Dari Ruang Kelas Kambing Menuju Kesuksesan Pemimpin TikTok”Tambolaka – Sumba Barat Daya
Katewel, siletsumba.com - Di tengah gemerlapnya tayangan kesuksesan pemerintah dan institusi hukum yang memenuhi ruang-ruang media sosial—dari TikTok, Instagram, hingga Facebook—tersimpan sebuah potret ironi dari sudut kecil Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Jauh dari sorotan kamera dan tepuk tangan netizen, realitas pendidikan justru menampilkan wajah yang jauh berbeda.
Di SMP Negeri 2 Kecamatan Laura, sekumpulan kambing terlihat bebas berkeliaran dan bahkan “menguasai” ruang-ruang kelas yang seharusnya menjadi pusat pembentukan karakter dan moral generasi masa depan. Ruang belajar, yang semestinya menjadi simbol penerapan nilai kebenaran, integritas, dan akhlak bagi siswa, kini justru menjadi kandang dadakan.
Pemandangan itu menampar kesadaran publik: sementara para pemimpin tampak sibuk menunjukkan prestasi digital mereka, hewan ternak justru memiliki “akses” lebih luas terhadap fasilitas pendidikan dibandingkan pelajar yang seharusnya menjadi subjek utama pembangunan bangsa.
Beberapa warga sekitar menyebut ini sebagai metafora paling jujur tentang kondisi tata kelola pendidikan dan pengawasan di daerah.
“Kalau kambing sudah belajar di kelas, berarti ada yang tidak beres dengan pemimpin yang seharusnya menjaga sekolah,” ujar salah satu warga dengan nada satir.
Dalam narasi yang berkembang, kambing-kambing itu seolah sedang “belajar moralitas” dari para pemimpinnya — pemimpin yang lebih sibuk tampil di layar ponsel ketimbang memastikan ruang belajar anak bangsa layak digunakan.
Dari ruang kelas yang dibiarkan kosong dan tak terurus, kita melihat kontras yang mencolok dengan kesuksesan pemimpin yang viral di TikTok. Sebuah kesuksesan yang menghimpun jutaan tanda suka, namun gagal menyentuh persoalan nyata di lapangan.
Berita ini bukan sekadar tentang kambing di ruang kelas. Ini tentang kegagalan memastikan bahwa setiap anak di pelosok negeri mendapatkan hak dasar atas pendidikan yang bermartabat. Tentang bagaimana citra digital bisa membungkam persoalan nyata, dan bagaimana simbol-simbol kecil seperti tumpukan kotoran kambing di ruang kelas menggambarkan jurang besar antara realitas dan retorika.
Pada akhirnya, biarkan publik yang menilai:
Apakah kita sedang membangun masa depan pendidikan,
atau sekadar membangun panggung kesuksesan di TikTok?