Waikabubak, 11 Februari 2026 – Forum Musrenbang Kecamatan Kota Waikabubak tahun ini tak sekadar seremoni. Di hadapan Ketua DPRD, Sekda, pimpinan OPD, kepala desa/lurah hingga warga, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade bicara blak-blakan: Rp127 miliar anggaran kembali ke pemerintah pusat karena pembangunan mandek.Pernyataan itu membuat suasana ruangan mengeras. Tak ada lagi ruang untuk usulan asal jadi.“Tahun 2026 usulan dipangkas ketat. Rp127 miliar kembali ke pusat karena banyak program tidak berjalan. Kita harus konsisten, berkomitmen, dan serius wujudkan visi-misi,” tegas Bupati.Tak Boleh Lagi Rapat di Meja, Data Harus dari LapanganBupati menyentil praktik perencanaan yang dinilai tidak berbasis data riil. Ia memerintahkan kepala desa turun langsung bersama Dinas Kesehatan, PUPR, Perumahan Rakyat, dan PMD.“Jangan seperti kasus-kasus yang sedang viral. Kepala desa wajib turun lapangan. Data harus akurat. Dana desa harus tepat sasaran!”Pesan ini jelas: tak ada lagi toleransi untuk kerja setengah hati.Air Bersih Harga MatiPrioritas utama? Air bersih dan air minum di setiap kampung.Bupati menyebut ini sebagai target wajib, bukan wacana.“Kita kerja dengan hati, jujur, dan andalkan Tuhan. Air bersih harus sampai ke masyarakat.”Zona Hijau, Tapi Jangan LengahSumba Barat disebut masuk 3 besar terbaik pengelolaan APBD di NTT dan menjadi yang terbersih di antara empat kabupaten di Pulau Sumba. Namun Bupati mengingatkan: prestasi bukan alasan untuk santai.Loyalitas ASN, transparansi dana BOS, hingga rotasi kepala sekolah ditegaskan sebagai langkah menjaga disiplin dan integritas.Miras & Judi Disorot, Kades Hobi Judi Siap Ditindak.Nada Bupati makin keras ketika menyinggung miras dan judi.“Sudah ada aturan. Kepala desa yang hobi judi akan ditindak!”Tak hanya itu, bantuan sosial seperti PKH diminta benar-benar menyasar warga yang berhak. Ia juga menyoroti persoalan budaya seperti kedde dan patta tana agar tidak memicu konflik sosial.Musrenbang kali ini menjadi alarm keras bagi seluruh perangkat daerah dan pemerintah desa. Rp127 miliar yang melayang ke pusat bukan angka kecil. Publik kini menunggu: apakah komitmen ini benar-benar diwujudkan, atau hanya jadi janji di atas podium?
MBAY – Gerak cepat dan senyap. Tim Subdit 1 Direktorat Reserse Narkoba Polda NTT yang dipimpin Kanit 1 Subdit 1, Iptu Anselmus Leza, meringkus empat terduga pelaku peredaran narkotika jenis sabu-sabu di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 16.25 WITA.Operasi ini disebut berlangsung terpisah dan tanpa perlawanan berarti. Salah satu terduga pelaku yang lebih dulu diamankan berinisial S alias Lalang. Dari tangannya, petugas menemukan beberapa paket kecil yang diduga berisi sabu-sabu.Pengembangan cepat dilakukan. Dari hasil pemeriksaan awal, tim bergerak dan mengamankan tiga terduga lainnya berinisial PAR, S, dan I. Keempatnya kemudian digiring untuk proses hukum lebih lanjut.Informasi yang dihimpun menyebutkan, jalur masuk barang haram itu diduga berkaitan dengan wilayah pesisir dan pelabuhan di kawasan Marapokot. Aparat kini masih mendalami kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas di balik peredaran tersebut.Pengungkapan ini menjadi sinyal keras bahwa peredaran narkoba masih mengintai wilayah NTT, termasuk daerah yang selama ini dikenal relatif tenang. Aparat menegaskan komitmennya untuk terus memburu jaringan pengedar hingga ke akarnya.SiletSumba.com menilai, perang terhadap narkoba bukan hanya tugas polisi, tetapi juga tanggung jawab bersama. Barang haram ini bukan sekadar pelanggaran hukum — ia adalah ancaman nyata bagi masa depan generasi muda.Proses hukum terhadap keempat terduga pelaku kini tengah berjalan. Polisi masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan aktor lain di balik jaringan tersebut.
