Wawancara Eksklusif di Atas Kapal Ridho Illahi: Suara Mandor Pelabuhan Waikelo Tak Lagi Bisa Disimpan
Pelabuhan Waikelo, siletsumba.com - SUMBA BARAT DAYA – Pelabuhan Waikelo, Selasa 10 Februari 2026
Di atas Kapal Ridho Illahi, yang bersiap berlayar dari Pelabuhan Waikelo menuju Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Siletsumba.com melakukan wawancara eksklusif dengan Mandor Koordinasi Pelabuhan Waikelo, Fendy, yang akrab disapa Bapak Diva.
Wawancara ini berlangsung di tengah aktivitas nyata buruh pelabuhan yang terus bekerja memuat pisang, durian, alpukat, serta ternak kambing ke atas kapal. Pemandangan tersebut menegaskan bahwa jalur laut Waikelo–Sape bukan sekadar lintasan kapal, melainkan urat nadi distribusi hasil bumi dan peternakan dari Sumba Barat Daya ke wilayah Bima, NTB, dan sekitarnya.
Kepada jurnalis Siletsumba.com, Bapak Diva menjelaskan bahwa proses bongkar muat menuju Pelabuhan Sape membutuhkan koordinasi ketat, mengingat muatan yang dibawa bersifat hidup dan mudah rusak.
“Buah-buahan dan ternak ini harus ditangani cepat dan aman. Kalau terlambat atau salah penanganan, risikonya besar,” ujar Bapak Diva di atas Kapal Ridho Illahi.
Ia menambahkan, buruh bekerja di bawah tekanan waktu keberangkatan kapal, kondisi cuaca laut, serta keterbatasan fasilitas. Meski demikian, mereka tetap menjadi penopang utama kelancaran distribusi logistik antarprovinsi.
Pelabuhan Waikelo selama ini menjadi salah satu pintu utama pengiriman hasil pertanian dan peternakan dari Sumba Barat Daya menuju Sape–Bima, NTB. Namun di balik lancarnya arus komoditas tersebut, kesejahteraan dan keselamatan buruh masih membutuhkan perhatian serius.
Wawancara eksklusif Siletsumba.com di atas Kapal Ridho Illahi ini kembali menegaskan satu hal: kemajuan distribusi laut harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap manusia yang menggerakkannya.