Makna Filosofis Selimut Adat Rote: Bahasa Simbol yang Menghidupkan Nilai Kehormatan dan Kemanusiaan
Rote, siletsumba.com - Penulis: Alfred Zakarias,
Ketua Diaspora For Rote Ndao/ Ketua Tim Percepatan Pembangunan (TBUPP) Kab Rote Ndao.
Rote Ndao – Dalam tradisi masyarakat Rote, sehelai selimut adat bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah bahasa simbol, penanda nilai, status sosial, sekaligus cerminan perjalanan hidup seseorang. Cara meletakkan selimut, apakah di bahu kanan atau bahu kiri, memiliki makna mendalam yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga hingga kini.
Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Rote adalah komunitas yang “berbicara” melalui simbol, sebagaimana dicatat oleh para antropolog dan budayawan. Setiap posisi selimut menyimpan pesan sosial, emosional, dan spiritual yang tidak boleh disalahartikan.
Selimut di Bahu Kanan: Simbol Kehormatan dan Kepemimpinan
Meletakkan selimut adat di bahu kanan dimaknai sebagai tanda hormat, penghargaan, dan kesetiaan. Dalam konteks adat, posisi ini melambangkan kebahagiaan, kegembiraan, sukacita, serta keberhasilan hidup. Oleh karena itu, selimut di bahu kanan lazim dikenakan dalam acara perayaan seperti pernikahan, syukuran adat, dan momen-momen penuh sukacita lainnya.
Bagi laki-laki, selimut di bahu kanan umumnya dikenakan oleh mereka yang telah menikah atau memiliki status sosial tertentu. Ini menjadi simbol kesiapan memikul tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga, pemimpin, sekaligus pelindung bagi orang-orang yang berada di bawah naungannya.
Sementara bagi perempuan, selimut di bahu kanan melambangkan kesetiaan, kesabaran, dan kekuatan batin—nilai luhur yang menopang kehidupan keluarga dan komunitas.
Selimut di Bahu Kiri: Simbol Duka, Kerendahan Hati, dan Kepedulian
Berbeda dengan bahu kanan, selimut yang dikenakan di bahu kiri mengandung makna kesusahan, duka, dan empati. Posisi ini biasanya digunakan dalam konteks kematian, musibah, atau peristiwa yang menuntut keheningan dan perenungan.
Selain itu, selimut di bahu kiri juga mencerminkan kesederhanaan, kerendahan hati, kesabaran, ketabahan, dan pengampunan. Ia menjadi pengingat bahwa dalam hidup, manusia tidak hanya merayakan kemenangan, tetapi juga harus mampu menerima kehilangan dan penderitaan dengan hati yang lapang.
Dalam struktur sosial, laki-laki yang belum menikah atau yang belum memikul tanggung jawab besar sering menggunakan selimut di bahu kiri. Sementara bagi perempuan, posisi ini dimaknai sebagai simbol kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian terhadap sesama.
Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Makna simbolik selimut adat Rote telah dicatat dalam berbagai literatur penting, antara lain karya P. Middelkoop, J.F.H. Estiko, P.F. De Josselin de Jong, A.A. Yewangoe, hingga A.P. Eluay. Semua menegaskan bahwa adat Rote bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sistem nilai yang membentuk karakter dan etika sosial masyarakatnya.
Di tengah arus modernisasi, pemahaman terhadap simbol adat seperti ini menjadi sangat penting agar generasi muda tidak kehilangan jati diri budaya. Selimut adat Rote mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki makna, setiap simbol mengandung pesan, dan setiap tradisi adalah identitas yang harus dihormati.
Adat hidup karena dipahami, dan budaya lestari karena dijalankan.