Kamis, 26 Februari 2026 lalu, Anggota DPR RI, Rudy Umbu Kabunang, melaksanakan kegiatan reses di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sekaligus meninjau secara langsung kesiapan Stadion Gelora Pada Eweta di Waikabubak.Dalam peninjauan tersebut, ia bersama dengan Sekretaris PORDASI Kabupaten Sumba Barat melihat secara dekat kondisi lintasan pacuan, tribun penonton, serta sarana dan prasarana penunjang lainnya. Kehadiran keduanya menjadi bentuk keseriusan dalam memastikan kesiapan stadion menghadapi agenda kejuaraan pacuan kuda tanpa pelana tingkat nasional.Kunjungan ini sekaligus menjadi langkah awal menuju kepercayaan besar menjadikan Gelora Pada Eweta sebagai tuan rumah PON Pacu Kuda Tanpa Pelana 2028, sebuah momentum bersejarah yang akan mengangkat nama Sumba Barat dan Nusa Tenggara Timur di tingkat nasional.Momentum reses juga dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi masyarakat dan para pelaku olahraga pacuan kuda, agar dukungan pemerintah pusat dapat selaras dengan kebutuhan di lapangan.Diharapkan, dengan perhatian, kolaborasi, dan sinergi semua pihak, Stadion Gelora Pada Eweta dapat tampil sebagai arena kebanggaan masyarakat Sumba Barat serta Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan siap menyukseskan berbagai event besar ke depan. 🐎
Malang — Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Tribhuwana Tunggadewi melalui Komisi Legislasi melaksanakan rapat finalisasi Rancangan Undang-Undang Organisasi Mahasiswa (UUD ORMAWA) pada 23 Februari 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Kafe Fajar Timur sebagai bagian dari tahapan penyempurnaan setelah proses sosialisasi kepada organisasi mahasiswa (ORMAWA) di lingkungan UNITRI.Rapat ini merupakan tindak lanjut dari forum sosialisasi yang telah melibatkan unsur organisasi mahasiswa. Berbagai masukan, kritik, serta saran yang dihimpun pada tahap tersebut dibahas kembali secara menyeluruh dalam forum finalisasi. Pembahasan difokuskan pada penguatan substansi, harmonisasi antar-pasal, serta penyempurnaan redaksional guna memastikan kejelasan norma dan menghindari multitafsir dalam implementasi.Ketua Umum DPM UNITRI, Yohanes Umbu Ate, menegaskan bahwa proses penyusunan Rancangan UUD ORMAWA dilakukan secara terbuka dan partisipatif sesuai mekanisme kelembagaan."Rancangan UUD ORMAWA ini merupakan tindak lanjut dari gagasan dan proses awal yang telah dirintis oleh Ketua Umum sebelumnya. Kami melanjutkan agenda kelembagaan tersebut sebagai bentuk kesinambungan organisasi, agar ORMAWA UNITRI memiliki landasan konstitusional yang jelas dan kuat,” ujarnya.Sementara itu, Ketua Komisi Legislasi, Stepanus Solo, menyampaikan bahwa seluruh tahapan telah dilaksanakan secara sistematis."Mulai dari penyusunan draft awal, pembahasan internal, sosialisasi kepada ORMAWA, hingga tahap finalisasi telah kami lakukan secara bertahap dan bertanggung jawab. Setelah ini, dokumen akan diajukan ke rektorat untuk melalui proses peninjauan dan pengesahan sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya.Dengan diajukannya rancangan tersebut, diharapkan UUD ORMAWA dapat segera memperoleh pengesahan resmi dan diberlakukan sebagai payung hukum yang tertib dan akuntabel bagi seluruh organisasi mahasiswa di UNITRI.
