinkan dan membuat mereka harus bertahan dalam keadaan serba kekurangan. Mereka berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian sosial agar dapat membantu mewujudkan tempat tinggal yang lebih layak dan aman bagi anak-anak mereka.
SUMBA BARAT DAYA – Kepala UPTD Kehutanan Kabupaten Sumba Barat Daya NTT, Marthen Bulu, yang didampingi Kepala Desa Waimangura, Yakub Malo, pada Selasa, 19 Mei 2026, menghadiri kegiatan penyerahan Surat Keputusan (SK) kepada pengurus dan anggota Kelompok Perhutanan Sosial Kadawu Moripa.Dalam kesempatan tersebut, Marthen Bulu menyampaikan bahwa program perhutanan sosial merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam memberikan hak kelola kepada masyarakat agar dapat menjaga kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga secara berkelanjutan.Ia berharap kelompok Kadawu Moripa dapat memanfaatkan kepercayaan yang diberikan pemerintah dengan penuh tanggung jawab selama masa pengelolaan 35 tahun ke depan. Menurutnya, hutan harus dijaga bersama agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.Sementara itu, Kepala Desa Waimangura, Yakub Malo, mengajak seluruh pengurus dan anggota kelompok untuk menjaga kekompakan serta memanfaatkan program tersebut demi meningkatkan perekonomian masyarakat desa tanpa merusak kelestarian alam.Kegiatan penyerahan SK tersebut berlangsung penuh antusias dan dihadiri pengurus serta anggota kelompok perhutanan sosial Kadawu Moripa.
Kisah pilu dialami keluarga Alex Bili Tanggu, warga Dusun 1, Desa Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT setelah rumah kediaman mereka diterjang angin kencang pada Senin, 5 Mei 2026 sekitar pukul 14.00 WITA.Peristiwa tersebut terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah Wewewa Barat. Angin kencang yang datang tiba-tiba mengangkat bagian atap seng belakang rumah hingga jatuh ke tanah dan menyebabkan kerusakan cukup parah pada rumah keluarga tersebut.Alex Bili Tanggu menuturkan bahwa dirinya selama ini bekerja di Bali demi menghidupi keluarganya serta membiayai pendidikan anak-anak mereka. Dengan penuh pengorbanan, Alex rela meninggalkan istri dan anak-anaknya di kampung halaman demi mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga.Ia mengatakan, anak-anak mereka masih duduk di bangku TK, SD dan SMP, sementara anak perempuan mereka sedang menempuh pendidikan kuliah di Solo, Jawa Tengah meskipun turut dibantu melalui program Pusat Pengembangan Anak ( PPA ).Namun di tengah perjuangannya bekerja di perantauan, Alex menerima kabar mengejutkan dari istrinya melalui sambungan telepon pada tanggal 5 Mei 2026 bahwa rumah mereka terkena bencana angin kencang saat hujan deras melanda desa tersebut.“Bagian atap belakang rumah terangkat oleh angin dan jatuh ke tanah,” ujar Alex saat ditemui jurnalis Silet Sumba.Mendengar kabar itu, Alex langsung bergegas pulang dari Bali menggunakan pesawat terbang pada tanggal 6 Mei 2026 untuk melihat kondisi rumah dan keluarganya.Peristiwa tersebut semakin mengharukan karena saat kejadian berlangsung, istri Alex bersama anak mereka yang masih TK berada di dalam rumah. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut meskipun keluarga mereka sempat mengalami ketakutan akibat bencana itu.Berdasarkan pantauan langsung jurnalis Silet Sumba di lapangan, kondisi rumah keluarga Alex Bili Tanggu kini sangat memprihatinkan dan dinilai sudah tidak layak ditempati karena mengalami kerusakan cukup serius di bagian belakang rumah.Saat ini Alex Bili Tanggu bersama istri dan anak-anak mereka terpaksa tinggal dalam sebuah gubuk sementara yang sangat tidak layak untuk dihuni. Kondisi tempat tinggal darurat tersebut memprihatinkan karena ketika hujan turun, air hujan masuk ke dalam gubuk sehingga keluarga mereka harus bertahan dalam keadaan serba kekurangan dan ketidaknyamanan.Alex juga mengaku kecewa karena sejak kejadian hingga Senin sore, 18 Mei 2026, Kepala Desa Lagalete Bernardus Bulu Malo disebut belum pernah turun langsung melihat kondisi warganya yang terdampak bencana alam tersebut.Menurut Alex, dirinya bahkan telah mendatangi rumah kepala desa untuk melaporkan kejadian tersebut, namun kepala desa tidak berada di rumah dan sulit untuk ditemui.Keluarga korban berharap adanya perhatian dan bantuan dari Pemerintah Desa Lagalete, Pemerintah Kecamatan Wewewa Barat hingga Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya agar dapat membantu meringankan beban keluarga yang sedang tertimpa musibah.Masyarakat sekitar juga berharap agar bantuan kemanusiaan dan material bangunan dapat segera diberikan demi keselamatan dan kenyamanan keluarga korban.
