Hero Image
Jonias Killa Melawan: "Itu Skenario! Temukan Ester, Dia Bukan Saksi Kunci!"

Jounius Stefanus Killa (JSK) membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya terlibat dalam "menghilangkan" atau "melarikan" Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ester Konda. Dalam serangkaian pernyataan audio eksklusif kepada SiletSumba, Jumat (24/10/2025), JSK menegaskan bahwa narasi yang beredar adalah "skenario" yang dirancang untuk menyudutkannya.​Ia mendesak semua pihak untuk menemui Ester Konda secara langsung guna mengungkap kebenaran.​"Bahasa yang mengatakan anak ini sebagai saksi kunci, berarti anak ini sudah di-BAP. Tidak ada itu!" tegas JSK.​Menurut JSK, status "saksi kunci" mengharuskan seseorang dilindungi oleh aparat penegak hukum, bukan "dititipkan ke orang sembarangan" seperti yang dialami Ester.​Tuding Balik "Yulia", Sang Penemu Pertama​JSK menuding balik seorang perempuan bernama "Yulia" yang disebutnya sebagai orang pertama yang menemui Ester setelah kabur dari majikan di Malaysia. Menurut JSK, alih-alih membawa Ester ke KBRI atau polisi, Yulia justru "menitipkan" Ester kepada orang lain (Ibu Sofia) hingga terlunta-lunta.​"Seharusnya orang yang ketemu pertama... bawa ke kedutaan atau ke kepolisian," ujar JSK. "Tapi (dia) tidak bawa ke pemerintah, tapi bermain skenario yang cantik di balik ini," tambahnya.​JSK juga mempertanyakan motif Yulia, yang ia sebut beroperasi dari Batam namun menggunakan nomor ponsel Malaysia.​Dugaan Motif Finansial: Tuntutan 3.500 Ringgit​JSK membeberkan dugaan adanya motif finansial di balik skenario ini. Ia mengklaim Yulia sempat menuntut uang "ganti rugi" sebesar 3.500 Ringgit (sekitar Rp 11 juta) kepada Ester.​"Ada percakapan... nama Yuli ada meminta uang 3.500 Ringgit... Katanya dia punya uang keluar banyak urus ini anak... Jadi dia menuntut ganti rugi. Wah, enak sekali!" ungkap JSK.​Ini berbeda dengan Ibu Sofia, yang menampung Ester. JSK menyebut Ester secara sukarela memberikan "imbalan jasa" 5.000 Ringgit kepada Ibu Sofia karena telah menolongnya.​Kronologi Versi JSK​JSK mengklarifikasi bahwa pihaknya (bersama Ibu Elvi) baru terlibat setelah Ester Konda sendiri yang meminta tolong untuk mengurus gajinya. Ini terjadi setelah Yulia, yang awalnya berjanji membantu, diduga "menghilang".​JSK menegaskan, setelah berhasil membantu Ester dan memfasilitasi kepulangannya, mereka langsung menyerahkan Ester kepada pemerintah secara resmi.​"Kami kan serahkan ke pemerintah (BP4) setibanya di Indonesia," katanya. "Masalah siapa yang pergi ketemu, jemput, dan bawa pulang, itu seharusnya kita berterima kasih," lanjut JSK.​Kritik Media dan Penyelidikan Polisi Malaysia​JSK turut mengkritik pemberitaan Sumba TV yang ia nilai bias. Ia membandingkan pemberitaan Sumba TV yang baru ramai 1-2 bulan terakhir, dengan fakta bahwa Polisi Diraja Malaysia (PDRM) sudah menginvestigasi kasus ini selama empat bulan.​"Polisi Malaysia sudah mengejar orang-orang ini dari 4 bulan yang lalu," ujarnya, menyiratkan bahwa penangkapan pelaku TPPO adalah hasil kerja PDRM, bukan pihak lain yang kini mengklaim sebagai pahlawan.​JSK menutup pernyataannya dengan kembali mendesak agar Ester Konda segera ditemui untuk mengakhiri polemik.​"Temukan ini anak dulu untuk membuka semua benang kusut," pungkasnya.​Hingga berita ini diturunkan, SiletSumba masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari Ester Konda dan pihak "Yulia" yang disebut oleh JSK. (Tim Redaksi)

4 bulan yang lalu
Hero Image
Dituduh Memeras PMI Ester Konda, Yulita dan Mia Membantah Keras: "Itu Fitnah! Kami Siap Konfrontasi di Sumba