Sumba Barat Daya — Jalan bukan sekadar bentangan tanah dan batu. Jalan adalah urat nadi kehidupan. Ketika jalan rusak, maka yang sesungguhnya retak adalah harapan rakyat.Dari Pudda (Desa Tena Teke) di Wewewa Selatan, Wanno Kasa (Raba Ege) di Wewewa Barat, Desa Taramata di Wewewa Tengah, hingga Desa Ekapata dan Elopada di Wewewa Timur, masyarakat setiap hari bergulat dengan debu di musim kemarau dan lumpur pekat di musim hujan. Anak-anak sekolah berjalan kaki melewati jalan berlubang. Petani kesulitan membawa hasil bumi ke pasar. Ibu hamil dan orang sakit mempertaruhkan keselamatan di atas kendaraan yang terombang-ambing oleh kerusakan jalan.Ini bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ini soal keadilan pembangunan.Perwakilan masyarakat lintas kecamatan, Pdt. Marthen Bulu Dairo, S.Th., menyampaikan permohonan rehabilitasi dan pengaspalan (Hotmix) sebagai kebutuhan mendesak, bukan keinginan mewah. Masyarakat tidak meminta yang berlebihan — mereka hanya meminta akses yang layak untuk hidup dan berkembang.Kepada Bupati Sumba Barat Daya, masyarakat menaruh harapan agar suara dari pedalaman tidak berhenti di meja administrasi. Kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur, rakyat berharap pemerataan pembangunan tidak hanya menjadi slogan, tetapi nyata terasa hingga pelosok Wewewa.Dan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, rakyat kecil di Sumba Barat Daya menaruh asa agar semangat pembangunan yang berkeadilan benar-benar menjangkau wilayah timur Nusantara — bukan hanya di peta, tetapi di atas tanah yang mereka pijak setiap hari.Karena ketika jalan diperbaiki, ekonomi bergerak. Ketika akses terbuka, pendidikan tumbuh. Ketika infrastruktur hadir, maka negara benar-benar dirasakan.Silet Sumba mencatat: jeritan ini bukan keluhan tanpa dasar, melainkan panggilan tanggung jawab. Jalan rusak tak boleh menjadi takdir. Pembangunan harus menjawab, bukan sekadar berjanji.Kini bola ada di tangan para pemangku kebijakan.Rakyat Wewewa menunggu — bukan janji, tetapi aksi.
Kota Kupang, NTT – Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA, menyerukan kepada seluruh masyarakat, komunitas sipil, dan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk tidak takut melaporkan dugaan tindak pidana korupsi.Menurutnya, keberanian melaporkan praktik korupsi adalah bentuk nyata partisipasi publik dalam menyelamatkan keuangan negara dan menjaga integritas pelayanan publik.“Korupsi adalah musuh bersama. Jangan takut melapor. Negara hadir dan menjamin perlindungan penuh bagi pelapor,” tegas Jusup.Menurutnya, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi kejahatan yang berdampak langsung pada penderitaan rakyat kecil. “Jangan menunggu masyarakat bunuh diri karena kemiskinan hanya karena tidak mampu makan, membeli buku, pulpen, atau membayar uang sekolah. Korupsi merampas hak dasar rakyat untuk hidup layak,” tambah JK.Negara Menjamin Perlindungan PelaporPerlindungan terhadap pelapor (whistleblower) telah dijamin dalam berbagai regulasi, antara lain:- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 junto Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.- Peran Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam memberikan perlindungan hukum, keamanan, hingga bantuan psikologis bagi pelapor.Selain itu, laporan juga dapat disampaikan kepada aparat penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan, maupun Kepolisian.ASN Jangan Takut TekananJK menegaskan bahwa ASN memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menolak serta melaporkan praktik korupsi di lingkungan kerja. Tekanan jabatan, ancaman mutasi, atau intimidasi tidak boleh menjadi alasan untuk diam.“Jika ada intimidasi terhadap pelapor, itu justru bisa menjadi pelanggaran hukum baru. Kita dorong budaya bersih dan transparan di NTT,” ujarnya.Penanganan Harus Extra OrdinaryKasus-kasus korupsi di NTT tidak boleh ditangani secara biasa-biasa saja. Diperlukan langkah yang extra ordinary, sebagaimana sifat korupsi yang juga merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). “Kasus korupsi di NTT harus dihadapi dan ditangani dengan cara yang lebih tegas, lebih berani, dan lebih transparan. Penegakan hukum tidak boleh setengah hati,” ujarnya.Ia juga mendorong agar aparat penegak hukum konsisten, profesional, dan tidak tebang pilih dalam menangani perkara korupsi, terutama yang berdampak langsung pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publikGerakan Moral BersamaForum Guru NTT mengajak seluruh elemen masyarakat di Nusa Tenggara Timur untuk membangun budaya anti-korupsi mulai dari lingkungan pendidikan hingga birokrasi.Korupsi bukan hanya soal uang negara yang hilang, tetapi juga tentang hak masyarakat yang dirampas - hak atas pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik yang layak.“Diam adalah bentuk pembiaran. Melapor adalah bentuk keberanian dan tanggung jawab,” tutup JK.
