Hero Image
DAMPAK MELUAS! Korban Keracunan MBG Diduga Juga dari SMA Alfonsus, RSU Reda Bolo Kewalahan, Siswa Dirawat di Lantai

Dampak kasus dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) ternyata jauh lebih luas dari laporan awal. Selain puluhan siswa SMA Manda Elu, data di lapangan menunjukkan adanya siswa dari SMA Alfonsus yang turut menjadi korban dan dievakuasi ke RSU Reda Bolo.Kondisi di fasilitas kesehatan kini dilaporkan kewalahan. Puluhan siswa terpaksa dirawat di matras darurat yang digelar di lantai koridor rumah sakit karena keterbatasan tempat tidur.Evakuasi Dramatis, RS KewalahanPantauan siletsumba.com dari sejumlah video yang diterima, RSU Reda Bolo di Tambolaka telah dipenuhi oleh siswa-siswi yang masih mengenakan seragam OSIS. Banyak dari mereka terbaring lemah di matras seadanya di lantai, dengan tiang infus berdiri di samping mereka.Para guru dan petugas medis tampak sibuk mendata dan memberikan penanganan pertama. Dalam salah satu rekaman, seorang narator menyebutkan bahwa guru-guru sedang mendata siswa dari SMA Alfonsus yang ikut menjadi korban.Sementara itu, di RS Karitas, rekaman video menunjukkan detik-detik evakuasi yang dramatis. Sejumlah siswa, termasuk yang dalam kondisi pingsan atau lemas total, diangkut menggunakan mobil bak terbuka (pickup L300). Mereka kemudian digotong oleh para guru dan warga untuk segera dimasukkan ke ruang IGD."Lebih Baik Makan Ubi, Asal Sehat!"Di tengah kepanikan, suara protes dari orang tua korban semakin kencang. Noviana Lende, ibu dari siswi bernama Maria Klemensia Tika, menuntut program MBG dihentikan dan dialihkan untuk biaya pendidikan."Dialihkan ke sekolah gratis, lebih bagus, lebih aman!" serunya dengan nada geram di RSU Reda Bolo."Buat apa kita makan makanan bergizi tapi anak-anak kami jadi korban? Mendingan dia makan ubi, dia makan nasi jagung, terus dia sehat, lebih bagus!" tegas Noviana.Ia juga menuntut agar proses pengolahan makanan diawasi ketat. "Cara masaknya, cara bersihnya itu harus perhatikan betul-betul!" tambahnya.Pengakuan Siswa: "Bau, Tapi Tetap Dimakan Karena Lapar"Kesaksian dari para siswa lain yang dirawat menguatkan dugaan bahwa makanan yang mereka konsumsi pada hari Senin (10/11) memang bermasalah.Rosalinda Eselranda Gesi, siswi kelas 10 SMA Manda Elu, mengaku bahwa daging ayam yang ia makan kemarin sudah berbau tidak sedap."Kemarin makan daging ayam... rasanya bau. Bau, tapi tetap makan," katanya saat diwawancarai di rumah sakit.Saat ditanya mengapa tetap memakannya, Rosalinda menjawab polos. "Gara-gara kita mau pergi... lapar sekali. Teman-teman bilang hanya bumbunya saja yang bau, tidak ayam," tuturnya.Ia mengaku gejala sakit perut mulai dirasakannya pada Senin malam. "Pas malam itu, sakit terus," ujarnya.Kesaksian serupa datang dari Wita Inakenda, siswi SMA Manda Elu lainnya. Ia mengaku sudah merasa sakit perut sejak Senin malam setelah mengonsumsi makanan tersebut."Sudah rasa dari kemarin itu. [Tapi] tetap paksa ke sekolah," ujarnya lirih sambil terbaring di ranjang perawatan dengan infus menancap di tangannya.Kesaksian yang konsisten dari para siswa menuntut investigasi serius terhadap pihak penyedia dan pengawas program MBG di Sumba Barat Daya.

2 bulan yang lalu
Hero Image
Suara Orang Tua Korban MBG: "Nyawa Tidak Dijual di Toko! Hentikan Saja, Lebih Baik Bayar Uang Sekolah Kami!"

Di tengah lantai dingin ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD), amarah, cemas, dan kekecewaan bercampur aduk. Para orang tua siswa SMA Manda Elu memadati koridor rumah sakit, menunggu kabar kondisi anak-anak mereka yang menjadi korban dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG).Bagi mereka, insiden yang menimpa 95 siswa ini bukan sekadar kelalaian, tapi sebuah bukti nyata kegagalan program yang mempertaruhkan nyawa.Suara paling lantang datang dari Rosalia Anastasia Nani. Dengan menahan tangis dan napas yang sesak oleh amarah, ia menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana, yang terbaring lemah."Anak saya makan [MBG] kemarin sore. Pulang sekolah dia mencret. Malam dia mencret lagi. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi!" ungkap Rosalia dengan nada tinggi, Selasa (11/11).Keke Puti cewaannya memuncak saat mengingat putrinya sudah mengeluhkan kondisi makanan tersebut sejak kemarin. Kiren, putrinya, membenarkan bahwa makanan yang ia terima sudah tidak layak konsumsi."Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," tutur Kiren lirih dari ranjang perawatan.Rosalia pun secara terbuka menyampaikan protes keras yang ditujukan langsung kepada pemerintah pusat, termasuk Presiden. Baginya, program MBG yang justru membahayakan anak-anak lebih baik dihentikan total."Saya minta Bapak Presiden! Saya minta semua pemerintah! Tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko!" serunya.Ia menawarkan solusi yang menurutnya jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat kecil seperti dirinya: alihkan anggaran MBG untuk membiayai pendidikan."Kalau mau kasih, tidak usah! Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin! Kami ini orang miskin. Ini nyawa anak ini, tidak gampang kita dapat di toko, ya!" tegasnya.Sentimen serupa disuarakan orang tua lainnya. Seorang ibu dari siswi bernama Ayu, yang juga turut menjadi korban, merasa panik dan kecewa. Menurutnya, jika penyedia tidak sanggup menjamin kualitas, program itu tidak seharusnya dipaksakan."Sebagai orang tua, agak kecewa juga," ujar ibu yang mengenakan baju pink tersebut. "Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak kalau sudah dapat ini sakit, kan kita orang tua juga panik."Sama seperti Rosalia, ia lebih memilih jaminan pendidikan gratis daripada program makanan yang berisiko."Mendingan lebih bagus uangnya itu dikasih lewat... sekolah gratis aja, daripada dikasih makanan bergizi," pungS kasnya.Bagi para orang tua ini, program yang niat awalnya baik kini telah berubah menjadi mimpi buruk. Mereka tidak lagi butuh makanan bergizi yang berujung racun; mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa sekolah dengan aman tanpa mempertaruhkan nyawa.

