Hero Image
Miris, 95 Siswa SMA Manda Elu di SBD Diduga Keracunan MBG; Gejala Muncul Sehari Setelah Konsumsi Makanan

Insiden dugaan keracunan massal kembali mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD), Selasa (11/11/2025). Sekitar 95 siswa dari SMA Manda Elu terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala mual, muntah, dan diare hebat.Uniknya, para siswa tidak langsung menunjukkan gejala. Keluhan sakit perut, mual, dan diare baru dirasakan secara massal pada malam hari dan puncaknya pada pagi hari ini, sehari setelah mereka mengonsumsi jatah MBG di sekolah.Para siswa yang terdampak kini tersebar dan mendapatkan penanganan medis intensif di tiga lokasi, yakni RS Karitas, RSU Reda Bolo, dan Puskesmas Watu Kawula.Kronologi KejadianBerdasarkan informasi yang dihimpun siletsumba.com dari sejumlah korban dan orang tua di rumah sakit, para siswa mengonsumsi jatah MBG pada hari Senin (10/11) sekitar pukul 13.00 - 13.30 WITA.Menu yang disajikan saat itu adalah nasi, ayam sambal, sayuran, dan buah pisang. Namun, sejumlah siswa mengaku sudah curiga dengan kondisi makanan yang mereka terima."Kami makan kemarin sekitar jam setengah dua," ujar Ayu A.S, salah seorang siswi SMA Manda Elu yang ditemui di IGD. "Menunya ada nasi, ayam, sayur, sama pisang. Daging ayamnya itu tercium bau... basi. Tapi tetap kami makan."Keluhan mulai dirasakan para siswa pada waktu yang berbeda. Sebagian mulai merasa mual dan sakit perut pada Senin malam, sementara yang lain baru merasakannya pada Selasa pagi saat tiba di sekolah."Saya mulai rasa [sakit] dari tadi malam, tapi tetap paksa ke sekolah," kata Cika, siswi lainnya.Puncak kejadian terjadi pada Selasa pagi. Banyak siswa yang tumbang dan pingsan di sekolah setelah bolak-balik ke kamar mandi akibat diare dan muntah."Baru tadi pagi [terasa parah]. Sampai di sekolah, bikin sakit lagi, jadi keluar masuk kamar mandi. Habis itu pingsan," jelas Ayu.Melihat banyaknya siswa yang tumbang, pihak sekolah segera mengambil tindakan dan mengevakuasi para korban ke fasilitas kesehatan terdekat.Jeritan Orang Tua: "Nyawa Tidak Dijual di Toko!"Insiden ini memicu kemarahan para orang tua siswa yang memadati ruang gawat darurat. Rosalia Anastasia Nani, salah satu orang tua, dengan nada geram menceritakan kondisi putrinya, Kiren Jessica Goreti Tana."Anak saya makan makanan gratis kemarin. Sorenya begitu dia pulang, dia mencret. Malam lagi dia mencret. Tadi pagi ke sekolah, dia mencret lagi, tambah sakit perut dan muntah. Akhirnya dia pingsan tadi," tutur Rosalia.Kiren, yang terbaring lemah, membenarkan bahwa makanan yang ia konsumsi kemarin dalam kondisi tidak layak."Makannya kemarin jam 1. Menunya ayam sambal. Memang sudah mulai bau-bau, kayak model basi begitu. Sayurnya juga ada yang basi," ungkap Kiren.Rosalia dengan tegas meminta pemerintah pusat, termasuk Presiden, untuk mengevaluasi total program MBG. Ia merasa program ini justru membahayakan nyawa anak-anak dan mengusulkan agar anggaran dialihkan untuk membebaskan biaya sekolah."Saya minta Bapak Presiden, tidak usah kasih makanan gratis! Karena nyawa tidak dijual di toko. Lebih baik bayar uang sekolah, kan kami orang miskin," serunya dengan emosional."Kalau makanan sudah tidak layak, jangan dipaksakan dikasih ke siswa. Sekarang anak-anak sudah sakit begini," timpal orang tua siswa lainnya yang juga menunggu di rumah sakit.

