Hero Image
Pengambilan Pasir di Kodi Diatur Prosedur Resmi, Wajib Kantongi Surat Rekomendasi Desa

Masyarakat di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), diimbau untuk memahami dan mematuhi prosedur resmi terkait pengambilan material pasir. Aktivitas tersebut tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan telah diatur melalui mekanisme administrasi desa untuk memastikan ketertiban dan prioritas penggunaan.​EdukASI ini penting untuk meluruskan pemahaman di masyarakat bahwa pengambilan pasir bukanlah aktivitas ilegal, melainkan aktivitas yang diatur (diregulasi) secara ketat demi kepentingan bersama.​Berdasarkan informasi yang dihimpun, aturan ini diberlakukan untuk mendahulukan kepentingan sosial, adat, dan keagamaan di atas kepentingan komersial atau pribadi.​Berikut adalah alur dan prosedur resmi yang wajib diketahui masyarakat:​1. Wajib Memiliki Surat RekomendasiSetiap warga atau pihak yang membutuhkan pasir diwajibkan untuk terlebih dahulu mengurus Surat Rekomendasi atau Surat Izin di Kantor Desa setempat. Tanpa surat ini, layanan pengambilan pasir tidak akan diberikan.​2. Mencantumkan Detail KendaraanSurat permohonan tersebut harus mencantumkan detail yang jelas, termasuk nama sopir yang bertanggung jawab dan plat nomor kendaraan (truk) yang akan digunakan untuk mengangkut material.​3. Prioritas Hanya untuk Sosial dan AdatPoin terpenting dari aturan ini adalah peruntukannya. Pemerintah desa hanya akan mengeluarkan izin untuk dua keperluan utama, yaitu:​Keperluan Duka: Seperti untuk prosesi adat atau pembuatan batu kubur.​Pembangunan Rumah Ibadah: Untuk gereja, masjid, atau tempat ibadah lainnya.​4. Tidak untuk Kepentingan Pribadi atau ProyekDengan tegas, layanan ini tidak berlaku untuk pembangunan rumah pribadi ataupun untuk keperluan proyek komersial. Permohonan untuk kedua kategori ini dipastikan akan ditolak.​Aturan ini diberlakukan untuk memastikan pengelolaan sumber daya yang adil dan bijak. Di lapangan, aktivitas ini juga melibatkan biaya material dan transportasi. Informasi dari warga menyebutkan total biaya pasir beserta transportasi (satu rit truk) bisa mencapai sekitar Rp 1,5 juta, yang mencakup biaya jasa para pekerja—seperti yang terlihat dalam video perjuangan seorang ibu yang menyekop pasir—dan biaya operasional kendaraan.​Masyarakat Sumba Barat Daya diharap dapat menghormati aturan yang berlaku ini demi ketertiban bersama dan untuk menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. (***)

6 bulan yang lalu
Hero Image
Mantan Wartawan Victory News dan TIMEX Marthen Bora Kepala Desa Bolora Telah Berpulang dengan Tiba-Tiba😭😭

Masyarakat Desa Bolora, Kecamatan Wewewa Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, tengah berduka atas kepergian Kepala Desa Bolora, Marthen Bora. Mantan wartawan Victory News dan TIMEX ini meninggal dunia secara mendadak pada hari Rabu, 12 November 2025, diduga akibat serangan jantung. Kepergian almarhum mengejutkan keluarga dan warga desanya, meninggalkan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.Oktavianus Dappa Malo, sepupu kandung almarhum, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, Marthen Bora masih sempat melayani permintaan masyarakat terkait tanah sertu. "Saat itu, almarhum mengeluh sakit kepala bagian belakang, kemudian pingsan sekitar pukul 10:00 WITA," ujarnya. Almarhum segera dilarikan ke RSUD Waikabubak oleh aparat desa dan keluarga. Namun, sekitar 30 menit kemudian, pihak rumah sakit menginformasikan bahwa Marthen Bora telah meninggal dunia. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang putra, salah satu Putra masih berusia 1 bulan 8 hari.Kepergian Marthen Bora dirasakan sebagai kehilangan besar oleh masyarakat Desa Bolora. Selain dikenal sebagai kepala desa, almarhum juga diingat sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat dan memiliki kontribusi positif bagi pembangunan desa. Duka mendalam menyelimuti keluarga, kerabat, dan seluruh warga Desa Bolora yang merasa kehilangan sosok pemimpin dan pelayan masyarakat.

