Hero Image
EKSKLUSIF: Jonias Stefanus Killa Bantah Keras Dugaan Hilangkan Ester Konda: "Dia Sudah Pulang, Yulia Jangan Cari Panggung!"

Menanggapi dugaan upaya penghilangan saksi kunci Ester Konda, Joniias Stefanus Killa Jabatan Direktur PT. Alkurnia memberikan bantahan keras. Dalam keterangan eksklusifnya kepada wartawan siletsumba.com yang rekamannya diterima redaksi, Jonias Stefanus Killa menegaskan bahwa Ester Konda telah kembali ke rumahnya dan menuduh pihak lain, yang ia sebut bernama Yulia, telah memutarbalikkan fakta demi citra pahlawan."Sebenarnya kan dia (Ester) sudah pulang. Apalagi yang mau dicari ini?" ujar Jonias Stefanus Killa dalam rekaman tersebut.Jonias Stefanus Killa secara spesifik membantah narasi bahwa Ester adalah korban yang menderita atau dikurung. Ia mengklarifikasi bahwa pekerjaan Ester di Malaysia adalah sebagai cleaning service, bukan asisten rumah tangga (ART) yang terkekang di satu lokasi."Kerjanya cleaning service, mereka keliling, tidak seperti (ART) yang tinggal satu dua orang di dalam rumah," jelasnya.Untuk memperkuat argumennya, Jonias Stefanus Killa menggambarkan kondisi Ester saat ia temui. "Bukan susah sengsara dia ini," tegasnya. "Waktu kami jumpa, dia pegang pakai emas, berias-rias begitu. Rambutnya sampai merah. Buktinya rambutnya dibuat merah, rambutnya panjang."Nada bicara Jonias Stefanus Killa meninggi ketika membahas peran seseorang bernama Yulia, yang ia anggap sebagai sumber masalah. Ia menuduh Yulia menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi, termasuk soal gaji Ester."Ini gara-gara Yulia ini. Dia bilang sebenarnya anak ini dia punya gaji 400 sekian banyak juta. Lu taunya dari mana? Hitungan lu dari mana?" cecarnya.Ia menuding Yulia berusaha tampil sebagai pahlawan, padahal menurut Jonias Stefanus Killa, kepulangan para pekerja tersebut adalah murni hasil operasi pemerintah Malaysia. "Itu murni perjuangan pemerintah Malaysia untuk menangkap mereka," katanya. "Bukan karena perjuangan Pak Pendeta ini dengan itu Yulia. Bukan."Terkait potensi masalah hukum, seperti gaji yang tidak dibayar, Jonias Stefanus Killa menegaskan hal itu bukanlah tanggung jawab pihaknya yang membantu proses pemulangan."Kalau dia (Ester) merasa dikorbankan, (baru) ada dampak hukum," katanya. "Itu pun juga kan salahnya bukan di kita. Kalaupun ada itu terjadi, ya tinggal fight saja di bosnya. Begitu."Jonias Stefanus Killa menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa ia berbicara apa adanya tanpa ada skenario. "Saya bicara apa adanya. Tidak ada tambah, tidak ada kurang," pungkasnya

3 bulan yang lalu
Hero Image
Kisah Pilu Yulita Sriyanti: Dari Korban TPPO Hingga Garda Depan Pemberantasan Sindikat Pekerja Migran Ilegal di Malaysia