Kamis, 26 Februari 2026 — Progres pekerjaan Jembatan Kehidupan di Kabonnu, Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, memasuki hari ke-6. Satuan BRIMOBDA NTT Batalyon C Pelopor SBD telah mencapai 75 persen penyelesaian, berdasarkan pantauan langsung jurnalis Silet Sumba di lapangan.Jembatan kehidupan tersebut memiliki panjang kurang lebih 40 meter, membentang di atas aliran sungai yang selama ini menjadi ancaman bagi anak-anak sekolah dan warga. Dengan ukuran itu, pembangunan dilakukan penuh ketelitian karena arus sungai yang deras serta kondisi tanah yang licin akibat hujan.Sebanyak 35 personel Brimob setiap hari bekerja tanpa mengenal lelah dan capek. Mereka bergandengan tangan dengan masyarakat setempat, menyatukan tenaga dan semangat gotong royong.Untuk mempercepat proses pekerjaan, tiga unit sensor kayu (gergaji mesin) dioperasikan dan selalu standby setiap hari. Batang-batang kayu hasil swadaya masyarakat dipotong, dirapikan, lalu disusun kokoh sebagai rangka utama jembatan.Komandan Batalyon, Denis Y. N. Laihitu, S.H., menegaskan bahwa jembatan kedua tersebut ditargetkan selesai paling cepat Sabtu, 28 Februari 2026. Dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca, ia mengaku terharu saat menyaksikan anak-anak harus melewati jembatan bambu darurat yang penuh risiko setiap hari.“Ini bukan sekadar membangun jembatan, ini membangun keselamatan dan masa depan mereka,” ujarnya penuh haru.Di atas bentangan 40 meter itu, bukan hanya kayu yang dirangkai, tetapi juga harapan. Harapan agar anak-anak Desa Dikira bisa melangkah ke sekolah dengan aman, nyaman, dan tenteram — menuju Generasi Emas 2045 yang dicita-citakan bersama.
Dikira, Kecamatan Wewewa Timur – 23–24 Februari 2026Hujan turun deras. Sungai meluap, arusnya menggila. Namun di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, personel SAT BRIMOBDA NTT Batalyon C Pelopor Sumba Barat Daya tetap berdiri tegak di lokasi pembangunan jembatan Desa Dikira.Kayu-kayu bulat dan balok sepanjang kurang lebih 25 meter dipikul dari atas bukit yang licin. Lumpur menghisap langkah. Tali ditarik bersama-sama, mengikuti arus sungai yang deras agar material sampai ke titik pembangunan. Setiap detik adalah risiko.Jurnalis Silet Sumba pun tak sekadar menjadi saksi. Ia turun langsung ke sungai yang dalam, bahu membahu bersama anggota Brimob menarik kayu. Saat membantu memaku dan mengangkat material, jari kelingkingnya terkena paku dan hantaman palu hingga mengeluarkan darah. Luka itu menjadi bukti bahwa perjuangan ini nyata—bukan hanya ditulis, tetapi dijalani.Di tengah hujan yang tak henti, Komandan Batalyon, Denis Y.N. Laihitu, berdiri bersama pasukannya. Dengan doa dan keyakinan, ia terus membakar semangat anggota di lapangan. Satu tekad yang dipegang teguh: jembatan harus jadi, apa pun kesulitan yang menghadang.Ia memberi komando, memastikan keselamatan, sekaligus menjadi penguat moral. Dalam lumpur dan derasnya arus, suara semangatnya menjadi penopang keteguhan hati para anggota.Satuan dari Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur itu bekerja dengan hati yang peduli dan niat tulus tanpa pamrih. Dari jembatan bambu darurat yang rapuh, kini dibangun jembatan kayu dan papan yang lebih kokoh—yang akan memberi rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi anak-anak sekolah yang setiap hari menyeberangi sungai demi masa depan mereka.Memasuki hari ke-4, Selasa 24 Februari 2026, pekerjaan terus dilanjutkan hingga tuntas dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada kata mundur. Tidak ada kata menyerah.Seragam basah. Tangan lecet. Jari berdarah.Namun doa lebih kuat dari hujan.Tekad lebih deras dari arus sungai.Di Dikira, jembatan itu bukan sekadar kayu dan papan.Ia adalah simbol keberanian, kepedulian, dan cinta tanpa pamrih.Dan dengan satu keyakinan yang sama:Jembatan ini harus jadi.
