Di Arena Saling Lempar Lembing, di Luar Tetap Saudara: Fanus & Ady Lalo Jadi Teladan Ksatria Pasola Kodi
Kodi, siletsumba.com - Kodi, Sumba Barat Daya – Pasola kembali digelar dengan penuh semangat di tanah Kodi. Derap kuda memecah padang savana, sorak penonton menggema, dan lembing-lembing melayang di udara. Namun di balik ketegangan arena, ada pesan luhur yang tak pernah pudar: persaudaraan di atas segalanya.
Dalam tradisi Pasola, para rato dan ksatria memang saling berhadapan di atas kuda. Lembing bisa mengenai tubuh, luka bisa terjadi, bahkan darah bisa tertumpah sebagai bagian dari ritus adat. Tetapi setelah arena usai, semua kembali sebagai saudara.
Itulah kebesaran budaya Pasola Kodi — bukan sekadar adu ketangkasan dan keberanian, melainkan simbol kehormatan, pengendalian diri, dan ketaatan pada adat leluhur.
Di tengah kerasnya pertandingan, dua nama mencuat sebagai contoh sportivitas dan jiwa ksatria: Fanus dan Ady Lalo. Keduanya menunjukkan bahwa keberanian sejati bukan hanya saat menyerang, tetapi juga saat menjaga sikap, menghormati lawan, dan menjunjung tinggi adat.
“Pasola bukan soal menang atau kalah. Ini tentang harga diri, kehormatan, dan menjaga warisan budaya,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang menyaksikan langsung jalannya Pasola.
Tradisi Pasola sendiri merupakan bagian penting dari rangkaian adat masyarakat Sumba, khususnya di wilayah Kodi. Selain sebagai ritual menyambut musim tanam dan bentuk penghormatan kepada Marapu, Pasola juga menjadi ruang pembuktian keberanian para pria Sumba.
Namun lebih dari itu, Pasola adalah cermin karakter masyarakat: keras di arena, lembut dalam persaudaraan.
Salam hormat untuk Fanus dan Ady Lalo — ksatria Pasola yang tak hanya piawai menunggang kuda dan melempar lembing, tetapi juga menjaga martabat adat dan persaudaraan.
Pasola hidup, adat tegak, persaudaraan tetap utuh.