Dituduh Memeras PMI Ester Konda, Yulita dan Mia Membantah Keras: "Itu Fitnah! Kami Siap Konfrontasi di Sumba"​SUMBA (Silet Sumba) – Aktivis kemanusiaan, Yulita dan rekannya Mia, membantah keras tuduhan pemerasan yang dilayangkan oleh Jonius Stefanus Kila terkait kasus Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ester Konda.​Dalam wawancara eksklusif via telepon dengan Silet Sumba, Yulita menyebut seluruh tuduhan tersebut sebagai "fitnah" dan "pencemaran nama baik" yang sengaja direkayasa untuk menjatuhkan mereka.​1. Bantahan Keras Atas Tuduhan Pemerasan​Menanggapi pernyataan Jonius Stefanus Kila bahwa "geng" Yulita meminta-minta uang kepada Ester, Yulita menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah sepeser pun meminta atau menerima uang dari Ester.​"Kalau pasal duit ini, memang satu sen pun kita tidak pernah minta, kita tidak pernah menerima," tegas Yulita.​Sebaliknya, Yulita dan Mia mengklaim bahwa merekalah yang justru mengeluarkan uang pribadi untuk membantu proses perlindungan Ester.​"Justru kitalah yang mengeluarkan duit. Untuk urusan buat paspor dekat Johor, Kak Yuli (saya) mengeluarkan duit," tambahnya.​Mia, rekan Yulita di Malaysia, menguatkan pernyataan tersebut. Ia meyakini tuduhan ini adalah "rekayasa" dan "karangan cerita" dari pihak lawan.​2. Yulita: "Bukan Kami yang Minta, Kami yang Ditawari Uang"​Fakta sebaliknya diungkap oleh Yulita. Ia mengaku justru dirinyalah yang berulang kali ditawari sejumlah uang untuk menghentikan kasus yang menjerat agensi tempat Ester bekerja.​Tawaran pertama, menurut Yulita, datang dari nomor tak dikenal yang menawarinya uang sebesar 120.000 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 500 Juta) untuk menghentikan kasus tersebut.​Tawaran kedua datang langsung dari Elvynil (Elvi) saat bertemu di Batam. "Saya tolak mentah-mentah. Saya bilang ini demi harga diri. Biarkan proses hukum berjalan," ujar Yulita.​Yulita juga mengklarifikasi dugaan adanya uang RM5.000 yang diterima. Ia menduga uang itu diberikan oleh Elvi kepada Sofia (rekan Mia), bukan kepada dirinya, karena Sofialah yang bertemu dengan Elvi.​3. Klarifikasi Prosedur: "Kami Bertindak Sesuai Hukum"​Menjawab tuduhan bahwa ia adalah "mafia" yang tidak jelas, Yulita memaparkan bahwa seluruh tindakannya dalam membantu Ester dan PMI lainnya sudah sesuai prosedur hukum.​"Saya melaporkan ke KBRI (Kedutaan Besar RI). KBRI melaporkan kepada Polisi Diraja Malaysia. Setelah itu baru dilakukan siasat (penyelidikan)," jelasnya.​Ia menegaskan bahwa penangkapan agensi tempat Ester bekerja, yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun, adalah bukti bahwa laporannya legal dan ditindaklanjuti secara resmi oleh aparat Malaysia.​"Kalau seandainya saya tidak melalui prosedur, kenapa agensi itu bisa tertangkap?" tanyanya.​Terkait keberadaannya yang berpindah-pindah, Yulita menjelaskan bahwa ia adalah pekerja legal di Malaysia, namun juga memiliki rumah, anak, dan bisnis di Batam, sehingga wajar jika ia bolak-balik antara kedua negara.​4. Siap Konfrontasi Tatap Muka di Sumba​Sebagai penutup, Yulita dan Mia menyatakan kesiapan penuh mereka untuk datang langsung ke Sumba Barat Daya guna melakukan konfrontasi terbuka dengan semua pihak yang menuduhnya.​"Kalau mereka tidak bisa datang ke tempat kami, kami yang akan turun ke Sumba Barat Daya untuk menemui mereka. Tapi hadirkan Ester, hadirkan Elvi, dan hadirkan siapa saja yang menjemput Ester waktu di Malaysia. Kita duduk empat mata," tantang Yulita.​Yulita menegaskan bahwa ia siap dituntut dan dipenjara jika terbukti bersalah. Namun, jika semua tuduhan itu tidak terbukti, ia dan Mia akan mengambil langkah hukum untuk menuntut balik atas pencemaran nama baik.​"Bila mana dari semua pernyataan mereka tidak ada satu pun yang betul, mereka harus siap berhadapan dengan hukum," pungkasnya.​(Wartawan: Silet Sumba)