Senin, 23 Februari 2026Anak-Anak Dikira Menantang Maut, Brimob dan Warga Bangun Harapan di Tengah BanjirDesa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur —Pagi itu, langkah-langkah kecil kembali berderit di atas bambu yang mulai lapuk. Seragam merah putih, putih biru, dan abu-abu menyeberangi sungai yang dalam dan deras. Mereka bukan sedang bermain. Mereka sedang mengejar cita-cita.Anak-anak SD, SMP Malula, hingga SMA Nyura Lele setiap hari pergi ke sekolah melalui jembatan bambu darurat yang kondisinya kian memprihatinkan. Pagi mereka menantang arus demi pendidikan. Siang hingga sore mereka pulang dengan tubuh lelah — dan rasa waswas yang tak pernah benar-benar hilang.Sepatu dan kaus kaki pernah hanyut.Beberapa anak pernah terpeleset dan jatuh ke sungai.Syukur belum ada korban jiwa. Karena mereka bisa berenang.Namun sampai kapan keselamatan anak-anak harus bertumpu pada keberanian dan kemampuan berenang?“Takut… tapi kami mau sekolah,” ujar seorang siswa kepada jurnalis siletsumba.com. Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk mengguncang nurani siapa pun yang mendengarnya.Hari Ketiga: Hujan, Lumpur, dan KeteguhanHujan mengguyur sejak Sabtu. Sungai meluap. Bantaran berubah menjadi lumpur licin.Namun pada hari ketiga, Senin 23 Februari 2026, satuan Brimob Sumba Barat Daya tetap berada di lokasi. Di bawah komando Denis Y. N. Laihitu, para anggota memikul kayu menembus arus sungai yang deras.Dalam pantauan langsung jurnalis siletsumba.com, anggota Brimob harus berjibaku di lumpur tebal. Pijakan licin membuat beberapa kali keseimbangan goyah, bahkan ada yang terjatuh. Namun mereka bangkit kembali, mengangkat kayu, mengencangkan tali, menyusun rangka jembatan dengan tekad yang tak tergoyahkan.Seragam mereka basah oleh hujan.Sepatu mereka tenggelam dalam lumpur.Namun semangat mereka tetap menyala.Bahkan jurnalis siletsumba.com turut turun ke sungai membantu menarik kayu dan mengikat tali pengaman di tengah arus banjir. Penuh risiko. Namun hari itu, batas antara peliput dan pelaku gotong royong seakan lenyap. Yang ada hanya satu tujuan: anak-anak harus bisa menyeberang dengan selamat.Pekerjaan Akan Dilanjutkan Hingga TuntasPengerjaan jembatan tidak berhenti di hari ketiga.Direncanakan, pekerjaan akan dilanjutkan kembali pada Selasa, 24 Februari 2026, dan terus dikebut hingga selesai dalam beberapa hari ke depan.Komitmen itu menjadi secercah terang bagi anak-anak Desa Dikira. Harapan tidak lagi sekadar janji, tetapi sedang dipahat dengan kayu, tali, dan keringat.Ini Bukan Sekadar JembatanYang dibangun hari ini bukan hanya rangka kayu.Yang ditegakkan bukan sekadar akses penyeberangan.Ini adalah jembatan kehidupan.Jembatan masa depan.Di atasnya, anak-anak akan terus melangkah setiap pagi.Di atasnya pula, mereka akan pulang setiap sore dengan mimpi yang tetap utuh.Semoga dalam beberapa hari ke depan, derit bambu lapuk itu tak lagi terdengar.Yang terdengar hanya langkah-langkah pasti generasi yang akhirnya bisa menyeberang tanpa rasa takut.
