INVESTIGASI SILET SUMBA | Kesaksian Pilu Siswa Korban MBG: "Dagingnya Bau Basi, Tapi Tetap Dimakan... Karena Lapar Sekali
Sumba Barat Daya, siletsumba.com - Di antara puluhan siswa yang terbaring lemah di fasilitas kesehatan, sebuah cerita tragis yang seragam muncul sebagai benang merah. Kesaksian para siswa korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) tidak hanya konsisten, tetapi juga mengungkap sebuah ironi yang menyayat hati.
Mereka tahu makanan itu bermasalah. Namun, rasa lapar mengalahkan segalanya.
"Bau Basi... Tapi Lapar Sekali"
Pertanyaan terbesar dari insiden ini adalah: mengapa makanan yang diduga basi tetap dikonsumsi? Jawaban dari para siswa melukiskan gambaran yang pilu.
"Daging ayamnya... tercium bau. Bau. Tapi tetap makan," tutur Rosalinda Eselranda Gesi, siswi kelas 10 SMA Manda Elu, saat ditemui di RS Karitas, Selasa (11/11).
Saat ditanya mengapa ia nekat memakannya, Rosalinda terdiam sejenak. "Gara-gara kita mau pulang... lapar sekali," ucapnya lirih.
Ia mengaku sempat ragu, namun teman-temannya meyakinkan bahwa itu bukan masalah besar. "Teman-teman bilang hanya bumbunya saja yang bau, tidak ayam," tambahnya.
Kesaksian Rosalinda adalah cerminan dari puluhan siswa lainnya. Ayu A.S., siswi lain dari sekolah yang sama, membenarkan temuan itu. "Menunya ada nasi, ayam, sayur... Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan," ujar Ayu.
Kesaksian Seragam: Ayam dan Sayur Basi
Bukan hanya satu atau dua siswa, keluhan ini bersifat massal dan spesifik. Para siswa dari berbagai lokasi perawatan memberikan keterangan yang identik.
Arto Kandunu, siswa SMA Manda Elu yang dirawat di RSU Reda Bolo, mengatakan hal yang sama. "Yang kami makan kemarin itu agak bau basi dagingnya. Daging ayam," katanya.
Bahkan, Kiren Jessica Goreti Tana, yang dirawat di RS Karitas, menyebut bukan hanya ayam yang bermasalah. "Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren, yang pingsan di sekolah paginya.
Gejala Tertunda: Menderita Sepanjang Malam
Pola keracunan ini juga menunjukkan keseragaman. Para siswa tidak langsung tumbang. Mereka mengonsumsi makanan pada Senin siang, namun gejala baru meledak pada Senin malam hingga Selasa pagi.
"Mulai keracunan dari tadi malam... jam 2," jelas Arto Kandunu.
Wita Inakenda, siswi SMA Manda Elu yang terbaring di ranjang RSU Reda Bolo, juga mengonfirmasi. "Sudah rasa dari kemarin itu," katanya. Ia mengaku tetap memaksakan diri ke sekolah meski sudah merasa sakit perut sejak malam.
Bagi Ayu, gejala puncaknya terjadi di sekolah. "Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," ceritanya.
Kompilasi kesaksian yang seragam dari puluhan siswa ini menunjuk pada satu sumber masalah: kualitas makanan MBG yang mereka terima pada hari Senin. Fakta bahwa para siswa tetap memakan hidangan yang sudah berbau basi "karena lapar" menambah lapisan tragedi pada insiden yang kini menimpa 95 siswa di Sumba Barat Daya.