Perjuangan melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali disuarakan dengan lantang oleh Yulita Sriyanti, seorang diaspora Sumba yang kini menetap di Malaysia. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang emosional di Facebook Live Sumba TV pada Minggu malam (19/10/2025), Yulita, yang dirinya sendiri pernah menjadi korban TPPO di usia remaja, membeberkan pengalamannya dan perannya dalam membongkar sindikat pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal baru-baru ini.​Yulita menceritakan bagaimana pengalaman pahitnya di masa lalu, sekitar tahun 2005-2006, menjadi pendorong utama semangatnya. Kala itu, ia diberangkatkan ke Malaysia dengan iming-iming pekerjaan di pabrik, namun nyaris menjadi korban eksploitasi di sebuah tempat hiburan malam di Kuala Terengganu sebelum berhasil melarikan diri.​"Saya dijanjikan kerja pabrik... tapi sampai di sana, kami didandani dengan pakaian minim," kenang Yulita, menggambarkan detik-detik ia menyadari bahaya yang mengintainya. Pengalaman traumatis inilah yang membuatnya bertekad membantu sesama PMI, khususnya yang berasal dari Sumba dan NTT.​Baru-baru ini, Yulita memainkan peran krusial dalam membantu pihak berwenang membongkar sindikat TPPO yang dioperasikan oleh seorang WNI berinisial 'Ester' atau dikenal sebagai 'Mem Ester'. Bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dan Polis Diraja Malaysia (PDRM), sebanyak 49 PMI ilegal, mayoritas diduga berasal dari Sumba, berhasil diselamatkan dari eksploitasi. Para pelaku, termasuk 'Mem Ester' dan jaringannya, kini telah ditangkap pihak berwenang Malaysia.​"Total 49 orang korban berhasil diselamatkan. Para pelaku sudah ditangkap," jelas Yulita. Ia menambahkan bahwa para korban kini berada di rumah perlindungan (shelter) di bawah pengawasan pihak berwenang Malaysia sambil menunggu proses hukum terhadap pelaku dan pemulangan mereka ke Indonesia.​Perjuangan Yulita tidaklah mudah. Ia mengaku menghadapi berbagai tekanan, intimidasi, bahkan upaya suap dari pihak-pihak yang terkait dengan sindikat tersebut untuk menghentikan kasus ini. "Ada tawaran sejumlah uang... tapi saya bilang, ini masalah harga diri," tegasnya.​Tantangan semakin berat ketika saksi kunci utama, seorang korban bernama samaran Ester yang pertama kali berhasil diselamatkan dan memberikan informasi penting, dilaporkan menghilang atau 'dilarikan' oleh pihak tertentu setelah memberikan keterangan awal. Meskipun demikian, Yulita menegaskan bahwa proses hukum di Malaysia tetap berjalan.​"Hukum Malaysia dan Indonesia itu berbeda. Walaupun saksi kunci dibawa lari, kasus tetap berjalan karena laporan awal dari KBRI dan bukti-bukti sudah kuat," terangnya.​Dengan nada berapi-api, Yulita menyampaikan pesan keras kepada para sponsor, agen, atau calo yang terlibat dalam pengiriman PMI ilegal, terutama dari Sumba.​"Saya ingatkan sponsor-sponsor atau agensi-agensi binatang ini! Jangan merasa hebat sekarang. Masalah ini selesai, saya pastikan saya akan kejar kalian sampai dapat, di manapun kalian berada! Ingat itu!" ancam Yulita, menyuarakan kemarahannya atas penderitaan para korban.​Ia juga mengimbau keras kepada masyarakat Sumba, khususnya para orang tua dan calon pekerja, untuk tidak mudah tergiur janji manis bekerja di luar negeri melalui jalur ilegal.​"Cek dulu PT [Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia] itu resmi atau tidak. Pastikan jalur legal. Jangan modal nekat. Kasihan anak-anak kita sampai di sini disiksa, tidak digaji, bahkan ada yang pulang tinggal nama," pesannya penuh harap.​Yulita berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas dan memastikan para korban mendapatkan hak-hak mereka sebelum dipulangkan ke kampung halaman. Kisahnya menjadi pengingat pahit akan bahaya TPPO yang masih mengintai dan pentingnya kewaspadaan serta penggunaan jalur resmi bagi siapa saja yang ingin mencari nafkah di luar negeri. (Sumber: Wawancara FB Live Sumba TV)

3 bulan yang lalu