2 bulan yang lalu
Hero Image
HP Milik Ester Diduga Dibuang di Jalan Saat Proses Pemulangan, Kristina Bili Sebut Nama 'Ibu Elvi'

Proses pemulangan seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Ester diwarnai oleh dugaan insiden serius. Dalam sebuah wawancara dengan Silet Sumba, Kristina Bili mengungkapkan bahwa telepon genggam (HP) milik Ester diduga sengaja dibuang saat dalam perjalanan dari tempat penampungan menuju bandara.​Kristina Bili, yang diwawancarai oleh wartawan Silet Sumba, membeberkan informasi yang ia terima terkait kronologi pemulangan Ester, khususnya mengenai keberadaan HP milik Ester.​"Jadi informasi yang saya dapat, ya, informasi yang saya dapat itu ketika eksekusi Ester dari tempat penampungan... bahwa dalam perjalanan mengeksekusi Ester itu menuju ke bandara, dalam perjalanan itu HP dibuang di jalan," ungkap Kristina Bili.​Ia menegaskan bahwa HP tersebut dibuang dalam perjalanan menuju bandara untuk proses pemulangan kembali ke Indonesia.​Ketika ditanya lebih lanjut oleh wartawan mengenai siapa pihak yang melakukan penjemputan atau "eksekusi" tersebut, Kristina Bili menyebut satu nama berdasarkan informasi yang ia kantongi.​"Iya, informasi yang saya dapat bahwa Ibu Elvi yang melakukan penjemputan di sana," ujarnya.​Namun, Kristina Bili menegaskan bahwa dirinya tidak mengenal sosok "Ibu Elvi" tersebut secara pribadi.​"Tapi Ibu Elvi yang mana saya tidak kenal. Tidak kenal orangnya dan tidak tahu wajahnya seperti apa, saya tidak tahu," tambahnya.​Kristina Bili menyebut bahwa informasi ini ia peroleh dari sumber jaringannya sendiri. "Dan ada sumber berita kami juga, kami punya teman sendiri juga yang memberikan informasi ini," jelasnya.​Dugaan penghilangan HP milik Ester ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi selama proses pemulangan tersebut. Pembuangan alat komunikasi pribadi seperti HP dapat diindikasikan sebagai upaya untuk menghilangkan barang bukti atau memutus akses komunikasi.​Hingga berita ini diturunkan, detail lebih lanjut mengenai identitas "Ibu Elvi" dan motif di balik dugaan pembuangan HP tersebut masih menjadi misteri.

3 bulan yang lalu
Hero Image
EKSKLUSIF: Jonias Stefanus Killa Bantah Keras Dugaan Hilangkan Ester Konda: "Dia Sudah Pulang, Yulia Jangan Cari Panggung!"

Menanggapi dugaan upaya penghilangan saksi kunci Ester Konda, Joniias Stefanus Killa Jabatan Direktur PT. Alkurnia memberikan bantahan keras. Dalam keterangan eksklusifnya kepada wartawan siletsumba.com yang rekamannya diterima redaksi, Jonias Stefanus Killa menegaskan bahwa Ester Konda telah kembali ke rumahnya dan menuduh pihak lain, yang ia sebut bernama Yulia, telah memutarbalikkan fakta demi citra pahlawan."Sebenarnya kan dia (Ester) sudah pulang. Apalagi yang mau dicari ini?" ujar Jonias Stefanus Killa dalam rekaman tersebut.Jonias Stefanus Killa secara spesifik membantah narasi bahwa Ester adalah korban yang menderita atau dikurung. Ia mengklarifikasi bahwa pekerjaan Ester di Malaysia adalah sebagai cleaning service, bukan asisten rumah tangga (ART) yang terkekang di satu lokasi."Kerjanya cleaning service, mereka keliling, tidak seperti (ART) yang tinggal satu dua orang di dalam rumah," jelasnya.Untuk memperkuat argumennya, Jonias Stefanus Killa menggambarkan kondisi Ester saat ia temui. "Bukan susah sengsara dia ini," tegasnya. "Waktu kami jumpa, dia pegang pakai emas, berias-rias begitu. Rambutnya sampai merah. Buktinya rambutnya dibuat merah, rambutnya panjang."Nada bicara Jonias Stefanus Killa meninggi ketika membahas peran seseorang bernama Yulia, yang ia anggap sebagai sumber masalah. Ia menuduh Yulia menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi, termasuk soal gaji Ester."Ini gara-gara Yulia ini. Dia bilang sebenarnya anak ini dia punya gaji 400 sekian banyak juta. Lu taunya dari mana? Hitungan lu dari mana?" cecarnya.Ia menuding Yulia berusaha tampil sebagai pahlawan, padahal menurut Jonias Stefanus Killa, kepulangan para pekerja tersebut adalah murni hasil operasi pemerintah Malaysia. "Itu murni perjuangan pemerintah Malaysia untuk menangkap mereka," katanya. "Bukan karena perjuangan Pak Pendeta ini dengan itu Yulia. Bukan."Terkait potensi masalah hukum, seperti gaji yang tidak dibayar, Jonias Stefanus Killa menegaskan hal itu bukanlah tanggung jawab pihaknya yang membantu proses pemulangan."Kalau dia (Ester) merasa dikorbankan, (baru) ada dampak hukum," katanya. "Itu pun juga kan salahnya bukan di kita. Kalaupun ada itu terjadi, ya tinggal fight saja di bosnya. Begitu."Jonias Stefanus Killa menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa ia berbicara apa adanya tanpa ada skenario. "Saya bicara apa adanya. Tidak ada tambah, tidak ada kurang," pungkasnya