2 bulan yang lalu
Hero Image
Miris, 95 Siswa SMA Manda Elu di SBD Diduga Keracunan MBG; Gejala Muncul Sehari Setelah Konsumsi Makanan

Insiden dugaan keracunan massal kembali mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD), Selasa (11/11/2025). Sekitar 95 siswa dari SMA Manda Elu terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala mual, muntah, dan diare hebat.Uniknya, para siswa tidak langsung menunjukkan gejala. Keluhan sakit perut, mual, dan diare baru dirasakan secara massal pada malam hari dan puncaknya pada pagi hari ini, sehari setelah mereka mengonsumsi jatah MBG di sekolah.Para siswa yang terdampak kini tersebar dan mendapatkan penanganan medis intensif di tiga lokasi, yakni RS Karitas, RSU Reda Bolo, dan Puskesmas Watu Kawula.Kronologi KejadianBerdasarkan informasi yang dihimpun siletsumba.com dari sejumlah korban dan orang tua di rumah sakit, para siswa mengonsumsi jatah MBG pada hari Senin (10/11) sekitar pukul 13.00 - 13.30 WITA.Menu yang disajikan saat itu adalah nasi, ayam sambal, sayuran, dan buah pisang. Namun, sejumlah siswa mengaku sudah curiga dengan kondisi makanan yang mereka terima."Kami makan kemarin sekitar jam setengah dua," ujar Ayu A.S, salah seorang siswi SMA Manda Elu yang ditemui di IGD. "Menunya ada nasi, ayam, sayur, sama pisang. Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan."Keluhan mulai dirasakan para siswa pada waktu yang berbeda. Sebagian mulai merasa mual dan sakit perut pada Senin malam, sementara yang lain baru merasakannya pada Selasa pagi saat tiba di sekolah."Saya mulai rasa [sakit] dari tadi malam, tapi tetap paksa ke sekolah," kata Cika, siswi lainnya.Puncak kejadian terjadi pada Selasa pagi. Banyak siswa yang tumbang dan pingsan di sekolah setelah bolak-balik ke kamar mandi akibat diare dan muntah."Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," jelas Ayu.Melihat banyaknya siswa yang tumbang, pihak sekolah segera mengambil tindakan dan mengevakuasi para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.Jeritan Orang Tua: "Nyawa Tidak Dijual di Toko!"Insiden ini memicu kemarahan para orang tua siswa yang memadati ruang gawat darurat. Rosalia Anastasia Nani, salah satu orang tua, dengan nada geram menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana."Anak saya makan makanan gratis kemarin. Sorenya begitu dia pulang, dia mencret. Malam lagi dia mencret. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret lagi, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi," tutur Rosalia.Kiren, yang terbaring lemah, membenarkan bahwa makanan yang ia konsumsi kemarin dalam kondisi tidak layak."Makannya kemarin jam 1. Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren.Rosalia dengan tegas meminta pemerintah pusat, termasuk Presiden, untuk mengevaluasi total program MBG. Ia merasa program ini justru membahayakan nyawa anak-anak dan mengusulkan agar anggaran dialihkan untuk membebaskan biaya sekolah."Saya minta Bapak Presiden, tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko. Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin," serunya dengan emosional."Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak sudah sakit begini," timpal orang tua siswa lainnya yang juga menunggu di rumah sakit.

2 bulan yang lalu
Hero Image
Lagi dan Lagi Siswa SMA Manda Elu Keracunan Makanan Bergizi Gratis

Waitabula, Sumba Barat Daya - Sejumlah siswa SMA Manda Elu di Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilarikan ke Rumah Sakit Karitas dan RSUD Redabolo pada Senin, 10 November 2025. Mereka diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis yang disediakan sekolah.Menurut keterangan salah seorang siswa, Laura Ayu, yang menjadi korban, makanan yang dikonsumsi pada hari Senin, 10 November 2025 sekitar pukul 13:00 WITA terasa tidak segar. "Makanan yang dikonsumsi terasa basi. Daging ayam pedaging goreng rica-rica terasa basi juga," ujarnya.Laura Ayu menambahkan bahwa ia mulai merasakan mual dan sakit perut sejak malam hari. Meski demikian, ia tetap berusaha mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah pada pagi harinya. Namun, karena kondisi yang semakin memburuk, ia akhirnya bersama teman-temannya dilarikan ke Rumah Sakit Karitas dan RSUD Redabolo untuk mendapatkan pertolongan medis.Pihak sekolah dan instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian ini. Investigasi lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan makanan tersebut.

2 bulan yang lalu