4 bulan yang lalu
Hero Image
Awal Mula Keterlibatan Kristina Bili: Mengaku Dihubungi David Frans untuk "Redam" Postingan Viral Pendeta

Kristina Bili membeberkan kronologi awal keterlibatannya dalam kasus Warga Negara Indonesia (WNI) yang viral di media sosial. Dalam wawancara dengan Silet Sumba, ia mengaku dihubungi oleh beberapa pihak, termasuk David Frans, setelah postingan "Bapak Pendeta Sumba TV" mengenai WNI yang diduga mengalami eksploitasi menjadi viral.​Menurut Kristina, postingan tersebut "sangat ramai" dan menimbulkan kepanikan di Sumba, yang berimbas pada PT. Perusahaan Jasa Tenaga Kerja legal.​"Saking ramenya postingan dari beliau, sampai akhirnya kan biasnya ke kita yang legal-legal... untuk berangkat itu semua pada ketakutan," ungkap Kristina.​Dalam situasi tersebut, ia dihubungi oleh seorang teman bersama dengan David Frans.​"Mereka komunikasi di situ, 'bagaimana, bisa tidak bantu kita?'," tutur Kristina. "Bantu biar Pak Pendeta bisa... jangan terlalu inilah... jangan terlalu posting anak-anak, tapi biasnya itu ke PT-PT yang legal."​Kristina mengaku awalnya menolak permintaan tersebut dengan alasan ia tidak mengetahui fakta sebenarnya. "Saya tidak berani. Karena bagaimana betul anak-anak di sana kan saya tidak tahu," ujarnya.​Lakukan Investigasi Sendiri​Setelah dihubungi kembali, Kristina Bili akhirnya setuju untuk terlibat dengan dua syarat utama: ia harus melakukan investigasi sendiri untuk memverifikasi kebenaran.​Syarat Pertama, ia meminta untuk melakukan video call langsung dengan para WNI yang ada dalam postingan viral tersebut, yang ia sebut berada di bawah "Ibu Ester".​"Maka semua data yang Pak Pendeta posting itu, saya minta anak-anak itu video call dengan saya," jelasnya. "Saya tanya, 'apa betul kalian tersiksa di situ?' Ya jawaban mereka semua bahwa mereka tidak mengalami hal sama seperti yang diberitakan. Entah benar atau tidak kan kita juga tidak tahu."​Syarat Kedua, Kristina meminta data dan alamat lengkap orang tua para WNI di Sumba. Ia kemudian mendatangi mereka satu per satu di berbagai lokasi, termasuk hingga ke Lamboya.​"Ternyata semua mereka terima uang, sering terima uang. Sering komunikasi," katanya, seraya menambahkan bahwa permintaan utama para orang tua kini adalah agar anak-anak mereka dipulangkan karena kadung viral.​Peran David Frans dan Uang Rp 20 Juta​Ketika ditanya mengenai peran David Frans, Kristina Bili menyebut, "Ya mereka yang memfasilitasi ejen itu. Memperkenalkan mereka ke saya."​Dalam wawancara tersebut, terungkap pula bahwa David Frans kini meminta kembali uang Rp 20 juta yang sebelumnya dikirim oleh "Ibu Ester".​"Jadi uang ini diminta kembali sama Pak David Frans," kata Kristina. "Tapi saya belum bisa memberi kembali, karena ini ada ceritanya... Saya tahan bukan untuk kepentingan pribadi, tidak."​Kristina menegaskan akan mengembalikan uang tersebut jika persoalannya sudah "clear" dan akan diserahkan "ke orang yang tepat". Ia juga mengonfirmasi bahwa uang Rp 20 juta tersebut "masih utuh, saya tidak pakai seribu rupiah pun."

