Di Balik Jembatan Gantung “Cinta Kasih” Desa Bondo Bela dan Desa Rita Baru, Ada Kolaborasi Kemanusiaan dan Perjuangan Panjang Masyarakat
DESA Bondo Bela dan Desa Rita Baru, siletsumba.com - SiletSumba.com — Polemik pemberitaan terkait Jembatan Gantung “Cinta Kasih” yang menghubungkan Desa Bondo Bela dan Desa Rita Baru, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menjadi perhatian publik.
Sejumlah tokoh dan warganet menyoroti pemberitaan yang dinilai menggiring opini seolah pembangunan jembatan tersebut lahir “melalui tangan dingin” Bupati Sumba Barat Daya. Padahal, berdasarkan data dan pengakuan pihak yang terlibat langsung di lapangan, pembangunan jembatan tersebut merupakan hasil kolaborasi kemanusiaan berbagai pihak.
Akademisi sekaligus peneliti BRIN, Profesor Alie Humaedi, sebelumnya juga telah mengingatkan pentingnya penggunaan diksi yang berimbang dalam pemberitaan.
“Jangan membiasakan membuat judul untuk pencitraan yang berlebihan. Buatlah bahasa atau diksi yang menghargai semuanya,” tulisnya dalam komentar media sosial.
Berdasarkan informasi yang dihimpun jurnalis SiletSumba.com, Bupati Sumba Barat Daya hadir sebagai Pemerintah Daerah untuk meresmikan jembatan tersebut, sementara proses pembangunan dilakukan melalui gerakan kolaboratif antara masyarakat, peneliti, media kemanusiaan, donatur, dan tim teknis lapangan.
Dalam keterangan reflektif yang dibagikan Profesor Alie Humaedi, dijelaskan bahwa pembangunan jembatan gantung sepanjang 90 meter itu merupakan jembatan kedua dari delapan jembatan pedesaan yang direncanakan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Jembatan tersebut membentang menghubungkan Desa Bondo Bela dan Desa Rita Baru di Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.
Pembangunan jembatan lahir dari rekomendasi hasil penelitian kecil yang dilakukan tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kemudian dikembangkan menjadi usulan pendanaan afirmasi riset aksi.
Program tersebut dikemas oleh DAAI TV untuk menggugah empati para donatur dan dilaksanakan secara teknis oleh Vertical Rescue Indonesia (VRI), dengan pengawasan serta pendampingan pemberdayaan masyarakat oleh tim BRIN di dua desa.
“Banyak keluh dan kesah, tapi di dalamnya juga kegembiraan dan kebahagiaan menjawab imajinasi komunitas selama puluhan tahun pun telah terwujud,” ungkap Profesor Alie Humaedi.
Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan jembatan tidak terlepas dari dukungan masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya.
Dalam refleksinya, Profesor Alie Humaedi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari para donatur, tim BRIN, tim DAAI TV, Vertical Rescue Indonesia, hingga masyarakat desa.
Salah satu sosok yang disebut menjadi aktor utama dalam perjuangan tersebut adalah Mariana Noda Ngara, putri terbaik Wewewa Selatan yang dikenal aktif memperjuangkan akses penghubung masyarakat pedalaman.
Kisah perjuangan masyarakat Desa Bondo Bela dan Desa Rita Baru sebelumnya juga pernah diangkat dalam tayangan refleksi inspiratif DAAI TV yang menggambarkan bagaimana warga selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi akibat sulitnya konektivitas.
Kini, Jembatan Gantung “Cinta Kasih” menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat yang selama ini harus mempertaruhkan nyawa ketika menyeberangi sungai.
Tidak berhenti di Wewewa Selatan, tim kolaborasi kemanusiaan tersebut juga berharap pembangunan dua jembatan gantung berikutnya di Sumba Tengah dapat segera terwujud.