Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
25 October 2025 - 13:40 WITA

Fakta Baru Kasus TPPO: Korban di Bawah Umur Diduga Dipalsukan Identitasnya Gunakan Nama Kakak

Fakta Baru Kasus TPPO: Korban di Bawah Umur Diduga Dipalsukan Identitasnya Gunakan Nama Kakak
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Sumba Barat Daya, siletsumba.com - Fakta baru yang mengejutkan terungkap dalam dugaan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang melibatkan sindikat "Agen Ester". Dalam sebuah wawancara eksklusif via telepon dengan wartawan Silet Sumba, Sabtu (25/10/2025), Yustina NTT, Kakak atau saudara korban, membeberkan bahwa adiknya yang bernama Debi dikirim ke Malaysia menggunakan identitas Kakak Kandungnya Ronita

​Yustina, yang juga bekerja di Malaysia, menceritakan bahwa adiknya, Debi, telah berada di Malaysia selama lebih dari dua tahun tanpa pernah memberi kabar. Ia dikirim oleh seorang sponsor bernama "Mama Alorana".

​"Saya dengan saya punya ade yang di kampung itu pergi di rumah Mama Alorana... tanya di mana Debi kok enggak pernah ada kabar," ujar Yustina. "Mama Alorana itu marah-marah sama saya. Dia bilang, 'Kamu urusan apa sama dia? Kok kamu yang kepo sekali?'"

​Kecurigaan Yustina memuncak hingga ia memutuskan untuk mengelabui Mama Alorana dengan berpura-pura ingin mendaftar bekerja ke Malaysia. Saat itulah Mama Alorana akhirnya mengakui fakta yang disembunyikannya.

​"Habis itu baru dia ngomong... 'Iya benar, Debi itu pakai nama kakak (Ronita), karena Debi itu enggak cukup umurnya'," ungkap Yustina, menirukan ucapan Mama Alorana.

​Penggunaan nama Ronita, yang merupakan kakak kandung Debi, diduga kuat adalah modus untuk memanipulasi data kependudukan agar Debi yang masih di bawah umur bisa lolos diberangkatkan. Ronita dan Debi diketahui berasal dari Desa Buruhagu, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya.

​Wartawan Silet Sumba: Ini Sindikat Terstruktur, Mama Alorana Sudah Ditahan

​Menanggapi kesaksian Yustina, wartawan Silet Sumba yang melakukan wawancara tersebut membenarkan bahwa ini adalah bagian dari operasi sindikat besar yang telah mereka investigasi.

​"Mama Alorana ini kan dari PT Majarani, satu dengan Ibu Elvi Nili. Dia sudah di tahanan sekarang, di penjara," jelas wartawan tersebut.

​Ia memaparkan bahwa sindikat ini "bermain dua kaki", di mana mereka mengambil rekomendasi resmi dari Naker Trans, namun setibanya di Kupang, para korban dikirim secara ilegal.

​"Ternyata mereka main sindikat seperti ini. Sampai di Kupang, mereka kirim secara ilegal... ada yang resmi, ada yang ilegal, mencari keuntungan itu dengan Agen Ester ini," paparnya.

​Wartawan tersebut juga merinci kronologi penggerebekan yang dilakukan pihak berwenang berdasarkan data investigasi timnya.

​"Kami bergerak dari tanggal 4 (Oktober) menghimpun data. Tanggal 10 itu langsung ditangkap, gerebek tempatnya Mom Ester ini... sampai tanggal 13 Oktober kemarin," katanya.

​Peran Ester Konda Ngguna dan Upaya Menghilangkan Jejak

​Terbongkarnya jaringan ini, menurut wartawan tersebut, bermula dari keberanian seorang korban bernama Ester Konda Ngguna. Ia adalah korban yang berani memiliki HP dan membocorkan informasi kepada pihak KBRI dan Kepolisian Diraja Malaysia melalui Ibu Yulita.

​Ketika kebocoran itu terendus, sindikat ini berupaya menghilangkan jejak. "Ibu Elvi Nili bersama Jonias Stefanus Kila berangkat ke Malaysia sana untuk menggunakan cara yang licik... mengambil Ester ini," jelasnya.

​Mereka diduga memperalat seorang WNI lain bernama Sofia, yang "disogok 5.000 Ringgit Malaysia" untuk membantu mengambil Ester Konda Ngguna dari tempat persembunyiannya dan membawanya kembali ke Sumba.

​Meski Ester K.G. berhasil dibawa pulang, proses hukum di Malaysia tetap berlanjut, yang berujung pada penangkapan "Mom Ester" dan jaringannya. Wartawan Silet Sumba juga menyebut nama David Frans sebagai "kaki tangan" Ibu Ester di Kupang.

​Saat ini, korban Debi (yang menggunakan nama Ronita) telah berhasil diamankan dan berada di bawah perlindungan KBRI Kuala Lumpur bersama korban-korban lainnya dari Sumba.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.