Suasana penegasan batas wilayah antara Desa Wee Kurra dan Desa Weri Lolo memuncak pada Jumat (10/10/2025). Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla Ngadu Bonnu, terpaksa turun langsung ke titik konflik di bawah pengawalan ketat aparat Polisi, Brimob dan TNI untuk berhadapan langsung dengan sekelompok warga Desa Werilolo yang menolak pemasangan pilar batas.Berdasarkan pantauan langsung jurnalis Siletsumba.com di lokasi, situasi yang semula berupa dialog di bawah tenda berubah menjadi tegang saat tim teknis bergerak untuk memasang pilar batas. Sejumlah warga Desa Werilolo Kecamatan Wewewa Selatan melakukan perlawanan fisik, yang berujung pada kericuhan.Di tengah situasi yang memanas, Bupati Ratu Wulla menunjukkan ketegasannya. Dengan dikelilingi pasukan Polisi, Brimob dan TNI AD, ia berjalan kaki melewati medan yang sulit untuk menemui langsung warga yang menolak."Saya tegaskan, tidak ada yang berubah dari ketetapan yang sudah diputuskan oleh Bupati Sumba Barat Thimotius Langgar tahun 2002. Tidak ada!" seru Bupati Ratu Wulla kepada salah satu warga.Ia menjelaskan bahwa proses ini murni untuk penertiban administrasi dan berdasarkan data titik koordinat yang sah secara hukum, bukan untuk merampas hak pribadi warga."Yang saya urus ini batas administrasi desa, saya tidak urus hak pribadi," tegasnya. "Ini sekarang pakai titik koordinat, tidak bisa kita tipu-tipu lagi. Saya pun tidak berani melawan hukum, karena datanya jelas."Meskipun Bupati telah memberikan penjelasan langsung, penolakan tetap terjadi saat eksekusi pemasangan pilar hendak dilanjutkan. Aparat yang bersiaga terpaksa mengambil tindakan tegas dengan mengamankan beberapa warga yang terus melakukan perlawanan. Suasana pun diwarnai teriakan dan isak tangis dari pihak keluarga yang diamankan.Insiden ini menjadi penutup yang menegangkan dari serangkaian proses mediasi yang telah dilakukan. Sikap tegas Bupati Ratu Wulla menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjalankan keputusan hukum yang sudah final, meskipun harus berhadapan dengan resistensi keras dari sebagian masyarakat di lapangan.
Situasi mencekam dilaporkan terjadi di perbatasan antara Desa Werilolo (Kecamatan Wewewa Selatan) dan Desa Weekurra (Kecamatan Wewewa Barat) pada hari ini. Ketegangan ini dipicu oleh sengketa tapal batas wilayah yang sudah berlangsung lama.Berdasarkan pantauan visual dari video dan foto yang beredar, puluhan hingga ratusan warga dari kedua desa terlihat berkumpul di area perbukitan yang menjadi lokasi sengketa. Beberapa di antara mereka tampak membawa senjata tradisional seperti parang, tombak, dan busur, mengindikasikan suasana yang sangat tidak kondusif.Suara teriakan dan letupan yang diduga berasal dari tembakan juga terdengar dalam rekaman video, menambah kekhawatiran akan terjadinya bentrok fisik. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban atau kerusakan akibat insiden ini.Pihak keamanan, termasuk kepolisian dan TNI, dilaporkan telah diterjunkan ke lokasi untuk mengendalikan massa dan berupaya menengahi konflik. Upaya mediasi ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi menjadi konflik yang lebih besar.Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menunggu informasi resmi dari pihak berwajib. SiletSumba akan terus memantau perkembangan situasi ini dan memberikan pembaruan lebih lanjut.
Stepanus Umbu Pati