6 bulan yang lalu
Hero Image
PENYELENGGARA MBG BUKA SUARA: Yayasan Tana Manda Sumba Akui Lalai dan Sampaikan Permohonan Maaf

Di tengah sorotan tajam publik pasca insiden keracunan massal, pihak penyelenggara Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya akhirnya angkat bicara.Dalam konferensi pers yang digelar Selasa (11/11/2025) malam, Yayasan Tana Manda Sumba—selaku mitra lokal Badan Gizi Nasional (SPPG)—secara terbuka mengakui adanya kelalaian dalam operasional mereka dan menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada seluruh korban dan keluarga."Ini Kelalaian Kami, Kami Minta Maaf"Didampingi ahli gizi dari Dapur Mandiri, Ketua Yayasan Tana Manda Sumba Pak Adam Mone membenarkan telah menerima laporan insiden tersebut dari Kepala Sekolah SMA Manda Elu pada Selasa pagi."Atas kejadian itu, kami... saya selaku mitra Badan Gizi, Ketua Yayasan Tana Manda Sumba, mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada adik-adik kita yang menjadi korban, juga kepada keluarga besar SMA Manda Elu, Alfonsus, dan semua sanak saudara," ujarnya dengan nada serius.Ia tidak mengelak dari tanggung jawab dan secara gamblang menyebut insiden ini sebagai kesalahan internal."Kami sudah kerja berdasarkan SOP, juknis, tapi itulah kelemahan kami. Ini adalah kelalaian kami, dan ini akan menjadikan kami untuk introspeksi... Kami akan mengevaluasi secara total pelayanan kami," tegasnya.Pihak yayasan juga menyatakan bahwa prioritas utama mereka adalah penanganan korban, dan menyebutkan bahwa sebagian besar siswa telah dipulangkan.Terungkap: Ayam Berasal dari Luar SumbaDalam kesempatan yang sama, Ahli Gizi Dapur Mandiri, Gusti , membeberkan kronologi dan menu yang disajikan pada hari Senin (10/11).Menu tersebut terdiri dari nasi putih, ayam bumbu kuning, tahu goreng, sayur tumis (wortel, buncis, labu siam), dan pisang mas.Gusti menjelaskan, bahan baku diterima pada Minggu pukul 16.00 WITA. Daging ayam kemudian diolah (direbus/diungkap) dan didiamkan sebelum digoreng dan dibumbui pada Senin dini hari pukul 02.00 WITA. Makanan didistribusikan ke sekolah sekitar pukul 12.00 WITA dan disantap siswa pukul 13.00 WITA.Fakta krusial terungkap saat ditanya mengenai asal usul ayam, yang oleh para siswa disebut "bau basi"."Itu ayam beku. Itu (berasal) dari luar Sumba," jelas Gusti.Ia beralasan, penggunaan ayam beku dari luar pulau terpaksa dilakukan karena adanya kekurangan stok ayam lokal di Sumba Barat Daya. "Kami juga kekurangan stok ayam lokal. Mau tidak mau, kita harus pakai ayam frozen," katanya.Pihak yayasan mengklaim telah melakukan pengecekan kelayakan sebelum mengolah bahan baku tersebut, namun berjanji akan melakukan evaluasi total agar kejadian ini tidak terulang.

6 bulan yang lalu
Hero Image
KONDISI MEMBURUK! Alami Sesak Napas, Satu Siswa SMA Alfonsus Dilarikan ke RSUD Waikabubak