4 bulan yang lalu
Hero Image
PECAH! KRISTINA BILI 'MELEDAK', BONGKAR STRATEGI 'UANG SIRIH PINANG' 20 JUTA UNTUK 'REM' KASUS PMI

Dalam sebuah pengakuan yang blak-blakan dan penuh emosi, aktivis kemanusiaan Kristina Bili membeberkan strategi menegangkan di balik layar pemulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumba. Ia mengungkapkan adanya dana "sirih pinang" sebesar Rp 20 juta yang disiapkan untuk seorang pendeta, yang bertujuan agar kasus ini tidak "terlalu vulgar" atau meledak di publik.​Kristina Bili "meledak" dan meluapkan kekecewaannya, bukan pada sang pendeta, tetapi pada pihak keluarga PMI yang dinilainya lambat mengirimkan dana tersebut, sehingga nyaris menggagalkan lobi penting yang sedang ia bangun.​"Maksud saya, ketika saya mau bertemu Pak Pendeta, itu sirih pinang sudah pegang!" tegas Bili dengan nada tinggi dalam wawancara eksklusif, (24/10/2025). "Makanya saya marah sekali. Harusnya kalian sudah siapkan memang!"​Operasi 'Bawah Tangan' Amankan Pemulangan​Kristina Bili menjelaskan bahwa ia diminta oleh para keluarga untuk melakukan negosiasi "baik-baik" dengan seorang pendeta yang telah memegang data dan informasi krusial mengenai para PMI.​Tujuannya ada dua: pertama, mengucapkan terima kasih atas bantuan sang pendeta. Kedua, meminta agar kasus ini diredam dan proses pemulangan dapat berjalan "di bawah tangan" atau secara senyap.​"Mereka meminta saya, bisa tidak komunikasi baik-baik dengan Pak Pendeta... sampaikan kita berterima kasih," ujar Bili.​Permintaan untuk meredam kasus ini, menurut Bili, datang dari kekhawatiran agar tidak berimbas pada agen-agen (PT) lain dan membuat proses pemulangan PMI lainnya menjadi lebih sulit.​"Supaya jangan terlalu tunggar. Supaya jangan berimbias ke PT-PT yang lain... tetapi di bawah tangan kita tetap proses anak-anak ini tetap pulang," ungkapnya, menirukan permintaan para keluarga.​'Bukan Uang Sogok, Ini Adat'​Dana Rp 20 juta tersebut, tegas Bili, bukanlah uang sogokan. Ia mengkategorikannya sebagai "sirih pinang", sebuah tradisi adat Sumba sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih.​"Bentuk ucapan terima kasih, adalah sirih pinang ini," jelasnya. "Bukan sogok... kita orang Sumba, budaya orang Sumba itu biasa sirih pinang."​Namun, momentum menjadi krusial. Bili sangat marah karena uang "sirih pinang" itu tak kunjung masuk ke rekeningnya saat ia sudah harus bertemu dengan sang pendeta. Ia merasa dilempar ke "medan perang" tanpa "senjata".​"Saya tidak enak kalau saya mau masuk ke sana minimal kita sudah pegang memang ini sirih pinang. Jangan setelah sudah selesai bertemu baru kalian [kirim]. Tidak mungkin ini hari saya pergi selesai ngomong, besok saya balik lagi," geramnya.​Klarifikasi Dana Operasional 10 Juta​Dalam kesempatan yang sama, Kristina Bili juga meluruskan simpang siur soal dana Rp 10 juta yang ia terima sebelumnya. Ia membenarkan adanya dana itu, namun menegaskan itu adalah murni biaya operasional untuk pergerakannya di lapangan.​"Bukan saya yang minta dan bukan saya yang tentukan harga sekian, tidak. Mereka yang kirim sendiri untuk operasional, uang makan, rokok, dan lain-lain dengan teman-teman," katanya.​Hingga berita ini diturunkan, proses pemulangan PMI telah disepakati berjalan bertahap mulai Oktober, November, hingga Desember, seiring pengurusan surat-surat perjalanan laksana paspor (SPLP).

4 bulan yang lalu
Hero Image
EKSKLUSIF: Jonias Stefanus Killa Bantah Keras Dugaan Hilangkan Ester Konda: "Dia Sudah Pulang, Yulia Jangan Cari Panggung!"