Tambolaka – Alun-Alun Kota Tambolaka yang biasanya riuh dengan tawa, langkah kaki, dan semangat hidup sehat, mendadak berubah jadi bahan perbincangan panas di jagat maya.Sebuah video yang diunggah melalui akun Facebook Ibu Yance Khe Agape Agape viral dan mengundang reaksi berantai. Dalam rekaman tersebut, sang pemilik akun menyebut dirinya sudah memasuki hari ke-4 lanjut jogging di alun-alun kebanggaan warga itu. Namun bukan soal konsistensi olahraganya yang jadi perhatian publik.Dalam video tersebut, ia secara terbuka menyatakan tidak mau bergabung dengan orang-orang yang berada “di dalam sana” karena tidak suka dengan orang-orang yang bau ketiak. Kalimat itu sontak memicu gelombang komentar. Banyak yang menilai ucapan tersebut tidak etis dan berpotensi menyinggung perasaan masyarakat yang tengah berolahraga di ruang publik.Alun-Alun Tambolaka bukan milik satu dua orang. Di sanalah anak-anak berlari kecil, para ibu jalan santai, pemuda berlari sprint, dan para orang tua menjaga kesehatan. Tempat itu adalah ruang bersama — tanpa sekat, tanpa kasta.Ucapan yang terlontar dan direkam lalu dibagikan ke media sosial, dalam hitungan menit berubah menjadi konsumsi publik. Di era digital, kamera bukan hanya merekam gambar, tapi juga konsekuensi.Sebagian warganet menyayangkan gaya penyampaian yang dianggap merendahkan. Sebagian lain memilih menilai itu sebagai ungkapan spontan. Namun satu hal pasti: ruang publik menuntut etika publik.Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pemilik akun Facebook Ibu Yance Khe Agape Agape terkait maksud pernyataan tersebut.Alun-alun tetap dipenuhi langkah kaki.Joging tetap berlanjut.Namun jagat maya masih berdenyut, menanti penjelasan.
Pengadilan Negeri Waikabubak,11 Februari 2026 | Silet SumbaWaikabubak – Kuasa hukum korban, Ibu Indah Prasetyari, SH., MH, kembali menegaskan komitmennya mengawal ketat kasus dugaan penyerangan dan penganiayaan yang terjadi pada 27 September 2025 di Desa Susun Wendawa Barat, Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah.Dalam wawancara usai sidang di Pengadilan Negeri Waikabubak, Rabu (11/2/2026), Ibu Indah menyampaikan bahwa perkara ini telah menyeret lima orang terdakwa ke hadapan majelis hakim.Mereka adalah: terdakwa 1. Umbu Gaja,terdakwa 2. Deny Dadi alias Bapak Sandra, terdakwa 3. Mance Laki Modu alias Mance, terdakwa 4. Hengky Sairo (DPO) dan terdakwa 5. Dominggus Bulu Dadi (DPO)Sementara itu, dua orang lainnya masih berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO), yakni:Hengky Sairo alias Hengki,Dominggus Bulu Dadi alias Adi Dadi“Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.Proses ini harus berjalan transparan dan adil,” tegas Ibu Indah di hadapan awak media.Menurutnya, kliennya mengalami dampak serius akibat peristiwa tersebut, baik secara fisik maupun psikologis. Ia juga menekankan bahwa pihaknya telah menghadirkan saksi serta alat bukti guna menguatkan konstruksi perkara di persidangan.Sidang yang berlangsung di PN Waikabubak itu menjadi perhatian publik, mengingat kasus ini sempat menyita perhatian warga Mamboro dan sekitarnya. Aparat penegak hukum juga diharapkan segera menangkap dua orang yang masih berstatus DPO agar proses hukum berjalan lengkap dan tuntas.Majelis hakim telah menetapkan bahwa sidang lanjutan akan digelar pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan agenda pembuktian.Publik kini menanti bagaimana jalannya proses hukum berikutnya, sembari berharap keadilan benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu.Silet Sumba akan terus mengawal perkembangan perkara ini hingga putusan akhir dibacakan.
