Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
23 February 2026 - 22:50 WITA

Jembatan Rapuh, Masa Depan yang DipertaruhkanAnak-Anak Dikira Menantang Maut, Brimob dan Warga Bangun Harapan di Tengah Banjir

Jembatan Rapuh, Masa Depan yang DipertaruhkanAnak-Anak Dikira Menantang Maut, Brimob dan Warga Bangun Harapan di Tengah Banjir
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Jembatan bambu darurat, siletsumba.com - Senin, 23 Februari 2026

Anak-Anak Dikira Menantang Maut, Brimob dan Warga Bangun Harapan di Tengah Banjir

Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur —

Pagi itu, langkah-langkah kecil kembali berderit di atas bambu yang mulai lapuk. Seragam merah putih, putih biru, dan abu-abu menyeberangi sungai yang dalam dan deras. Mereka bukan sedang bermain. Mereka sedang mengejar cita-cita.

Anak-anak SD, SMP Malula, hingga SMA Nyura Lele setiap hari pergi ke sekolah melalui jembatan bambu darurat yang kondisinya kian memprihatinkan. Pagi mereka menantang arus demi pendidikan. Siang hingga sore mereka pulang dengan tubuh lelah — dan rasa waswas yang tak pernah benar-benar hilang.

Sepatu dan kaus kaki pernah hanyut.

Beberapa anak pernah terpeleset dan jatuh ke sungai.

Syukur belum ada korban jiwa. Karena mereka bisa berenang.

Namun sampai kapan keselamatan anak-anak harus bertumpu pada keberanian dan kemampuan berenang?

“Takut… tapi kami mau sekolah,” ujar seorang siswa kepada jurnalis siletsumba.com. Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk mengguncang nurani siapa pun yang mendengarnya.

Hari Ketiga: Hujan, Lumpur, dan Keteguhan

Hujan mengguyur sejak Sabtu. Sungai meluap. Bantaran berubah menjadi lumpur licin.

Namun pada hari ketiga, Senin 23 Februari 2026, satuan Brimob Sumba Barat Daya tetap berada di lokasi. Di bawah komando Denis Y. N. Laihitu, para anggota memikul kayu menembus arus sungai yang deras.

Dalam pantauan langsung jurnalis siletsumba.com, anggota Brimob harus berjibaku di lumpur tebal. Pijakan licin membuat beberapa kali keseimbangan goyah, bahkan ada yang terjatuh. Namun mereka bangkit kembali, mengangkat kayu, mengencangkan tali, menyusun rangka jembatan dengan tekad yang tak tergoyahkan.

Seragam mereka basah oleh hujan.

Sepatu mereka tenggelam dalam lumpur.

Namun semangat mereka tetap menyala.

Bahkan jurnalis siletsumba.com turut turun ke sungai membantu menarik kayu dan mengikat tali pengaman di tengah arus banjir. Penuh risiko. Namun hari itu, batas antara peliput dan pelaku gotong royong seakan lenyap. Yang ada hanya satu tujuan: anak-anak harus bisa menyeberang dengan selamat.

Pekerjaan Akan Dilanjutkan Hingga Tuntas

Pengerjaan jembatan tidak berhenti di hari ketiga.

Direncanakan, pekerjaan akan dilanjutkan kembali pada Selasa, 24 Februari 2026, dan terus dikebut hingga selesai dalam beberapa hari ke depan.

Komitmen itu menjadi secercah terang bagi anak-anak Desa Dikira. Harapan tidak lagi sekadar janji, tetapi sedang dipahat dengan kayu, tali, dan keringat.

Ini Bukan Sekadar Jembatan

Yang dibangun hari ini bukan hanya rangka kayu.

Yang ditegakkan bukan sekadar akses penyeberangan.

Ini adalah jembatan kehidupan.

Jembatan masa depan.

Di atasnya, anak-anak akan terus melangkah setiap pagi.

Di atasnya pula, mereka akan pulang setiap sore dengan mimpi yang tetap utuh.

Semoga dalam beberapa hari ke depan, derit bambu lapuk itu tak lagi terdengar.

Yang terdengar hanya langkah-langkah pasti generasi yang akhirnya bisa menyeberang tanpa rasa takut.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.