Stepanus Umbu Pati
Penulis: Stepanus Umbu Pati
23 February 2026 - 11:31 WITA

Anak-Anak Jatuh Hampir Tiap Minggu, Jembatan Bambu Darurat 15–20 Meter di Desa Dikira Mengancam Nyawa

Anak-Anak Jatuh Hampir Tiap Minggu, Jembatan Bambu Darurat 15–20 Meter di Desa Dikira Mengancam Nyawa
0

Bagikan

Klik untuk menyalin
Link berhasil disalin!

Jembatan gantung bambu darurat Dikira, siletsumba.com - Desa Dikira, 22 Februari 2026 — Di atas jembatan bambu darurat yang licin, berlumpur, dan mulai lapuk dimakan usia, Julius, warga Desa Dikira, berdiri memandang ke dasar sungai sedalam kurang lebih 15–20 meter. Dari ketinggian itu, ancaman terasa nyata. Sekali terpeleset, tubuh kecil bisa melayang jatuh tanpa ampun.

Dengan suara lirih namun tegas, ia menyampaikan kenyataan yang mengiris nurani:

“Hampir setiap Minggu ada anak sekolah yang jatuh.”

Bambu-bambu penyangga sudah retak.

Pijakan goyah. Saat hujan turun, lumpur menyelimuti permukaan hingga berubah menjadi perangkap licin bagi kaki-kaki kecil yang setiap hari menyeberang demi satu tujuan: sekolah.

Sejauh ini memang belum ada korban jiwa. Anak-anak yang terjatuh masih mampu berenang menyelamatkan diri. Namun keselamatan yang bergantung pada kemampuan berenang bukanlah sistem perlindungan. Itu hanya keberuntungan yang suatu hari bisa habis.

Jurnalis siletsumba.com melaporkan langsung dari atas jembatan tersebut. Struktur bergetar, bambu berderit, sungai mengalir deras di bawahnya. Ini bukan sekadar akses penghubung—ini adalah titik rawan yang setiap hari mempertaruhkan masa depan anak-anak Desa Dikira.

Di tengah kondisi memprihatinkan itu, Satuan Brimob PELOPOR C yang dipimpin langsung oleh Danyon Denis Laihitu, SH, hadir di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak hanya meninjau, tetapi bekerja.

Hari ini, Senin, 23 Februari 2026, memasuki hari ketiga, Satuan Brimob PELOPOR C Kabupaten Sumba Barat Daya kembali melanjutkan pengerjaan jembatan bambu darurat tersebut. Sejak pagi, personel terlihat bahu-membahu memperkuat struktur, mengganti bambu yang lapuk, dan memastikan pijakan lebih aman bagi anak-anak sekolah yang setiap hari melintas.

Hujan bukan alasan. Lumpur bukan penghalang. Yang mereka bangun bukan sekadar rangka bambu—tetapi rasa aman.

Negara diuji bukan oleh pidato panjang, tetapi oleh tindakan nyata di tempat-tempat sunyi seperti Desa Dikira. Di atas bambu lapuk yang menggantung di atas sungai deras, di sanalah keberpihakan kepada rakyat kecil seharusnya dibuktikan.

Siletsumba.com akan terus mengawal dan melaporkan hingga jembatan kehidupan benar-benar berdiri kokoh dan anak-anak Desa Dikira tak lagi bertaruh nyawa demi pendidikan.

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar.