Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
26 August 2026 - 08:35 WITA

Peternak Lokal Khawatir ASF Kembali Merebak, Yohanes Ngongo Soroti Rencana Masuknya Babi dari Luar Sumba

Peternak Lokal Khawatir ASF Kembali Merebak, Yohanes Ngongo Soroti Rencana Masuknya Babi dari Luar Sumba
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Sumba Barat Daya, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA, SILETSUMBA.COM — Rencana pemasukan ternak babi dari luar Pulau Sumba ke Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mendapat perhatian dari kalangan peternak lokal.

Hal tersebut disampaikan Yohanes Ngongo, yang akrab disapa Joni Maju Jaya, selaku Ketua Asosiasi Peternakan Unggas Kabupaten Sumba Barat Daya, setelah menghadiri pertemuan antara pemerintah daerah, peternak babi, dan pemasok ternak babi dari luar Sumba, Senin (24/8/2026).

Pertemuan tersebut dibuka oleh Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, S.T.

Yohanes menjelaskan bahwa dirinya hadir memenuhi undangan pemerintah daerah. Menurutnya, dalam pertemuan tersebut terdapat pandangan yang berbeda antara pihak pemasok ternak dari luar daerah dan peternak lokal.

“Yang hadir dari lima orang peternak babi yang diundang, hanya saya sendiri. Dalam diskusi tentu ada pro dan kontra. Ada yang suka dan ada yang tidak suka,” ujar Yohanes kepada awak media.

Ia menegaskan bahwa sikap keberatan peternak lokal bukan berarti menolak atau membenci pemasok ternak dari luar Sumba.

Kekhawatiran utama, kata dia, berkaitan dengan ancaman African Swine Fever (ASF) yang sebelumnya telah menyebabkan kerugian bagi peternak babi di Sumba Barat Daya.

Menurut Yohanes, ASF telah melanda Sumba Barat Daya sejak tahun 2020 dan hingga 2026 persoalan tersebut masih menjadi kekhawatiran di tengah masyarakat peternak.

“Alasan kami sebagai peternak tidak setuju bukan berarti kami tidak suka. Tetapi ada beberapa hal yang kami sampaikan kepada pemerintah, terutama karena virus ASF yang melanda Sumba Barat Daya sejak 2020 sampai sekarang masih menjadi persoalan,” katanya.

Peternak Tak Ingin Kerugian Terulang

Yohanes mengaku khawatir apabila pemasukan ternak babi dari luar daerah tidak dilakukan secara ketat sesuai prosedur, maka risiko penyebaran penyakit dapat kembali berdampak kepada peternak lokal.

Menurutnya, peternak kecil merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kerugian apabila terjadi kembali wabah penyakit pada ternak babi.

“Kekhawatiran kami jangan sampai terdampak virus ASF. Kasihan peternak lokal, terutama peternak-peternak kecil, kalau harus mengalami kerugian lagi. Kita berdoa bersama supaya jangan sampai ada lagi virus ASF,” ungkapnya.

Ia juga memahami bahwa pemasukan ternak dari luar daerah merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dan telah dibahas mengenai standar operasional prosedur (SOP).

Namun, Yohanes meminta agar implementasi SOP tersebut benar-benar diawasi secara ketat di lapangan.

Pemerintah Diminta Perketat Pengawasan

Yohanes menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya membangun kerja sama dengan seluruh pihak untuk memastikan setiap ternak babi yang masuk dari luar Sumba memenuhi persyaratan kesehatan dan ketentuan yang berlaku.

“Kita harus bekerja sama mengawasi teman-teman kita sebagai pemasok ternak babi dari luar. Jangan sampai tidak sesuai dengan SOP. Kalau tidak sesuai, akibatnya bisa fatal bagi Kabupaten Sumba Barat Daya,” tegasnya.

Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan pada saat ternak tiba di daerah, tetapi harus memastikan seluruh tahapan pemasukan dan pemeriksaan dilakukan sesuai ketentuan.

Peternak Lokal Diminta Jangan Ditinggalkan

Di sisi lain, Yohanes berharap pemerintah daerah tidak hanya memberikan ruang bagi pemasukan ternak dari luar daerah, tetapi juga memperkuat kembali peternakan babi milik masyarakat lokal.

Ia mendorong agar visi dan misi pemerintah daerah dapat diterjemahkan dalam program konkret yang mampu menjadikan peternak lokal sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi daerah.

“Kalau bisa pemerintah daerah mengedukasi, mendukung dan memotivasi peternak-peternak. Kalau visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati bisa masuk dalam program menggerakkan peternak Sumba Barat Daya sebagai agen perubahan dalam program peternakan babi,” ujarnya.

Yohanes menilai peternakan babi masih memiliki prospek ekonomi karena pasar di Sumba Barat Daya dinilai tersedia.

“Kenapa kita harus memilih babi? Karena pasarnya tersedia di Kabupaten Sumba Barat Daya. Mari kita bekerja sama,” ujarnya.

Ia berharap program bantuan pemerintah pada tahun-tahun mendatang dapat lebih diarahkan pada pengadaan ternak babi untuk masyarakat, sehingga peternak kembali berani mengembangkan usaha mereka.

Selain bantuan ternak, ia juga meminta adanya pendampingan dari tenaga teknis peternakan dan dokter hewan yang profesional.

Soroti Program Pembibitan Babi di Ombacalo

Dalam kesempatan tersebut, Yohanes juga menyoroti program pembibitan babi di Ombacalo yang menurut penilaiannya belum memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Ia menyebut program tersebut sebagai salah satu contoh yang perlu dievaluasi oleh pemerintah daerah.

“Sayangnya kita belum bisa menyelamatkan persoalan virus ASF. Dan kegagalan pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu program pembibitan babi di Ombacalo, yang saya nilai gagal,” ungkap Yohanes.

Pernyataan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah agar setiap program peternakan tidak berhenti pada pengadaan atau penyaluran bantuan, tetapi harus disertai perencanaan, pengawasan, pendampingan teknis, evaluasi serta langkah pencegahan penyakit ternak yang berkelanjutan.

Jangan Sampai Peternak Lokal Menjadi Korban

Persoalan pemasukan babi dari luar Sumba pada akhirnya tidak hanya menyangkut boleh atau tidaknya ternak didatangkan. Lebih jauh, kebijakan tersebut menyentuh keberlangsungan ekonomi peternak lokal yang selama ini menggantungkan pendapatan dari usaha ternak.

Karena itu, kehati-hatian dalam penerapan SOP, pengawasan kesehatan hewan dan penguatan peternak lokal menjadi hal yang dinilai penting.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan bahwa kebijakan pemasukan ternak dari luar Sumba tidak justru menimbulkan risiko baru bagi peternak lokal.

SILETSUMBA.COM akan terus memantau perkembangan kebijakan pemasukan ternak babi dari luar Sumba, termasuk penerapan SOP, pengawasan kesehatan hewan serta respons pemerintah terhadap kekhawatiran peternak lokal.

Redaksi SiletSumba.com

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.