Bantah Tudingan, Kristina Bili Akui "Tahan Uang" Karena Gaji WNI Lain Belum Dibayar Lunas oleh Geng Ester
Sumba Barat Daya, siletsumba.com - Menjawab tudingan yang beredar, Kristina Bili memberikan klarifikasi tajam terkait uang yang ia kelola dalam kasus pemulangan WNI. Ia membenarkan adanya uang yang ia "tahan", namun menegaskan hal itu dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai jaminan atas dugaan gaji WNI lain yang belum dibayar lunas oleh pihak "Ibu Ester".
Dalam wawancara eksklusif dengan Silet Sumba, Kristina Bili menyatakan tidak akan mengembalikan uang tersebut sebelum persoalan gaji tuntas.
"Saya bukan tidak mau kembalikan. Tunggu persoalan ini clear dulu," tegas Kristina.
Ia kemudian membeberkan alasannya. "Ada komunikasi saya dengan Ibu Ester terkait dengan anak-anak yang dia mau kirim uang gaji. Dan ini rekaman voice note ada semua di saya," ungkapnya.
Kristina merinci bahwa ada satu WNI yang telah dipulangkan oleh Ibu Ester, namun gajinya tidak dibayarkan secara penuh.
"Jadi dia [Ibu Ester] mau kirim uang Rp 20 juta untuk tutup ini anak punya gaji yang dia tidak bayar semua waktu itu," jelas Kristina. "Ibu Ester sudah mengakui bahwa dia akan kirim Rp 20 juta."
Menurut Kristina, pihak Ester menjanjikan pembayaran tersebut "besok", namun hingga kini janji itu belum ditepati. Akibatnya, WNI yang gajinya tertahan tersebut terus-menerus mengejarnya.
"Nah, anak itu kan kejar saya terus, 'gajinya saya bagaimana?'... Kalau memang uang ini Ibu Ester yang komunikasi kirim ke saya, ya bagaimana caranya ini uang saya tahan. Bukan untuk kepentingan pribadi saya, tidak," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kristina Bili kembali meluruskan isu uang "siri pinang" untuk pendeta yang dibahas sebelumnya. Ia menegaskan bahwa hal itu baru sebatas "rencana" dan bukan upaya "sogok".
"Jadi, belum sampai ke Pak Pendeta pun, saya belum melakukan negosiasi juga, tidak. Ini baru rencana," katanya. "Bukan kita mau sogok Pak Pendeta, tidak sama sekali."
Ia juga membenarkan penerimaan dana operasional, yang ia anggap "sah-sah saja" untuk menutupi biaya transportasi dan akomodasi selama proses advokasi.
"Persoalan mereka kasih saya operasional... itu kan sah-sah saja, Pak. Karena memang saya bergerak tidak jalan kaki. Dan saya tidak keluar dari mulut saya minta uang, tidak," pungkasnya.