Redaksi Silet Sumba
Penulis: Redaksi Silet Sumba
16 October 2025 - 00:04 WITA

Suara Lantang Adolof Dapa Roka di Perbatasan: "Konflik Ini Terjadi Karena SDM Kita Sangat Minim!"

Suara Lantang Adolof Dapa Roka di Perbatasan: "Konflik Ini Terjadi Karena SDM Kita Sangat Minim!"
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Sumba Barat Daya, siletsumba.com - Di tengah prosesi formal penegasan batas wilayah yang dihadiri oleh Bupati dan aparat keamanan, sebuah suara lantang dari seorang pemuda berhasil mencuri perhatian dan menggeser fokus diskusi dari sekadar garis demarkasi ke akar persoalan yang lebih dalam: kualitas sumber daya manusia (SDM).

Adalah Adolof Dapa Roka, S.Kep., Ns, seorang pemuda yang mewakili suara generasinya, yang maju ke depan dalam acara mediasi antara Desa Wee Kurra dan Desa Weri Lolo pada Jumat (10/10/2025). Dalam pidatonya yang tajam dan menggugah, ia dengan tegas menyatakan bahwa konflik perbatasan yang telah lama terjadi sesungguhnya adalah masalah sepele yang lahir dari miskomunikasi.

"Sebenarnya ini hal sepele, miskomunikasi. Andai kata dibicarakan dengan baik, tentu kita tidak merepotkan pemerintah dan keamanan yang punya banyak pekerjaan demi kemajuan kita bersama," ujar Adolof dengan penuh semangat.

Adolof, yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Keperawatan dan Ners (S.Kep., Ns), secara berani mendiagnosis "penyakit sosial" yang sesungguhnya menjadi biang keladi pertumpahan darah di wilayahnya. Menurutnya, akar masalah dari konflik horizontal yang kerap terjadi bukanlah sengketa lahan semata, melainkan rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia.

"Justru karena Sumber Daya Manusia yang sangat minim, sehingga banyak masyarakat kadang karena masalah sepele harus bertumpah darah. Betul tidak?" tanyanya retoris kepada hadirin.

Ia kemudian memberikan sebuah analogi kuat tentang pilihan hidupnya. Daripada bekerja di rumah sakit atau puskesmas yang memberinya keuntungan pribadi, ia memilih untuk mengorbankan masa depannya demi terjun ke dunia pendidikan di kampungnya. Baginya, menyembuhkan satu pasien tidak akan menyelesaikan masalah, sementara mendidik masyarakat adalah upaya menyembuhkan penyakit komunal yang sesungguhnya.

"Saya korbankan masa depan saya sendiri demi kemajuan. Daripada membenahi satu wilayah, (jika) Sumber Daya Manusia-nya rendah?" tegasnya, menyiratkan bahwa pembangunan tanpa pendidikan adalah kesia-siaan.

Penyampaiannya ditutup dengan sebuah harapan besar agar kehadiran pemerintah di perbatasan tidak hanya sebatas menyelesaikan sengketa, tetapi juga membangun fasilitas-fasilitas penting seperti pos polisi, pos Kodim, dan yang terpenting, sarana pendidikan untuk mengangkat derajat masyarakat.

"Kami sebagai pemuda adalah garda terdepan untuk kemajuan Sumba Barat Daya. Kemajuan itu yang kami rindukan," pungkasnya.

Interupsi kritis dari Adolof Dapa Roka ini menjadi pengingat keras bahwa perdamaian permanen di perbatasan tidak cukup hanya dengan selembar peta dan tanda tangan. Tanpa investasi serius pada pendidikan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, api konflik akan selalu mudah tersulut dari masalah-masalah yang seharusnya dapat diselesaikan di meja perundingan.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.