Penanganan kasus dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) memasuki babak baru. Seorang siswi dari SMA Alfonsus terpaksa harus dirujuk dari Puskesmas Watu Kawula ke RSUD Waikabubak, Sumba Barat, pada Selasa (11/11/2025), karena kondisinya dinilai memburuk dan mengalami sesak napas.Langkah rujukan darurat ke luar daerah ini mengindikasikan dua kemungkinan: kondisi siswa yang kritis sehingga memerlukan penanganan khusus, atau fasilitas kesehatan di SBD (RS Karitas dan RSU Reda Bolo) sudah tidak mampu menampung lonjakan pasien.Dalam rekaman video dan foto yang diperoleh siletsumba.com, siswa tersebut tampak terbaring lemas di atas brankar dengan selang infus terpasang di tangannya. Seorang tenaga medis perempuan dengan sigap mendampingi dan memberikan penanganan di dalam ambulans."Ini salah satu pasien, siswa SMA Alfonsus, yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Waikabubak, Sumba Barat," ujar seorang pria dalam rekaman video tersebut.Perekam video juga menegaskan bahwa siswa ini adalah bagian dari insiden keracunan massal yang terjadi."Korban makanan bergizi gratis (MBG). Korban mengalami sesak napas, sehingga ada penanganan lebih lanjut dari dokter untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Waikabubak," jelasnya.Insiden ini mengonfirmasi bahwa korban tidak hanya berasal dari SMA Manda Elu, tetapi juga menimpa siswa dari SMA Alfonsus. Evakuasi siswa ini dari Puskesmas Watu Kawula diawasi langsung oleh beberapa orang yang mengenakan seragam berlogo "ALFONSUS".Dirujuknya korban hingga ke kabupaten tetangga menunjukkan parahnya dampak dari insiden keracunan ini, yang sebelumnya telah membuat RSU Reda Bolo dan RS Karitas kewalahan hingga merawat puluhan siswa di lantai koridor.

6 bulan yang lalu
Hero Image
INVESTIGASI SILET SUMBA | Kesaksian Pilu Siswa Korban MBG: "Dagingnya Bau Basi, Tapi Tetap Dimakan... Karena Lapar Sekali

Di antara puluhan siswa yang terbaring lemah di fasilitas kesehatan, sebuah cerita tragis yang seragam muncul sebagai benang merah. Kesaksian para siswa korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) tidak hanya konsisten, tetapi juga mengungkap sebuah ironi yang menyayat hati.Mereka tahu makanan itu bermasalah. Namun, rasa lapar mengalahkan segalanya."Bau Basi... Tapi Lapar Sekali"Pertanyaan terbesar dari insiden ini adalah: mengapa makanan yang diduga basi tetap dikonsumsi? Jawaban dari para siswa melukiskan gambaran yang pilu."Daging ayamnya... tercium bau. Bau. Tapi tetap makan," tutur Rosalinda Eselranda Gesi, siswi kelas 10 SMA Manda Elu, saat ditemui di RS Karitas, Selasa (11/11).Saat ditanya mengapa ia nekat memakannya, Rosalinda terdiam sejenak. "Gara-gara kita mau pulang... lapar sekali," ucapnya lirih.Ia mengaku sempat ragu, namun teman-temannya meyakinkan bahwa itu bukan masalah besar. "Teman-teman bilang hanya bumbunya saja yang bau, tidak ayam," tambahnya.Kesaksian Rosalinda adalah cerminan dari puluhan siswa lainnya. Ayu A.S., siswi lain dari sekolah yang sama, membenarkan temuan itu. "Menunya ada nasi, ayam, sayur... Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan," ujar Ayu.Kesaksian Seragam: Ayam dan Sayur BasiBukan hanya satu atau dua siswa, keluhan ini bersifat massal dan spesifik. Para siswa dari berbagai lokasi perawatan memberikan keterangan yang identik.Arto Kandunu, siswa SMA Manda Elu yang dirawat di RSU Reda Bolo, mengatakan hal yang sama. "Yang kami makan kemarin itu agak bau basi dagingnya. Daging ayam," katanya.Bahkan, Kiren Jessica Goreti Tana, yang dirawat di RS Karitas, menyebut bukan hanya ayam yang bermasalah. "Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren, yang pingsan di sekolah paginya.Gejala Tertunda: Menderita Sepanjang MalamPola keracunan ini juga menunjukkan keseragaman. Para siswa tidak langsung tumbang. Mereka mengonsumsi makanan pada Senin siang, namun gejala baru meledak pada Senin malam hingga Selasa pagi."Mulai keracunan dari tadi malam... jam 2," jelas Arto Kandunu.Wita Inakenda, siswi SMA Manda Elu yang terbaring di ranjang RSU Reda Bolo, juga mengonfirmasi. "Sudah rasa dari kemarin itu," katanya. Ia mengaku tetap memaksakan diri ke sekolah meski sudah merasa sakit perut sejak malam.Bagi Ayu, gejala puncaknya terjadi di sekolah. "Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," ceritanya.Kompilasi kesaksian yang seragam dari puluhan siswa ini menunjuk pada satu sumber masalah: kualitas makanan MBG yang mereka terima pada hari Senin. Fakta bahwa para siswa tetap memakan hidangan yang sudah berbau basi "karena lapar" menambah lapisan tragedi pada insiden yang kini menimpa 95 siswa di Sumba Barat Daya.

