“Tanpa Bukti, Hanya Hinaan: Postingan FB Marselinus Dale Picu Polemik dan Dinilai Lecehkan Profesi Wartawan di SBD”
Sumba Barat Daya, siletsumba.com - Sumba Barat Daya, NTT —
Jagat media sosial di Kabupaten Sumba Barat Daya kembali memanas. Kali ini dipicu oleh unggahan akun Facebook pribadi Marselinus Dale pada Senin, 30 Maret 2026, yang secara terbuka melontarkan pernyataan keras dan bernada merendahkan terhadap profesi wartawan.
Dalam unggahannya, Marselinus menyinggung adanya “wartawan goblok” dan mempertanyakan latar belakang pendidikan para jurnalis di SBD. Pernyataan tersebut sontak menuai reaksi publik, terutama di tengah polemik yang sebelumnya berkembang terkait tudingan wartawan “memanjat pagar Rujab 1 SBD” — sebuah isu yang hingga kini belum disertai bukti konkret.
Narasi Tanpa Bukti, Serangan Tanpa Dasar
Sorotan publik tidak hanya tertuju pada isi hinaan, tetapi juga pada absennya bukti atas tudingan yang berkembang. Sejumlah pihak menilai, narasi yang dibangun cenderung menggiring opini tanpa dasar yang jelas.
Di tengah situasi tersebut, muncul kekhawatiran bahwa serangan terhadap profesi wartawan bukan lagi bentuk kritik, melainkan upaya delegitimasi terhadap kerja-kerja jurnalistik yang sedang menyoroti berbagai kejanggalan di lapangan.
Kebebasan Berekspresi vs Etika Publik
Kebebasan berpendapat di ruang digital memang dijamin, namun bukan berarti bebas tanpa batas. Pernyataan yang mengandung penghinaan terhadap profesi tertentu berpotensi melanggar etika komunikasi publik, bahkan bisa berujung pada persoalan hukum jika mengarah pada pencemaran nama baik.
Lebih jauh, penggunaan istilah yang merendahkan secara umum terhadap wartawan dinilai sebagai bentuk generalisasi yang tidak berdasar dan dapat merusak kepercayaan publik terhadap fungsi pers sebagai pilar demokrasi.
Publik Diminta Tetap Kritis dan Berbasis Fakta.
Di tengah derasnya opini yang berkembang, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi. Setiap informasi perlu diuji, setiap tudingan perlu diverifikasi.
Karena pada akhirnya, kebenaran tidak lahir dari suara paling keras, melainkan dari bukti paling kuat.
Jika benar ada pelanggaran oleh oknum wartawan, maka harus dibuka secara transparan. Namun jika tidak, maka penyebaran tudingan tanpa bukti justru menjadi preseden buruk dalam kehidupan demokrasi lokal.
Catatan Redaksi Silet Sumba
Pers bukan musuh publik.
Pers adalah alat kontrol—yang kadang tidak nyaman, tapi selalu dibutuhkan.
Ketika jurnalis diserang tanpa bukti, publik patut bertanya:
siapa yang sebenarnya sedang takut pada kebenaran?