Desa Dikira, 22 Februari 2026 — Di atas jembatan bambu darurat yang licin, berlumpur, dan mulai lapuk dimakan usia, Julius, warga Desa Dikira, berdiri memandang ke dasar sungai sedalam kurang lebih 15–20 meter. Dari ketinggian itu, ancaman terasa nyata. Sekali terpeleset, tubuh kecil bisa melayang jatuh tanpa ampun.Dengan suara lirih namun tegas, ia menyampaikan kenyataan yang mengiris nurani:“Hampir setiap Minggu ada anak sekolah yang jatuh.”Bambu-bambu penyangga sudah retak. Pijakan goyah. Saat hujan turun, lumpur menyelimuti permukaan hingga berubah menjadi perangkap licin bagi kaki-kaki kecil yang setiap hari menyeberang demi satu tujuan: sekolah.Sejauh ini memang belum ada korban jiwa. Anak-anak yang terjatuh masih mampu berenang menyelamatkan diri. Namun keselamatan yang bergantung pada kemampuan berenang bukanlah sistem perlindungan. Itu hanya keberuntungan yang suatu hari bisa habis.Jurnalis siletsumba.com melaporkan langsung dari atas jembatan tersebut. Struktur bergetar, bambu berderit, sungai mengalir deras di bawahnya. Ini bukan sekadar akses penghubung—ini adalah titik rawan yang setiap hari mempertaruhkan masa depan anak-anak Desa Dikira.Di tengah kondisi memprihatinkan itu, Satuan Brimob PELOPOR C yang dipimpin langsung oleh Danyon Denis Laihitu, SH, hadir di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak hanya meninjau, tetapi bekerja.Hari ini, Senin, 23 Februari 2026, memasuki hari ketiga, Satuan Brimob PELOPOR C Kabupaten Sumba Barat Daya kembali melanjutkan pengerjaan jembatan bambu darurat tersebut. Sejak pagi, personel terlihat bahu-membahu memperkuat struktur, mengganti bambu yang lapuk, dan memastikan pijakan lebih aman bagi anak-anak sekolah yang setiap hari melintas.Hujan bukan alasan. Lumpur bukan penghalang. Yang mereka bangun bukan sekadar rangka bambu—tetapi rasa aman.Negara diuji bukan oleh pidato panjang, tetapi oleh tindakan nyata di tempat-tempat sunyi seperti Desa Dikira. Di atas bambu lapuk yang menggantung di atas sungai deras, di sanalah keberpihakan kepada rakyat kecil seharusnya dibuktikan.Siletsumba.com akan terus mengawal dan melaporkan hingga jembatan kehidupan benar-benar berdiri kokoh dan anak-anak Desa Dikira tak lagi bertaruh nyawa demi pendidikan.