Menanggapi dugaan upaya penghilangan saksi kunci Ester Konda, Joniias Stefanus Killa Jabatan Direktur PT. Alkurnia memberikan bantahan keras. Dalam keterangan eksklusifnya kepada wartawan siletsumba.com yang rekamannya diterima redaksi, Jonias Stefanus Killa menegaskan bahwa Ester Konda telah kembali ke rumahnya dan menuduh pihak lain, yang ia sebut bernama Yulia, telah memutarbalikkan fakta demi citra pahlawan."Sebenarnya kan dia (Ester) sudah pulang. Apalagi yang mau dicari ini?" ujar Jonias Stefanus Killa dalam rekaman tersebut.Jonias Stefanus Killa secara spesifik membantah narasi bahwa Ester adalah korban yang menderita atau dikurung. Ia mengklarifikasi bahwa pekerjaan Ester di Malaysia adalah sebagai cleaning service, bukan asisten rumah tangga (ART) yang terkekang di satu lokasi."Kerjanya cleaning service, mereka keliling, tidak seperti (ART) yang tinggal satu dua orang di dalam rumah," jelasnya.Untuk memperkuat argumennya, Jonias Stefanus Killa menggambarkan kondisi Ester saat ia temui. "Bukan susah sengsara dia ini," tegasnya. "Waktu kami jumpa, dia pegang pakai emas, berias-rias begitu. Rambutnya sampai merah. Buktinya rambutnya dibuat merah, rambutnya panjang."Nada bicara Jonias Stefanus Killa meninggi ketika membahas peran seseorang bernama Yulia, yang ia anggap sebagai sumber masalah. Ia menuduh Yulia menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi, termasuk soal gaji Ester."Ini gara-gara Yulia ini. Dia bilang sebenarnya anak ini dia punya gaji 400 sekian banyak juta. Lu taunya dari mana? Hitungan lu dari mana?" cecarnya.Ia menuding Yulia berusaha tampil sebagai pahlawan, padahal menurut Jonias Stefanus Killa, kepulangan para pekerja tersebut adalah murni hasil operasi pemerintah Malaysia. "Itu murni perjuangan pemerintah Malaysia untuk menangkap mereka," katanya. "Bukan karena perjuangan Pak Pendeta ini dengan itu Yulia. Bukan."Terkait potensi masalah hukum, seperti gaji yang tidak dibayar, Jonias Stefanus Killa menegaskan hal itu bukanlah tanggung jawab pihaknya yang membantu proses pemulangan."Kalau dia (Ester) merasa dikorbankan, (baru) ada dampak hukum," katanya. "Itu pun juga kan salahnya bukan di kita. Kalaupun ada itu terjadi, ya tinggal fight saja di bosnya. Begitu."Jonias Stefanus Killa menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa ia berbicara apa adanya tanpa ada skenario. "Saya bicara apa adanya. Tidak ada tambah, tidak ada kurang," pungkasnya

4 bulan yang lalu
Hero Image
Esti Bili Beberkan Hasil Verifikasi Mandiri, Video Call TKI dan Temui Keluarga Hingga Pelosok Lamboya Terkait TPPO

Mengikuti polemik viral terkait nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Sumba, Esti Bili membeberkan langkah-langkah verifikasi mandiri yang ia lakukan untuk membuktikan kebenaran informasi yang beredar.​Dalam wawancara lanjutan, Kamis (23/10/2025), Esti Bili menjelaskan bahwa ia tidak hanya menerima informasi sepihak, namun turun langsung untuk melakukan pengecekan berlapis.​Langkah pertama yang ia lakukan adalah meminta akses untuk berkomunikasi langsung dengan para TKI yang fotonya diunggah oleh "Bapak Pendeta" dalam postingan viral tersebut.​"Saya kasih mereka pilihan. Saya bilang, 'Anak-anak yang diposting oleh Bapak Pendeta, bisa tidak saya komunikasi? Apa betul ada di tangan Ibu Ester (agen)?'" ujar Esti.​Setelah akses diberikan, Esti Bili mengaku langsung melakukan video call dengan para TKI tersebut satu per satu. Ia menanyakan langsung kondisi mereka di Malaysia.​"Maka semua data yang Pak Pendeta posting itu, saya minta anak-anak itu video call dengan saya," jelasnya. "Saya tanya, 'Apa betul kalian tersiksa di situ? Apa betul sekian-sekian?'"​Menurut Esti, jawaban yang ia terima dari para TKI seragam. "Jawaban mereka semua bahwa mereka tidak mengalami hal sama seperti yang diberitakan. Entah benar atau tidak kan kita juga tidak tahu, tapi yang jelas dalam komunikasi saya... seperti itu yang mereka jawab," bebernya.​Temui Keluarga "Satu per Satu"​Tidak berhenti di situ, Esti Bili melanjutkan verifikasinya dengan mendatangi langsung keluarga para TKI di Sumba. Ia meminta data lengkap alamat dan nama orang tua TKI dari pihak agen.​"Maka saya bergerak sudah. Bergerak dari setiap orang tua yang ada dalam postingan itu, bertemu satu per satu, satu per satu, sampai di ujung Lamboya," tegasnya.​Dari hasil pertemuannya dengan para keluarga, Esti Bili mengklaim menemukan fakta bahwa komunikasi dan pengiriman uang tetap berjalan, meskipun tidak intensif.​"Saya dokumentasikan semua, (keluarga) menyatakan bagaimana betul. Ternyata semua mereka terima uang. Sering terima uang, sering komunikasi... bukan sering, ada waktu-waktu tertentu mereka bisa komunikasi dengan anak-anak mereka," ungkapnya.​Keluarga Minta TKI Dipulangkan​Meski demikian, Esti Bili mengatakan bahwa dampak dari viralnya kasus ini telah membuat para keluarga di Sumba resah. Kini, permintaan utama dari para orang tua adalah agar anak-anak mereka dipulangkan.​"Cuma permintaan dari orang tua bahwa 'Anak kami dipulangkan'. Karena sudah terlanjur viral, kami minta kalau bisa sudah habis kontrak atau bagaimana, dipulangkan sudah," pungkas Esti, menirukan permintaan para keluarga.​Langkah-langkah verifikasi inilah yang disebut Esti Bili menjadi dasar tindakannya dalam menangani polemik TKI, yang juga menyeret namanya dalam pusaran masalah dana 20 juta rupiah.

