Hero Image
Elang Melawan Ular: Strategi Media Mengangkat Koruptor ke Udara hingga Tak Berdaya

Oleh: Jusup Koe Hoea Ketua Forum Guru NTTSeekor elang tak pernah bertarung dengan ular di tanah. Ia tahu, di darat, ular lebih lincah, berbisa, dan berbahaya. Maka strategi elang sederhana namun jitu: ia akan mencengkeram ular itu, terbang tinggi ke udara, lalu menjatuhkannya di ketinggian tempat ular tak lagi berdaya. Di sanalah kemenangan elang ditentukan bukan karena kekuatannya, tetapi karena kecerdasannya mengubah medan pertempuran.Demikian pula cara menghadapi korupsi di negeri ini, terutama di Nusa Tenggara Timur. Koruptor hanya kuat ketika berada di “darat”: di ruang gelap penuh bisikan, di balik meja kekuasaan, atau dalam tumpukan dokumen dan permainan angka yang sulit diakses publik. Tapi ketika kasus korupsi diangkat ke udara ke ruang publik, ke media, ke dalam sorotan fakta dan transparansi mereka menjadi lemah, panik, dan kehilangan kendali.Media: Sayap Elang KebenaranWartawan dan jurnalis sejati adalah elang kebenaran. Mereka memiliki kemampuan untuk terbang tinggi, melihat dari jauh, dan menukik tajam ke titik persoalan yang sering disembunyikan dari pandangan rakyat. Dalam konteks pemberantasan korupsi, media bukan sekadar pelapor, tetapi penggerak kesadaran publik, pembentuk opini, dan penjaga moral bangsa.Namun, belakangan ini, banyak kasus korupsi, khususnya di sektor pendidikan dan dana BOS di NTT, seolah terhenti di tengah jalan. Ada yang lenyap dari pemberitaan, ada yang berhenti di penyelidikan, dan ada pula yang hilang tanpa kabar. Ketika media berhenti menyorot, ruang gelap itu kembali menjadi arena nyaman bagi para “ular birokrasi” untuk bergerak bebas.Itulah mengapa jurnalisme tidak boleh lelah. Mengungkap kebenaran bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan moral. Wartawan harus berani membawa setiap kasus korupsi ke “udara kebenaran”, ke ruang publik yang jernih dan objektif di mana setiap fakta diuji, setiap data diverifikasi, dan setiap nama bertanggung jawab.Dari Fakta ke Tekanan MoralKorupsi tidak tumbuh karena satu orang serakah. Ia tumbuh karena sistem yang diam, publik yang lupa, dan media yang bungkam. Ketika wartawan bersatu dan menyatukan data lintas media, lintas wilayah, bahkan lintas sektor, korupsi tidak lagi bisa bersembunyi di balik laporan formal dan angka-angka teknis.Media yang solid dapat menciptakan tekanan moral yang lebih kuat dari sekadar opini publik. Sebab di tangan wartawan, setiap berita bisa menjadi senjata moral yang menembus tembok kekuasaan. Ketika fakta korupsi dana pendidikan, proyek infrastruktur, atau manipulasi anggaran disiarkan secara terus-menerus dan berbasis bukti, maka kejahatan itu kehilangan daya hidupnya.NTT: Arena Ujian Moral MediaProvinsi Nusa Tenggara Timur memiliki tantangan besar. Kasus dugaan korupsi dana BOS di sejumlah SMA dan SMK masih menjadi persoalan serius. Beberapa kasus yang pernah ditangani Krimsus Polda NTT dan Pidsus Kejati NTT tampak berjalan lamban, bahkan cenderung senyap. Dalam situasi seperti ini, peran wartawan dan media menjadi sangat vital, bukan hanya sebagai pengawas eksternal, tetapi juga sebagai juru bicara kejujuran publik.Forum Guru NTT menilai, banyak media lokal telah berjuang luar biasa untuk tetap independen di tengah tekanan. Namun, perjuangan ini tidak boleh berhenti pada pemberitaan sesaat. Diperlukan kolaborasi jurnalis lintas redaksi (cross newsroom collaboration) untuk membangun jejaring data dan fakta bersama. Dengan begitu, isu korupsi tidak mudah dipadamkan oleh kekuasaan atau kepentingan politik.Ubah Arena PertempuranStrategi melawan korupsi harus diubah: jangan bertarung di arena yang dikuasai mereka. Di tanah birokrasi, koruptor bisa memanipulasi dokumen, mempengaruhi saksi, bahkan membungkam kebenaran dengan kekuasaan. Tapi di udara transparansi, mereka kehilangan arah.Itulah “udara” yang dimaksud ruang publik yang bersih, jernih, dan penuh cahaya. Ketika kasus diangkat ke ranah publik melalui berita investigasi, laporan tematik, dan kolaborasi jurnalis, maka tidak ada tempat bagi ular korupsi untuk bersembunyi. Setiap kebohongan akan terungkap di hadapan publik yang cerdas dan peduli.Pendidikan Moral bagi BangsaKorupsi di sektor pendidikan adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan bangsa. Dana yang seharusnya membangun karakter, keterampilan, dan pengetahuan anak-anak justru dikorupsi oleh mereka yang seharusnya menjaga amanah. Karena itu, perjuangan wartawan dan guru sebenarnya memiliki misi yang sama: membangun karakter bangsa.Melalui pendidikan, guru menanamkan kejujuran dan tanggung jawab. Melalui berita, wartawan menyalakan kesadaran publik. Keduanya adalah dua sisi dari satu perjuangan moral membangun bangsa yang tidak takut pada kebenaran.Penutup: Terbanglah Lebih TinggiElang tidak pernah bertarung di darat karena ia tahu kekuatannya bukan pada cakar, tapi pada sayapnya. Begitu pula media, kekuatannya bukan pada kedekatan dengan kekuasaan, tapi pada keberanian untuk terbang tinggi di langit kebenaran.Hari ini, ketika korupsi masih merajalela di ruang-ruang pendidikan dan birokrasi, wartawan dan jurnalis harus kembali mengasah sayap mereka. Angkat semua persoalan ke udara. Bersatulah dalam data dan fakta. Karena di ketinggian transparansi, ular korupsi akan kehilangan napasnya dan di sanalah kemenangan moral bangsa dimulai.

3 bulan yang lalu