6 bulan yang lalu
Hero Image
DAMPAK MELUAS! Korban Keracunan MBG Diduga Juga dari SMA Alfonsus, RSU Reda Bolo Kewalahan, Siswa Dirawat di Lantai

Dampak kasus dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat Daya (SBD) ternyata jauh lebih luas dari laporan awal. Selain puluhan siswa SMA Manda Elu, data di lapangan menunjukkan adanya siswa dari SMA Alfonsus yang turut menjadi korban dan dievakuasi ke RSU Reda Bolo.Kondisi di fasilitas kesehatan kini dilaporkan kewalahan. Puluhan siswa terpaksa dirawat di matras darurat yang digelar di lantai koridor rumah sakit karena keterbatasan tempat tidur.Evakuasi Dramatis, RS KewalahanPantauan siletsumba.com dari sejumlah video yang diterima, RSU Reda Bolo di Tambolaka telah dipenuhi oleh siswa-siswi yang masih mengenakan seragam OSIS. Banyak dari mereka terbaring lemah di matras seadanya di lantai, dengan tiang infus berdiri di samping mereka.Para guru dan petugas medis tampak sibuk mendata dan memberikan penanganan pertama. Dalam salah satu rekaman, seorang narator menyebutkan bahwa guru-guru sedang mendata siswa dari SMA Alfonsus yang ikut menjadi korban.Sementara itu, di RS Karitas, rekaman video menunjukkan detik-detik evakuasi yang dramatis. Sejumlah siswa, termasuk yang dalam kondisi pingsan atau lemas total, diangkut menggunakan mobil bak terbuka (pickup L300). Mereka kemudian digotong oleh para guru dan warga untuk segera dimasukkan ke ruang IGD."Lebih Baik Makan Ubi, Asal Sehat!"Di tengah kepanikan, suara protes dari orang tua korban semakin kencang. Noviana Lende, ibu dari siswi bernama Maria Klemensia Tika, menuntut program MBG dihentikan dan dialihkan untuk biaya pendidikan."Dialihkan ke sekolah gratis, lebih bagus, lebih aman!" serunya dengan nada geram di RSU Reda Bolo."Buat apa kita makan makanan bergizi tapi anak-anak kami jadi korban? Mendingan dia makan ubi, dia makan nasi jagung, terus dia sehat, lebih bagus!" tegas Noviana.Ia juga menuntut agar proses pengolahan makanan diawasi ketat. "Cara masaknya, cara bersihnya itu harus perhatikan betul-betul!" tambahnya.Pengakuan Siswa: "Bau, Tapi Tetap Dimakan Karena Lapar"Kesaksian dari para siswa lain yang dirawat menguatkan dugaan bahwa makanan yang mereka konsumsi pada hari Senin (10/11) memang bermasalah.Rosalinda Eselranda Gesi, siswi kelas 10 SMA Manda Elu, mengaku bahwa daging ayam yang ia makan kemarin sudah berbau tidak sedap."Kemarin makan daging ayam... rasanya bau. Bau, tapi tetap makan," katanya saat diwawancarai di rumah sakit.Saat ditanya mengapa tetap memakannya, Rosalinda menjawab polos. "Gara-gara kita mau pergi... lapar sekali. Teman-teman bilang hanya bumbunya saja yang bau, tidak ayam," tuturnya.Ia mengaku gejala sakit perut mulai dirasakannya pada Senin malam. "Pas malam itu, sakit terus," ujarnya.Kesaksian serupa datang dari Wita Inakenda, siswi SMA Manda Elu lainnya. Ia mengaku sudah merasa sakit perut sejak Senin malam setelah mengonsumsi makanan tersebut."Sudah rasa dari kemarin itu. [Tapi] tetap paksa ke sekolah," ujarnya lirih sambil terbaring di ranjang perawatan dengan infus menancap di tangannya.Kesaksian yang konsisten dari para siswa menuntut investigasi serius terhadap pihak penyedia dan pengawas program MBG di Sumba Barat Daya.

6 bulan yang lalu
Hero Image
Suara Orang Tua Korban MBG: "Nyawa Tidak Dijual di Toko! Hentikan Saja, Lebih Baik Bayar Uang Sekolah Kami!"

