IMANUEL KARANGO, PENGGAGAS HIMAK BALI: DARI KULI BANGUNAN, PERJUANGAN RANTAU HINGGA PULANG MENGABDI
Kodi Utara, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA – Tidak semua perjalanan menuju pengabdian dimulai dari kemudahan. Ada yang ditempa oleh keterbatasan, perjuangan, dan pengalaman panjang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah perjalanan Imanuel Karango, S.Pd, putra asal Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, yang melewati berbagai fase kehidupan sebelum kembali mengabdikan diri di tanah kelahirannya.
Lahir di Hamonggo Lele, Kecamatan Kodi, pada 23 Agustus 1997, Imanuel tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai pendidikan dan pelayanan. Ia menempuh pendidikan di SD M Hamonggo Lele, SMP Negeri 1 Kodi, SMA Negeri 1 Kodi, hingga melanjutkan studi di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) dan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).
Perjalanan hidupnya berubah ketika ia merantau ke Bali pada tahun 2016. Sebagai mahasiswa, ia tidak hanya mengejar pendidikan, tetapi juga harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Siang hari ia bekerja sebagai kuli bangunan, sementara malam hari menjalani aktivitas perkuliahan.
Bagi Imanuel, masa tersebut menjadi sekolah kehidupan yang membentuk karakter dan mental perjuangan.
> "Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa setiap proses memiliki nilai. Dari bekerja, kuliah, dan berorganisasi, saya belajar tentang tanggung jawab, kerja keras, dan pentingnya tetap peduli kepada sesama," ujar Imanuel.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, Imanuel aktif membangun kapasitas diri melalui organisasi. Sejak 2016, ia aktif dalam organisasi kampus. Kemudian pada 2017–2019, ia terlibat dalam Organisasi Kepemudaan GBI Destiny Bali.
Semangat berorganisasi terus berkembang ketika ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan daerah pada 2019–2023. Dalam periode tersebut, Imanuel dikenal sebagai salah satu penggagas Himpunan Mahasiswa Kodi di Bali (HIMAK Bali), sebuah wadah yang hadir untuk mempererat hubungan dan kebersamaan mahasiswa asal Kodi di Pulau Bali.
Selain HIMAK Bali, ia juga aktif dalam berbagai paguyuban masyarakat Sumba seperti IKSBD Bali, IKB Flobamora Bali, IKASOMA, serta Kodi Pasola Bali. Dalam perjalanan organisasi tersebut, ia pernah terlibat dalam bidang kepemudaan, olahraga, serta pendampingan sosial bagi masyarakat perantau.
Melalui Kodi Pasola Bali, Imanuel ikut mengambil bagian dalam membantu warga perantau asal Kodi yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pendampingan masalah ketenagakerjaan, persoalan pekerja bangunan, asisten rumah tangga, kecelakaan lalu lintas, hingga membantu proses pemulangan jenazah warga dari Bali menuju kampung halaman.
Selain organisasi, dunia jurnalistik menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya. Sejak 2018 hingga 2023, Imanuel aktif sebagai penulis dan editor media berita online. Ia pernah bergabung dengan sejumlah media, di antaranya Liputan4, Lintas Pewarta, SLDNews.com, Portal Sumba, serta beberapa media daring di Denpasar. Pada 2025, ia kembali aktif dalam dunia jurnalistik sebelum memilih fokus pada pengabdian di daerah asal.
Ketertarikannya terhadap pembangunan desa juga sudah terlihat sejak usia muda. Pada tahun 2021, ketika kembali ke kampung halaman, Imanuel sempat mengikuti proses pencalonan Kepala Desa Waitaru. Namun langkah tersebut belum berlanjut karena saat itu dirinya belum memenuhi persyaratan usia.
Baginya, pengalaman tersebut bukan akhir, melainkan bagian dari proses pembelajaran.
> "Setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar. Saat itu saya memahami bahwa membangun masyarakat membutuhkan kesiapan, pengalaman, dan proses panjang. Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri dan tetap dekat dengan masyarakat," ungkapnya.
Perjalanan panjang di Bali akhirnya membawa Imanuel kembali ke tanah kelahiran setelah berpulangnya sang ayah, almarhum Gidion Gheda Karango, pada 22 Maret 2026. Almarhum merupakan Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SD Negeri Waiboro, Desa Wailabubur, Kecamatan Kodi Utara, yang telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan sejak 1991.
Kepulangan tersebut menjadi babak baru bagi Imanuel. Pada tahun 2026, ia dipercaya sebagai Mitra Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumba Barat Daya dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).
Melalui aktivitas lapangan, ia semakin memahami berbagai kondisi masyarakat. Ia melihat bahwa pembangunan bukan hanya tentang angka dan infrastruktur, tetapi juga tentang manusia: keluarga yang masih berjuang, rumah yang membutuhkan perhatian, lansia yang membutuhkan kepedulian, serta penyandang disabilitas yang membutuhkan ruang dan kesempatan.
> "Masyarakat harus menjadi pusat dari pembangunan. Kita perlu mendengar langsung apa yang mereka alami, karena setiap keluarga memiliki cerita dan kebutuhan yang berbeda," kata Imanuel.
Dari seorang mahasiswa pekerja di Bali, aktivis organisasi, jurnalis, pendamping masyarakat, hingga kembali ke kampung halaman, perjalanan Imanuel Karango menjadi rangkaian pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang pengabdian.
Bagi Imanuel, perjalanan belum selesai. Setiap pengalaman adalah bekal untuk terus belajar, bekerja, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat Sumba Barat Daya, khususnya tanah Kodi yang membesarkannya.