“Setitik Nila Rusak Susu Sebelanga”, Profesionalisme Wasit dan Ketegasan Panitia Kini Dipertanyakan
Lapangan Rato dimmu, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA, NTT — Satu keputusan di lapangan kembali menjadi pemicu kegaduhan dalam Open Turnamen Camat Cup Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, Minggu (9/8/2026).
Laga yang mempertemukan Desa Weekombaka versus Desa Lolo Ole yang semestinya menjadi tontonan olahraga sekaligus ruang mempererat persaudaraan masyarakat justru harus dihentikan sementara setelah terjadi protes keras terhadap keputusan perangkat pertandingan.
Pepatah lama “gara-gara setitik nila, rusak susu sebelanga” seakan tepat menggambarkan situasi tersebut.
Yang menjadi sorotan bukan semata-mata hasil pertandingan. Persoalan utama justru berada pada keputusan wasit yang dinilai oleh pihak Lolo Ole tidak profesional dan memicu kontroversi.
Ketika Weekombaka mencetak gol ke gawang Lolo Ole, protes pun pecah. Manajer, pelatih, official, pemain hingga suporter Lolo Ole menyampaikan keberatan terhadap keputusan tersebut.
Situasi lapangan kemudian berubah gaduh.
Namun, satu hal penting perlu ditegaskan: tidak ada persoalan mendasar antara pemain kedua kesebelasan. Mereka datang untuk bertanding dan membawa nama desa masing-masing. Ketegangan justru muncul akibat keputusan perangkat pertandingan yang dipersoalkan.
WASIT JANGAN MENJADI SUMBER MASALAH
Pertanyaan publik kemudian mengarah kepada satu hal: sejauh mana profesionalisme perangkat pertandingan dalam turnamen ini benar-benar dijalankan?
Wasit memiliki kewenangan penuh di lapangan. Tetapi kewenangan tersebut harus berjalan bersama dengan integritas, objektivitas, keberanian mengambil keputusan dan kemampuan mengendalikan pertandingan.
Sebab ketika sebuah keputusan wasit menimbulkan protes massal hingga pertandingan harus dihentikan, maka panitia penyelenggara tidak bisa sekadar melihatnya sebagai keributan biasa.
Ini menyangkut kredibilitas turnamen.
Jika sebuah pertandingan harus berhenti karena keputusan yang dipersoalkan, maka publik berhak mendapatkan penjelasan: apa dasar keputusan tersebut, bagaimana aturan pertandingan diterapkan, dan siapa yang bertanggung jawab memastikan perangkat pertandingan bekerja secara profesional?
PANITIA JANGAN DIAM
Sorotan berikutnya tentu tertuju kepada panitia penyelenggara.
Turnamen Camat Cup bukan sekadar pertandingan sepak bola. Di dalamnya terdapat nama pemerintah kecamatan, desa-desa peserta, pemain, official dan masyarakat yang datang memberikan dukungan.
Karena itu, ketika terjadi persoalan serius di lapangan, panitia harus hadir memberikan kepastian, bukan membiarkan masyarakat terus bertanya-tanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pertandingan masih dihentikan sementara dan belum terdapat keputusan resmi dari panitia penyelenggara bersama perangkat wasit mengenai status gol maupun kelanjutan pertandingan.
Inilah yang kini ditunggu masyarakat.
Apakah pertandingan akan dilanjutkan?
Apakah keputusan wasit akan dievaluasi?
Bagaimana status gol yang diprotes?
Dan yang tidak kalah penting: apa langkah panitia agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada pertandingan berikutnya?
CAMAT: SPORTIVITAS HARUS DIJAGA
Camat Wewewa Barat, Enos Bali Ate, mengimbau seluruh pihak agar tetap menjaga sportivitas dan tidak memperkeruh keadaan.
Menurutnya, apabila terjadi kekeliruan dalam pertandingan, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui panitia penyelenggara sesuai mekanisme yang berlaku.
Sikap tersebut patut menjadi perhatian seluruh pihak. Sebab pertandingan sepak bola boleh panas, tetapi jangan sampai panasnya pertandingan berubah menjadi konflik antarmasyarakat.
Weekombaka dan Lolo Ole adalah bagian dari masyarakat yang sama. Mereka bukan musuh.
SILET SUMBA MENUNGGU JAWABAN PANITIA
Sepak bola seharusnya mengajarkan satu hal sederhana: menang dan kalah harus ditentukan oleh permainan yang adil.
Karena itu, persoalan laga Weekombaka versus Lolo Ole jangan dibiarkan menggantung.
Panitia penyelenggara harus memberikan penjelasan secara terbuka berdasarkan aturan pertandingan dan fakta di lapangan.
Jika memang wasit keliru, evaluasi harus dilakukan.
Jika keputusan wasit benar, jelaskan dasar aturannya.
Jika terjadi kesalahpahaman, luruskan secara terbuka.
Jangan sampai Camat Cup yang dibangun dengan semangat persaudaraan justru kehilangan marwah hanya karena satu keputusan yang tidak mampu dijelaskan secara transparan.
Silet Sumba akan terus memantau perkembangan persoalan ini dan memberikan ruang klarifikasi kepada panitia penyelenggara, perangkat pertandingan, manajemen Weekombaka maupun manajemen Lolo Ole.
Karena dalam olahraga, yang harus menang bukan hanya satu kesebelasan—tetapi juga SPORTIVITAS, KEADILAN DAN MARWAH PERTANDINGAN.