Camat Wewewa Barat, Benyamin Kaba, menyampaikan belasungkawa mendalam dari pemerintah kecamatan kepada keluarga almarhum Stefanus Bili Gaddi. Dalam sambutannya di acara pemakaman, Kamis (16/10/2025), ia menyerukan pesan kuat tentang pentingnya menjaga stabilitas dan menolak segala bentuk aksi main hakim sendiri.Didampingi Kapolsek, Babinsa, Tokoh Agama dan Kepala Desa. Camat Benyamin Kaba menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh suasana dan mengganggu keamanan di wilayahnya.“Atas nama pemerintah Kecamatan Wewewa Barat, kami turut berduka. Kehilangan ini adalah duka kita bersama. Namun, emosi dan amarah bukanlah jawaban. Mari kita serahkan persoalan ini pada koridor hukum yang berlaku di negara kita,” ujar Camat.Benyamin Kaba juga memuji soliditas Forkopimcam Wewewa Barat yang bergerak cepat sejak awal kejadian untuk memastikan situasi tetap terkendali. Menurutnya, kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang berduka adalah kewajiban untuk memberikan rasa aman dan jaminan keadilan.“Jangan ada lagi korban. Cukup sudah. Mari kita bergandengan tangan, jaga kampung kita agar tetap aman dan damai,” imbaunya kepada seluruh masyarakat yang hadir.
Konflik tapal batas wilayah di Sumba Barat Daya kembali memakan korban jiwa, hanya berselang tiga hari setelah upaya penegasan oleh Pemerintah Daerah.Pada Senin, 13 Oktober 2025, sekitar pukul 11.00 WITA, seorang warga bernama Stefanus Bili Gaddi yang dikenal sebagai Bapa Jelita (Warga Desa Weekurra) ditemukan meninggal dunia di area yang disengketakan di Desa Weekura, Kecamatan Wewewa Barat. Dugaan kuat, korban tewas akibat tindak pidana pembunuhan yang dipicu oleh masalah tapal batas.Hanya Tiga Hari Setelah Penegasan Bupati: Peristiwa tragis ini terjadi tak lama setelah Jumat, 10 Oktober 2025, di mana Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, baru saja melangsungkan penegasan tapal batas. Kenyataan bahwa konflik kembali memanas dan memakan korban setelah intervensi pemerintah menunjukkan betapa akutnya masalah ini di tingkat akar rumput.Keterangan dari Pihak Keluarga: Dalam video wawancara yang didapatkan Silet Sumba di lokasi, kerabat korban, Kristo Wirsnto Ate, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, korban sempat ditemani oleh adik kandung dan keponakannya. Korban kemudian meminta keduanya untuk kembali, sementara korban sendiri melanjutkan pengejaran terhadap pihak lawan di seberang batas. Korban ditemukan tewas dengan luka parah tak lama setelah itu.Tindakan Aparat Keamanan: Pihak keamanan dari Polsek Wewewa Barat, yang dipimpin oleh Kapolsek bersama anggota, telah tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Aparat saat ini sedang melakukan olah TKP, mengumpulkan bukti, dan berupaya mengamankan situasi untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.Kami menghimbau masyarakat untuk menahan diri, tetap tenang, dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian Polres Sumba Barat Daya agar kasus ini dapat diusut tuntas dan keadilan dapat ditegakkan.Data Korban:Nama: Stefanus Bili Gaddi (alias Bapa Jelita)Tanggal Kejadian: Senin, 13 Oktober 2025, sekitar pukul 11.00 WITALokasi: Desa Weekura, Kecamatan Wewewa BaratPenyebab Dugaan: Konflik Tapal Batas(Redaksi Silet Sumba akan terus memantau dan mengabarkan perkembangan penyelidikan ini.)
Redaksi Silet Sumba