Kodi Utara 11 Februari 2026Magho Linyo – Tongkat estafet kepemimpinan resmi berpindah. Hendrikus Bondi Tanggu Holo kini dipercaya menahkodai SMPK Santo Ambrosius Magho Linyo. Dalam momen yang penuh makna itu, ia menegaskan komitmennya untuk membawa sekolah ini bukan hanya sekadar berjalan, tetapi benar-benar hidup dan berkembang.“Sekolah ini harus hidup, bukan sekadar bertahan,” tegas Hendrikus dalam sambutannya, Rabu (11/2/2026).Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kepemimpinannya akan diwarnai dengan semangat pembaruan, peningkatan mutu pendidikan, serta penguatan karakter peserta didik. Ia menyadari tantangan dunia pendidikan saat ini tidak ringan—mulai dari keterbatasan fasilitas hingga dinamika perkembangan zaman yang begitu cepat.Menurutnya, sekolah Katolik seperti SMPK Santo Ambrosius Magho Linyo harus mampu menjadi ruang pembentukan karakter, iman, dan kecerdasan secara seimbang. “Kita tidak hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga berintegritas, beriman, dan siap menjadi terang di tengah masyarakat,” ujarnya.Hendrikus juga mengajak para guru dan tenaga kependidikan untuk bekerja bersama dalam semangat kolaborasi. Ia menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang disiplin, kreatif, dan inovatif. “Saya tidak bisa berjalan sendiri. Sekolah ini akan maju jika kita melangkah bersama,” katanya.Acara serah terima jabatan tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri oleh para guru, staf, komite sekolah, serta sejumlah orang tua siswa. Harapan besar pun disematkan kepada kepemimpinan baru agar mampu membawa SMPK Santo Ambrosius Magho Linyo menjadi lembaga pendidikan yang unggul dan dipercaya masyarakat.Dengan semangat baru, SMPK Santo Ambrosius Magho Linyo kini memasuki babak perjalanan berikutnya—bukan sekadar bertahan di tengah tantangan, tetapi bangkit, bertumbuh, dan memberi dampak nyata bagi generasi muda.
Kupang, 10 Februari 2026 — Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang, Shirley Manutede, memberikan penjelasan resmi terkait perkembangan penanganan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop di Poltekkes Kemenkes Kupang, Selasa (10/2/2026).Dalam keterangannya kepada awak media, Shirley menegaskan bahwa penyidik masih terus mendalami perkara tersebut dengan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang terkait dalam proses pengadaan.“Kami memastikan setiap tahapan dilakukan secara cermat dan berdasarkan alat bukti yang sah. Proses hukum tetap berjalan,” tegas Shirley.Ia menjelaskan, proses penyidikan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan alat bukti, pendalaman dokumen pengadaan, hingga permintaan keterangan dari pihak-pihak yang diduga mengetahui maupun terlibat dalam kegiatan tersebut.Dalam kesempatan yang sama, Kejari Kota Kupang juga mengonfirmasi bahwa Kepala Poltekkes Kemenkes Kupang telah melakukan penitipan uang sebesar Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah). Penitipan tersebut disebut dilakukan dengan itikad baik dan tanpa adanya paksaan, sebagai bagian dari proses hukum yang sedang berjalan.Namun demikian, Kejari menegaskan bahwa penitipan uang tersebut tidak serta-merta menghapus proses pidana. Penyidikan tetap dilanjutkan untuk mengungkap secara terang benderang peristiwa yang terjadi serta menentukan ada tidaknya unsur tindak pidana korupsi dalam pengadaan laptop tersebut.Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyangkut penggunaan anggaran negara di lingkungan institusi pendidikan kesehatan.Forum Guru NTT: Pengembalian Uang Bukan Alasan Hentikan Proses HukumTerpisah, Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA. (JK), menegaskan bahwa pengembalian atau penitipan uang sebesar Rp200 juta kepada Kejari bukan alasan untuk menghentikan proses hukum.“Pengembalian kerugian negara bukan berarti perkara pidana otomatis berhenti. Proses hukum harus tetap berjalan sampai ada kepastian hukum,” tegas JK.Ia menambahkan, tindak pidana korupsi, khususnya yang berkaitan dengan anggaran pendidikan dan kesehatan, tidak boleh ditoleransi dalam bentuk apa pun.“Untuk pelanggaran ringan mungkin masih bisa ada pertimbangan tertentu. Tetapi untuk kejahatan korupsi, apalagi menyangkut anggaran pendidikan dan kesehatan, tidak boleh ada toleransi,” ujarnya.JK juga menekankan bahwa Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu provinsi dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah membutuhkan penegakan hukum yang tegas dan konsisten, agar tidak membuka ruang bagi praktik serupa di masa mendatang.Kejari Kota Kupang menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan penyidikan kepada masyarakat sesuai dengan progres penanganan perkara.