3 bulan yang lalu
Hero Image
Unggahan Wartawan Silet Sumba Soal Dugaan Provokasi di Desa Werilolo Picu Pro dan Kontra Warganet

Unggahan Facebook oleh salah satu wartawan Media Silet Sumba, Stepanus Umbu Pati, mengenai dugaan insiden pencabutan pilar di Desa Werilolo, Sumba Barat Daya (SBD), telah memicu reaksi pro dan kontra yang tajam di kalangan warganet.​Dalam postingannya, Stepanus menuding seorang oknum berinisial PUA sebagai "provokator dan aktor" yang menghasut pencabutan pilar pada Jumat (10/10/2025). Insiden itu, menurutnya, terjadi tak lama setelah pilar ditanam oleh Bupati SBD dan jajaran FORKOPIMDA.​Stepanus juga mengklaim dirinya "diintimidasi secara langsung" saat melakukan peliputan di lokasi.​Postingan tersebut segera dibanjiri komentar yang terbelah menjadi dua kubu.​Di satu sisi, sejumlah warganet melontarkan kritik keras terhadap profesionalisme dan etika Stepanus. Pengguna akun Milla Sisilia mempertanyakan hak Stepanus memposting foto orang lain tanpa izin dan menyinggung potensi pelanggaran UU ITE.​"Hati hati kau stepanus umbu pati... Kau tidak punya hak untuk posting foto org... itu uu ITE," tulis Milla. Kritik senada datang dari akun Petter Lunu yang berkomentar, "Wartawan yg profesional tdk akan posting di medsos..."​Di sisi lain, tidak sedikit warganet yang memberikan dukungan penuh terhadap Stepanus. Pengguna akun Rudi Hartono menulis, "Lanjutkan... Oknum2 provokator segera di tangkap". Dukungan juga datang dari Gidion W Kote yang memberi semangat, "Lanjut bro... Jgn takut... Kebenaran pasti terungkap..."​Dalam balasan komentarnya, Stepanus Umbu Pati tetap pada pendiriannya, menyatakan bahwa apa yang ia sampaikan adalah "fakta lapangan". Ia menegaskan bahwa ia memiliki bukti kuat atas laporannya.​"Saya punya bukti video dan foto..saya posting supaya publik tau," tulis Stepanus menanggapi salah satu komentar.​Menanggapi dinamika yang berkembang di ruang publik ini, Redaksi Silet Sumba memandang serius masukan, kritik, serta dukungan dari masyarakat. Redaksi berkomitmen untuk menjunjung tinggi profesionalisme dan Kode Etik Jurnalistik dalam setiap peliputan.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Koordinator PPL: Kunjungan Bupati SBD di Wewewa Barat Fokus di Tiga Titik, Dorong Pertanian Terpadu

