Rp4,5 Juta Per Desa, Bola Hanya Satu! Turnamen Camat Cup Wewewa Barat Disorot Tajam
Lapangan Rato dimmu, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA, SiletSumba.com – Pelaksanaan Turnamen Camat Cup Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, di Lapangan Rato Dimmu, Minggu (9/8/2026), menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Sorotan bukan terkait hasil pertandingan, melainkan kesiapan panitia dalam mengelola turnamen yang melibatkan banyak desa dan peserta.
Saat pertandingan Desa Weekombaka versus Desa Lolo Ole, sejumlah suara dan teriakan masyarakat terdengar dari pinggir lapangan. Kekecewaan tersebut diduga berkaitan dengan persoalan teknis pertandingan, terutama ketersediaan bola kaki.
Berdasarkan pantauan SiletSumba.com, para pemain harus menunggu cukup lama dalam situasi tertentu karena keterbatasan bola. Bahkan, informasi yang terpantau di lapangan menunjukkan bahwa hanya satu bola yang digunakan dalam pertandingan.
Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar.
Sebab, setiap desa peserta disebut telah membayar uang pendaftaran sebesar Rp4.500.000.
Jika jumlah peserta cukup banyak, publik tentu berhak mempertanyakan: ke mana dan untuk apa uang pendaftaran tersebut dialokasikan?
Apakah biaya pendaftaran hanya digunakan untuk kebutuhan administrasi dan hadiah, atau termasuk penyediaan sarana pertandingan seperti bola, perangkat pertandingan, keamanan, konsumsi, serta kebutuhan teknis lainnya?
Pertanyaan tersebut bukan bentuk tuduhan, melainkan pertanyaan publik yang wajar mengingat uang pendaftaran berasal dari peserta dan masyarakat desa.
Jangan Sampai Turnamen Besar, Persiapan Justru Minim
Turnamen Camat Cup seharusnya menjadi ajang olahraga yang mempertemukan masyarakat desa dalam semangat persaudaraan, sportivitas dan prestasi.
Namun, jika persoalan mendasar seperti ketersediaan bola saja menjadi kendala, maka panitia perlu melakukan evaluasi serius.
Jangan sampai nama besar Camat Cup hanya terdengar megah di spanduk dan pembukaan, tetapi pelaksanaan di lapangan justru menyisakan pertanyaan dan kekecewaan peserta.
Para pemain datang untuk bertanding. Desa mengeluarkan biaya untuk mengikuti kompetisi. Masyarakat datang memberikan dukungan.
Maka, panitia juga harus menunjukkan profesionalitas dalam penyelenggaraan.
Publik Berhak Mendapat Penjelasan
SiletSumba.com meminta panitia penyelenggara memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme pendaftaran peserta, jumlah desa yang telah mendaftar, besaran total dana yang terkumpul serta peruntukannya.
Transparansi penting agar tidak muncul persepsi liar di tengah masyarakat.
Apalagi jika setiap desa membayar Rp4.500.000, maka ketika jumlah peserta cukup banyak, total dana yang terkumpul tentu bukan angka kecil.
Pertanyaannya sederhana: uang pendaftaran untuk apa, dan fasilitas apa saja yang menjadi hak peserta?
Panitia tentu memiliki hak untuk menjelaskan seluruh persoalan tersebut secara terbuka kepada publik.
SiletSumba.com juga membuka ruang klarifikasi bagi panitia Turnamen Camat Cup Kecamatan Wewewa Barat apabila terdapat fakta atau informasi dalam pemberitaan ini yang perlu diluruskan.
SiletSumba.com: Olahraga Harus Menjadi Ruang Sportivitas, Bukan Ruang Kekecewaan
Turnamen sepak bola desa bukan sekadar pertandingan 90 menit. Di dalamnya ada uang desa yang dikeluarkan, ada pemain yang berlatih, ada masyarakat yang datang memberikan dukungan, dan ada nama baik desa yang dipertaruhkan.
Karena itu, penyelenggara wajib memastikan seluruh aspek pertandingan dipersiapkan secara layak.
Kalau peserta sudah membayar, maka pelayanan dan fasilitas pertandingan juga harus jelas.
Jangan sampai masyarakat akhirnya bertanya:
“Bayar Rp4,5 juta per desa, tetapi untuk bermain bola saja harus menunggu karena bolanya hanya satu?
Pertanyaan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bagi panitia Camat Cup Kecamatan Wewewa Barat untuk dijawab secara terbuka dan transparan.
SiletSumba.com – Tajam Mengungkap, Berimbang Memberita