SUMBA BARAT DAYA – Pelabuhan Waikelo, Selasa 10 Februari 2026Di atas Kapal Ridho Illahi, yang bersiap berlayar dari Pelabuhan Waikelo menuju Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Siletsumba.com melakukan wawancara eksklusif dengan Mandor Koordinasi Pelabuhan Waikelo, Fendy, yang akrab disapa Bapak Diva.Wawancara ini berlangsung di tengah aktivitas nyata buruh pelabuhan yang terus bekerja memuat pisang, durian, alpukat, serta ternak kambing ke atas kapal. Pemandangan tersebut menegaskan bahwa jalur laut Waikelo–Sape bukan sekadar lintasan kapal, melainkan urat nadi distribusi hasil bumi dan peternakan dari Sumba Barat Daya ke wilayah Bima, NTB, dan sekitarnya.Kepada jurnalis Siletsumba.com, Bapak Diva menjelaskan bahwa proses bongkar muat menuju Pelabuhan Sape membutuhkan koordinasi ketat, mengingat muatan yang dibawa bersifat hidup dan mudah rusak.“Buah-buahan dan ternak ini harus ditangani cepat dan aman. Kalau terlambat atau salah penanganan, risikonya besar,” ujar Bapak Diva di atas Kapal Ridho Illahi.Ia menambahkan, buruh bekerja di bawah tekanan waktu keberangkatan kapal, kondisi cuaca laut, serta keterbatasan fasilitas. Meski demikian, mereka tetap menjadi penopang utama kelancaran distribusi logistik antarprovinsi.Pelabuhan Waikelo selama ini menjadi salah satu pintu utama pengiriman hasil pertanian dan peternakan dari Sumba Barat Daya menuju Sape–Bima, NTB. Namun di balik lancarnya arus komoditas tersebut, kesejahteraan dan keselamatan buruh masih membutuhkan perhatian serius.Wawancara eksklusif Siletsumba.com di atas Kapal Ridho Illahi ini kembali menegaskan satu hal: kemajuan distribusi laut harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap manusia yang menggerakkannya.
Lamboya | Sumba Barat | 10 Februari 2026Pasola Lamboya kembali berdarah.Bukan kuda, bukan penonton biasa—kali ini Rato Sodana, penjaga sakralnya adat, yang tumbang dihantam batu.Di tengah riuh sorak dan debu arena Pasola, batu melayang liar. Satu hantaman mengenai wajah sang Rato. Darah mengalir. Panik pecah. Pasola yang mestinya suci seketika berubah menjadi panggung kekacauan.Korban langsung dievakuasi dan kini dirawat intensif di RSUD Waikabubak. Kondisinya mendapat pengawasan ketat tim medis.Ironi telanjang.Adat dijunjung tinggi dalam kata, tapi dikhianati oleh tindakan. Batu berbicara lebih keras dari nilai budaya. Lemparan demi lemparan kembali menjadi wajah Pasola yang tak pernah benar-benar disembuhkan.Warga yang menyaksikan menyebut situasi sudah memanas sejak pertengahan acara. Namun pengendalian lemah, pembiaran terjadi, hingga akhirnya tokoh adat sendiri menjadi korban.Ini bukan kejadian pertama. Setiap tahun Pasola menyisakan luka, namun evaluasi selalu setengah hati. Hari ini, adat bukan hanya tercoreng—ia berdarah.Pertanyaan tajam menggantung di udara Lamboya:Pasola mau dijaga, atau dibiarkan terus memakan korban?Hingga berita ini diturunkan, belum ada sikap tegas dari pihak berwenang terkait insiden tersebut.