Kunjungan kerja Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonnu Wulla, di Kecamatan Wewewa Barat pada Senin (20/10/2025) tidak hanya terfokus pada satu lokasi. Rombongan Bupati menyambangi tiga kelompok tani strategis untuk meresmikan infrastruktur, melakukan panen, tanam perdana, hingga menyerahkan bantuan.​Hal ini dijelaskan oleh Kepala Koordinator Penyuluh Pertanian (PPL) Kecamatan Wewewa Barat, Daniel Malo Umbu Pati, SP, saat diwawancarai Siletsumba di lokasi.​Menurut Daniel, kunjungan ini dirancang untuk memperkuat program ketahanan pangan di SBD, khususnya di Wewewa Barat.​"Kita berharap tiga kelompok ini menjadi penunjang-penunjang ketahanan pangan di Sumba Barat Daya, khususnya di Wewewa Barat," ujar Daniel Malo Umbu Pati.​Daniel merinci, titik pertama kunjungan adalah di sebuah kelompok tani di mana Bupati meresmikan sumur bor yang didanai dari Dana Alokasi Umum (DAU). Di lokasi ini, Bupati juga melakukan panen dan tanam perdana tomat.​Pada kesempatan itu, Daniel mengusulkan konsep pertanian terpadu. "Saya mengusulkan ada pertanian terpadu. Jadi beliau (Bupati) langsung jawab dengan bantuan kambing," jelasnya.​Ia menambahkan, konsep ini akan dikembangkan dengan perikanan. "Sehingga pertanian di lokasi itu dia integrasi. Jadi kotoran hewan [dan] air dari kolam ikan bisa jadi pupuk," papar Daniel.​Lokasi kedua adalah Kelompok Tani Maju Tak Gentar. Di sana, Bupati Ratu Wulla meresmikan bangsal (rumah tani) dan sumur bor yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Sama seperti di titik pertama, kegiatan juga diisi dengan panen dan tanam perdana tomat.​Titik ketiga adalah lokasi yang menjadi fokus utama acara, yakni di Kelompok Tani Kasumbu Iya Tekki.​"Di kelompok ketiga, ada bantuan sumur bor, pencarian titik sumur bor, tanam ubi gajah—itu program nasional untuk ketahanan pangan—dan penyerahan Alsintan (alat mesin pertanian)," pungkasnya.​Rangkaian kunjungan ini menegaskan fokus pemerintah daerah dalam mengintegrasikan berbagai sumber daya—mulai dari bantuan alat, infrastruktur air, hingga peternakan—untuk menciptakan sistem pertanian yang mandiri dan berkelanjutan di Wewewa Barat.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Diduga Lakukan Tindak Pencabulan, Polres Sumba Barat Daya Tetapkan Pria Berinisial YURP Sebagai Tersangka

14 Oktober 2025 - Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Sumba Barat Daya (SBD) secara resmi menetapkan seorang pria berinisial YURP (25) tahun, sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencabulan. Penetapan ini diumumkan dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Sumba Barat Daya.​Dalam keterangan resminya, pihak kepolisian yang diwakili oleh Kasat Reskrim menjelaskan bahwa penanganan kasus ini dimulai setelah adanya laporan dari korban. Penyidik kemudian memanggil KR sebanyak dua kali, di mana panggilan pertama berstatus sebagai saksi.​"Setelah kami dalami keterangan para saksi, keterangan terduga pelaku, dan dikaitkan dengan barang bukti termasuk hasil visum, status KR kami naikkan menjadi tersangka," ujar Kasat Reskrim.​Tersangka KR resmi ditahan pada tanggal 9 Oktober setelah menjalani pemeriksaan dan dinilai memenuhi unsur untuk dilakukan penahanan.​Motif Dipicu Minuman Keras​Menurut pengakuan tersangka kepada penyidik, perbuatan tidak terpuji tersebut dilakukan di bawah pengaruh minuman keras (miras).​"Motifnya adalah konsumsi miras. Pelaku tidak dapat mengendalikan diri akibat pengaruh miras dan adanya dorongan gairah nafsu hingga akhirnya melakukan perbuatan itu," jelas Kasat Reskrim.​Barang Bukti Diamankan, Terancam 9 Tahun Penjara​Dalam konferensi pers, polisi menunjukkan sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan, antara lain:​Pakaian dalam dan celana pendek milik korban.​Pakaian yang dikenakan tersangka saat kejadian.​Salinan (screenshot) percakapan dari telepon genggam.​Atas perbuatannya, tersangka YURP (25) tahun dijerat dengan pasal berlapis. Polisi menerapkan Pasal 289 KUHP tentang perbuatan cabul dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara, dan/atau Pasal 290 KUHP tentang perbuatan cabul terhadap orang yang tidak sadarkan diri atau tidak berdaya, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.​Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan terus berjalan dan tidak akan mengakomodir upaya damai atau mediasi untuk kasus asusila seperti ini. Tersangka YURP saat ini mendekam di ruang tahanan Polres Sumba Barat Daya untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Hasil Olah TKP Polres SBD Ungkap Fakta Baru di Kasus Stefanus Bili Gaddi

