Tajam, akurat dan terpercaya.
Fokus akuntabilitas kini menukik tajam pada Kepala Desa Weri Lolo dan Tokoh Masyarakat Marten Dama Nairo pasca-tragedi tapal batas Sumba Barat Daya (SBD). Keduanya dituntut menjelaskan kegagalan fatal mereka meredam konflik setelah sepakat damai di depan Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla di Wee Waira, jumat 10 Oktober 2025 .Peristiwa ini berpuncak pada tewasnya Bapak Stefanus Bili Gaddi (13/10/2025), seorang ayah tiga anak, korban yang jatuh akibat konflik yang seharusnya sudah selesai di meja perundingan.Kontradiksi Fatal Komitmen di Acara KenegaraanJurnalis Silet Sumba merekam jelas kontradiksi antara janji di atas kertas dan realitas di lapangan:Komitmen Tertulis Diabaikan: Kepala Desa Weri Lolo dan Tokoh Masyarakat Marten Dama Nairo telah menandatangani Berita Acara dan menerima Peta Desa. Dokumen resmi ini menjadi komitmen mereka untuk menyelesaikan konflik secara damai.Provokasi Dibiarkan: Di tengah acara kenegaraan resmi tersebut, ancaman kekerasan terbuka sudah dilontarkan oleh warga: "Besok turun tanam, perang-perang sudah, biar masuk penjara!"Pilar Dicabut Seketika: Bahkan sebelum rombongan Bupati meninggalkan lokasi, pilar batas langsung dicabut dan dibuang oleh ibu-ibu warga desa Weri Lolo. Aksi ini menunjukkan bahwa komitmen yang diteken oleh Kepala desa dan Tokoh Masyarakat Marten Dama Nairo tidak diakui oleh warga yang mereka wakili.Akuntabilitas Moral Atas Tewasnya Sfepanus Bili GaddiTragedi pembunuhan Bapak Stefanus Bili Gaddi tiga hari kemudian adalah konsekuensi langsung dari kegagalan Kepala Desa Weri Lolo dan Marten Dama Nairo dalam mengendalikan situasi dan menegakkan komitmen yang mereka tandatangani.Masyarakat Sumba Barat Daya menuntut kejelasan:Kepala Desa Weri Lolo dan Marten Dama Nairo harus menjelaskan: Mengapa mereka menandatangani kesepakatan damai jika mengetahui warganya sudah siap melakukan provokasi dan penolakan terbuka?Akuntabilitas Moral: Mengapa mereka gagal meredam eskalasi konflik yang sudah terlihat jelas, hingga menyebabkan korban jiwa jatuh di wilayah yang seharusnya mereka jamin keamanannya pasca-kesepakatan?Tanggung jawab ini semakin mendesak mengingat tidak ada satu pun provokator yang ditahan pasca insiden jumat 10 Oktober 2025, yang semakin menegaskan kelalaian di tingkat kepemimpinan lokal dan aparat keamanan.Tuntutan Silet SumbaSilet Sumba mendesak Pemerintah Dearah Sumba Barat Daya untuk tidak lagi bersikap pasif. Kepala Desa Weri Lolo dan Tokoh Masyarakat Marten Dama Nairo harus dimintai pertanggungjawaban kinerja dan moral atas kegagalan ini, sambil aparat penegak hukum wajib mengusut tuntas pelaku pembunuhan.