Waingapu 10 - 12 Februari 2026Bacaan Alkitab: 1 Korintus 14:40Pdt. Yakub Malo Bili, S.Th., M.Pd.Sekretaris Umum Sinode GKSShalom.Shalom sejahtera bagi kita semua.Kita berkumpul pada hari ini bukan sekadar untuk membahas pasal demi pasal atau ayat demi ayat dalam tata gereja. Lebih dari itu, kita berhimpun untuk meneguhkan kembali identitas kita sebagai gereja Tuhan di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat. Kita hadir sebagai pelayan-pelayan yang dipanggil Allah untuk menjaga kesetiaan gereja-Nya hadir di atas dunia—bukan hanya pada masa lalu yang kita syukuri, tetapi juga pada masa depan yang sedang kita masuki.Rasul Paulus mengingatkan, “Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33). Karena itu ia menegaskan, “Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40). Ketertiban dalam kehidupan jemaat bukan semata-mata persoalan administratif, melainkan pengakuan iman bahwa Allah adalah Allah yang hadir, memimpin, dan bekerja di tengah umat-Nya. Tata gereja menjadi sarana agar kehidupan bergereja berlangsung dalam suasana damai, keadilan, dan tanggung jawab bersama.Gereja mula-mula memberi teladan yang sangat kuat bagi kita. Dalam Kisah Para Rasul 2:42, jemaat digambarkan sebagai umat yang bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Ketekunan itu tidak berlangsung secara liar, melainkan dalam pola hidup bersama yang terarah. Bahkan ketika persoalan muncul—baik ketidakadilan dalam pelayanan diakonia (Kisah Para Rasul 6) maupun perbedaan teologis yang serius (Kisah Para Rasul 15)—gereja tidak menghindar. Mereka duduk bersama, berdoa, berdialog, dan mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Dari sanalah kita belajar bahwa tata gereja lahir dari kebutuhan iman dan pelayanan.Secara teologis, gereja adalah ekklesia—umat yang dipanggil keluar untuk hidup dalam terang Kristus dan sekaligus diutus kembali ke dunia. Tata gereja berfungsi sebagai penjaga kesetiaan Injil dan penuntun praksis pelayanan. Tanpa tata yang jelas, gereja mudah terjebak dalam subjektivisme dan kekacauan; sebaliknya, dengan tata yang kaku dan tidak diperbarui, gereja kehilangan daya hidup. Karena itu gereja perlu terus bertanya: apakah tata gereja yang kita miliki sungguh menolong jemaat bertumbuh dan Injil diberitakan dengan setia?Di sinilah prinsip Reformasi yang digaungkan Martin Luther menemukan relevansinya:Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum verbum Dei—gereja yang telah diperbarui harus terus-menerus diperbarui menurut Firman Allah. Pembaruan bukanlah pengkhianatan terhadap iman, melainkan upaya menjaga kesetiaan yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Amandemen tata gereja adalah tindakan iman yang rendah hati: pengakuan bahwa rumusan manusia selalu terbatas, sementara karya Allah terus bergerak melampaui zaman.Tantangan pelayanan gereja masa kini tidaklah ringan. Kita hidup di tengah gempuran teknologi, arus informasi yang deras, dan perubahan budaya yang sangat cepat. Media digital dapat menjadi sarana kesaksian, tetapi juga ruang kebisingan rohani. Pengalaman masa pandemi Covid-19 membuka mata kita semua: gereja harus beribadah dari rumah, menggunakan masker, memanfaatkan media sosial. Tiba-tiba kita menjadi content creator—berkhotbah di hadapan kamera tanpa jemaat yang hadir secara fisik, mengirim khotbah dan liturgi melalui media daring. Pengalaman ini menegaskan bahwa gereja membutuhkan tata gereja yang bukan hanya reaktif, tetapi visioner—tata gereja yang mampu memproyeksikan kebutuhan pelayanan di masa depan yang lajunya tidak dapat dibendung.Seluruh percakapan tentang amandemen sesungguhnya berangkat dari