Minggu, 22 Februari 2026 — Di bawah hujan yang mengguyur Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, Satuan Brimob PELOPOR C bergerak tanpa ragu. Kegiatan ini berada dalam jajaran Polda NTT di bawah kepemimpinan Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., serta Dansat Brimob Polda NTT Kombes Pol Afrizal Asri, S.I.K.Di lapangan, Danyon Denis Laihitu memimpin langsung anggotanya bersama Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, dan tiga operator sensor kayu.Kayu bulat dan kayu balok sepanjang kurang lebih 25 meter dipikul dari atas bukit, melewati pematang sawah dan padi milik warga. Tanah berubah menjadi lumpur, batu sungai menjadi licin. Kayu tidak dibawa melintasi jembatan bambu darurat, tetapi diturunkan ke sungai lalu diangkat dan ditarik menggunakan tali, melawan arus yang deras.Beberapa anggota Brimob di lapangan jatuh bangun karena licinnya jalan dan bebatuan. Seragam basah oleh hujan. Sepatu tertanam lumpur. Tangan tergores. Namun mereka bangkit kembali. Dengan semangat patriotisme yang membara, para anggota terus bekerja di tengah hujan, tanpa mengeluh, tanpa menyerah.Hari kedua, setelah selesai beribadah di gereja pada Minggu pagi, pekerjaan kembali dilanjutkan. Doa telah dipanjatkan, dan pengabdian diteruskan di medan yang sama: lumpur, sungai, dan risiko.Dari atas jembatan bambu darurat setinggi sekitar 15 hingga 20 meter dari permukaan sungai, jurnalis silet Sumba mendengar kisah Julius, warga Desa Dikira. Hampir setiap minggu ada anak sekolah yang terjatuh saat menyeberang. Hingga kini belum ada korban jiwa, karena mereka bisa berenang. Namun keselamatan tidak seharusnya bergantung pada keberuntungan.Jembatan ini adalah jembatan kehidupan.Ia menghubungkan pendidikan dan harapan.Namun setiap hari ia juga menyimpan ancaman nyata.Di Desa Dikira, di bawah hujan yang tak kunjung reda, para anggota Brimob bekerja bukan untuk dilihat — tetapi agar anak-anak tak lagi menyeberangi maut demi sekolah.Dari lokasi jembatan darurat, jurnalis silet Sumba melaporkan:Jika akses ini terus dibiarkan darurat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya tenaga dan kayu — tetapi masa depan generasi.
Sabtu, 21 Februari 2026 —Ada mata untuk melihat penderitaan.Ada telinga untuk mendengar jeritan yang lama terpendam.Ada kaki untuk melangkah ke tempat yang sulit dijangkau.Ada tangan untuk bekerja, bukan menunjuk.Ada hati untuk peduli, bukan sekadar berjanji.Di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, jembatan bambu darurat itu bukan sekadar lintasan kayu. Ia adalah simbol kelalaian yang terlalu lama dibiarkan. Licin. Rapuh. Menggantung di atas arus sungai yang tak pernah kompromi.Setiap hari anak-anak sekolah menantang maut demi selembar masa depan.Setiap hari ibu-ibu menjunjung hasil kebun melewati bambu yang berderit.Setiap hari warga Desa Dikira dan Desa Dangga Manu menggantungkan harapan pada batang-batang tua yang sewaktu-waktu bisa patah.Lalu datanglah satuan Brimob Pelopor C.Dipimpin Danyon Denis Y. N. Laihitu, SH, mereka turun bukan dengan arogansi kekuasaan, tetapi dengan kesadaran kemanusiaan. Bersama Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, mereka memanggul kayu bulat, mengangkat papan, menanam tiang ke dasar sungai yang berlumpur.Hujan turun tanpa ampun.Tanah menjadi lumpur.Arus sungai menggigit kaki.Namun mereka tetap berdiri.Tangan-tangan berseragam itu hari itu bukan menggenggam senjata, melainkan menggenggam kayu harapan. Mereka bergandengan, menancapkan balok, menyusun papan demi papan menjadi jalan yang lebih layak dilalui anak-anak sekolah dan ibu-ibu pencari nafkah.Di daerah terpencil ini, pelayanan bukan slogan. Ia adalah kerja nyata. Ia adalah keringat yang jatuh tanpa kamera. Ia adalah lumpur yang melekat tanpa keluhan.Brimob Pelopor C Kabupaten Sumba Barat Daya menunjukkan bahwa keamanan tidak hanya soal menjaga dari ancaman, tetapi juga menjaga masa depan dari keterputusasaan.Negara hadir ketika nurani bekerja.Dan di Desa Dikira, pada hari itu, negara tidak berbicara — negara bekerja.Sementara banyak pihak mungkin masih sibuk menyusun rencana, di tepi sungai kecil itu harapan sudah lebih dulu ditanam.Karena bagi mereka, tugas bukan sekadar perintah.Tugas adalah panggilan hati.
Stepanus Umbu Pati