Di tengah lantai dingin ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD), amarah, cemas, dan kekecewaan bercampur aduk. Para orang tua siswa SMA Manda Elu memadati koridor rumah sakit, menunggu kabar kondisi anak-anak mereka yang menjadi korban dugaan keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG).Bagi mereka, insiden yang menimpa 95 siswa ini bukan sekadar kelalaian, tapi sebuah bukti nyata kegagalan program yang mempertaruhkan nyawa.Suara paling lantang datang dari Rosalia Anastasia Nani. Dengan menahan tangis dan napas yang sesak oleh amarah, ia menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana, yang terbaring lemah."Anak saya makan [MBG] kemarin sore. Pulang sekolah dia mencret. Malam dia mencret lagi. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi!" ungkap Rosalia dengan nada tinggi, Selasa (11/11).Keke Puti cewaannya memuncak saat mengingat putrinya sudah mengeluhkan kondisi makanan tersebut sejak kemarin. Kiren, putrinya, membenarkan bahwa makanan yang ia terima sudah tidak layak konsumsi."Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," tutur Kiren lirih dari ranjang perawatan.Rosalia pun secara terbuka menyampaikan protes keras yang ditujukan langsung kepada pemerintah pusat, termasuk Presiden. Baginya, program MBG yang justru membahayakan anak-anak lebih baik dihentikan total."Saya minta Bapak Presiden! Saya minta semua pemerintah! Tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko!" serunya.Ia menawarkan solusi yang menurutnya jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat kecil seperti dirinya: alihkan anggaran MBG untuk membiayai pendidikan."Kalau mau kasih, tidak usah! Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin! Kami ini orang miskin. Ini nyawa anak ini, tidak gampang kita dapat di toko, ya!" tegasnya.Sentimen serupa disuarakan orang tua lainnya. Seorang ibu dari siswi bernama Ayu, yang juga turut menjadi korban, merasa panik dan kecewa. Menurutnya, jika penyedia tidak sanggup menjamin kualitas, program itu tidak seharusnya dipaksakan."Sebagai orang tua, agak kecewa juga," ujar ibu yang mengenakan baju pink tersebut. "Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak kalau sudah dapat ini sakit, kan kita orang tua juga panik."Sama seperti Rosalia, ia lebih memilih jaminan pendidikan gratis daripada program makanan yang berisiko."Mendingan lebih bagus uangnya itu dikasih lewat... sekolah gratis aja, daripada dikasih makanan bergizi," pungS kasnya.Bagi para orang tua ini, program yang niat awalnya baik kini telah berubah menjadi mimpi buruk. Mereka tidak lagi butuh makanan bergizi yang berujung racun; mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa sekolah dengan aman tanpa mempertaruhkan nyawa.

6 bulan yang lalu
Hero Image
Miris, 95 Siswa SMA Manda Elu di SBD Diduga Keracunan MBG; Gejala Muncul Sehari Setelah Konsumsi Makanan

Insiden dugaan keracunan massal kembali mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD), Selasa (11/11/2025). Sekitar 95 siswa dari SMA Manda Elu terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala mual, muntah, dan diare hebat.Uniknya, para siswa tidak langsung menunjukkan gejala. Keluhan sakit perut, mual, dan diare baru dirasakan secara massal pada malam hari dan puncaknya pada pagi hari ini, sehari setelah mereka mengonsumsi jatah MBG di sekolah.Para siswa yang terdampak kini tersebar dan mendapatkan penanganan medis intensif di tiga lokasi, yakni RS Karitas, RSU Reda Bolo, dan Puskesmas Watu Kawula.Kronologi KejadianBerdasarkan informasi yang dihimpun siletsumba.com dari sejumlah korban dan orang tua di rumah sakit, para siswa mengonsumsi jatah MBG pada hari Senin (10/11) sekitar pukul 13.00 - 13.30 WITA.Menu yang disajikan saat itu adalah nasi, ayam sambal, sayuran, dan buah pisang. Namun, sejumlah siswa mengaku sudah curiga dengan kondisi makanan yang mereka terima."Kami makan kemarin sekitar jam setengah dua," ujar Ayu A.S, salah seorang siswi SMA Manda Elu yang ditemui di IGD. "Menunya ada nasi, ayam, sayur, sama pisang. Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan."Keluhan mulai dirasakan para siswa pada waktu yang berbeda. Sebagian mulai merasa mual dan sakit perut pada Senin malam, sementara yang lain baru merasakannya pada Selasa pagi saat tiba di sekolah."Saya mulai rasa [sakit] dari tadi malam, tapi tetap paksa ke sekolah," kata Cika, siswi lainnya.Puncak kejadian terjadi pada Selasa pagi. Banyak siswa yang tumbang dan pingsan di sekolah setelah bolak-balik ke kamar mandi akibat diare dan muntah."Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," jelas Ayu.Melihat banyaknya siswa yang tumbang, pihak sekolah segera mengambil tindakan dan mengevakuasi para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.Jeritan Orang Tua: "Nyawa Tidak Dijual di Toko!"Insiden ini memicu kemarahan para orang tua siswa yang memadati ruang gawat darurat. Rosalia Anastasia Nani, salah satu orang tua, dengan nada geram menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana."Anak saya makan makanan gratis kemarin. Sorenya begitu dia pulang, dia mencret. Malam lagi dia mencret. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret lagi, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi," tutur Rosalia.Kiren, yang terbaring lemah, membenarkan bahwa makanan yang ia konsumsi kemarin dalam kondisi tidak layak."Makannya kemarin jam 1. Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren.Rosalia dengan tegas meminta pemerintah pusat, termasuk Presiden, untuk mengevaluasi total program MBG. Ia merasa program ini justru membahayakan nyawa anak-anak dan mengusulkan agar anggaran dialihkan untuk membebaskan biaya sekolah."Saya minta Bapak Presiden, tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko. Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin," serunya dengan emosional."Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak sudah sakit begini," timpal orang tua siswa lainnya yang juga menunggu di rumah sakit.

6 bulan yang lalu
Hero Image
Preman Dalam Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis di Puskesmas Watukawula

Siswa Keracunan Makanan Bergizi, Oknum Tak Dikenal Halangi Peliputan?Sejumlah siswa SMA Alfonsus dan SMA Manda Elu Waitabula dilarikan ke Puskesmas Watukawula, Rumah Sakit Karitas, dan RSUD Redabolo pada Selasa (11/11/2025) akibat dugaan keracunan makanan. Kejadian ini bermula setelah para siswa mengkonsumsi makanan bergizi gratis yang dibagikan pada Senin (10/11/2025) sekitar pukul 13.00 WITA. Beberapa jam kemudian, siswa mulai mengeluhkan sakit perut, perut kembung, dan diare.Situasi darurat terjadi pada Selasa pagi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Guru-guru dengan sigap membawa siswa yang mengalami gejala keracunan ke fasilitas kesehatan terdekat.Saat keluarga siswa dan sejumlah awak media hendak mengambil gambar kondisi siswa yang dirawat di Puskesmas Watukawula, diduga ada sekelompok oknum yang menghalangi. Awak media mencurigai identitas para oknum tersebut, mempertanyakan apakah mereka merupakan perawat atau pegawai puskesmas. Setelah dikonfirmasi kepada salah seorang perawat Puskesmas Watukawula, didapatkan jawaban bahwa mereka bukan bagian dari staf puskesmas.Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti keracunan massal tersebut. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab keracunan dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

6 bulan yang lalu
Hero Image
Lagi dan Lagi Siswa SMA Manda Elu Keracunan Makanan Bergizi Gratis

Waitabula, Sumba Barat Daya - Sejumlah siswa SMA Manda Elu di Waitabula, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilarikan ke Rumah Sakit Karitas dan RSUD Redabolo pada Senin, 10 November 2025. Mereka diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis yang disediakan sekolah.Menurut keterangan salah seorang siswa, Laura Ayu, yang menjadi korban, makanan yang dikonsumsi pada hari Senin, 10 November 2025 sekitar pukul 13:00 WITA terasa tidak segar. "Makanan yang dikonsumsi terasa basi. Daging ayam pedaging goreng rica-rica terasa basi juga," ujarnya.Laura Ayu menambahkan bahwa ia mulai merasakan mual dan sakit perut sejak malam hari. Meski demikian, ia tetap berusaha mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah pada pagi harinya. Namun, karena kondisi yang semakin memburuk, ia akhirnya bersama teman-temannya dilarikan ke Rumah Sakit Karitas dan RSUD Redabolo untuk mendapatkan pertolongan medis.Pihak sekolah dan instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian ini. Investigasi lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan makanan tersebut.

6 bulan yang lalu