pengalaman pelayanan kita sendiri. Kita tahu bahwa menjadi pendeta bukanlah perkara mudah. Di balik rutinitas ibadah, sakramen, rapat, dan kunjungan pastoral, ada kelelahan, tekanan batin, pergumulan pribadi, dan beban rumah tangga yang sering dipikul dalam diam. Jemaat kerap mengharapkan pelayan yang selalu kuat dan segar, padahal pelayan tetaplah manusia yang rapuh. Karena itu gereja memerlukan tata gereja yang adil dan bijaksana—yang bukan hanya mengatur jemaat, tetapi juga menyediakan perlindungan dan kepastian hukum bagi pelayan, baik ketika masih aktif, saat sakit, maupun ketika memasuki masa emeritasi.Dalam kerapuhan itulah kita belajar berseru, “Tuhan, tinggallah bersama kami.” Kita mengakui bahwa kita tidak selalu kuat, tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, dan tidak selalu siap menghadapi perubahan. Namun penyertaan Tuhan nyata: Ia memberi kekuatan ketika kita lemah, hikmat ketika kita bimbang, dan pembelaan ketika kita setia berjalan dalam panggilan-Nya. Tata gereja yang kita amandemen harus mencerminkan pengakuan iman ini—bahwa pelayanan gereja digerakkan bukan oleh kehebatan manusia, melainkan oleh kasih karunia Allah.Momentum lokakarya ini menjadi semakin bermakna karena kita memulainya di tengah peringatan 79 tahun Sinode GKS berdiri dengan nama Sinode GKS, serta 145 tahun Injil hadir di tanah Sumba. Ini bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan kesempatan rohani untuk menyiapkan masa depan gereja. Amandemen tata gereja dimaksudkan untuk memuat hal-hal yang belum terwadahi, menyediakan payung hukum yang dibutuhkan, serta memproyeksikan kebutuhan gereja seiring kemajuan zaman, agar Injil tetap diberitakan dengan setia dalam konteks yang terus berubah.Namun satu hal harus kita pegang teguh: apa yang kita gagas hari ini bukan untuk kita dan bukan tentang kita. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Tata gereja, struktur, dan amandemen tidak dimaksudkan untuk membesarkan nama manusia, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan dan menolong gereja-Nya setia pada panggilan Injil di atas dunia ini.Kiranya lokakarya ini menjadi ruang diskusi yang hidup—tempat Firman Tuhan, tradisi gereja, pengalaman pelayanan, dan tantangan zaman saling berdialog. Kita hadir bukan sebagai pemilik gereja, melainkan sebagai penatalayan rahasia Allah (1 Korintus 4:1–2). Semoga setiap percakapan dan keputusan yang kita ambil menolong GKS menjadi gereja yang tertib dalam hidup berjemaat, setia pada teladan gereja mula-mula, peka terhadap zaman, dan teguh memuliakan Kristus saja.Kiranya Roh Kudus memimpin kita semua.Amin.🙏🙏
WAINGAPU, 10 - 12 Februari 2026— Sekretaris Umum Gereja Kristen Sumba (GKS), Pdt. Jack Bili, S.Th, M.Pd memimpin ibadah pembukaan lokakarya amandemen tata Gereja GKS diikuti oleh semua pendeta GKS yang digelar di Kampus Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina), Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.Lokakarya berlangsung selama tiga hari, 10–12 Februari, bertempat di Aula Lantai 3 Kampus Unkriswina, dan dihadiri oleh seluruh pendeta GKS dari berbagai wilayah pelayanan di Pulau Sumba.Kegiatan ini menjadi ruang refleksi, penguatan pelayanan, serta menyamakan persepsi gereja dalam menjawab tantangan pelayanan di tengah perubahan sosial dan dinamika jemaat. Kehadiran para pendeta secara penuh menegaskan komitmen GKS dalam membangun pelayanan yang kontekstual, relevan, dan berpihak pada kehidupan umat.Lokakarya ini juga memperkuat sinergi antara gereja dan lembaga pendidikan Kristen sebagai mitra strategis dalam membangun iman, karakter, dan masa depan masyarakat Sumba.
Stepanus Umbu Pati