4 bulan yang lalu
Hero Image
Waspada Penipuan! Oknum Catut Nama Tim Penanganan Kasus TPPO 'Agen Ester', Sumba TV Rilis Peringatan

Platform media Sumba TV mengeluarkan peringatan keras menyusul adanya laporan oknum tidak bertanggung jawab yang mencatut nama tim penanganan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sindikat 'Agen mam Ester warga negara Malaysia' untuk meminta sejumlah uang. Peringatan ini disampaikan melalui sebuah postingan di akun Facebook resmi Sumba TV pada Rabu (22/10/2025), mengutip pernyataan dari Yulita Sriyanti, pelapor kunci kasus tersebut.​Dalam postingan itu, ditegaskan bahwa Yulita Sriyanti maupun tim yang bekerja sama dengannya, termasuk Sumba TV sebagai media yang aktif mengawal kasus ini, tidak pernah meminta imbalan finansial dalam bentuk apapun kepada siapapun. Muncul dugaan oknum tertentu mencoba memanfaatkan situasi untuk menipu pihak-pihak terkait agar Yulita "bungkam" mengenai kasus yang melibatkan puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumba di Malaysia itu.​"Saya mengendus ada pihak-pihak yg mengatasnamakan tim saya utk meminta sejumlah uang agar saya bungkam mengenai kasus perdagangan orang yg melibatkan geng Ester di Malaysia," demikian kutipan pernyataan yang diunggah Sumba TV. "Melalui postingan ini saya perlu tegaskan bahwa saya tidak pernah meminta uang kepada siapa pun atau melalui siapa pun."​Postingan tersebut juga menekankan agar masyarakat berhati-hati dan tidak mudah percaya. Jika ada pihak yang menjadi korban penipuan dengan mengirimkan uang kepada oknum yang mencatut nama Yulita atau timnya, hal itu menjadi risiko pribadi.​"Jika ada yang sudah menjadi korban dengan mengirimkan uang kepada orang yang menggunakan nama saya maka itu resiko anda. Seharusnya anda menanyakan kepada saya secara langsung untuk mengkonfirmasi mengenai permintaan tsb," lanjut pernyataan itu.​Sebagai langkah pencegahan, Sumba TV melalui postingan tersebut menghimbau siapa saja yang menerima permintaan uang mencurigakan yang mengatasnamakan tim penanganan kasus 'Agen Ester' untuk segera melakukan konfirmasi langsung.​"Oleh karenanya saya menghimbau kepada teman-teman, jika ada yang mengatasnamakan tim saya untuk meminta sejumlah uang maka segeralah bertanya kepada saya secara langsung via inbox SUMBA TV," tutup himbauan tersebut.​Peringatan ini menjadi penting mengingat kasus TPPO sindikat 'Agen Mam Ester warga negara Malaysia' tengah menjadi sorotan publik, terutama di Sumba. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan melakukan verifikasi silang terhadap segala bentuk permintaan bantuan finansial yang mengatasnamakan pihak-pihak yang terlibat dalam advokasi kasus kemanusiaan ini. (Tim Redaksi)

4 bulan yang lalu
Hero Image
Apjati NTT Angkat Bicara Soal Kasus TPPO Sumba-Malaysia: Tolak Prosedur Ilegal, Upayakan Mediasi

Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) angkat bicara terkait kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan sindikat pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal dari Sumba ke Malaysia, yang belakangan ini ramai diberitakan. Wakil Ketua 1 DPD Apjati NTT, Davit Frans, menegaskan sikap asosiasi yang menolak segala bentuk penempatan non-prosedural.​Dalam wawancara via telepon dengan Redaksi siletsumba.com, Rabu (22/10/2025), Davit Frans menyatakan bahwa Apjati secara prinsip tidak mendukung praktik pengiriman PMI yang menyalahi aturan. Namun, ia juga mengakui kompleksitas situasi di lapangan.​"Pada dasarnya kami tidak mendukung hal yang non-prosedural, hal yang negatif kami tidak dukung," ujar Davit Frans. Ia menambahkan bahwa terkadang ada oknum atau individu yang sengaja melanggar aturan, sehingga menyulitkan penanganan. "Kadang-kadang juga kita punya orang yang dari bandara itu lolos juga entah sogok, makanya bisa lolos," ungkapnya mencontohkan.​Meskipun menolak praktik ilegal, Davit Frans menjelaskan bahwa Apjati seringkali tetap berupaya melakukan mediasi atau mencari jalan tengah ketika anggotanya (perusahaan PJTKI) atau PMI yang diberangkatkan (meskipun awalnya mungkin bermasalah) menghadapi kesulitan di luar negeri.​"Kita cari jalan tengah saja. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa," katanya. "Kita tetap bernegosiasi untuk bagaimana bisa cari jalan tengah. Kita mau bela orang salah nanti dibilang kita backup yang salah," tambahnya, menjelaskan dilema yang dihadapi. Upaya lobi juga dilakukan demi memastikan keamanan para PMI.​Terkait pemberitaan yang gencar dilakukan, Davit Frans mengapresiasi upaya pengungkapan sindikat tersebut. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya keberimbangan (netralitas) dalam pemberitaan tuturnya.​Ketika disinggung mengenai peran individu bernama Elvi Niil yang disebut terlibat dalam kepulangan saksi kunci Ester Konda Ngguna, serta isu dana RM 5000 dan bukti transfer 20 juta serta 10 juta yang melibatkan pihak- pihak lainnya, Davit Frans mengaku tidak mengikuti detailnya. "Saya tidak tahu itu. Saya tidak terlalu ikuti dengan ini," jawabnya singkat, seraya menegaskan fokusnya adalah pada upaya mediasi mencari jalan tengah. Pada hal dari penelusuran siletsumba.com bukti transkrip percakapan Petrus Frans dengan pihak - pihak lain terlihat jelas isi percakapan untuk menghilangkan saksi kunci yang bagaikan "Berlian". Ia sempat berspekulasi mengenai motif Elvi Nill yang mungkin berupaya mengamankan kerabatnya.Davit Frans kembali menekankan posisinya sebagai pihak netral yang berupaya mencari solusi terbaik bagi semua pihak yang terlibat. Ia juga mengonfirmasi bahwa Ketua DPD Apjati NTT adalah Pak John Salmon. (Sumber: Wawancara Telepon)

4 bulan yang lalu
Hero Image
Saksi Kunci Kasus TPPO Sindikat 'Agen Ester' Malaysia yang Menghilang, Tiba-Tiba Muncul di Bandara Lede Kalumbang Tambolaka Sumba Barat Daya