Wewewa Barat, Senin 18 Mei 2026 — Kantor Desa Lolo Ole, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, terlihat dalam kondisi gelap gulita karena pulsa meteran listrik diduga belum diisi. Ironisnya, di dalam kantor desa tersebut sedang tersimpan bantuan sosial dari Kementerian Sosial RI untuk masyarakat Desa Lolo Ole.Berdasarkan pantauan redaksi siletsumba.com pada Senin malam, bantuan yang tersimpan terdiri dari 422 karung beras ukuran 10 kilogram dan 70 dos minyak goreng, di mana setiap dos berisi 12 liter minyak goreng. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 211 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat di Desa Lolo Ole.Dalam kondisi minim penerangan, bantuan sosial itu tetap dijaga oleh pendamping Dinas Sosial Agustinus Ate bersama Kaur Desa Anderias Kaba, Kepala Dusun II Yohanes Umbu Kenda, serta dibantu tokoh pemuda Daniel Tamo Ama dan Isno Pakereng. Mereka berjaga demi memastikan bantuan tetap aman hingga proses penyaluran kepada masyarakat dilakukan.Kondisi kantor desa yang gelap saat menyimpan bantuan untuk ratusan warga memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait pengelolaan biaya operasional dan ATK Kantor Desa Lolo Ole. Warga menilai pelayanan kantor desa seharusnya tetap berjalan dengan baik, terlebih saat ada bantuan sosial yang sedang disalurkan kepada masyarakat.Akibat persoalan pulsa meteran listrik tersebut, pihak terkait disebut harus menghubungi Camat Wewewa Barat Enos Bali Ate dan Kepala Dinas PMD Kabupaten Sumba Barat Daya Benyamin Kaba agar persoalan listrik di kantor desa segera ditangani.Masyarakat berharap pemerintah desa dapat lebih memperhatikan kebutuhan dasar operasional kantor demi pelayanan publik yang layak dan pengamanan bantuan sosial bagi warga penerima manfaat.
Kegiatan upacara bendera di SMA Negeri 1 Ambon, Senin (18/5/2026), menjadi momentum penuh inspirasi bagi para siswa dan dewan guru. Bertempat di halaman SMA Negeri 1 Ambon, Jalan Pattimura, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kapolsek Sirimau IPTU Bastian Tuhuteru, S.Pd hadir langsung sebagai pembina upacara dan memberikan pesan moral yang menyentuh hati generasi muda.Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kepala SMA Negeri 1 Ambon Dra. E. Laturiuw, M.Si, jajaran guru, personel Polsek Sirimau, serta ratusan siswa dan siswi yang mengikuti upacara dengan penuh khidmat dan disiplin.IPTU Bastian Tuhuteru, S.Pd dalam amanatnya mengajak para pelajar untuk terus menjaga kedisiplinan, menghormati orang tua dan guru, menjauhi kenakalan remaja, serta menggunakan media sosial secara bijak. Kehadiran beliau di tengah dunia pendidikan menjadi bukti nyata bahwa Polri bukan hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga membangun karakter generasi muda bangsa.Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari pihak sekolah karena mampu memberikan motivasi positif kepada para siswa agar memiliki semangat belajar, tanggung jawab, dan cinta tanah air.Sosok IPTU Bastian Tuhuteru, S.Pd dinilai menjadi teladan inspiratif yang mampu merangkul generasi muda dengan pendekatan humanis dan penuh edukasi. Langkah seperti ini patut diapresiasi karena membangun sinergitas antara dunia pendidikan dan kepolisian demi menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan berkarakter.Kegiatan upacara berakhir pukul 07.35 WIT dalam keadaan aman, tertib, dan lancar.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Wewewa Barat sejak siang hingga malam hari, Senin 18 Mei 2026, mengakibatkan banjir merendam ruas jalan raya negara di kawasan Desa Waimangura Simpang.Genangan air yang terus meningkat membuat arus lalu lintas terganggu dan memaksa para pengendara memperlambat laju kendaraan saat melintas. Kondisi ini dinilai cukup berbahaya, terutama bagi kendaraan roda dua, roda empat hingga roda enam karena jalan tertutup air dan licin akibat curah hujan tinggi.Pantauan sementara di lokasi, air meluap dari saluran dan area sekitar jalan akibat intensitas hujan yang belum juga reda. Sejumlah warga tampak berjaga di pinggir jalan untuk membantu mengarahkan kendaraan agar tetap aman saat melintas di tengah genangan banjir.Masyarakat pengguna jalan diimbau:Mengurangi kecepatan kendaraanMenyalakan lampu utama saat melintasTidak memaksakan diri menerobos arus deras. Mengutamakan keselamatan selama perjalanan. Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun melakukan penanganan agar arus transportasi kembali normal dan tidak menimbulkan korban maupun kecelakaan lalu lintas.Desa Waimangura Simpang, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya🕘 Senin, 18 Mei 2026
SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC MPR Kalbar Meski Panitia Minta MaafKisruh Lomba Cerdas Cermat MPR RI tingkat Kalimantan Barat makin panas. Setelah viral jawaban peserta yang sebenarnya benar malah dianggap salah oleh juri, akhirnya permintaan maaf resmi disampaikan.Namun SMAN 1 Pontianak memilih menolak tanding ulang. Keputusan ini langsung jadi perhatian publik dan memicu gelombang dukungan di media sosial.Banyak pihak menilai kejadian ini mencoreng dunia pendidikan dan merugikan mental para peserta yang telah berjuang membawa nama sekolah.“Kalau jawaban benar saja dianggap salah, bagaimana nasib kualitas penilaian lomba?” tulis salah satu netizen.Kini publik menunggu langkah tegas dari pihak penyelenggara dan evaluasi terhadap dewan juri yang memicu polemik nasional tersebut.
Stepanus Umbu Pati