Tim Identifikasi (Inafis) Polres Sumba Barat Daya telah menyelesaikan pemeriksaan di lokasi insiden yang menewaskan Bapak Stefanus Bili Gaddi pada 13 Oktober 2025.Hasil awal pemeriksaan di lapangan dan keterangan medis mengindikasikan adanya tindak kekerasan serius yang menjadikan konflik tapal batas ini sebagai kasus pidana yang memerlukan penyelidikan mendalam.Korban, seorang ayah tiga anak, dievakuasi dengan pengawalan aparat menuju Kampung Eru Naga untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan.Tim gabungan dari Reserse Kriminal dan Inafis bekerja sama dengan tenaga medis memastikan seluruh bukti di lokasi diamankan secara prosedural.Temuan Awal dari Pemeriksaan LapanganBerdasarkan hasil awal, terdapat sejumlah indikasi yang memperkuat dugaan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar perkelahian spontan.Tim medis yang berada di lokasi, Dr. Ayer, menyampaikan bahwa pemeriksaan awal menunjukkan adanya luka serius di beberapa bagian tubuh korban yang menjadi fokus penyelidikan lebih lanjut oleh kepolisian.Polisi juga tengah mendalami kemungkinan jenis senjata yang digunakan serta posisi kejadian untuk menentukan kronologi pasti insiden tersebut.Aspek Kemanusiaan dan SosialUsai proses pemeriksaan lapangan, keluarga korban bersama warga mengevakuasi jasad dengan cara tradisional melewati jalur perbukitan menuju rumah duka.Momen itu meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat — menegaskan betapa pentingnya menjaga perdamaian di wilayah perbatasan yang telah lama menjadi titik sensitif.Peristiwa tragis ini menjadi refleksi serius terhadap komitmen damai yang sebelumnya telah ditandatangani oleh para pemimpin desa pada 10 Oktober 2025.Pernyataan-pernyataan provokatif serta tindakan simbolik yang terjadi dalam acara kenegaraan tersebut kini dianggap sebagai peringatan yang diabaikan oleh berbagai pihak.Desakan Publik untuk TransparansiMasyarakat mendesak aparat penegak hukum agar mengusut tuntas kasus ini dan memastikan seluruh pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku.Lebih dari itu, publik berharap hasil penyelidikan dapat menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas mekanisme perdamaian antarwilayah.> “Kasus ini harus menjadi pelajaran bersama bahwa perdamaian bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, tapi tanggung jawab moral yang dijaga setiap hari,” tulis redaksi Silet Sumba dalam pernyataan resminya.Tragedi di Wee Kurra–Weri Lolo ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran bersama untuk mencegah konflik serupa di masa mendatang.

3 bulan yang lalu
Hero Image
Situasi Mencekam di Tapal Batas Wee Kurra, Satu Warga Meninggal Dunia

Konflik tapal batas wilayah di Sumba Barat Daya kembali memakan korban jiwa, hanya berselang tiga hari setelah upaya penegasan oleh Pemerintah Daerah.Pada Senin, 13 Oktober 2025, sekitar pukul 11.00 WITA, seorang warga bernama Stefanus Bili Gaddi yang dikenal sebagai Bapa Jelita (Warga Desa Weekurra) ditemukan meninggal dunia di area yang disengketakan di Desa Weekura, Kecamatan Wewewa Barat. Dugaan kuat, korban tewas akibat tindak pidana pembunuhan yang dipicu oleh masalah tapal batas.Hanya Tiga Hari Setelah Penegasan Bupati: Peristiwa tragis ini terjadi tak lama setelah Jumat, 10 Oktober 2025, di mana Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, baru saja melangsungkan penegasan tapal batas. Kenyataan bahwa konflik kembali memanas dan memakan korban setelah intervensi pemerintah menunjukkan betapa akutnya masalah ini di tingkat akar rumput.Keterangan dari Pihak Keluarga: Dalam video wawancara yang didapatkan Silet Sumba di lokasi, kerabat korban, Kristo Wirsnto Ate, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, korban sempat ditemani oleh adik kandung dan keponakannya. Korban kemudian meminta keduanya untuk kembali, sementara korban sendiri melanjutkan pengejaran terhadap pihak lawan di seberang batas. Korban ditemukan tewas dengan luka parah tak lama setelah itu.Tindakan Aparat Keamanan: Pihak keamanan dari Polsek Wewewa Barat, yang dipimpin oleh Kapolsek bersama anggota, telah tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Aparat saat ini sedang melakukan olah TKP, mengumpulkan bukti, dan berupaya mengamankan situasi untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.Kami menghimbau masyarakat untuk menahan diri, tetap tenang, dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian Polres Sumba Barat Daya agar kasus ini dapat diusut tuntas dan keadilan dapat ditegakkan.Data Korban:Nama: Stefanus Bili Gaddi (alias Bapa Jelita)Tanggal Kejadian: Senin, 13 Oktober 2025, sekitar pukul 11.00 WITALokasi: Desa Weekura, Kecamatan Wewewa BaratPenyebab Dugaan: Konflik Tapal Batas(Redaksi Silet Sumba akan terus memantau dan mengabarkan perkembangan penyelidikan ini.)

3 bulan yang lalu