Hero Image
Tinta Kesepakatan Belum Kering, Komitmen Kepala Desa Weri Lolo Dipertanyakan Pasca-Insiden di Perbatasan Weri Lolo-Wee Kurra

Peristiwa tragis yang terjadi di perbatasan Desa Weri Lolo dan Wee Kurra pada Senin, 13 Oktober 2025, kini menyorot komitmen Kepala Desa Weri Lolo.Pasalnya, insiden tersebut terjadi hanya 72 jam setelah ia bersama Kepala Desa Wee Kurra menandatangani berita acara penegasan batas wilayah di hadapan Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla.Pada Jumat, 10 Oktober 2025, dalam sebuah acara penegasan tapal batas yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten, Kepala Desa Weri Lolo secara sadar membubuhkan tanda tangannya di atas peta dan dokumen penegasan batas.Momen tersebut, yang disaksikan tokoh masyarakat dari kedua desa, seharusnya menjadi akhir dari sengketa panjang dan awal dari kehidupan bertetangga yang damai.Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla kala itu bahkan menitipkan pesan perdamaian dan meminta para kepala desa menjadi garda terdepan dalam menyosialisasikan hasil kesepakatan.“Peta ini tolong dipelajari, dilihat, dan ditempel di kantor desa agar masyarakat juga tahu batas wilayah mereka,” pesan Bupati sembari menyerahkan peta resmi kepada para kepala desa, termasuk Kepala Desa Weri Lolo.Namun, insiden yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia tiga hari berselang menimbulkan pertanyaan besar:Apakah Kepala Desa Weri Lolo telah menjalankan amanat tersebut? Sejauh mana keseriusannya mengawal kesepakatan yang ia tandatangani sendiri?Kejadian ini mengindikasikan kemungkinan kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari pucuk pimpinan Desa Weri Lolo kepada masyarakatnya.Tanda tangan di atas kertas menjadi tak berarti ketika pesan perdamaian gagal mengakar di tengah warga, yang akhirnya kembali pada penyelesaian konflik dengan cara yang tidak semestinya.Publik kini menyoroti tanggung jawab moral dari Kepala Desa Weri Lolo.Sebagai pemimpin yang telah diberi mandat, ia memiliki kewajiban memastikan warganya menghormati hukum dan kesepakatan yang telah dibuat.Peristiwa ini menjadi refleksi atas rapuhnya komitmen dan lemahnya pengaruh pemimpin lokal dalam menjaga stabilitas di wilayahnya.Sementara proses hukum atas insiden tersebut kini ditangani oleh Polres Sumba Barat Daya, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak bahwa perdamaian tidak cukup ditandatangani — ia harus dijaga dan dijalankan dengan kesadaran bersama.

3 bulan yang lalu