Titik terang muncul terkait keberadaan Ester Konda Ngguna, saksi kunci dalam kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan sindikat 'Agen Ester' di Klang, Selangor, Malaysia. Setelah dilaporkan menghilang dari Malaysia di tengah proses hukum yang berjalan, Ester Konda Ngguna terkonfirmasi telah tiba di Bandara Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT).​Informasi ini terungkap dari komentar warganet di media sosial dan dikonfirmasi oleh sumber yang melaporkan kasus sindikat 'Agen Ester'. Ester Konda Ngguna dilaporkan diterima oleh petugas dari Pusat Pelayanan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Kabupaten Sumba Barat Daya saat tiba di bandara.​Namun, kedatangan Ester ini justru menimbulkan pertanyaan besar dan dugaan adanya upaya menghalangi proses hukum (obstruction of justice). Menurut pelapor kasus 'Agen Ester' di Malaysia, Yulita Sriyanti, Ester Konda Ngguna bukanlah sekadar korban biasa.​"Keterangan mengenai kasus korban atas nama Ester Konda Ngguna sudah masuk ke KBRI Malaysia. Beliau bahkan merupakan saksi kunci dalam pengusutan kasus perdagangan orang ini," ujar sumber tersebut mengutip keterangan Yulita, Senin (20/10/2025) malam.​Dijelaskan lebih lanjut, melalui keterangan Ester Konda Ngguna, pihak KBRI Kuala Lumpur dan Polis Diraja Malaysia (PDRM) berhasil mendapatkan informasi krusial mengenai operasional dan jaringan sindikat 'Agen Ester' yang baru-baru ini berhasil dibongkar dan para pelakunya ditangkap.​Hilangnya Ester secara tiba-tiba dari Malaysia di tengah proses hukum yang sedang berjalan menimbulkan kecurigaan adanya pihak-pihak yang sengaja 'melarikan' saksi kunci ini untuk menghalangi proses peradilan.​"Sayangnya, nampaknya pihak P4MI Sumba Barat Daya tidak mengetahui bahwa Ester Konda Ngguna adalah saksi kunci dalam kasus geng agen Ester di Klang Selangor Malaysia," ungkap sumber tersebut.​Dengan terungkapnya keberadaan Ester di Sumba Barat Daya, muncul desakan kuat agar P4MI Sumba Barat Daya segera melakukan koordinasi intensif dengan KBRI Kuala Lumpur. Koordinasi ini penting untuk mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai status hukum Ester Konda Ngguna sebagai saksi kunci dan memastikan perlindungannya, serta kelancaran proses hukum terhadap sindikat 'Agen Ester' di Malaysia.​Kasus ini kembali menyoroti kompleksitas penanganan TPPO lintas negara dan vitalnya peran saksi kunci dalam membongkar jaringan kejahatan terorganisir. Perlindungan terhadap saksi dan korban menjadi aspek krusial yang tidak dapat diabaikan.​Hingga berita ini diturunkan, pihak siltesumba.com masih berupaya mendapatkan konfirmasi resmi dari P4MI Kabupaten Sumba Barat Daya terkait penerimaan dan status Ester Konda Ngguna. (Tim Redaksi)

4 bulan yang lalu
Hero Image
Unggahan Wartawan Silet Sumba Soal Dugaan Provokasi di Desa Werilolo Picu Pro dan Kontra Warganet

Unggahan Facebook oleh salah satu wartawan Media Silet Sumba, Stepanus Umbu Pati, mengenai dugaan insiden pencabutan pilar di Desa Werilolo, Sumba Barat Daya (SBD), telah memicu reaksi pro dan kontra yang tajam di kalangan warganet.​Dalam postingannya, Stepanus menuding seorang oknum berinisial PUA sebagai "provokator dan aktor" yang menghasut pencabutan pilar pada Jumat (10/10/2025). Insiden itu, menurutnya, terjadi tak lama setelah pilar ditanam oleh Bupati SBD dan jajaran FORKOPIMDA.​Stepanus juga mengklaim dirinya "diintimidasi secara langsung" saat melakukan peliputan di lokasi.​Postingan tersebut segera dibanjiri komentar yang terbelah menjadi dua kubu.​Di satu sisi, sejumlah warganet melontarkan kritik keras terhadap profesionalisme dan etika Stepanus. Pengguna akun Milla Sisilia mempertanyakan hak Stepanus memposting foto orang lain tanpa izin dan menyinggung potensi pelanggaran UU ITE.​"Hati hati kau stepanus umbu pati... Kau tidak punya hak untuk posting foto org... itu uu ITE," tulis Milla. Kritik senada datang dari akun Petter Lunu yang berkomentar, "Wartawan yg profesional tdk akan posting di medsos..."​Di sisi lain, tidak sedikit warganet yang memberikan dukungan penuh terhadap Stepanus. Pengguna akun Rudi Hartono menulis, "Lanjutkan... Oknum2 provokator segera di tangkap". Dukungan juga datang dari Gidion W Kote yang memberi semangat, "Lanjut bro... Jgn takut... Kebenaran pasti terungkap..."​Dalam balasan komentarnya, Stepanus Umbu Pati tetap pada pendiriannya, menyatakan bahwa apa yang ia sampaikan adalah "fakta lapangan". Ia menegaskan bahwa ia memiliki bukti kuat atas laporannya.​"Saya punya bukti video dan foto..saya posting supaya publik tau," tulis Stepanus menanggapi salah satu komentar.​Menanggapi dinamika yang berkembang di ruang publik ini, Redaksi Silet Sumba memandang serius masukan, kritik, serta dukungan dari masyarakat. Redaksi berkomitmen untuk menjunjung tinggi profesionalisme dan Kode Etik Jurnalistik dalam setiap peliputan.

4 bulan yang lalu